(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Kenapa?


__ADS_3

 Alisha mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya. Sekarang terdapat dua buku tulis yang digenggamnya. Dilihatnya sebentar kedua buku tersebut, memastikan kalau ia tidak akan salah bawa. Cewek berkulit putih pucat itu lalu beranjak keluar kelas, ikut meninggalkan ruang kelas yang mulai sepi karena bel istirahat sudah berbunyi beberapa saat yang lalu.


    Alisha berniat akan menghampiri Alden. Ia ingat kalau mereka baru satu kali belajar matematika bersama, sementara Pak Rubandi sudah meminta sejak semingguan yang lalu. Alden yang sibuk latihan basket, tidak mempunyai banyak waktu untuk belajar matematika bersama. Alisha pun memaklumi dan tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi mungkin tidak dengan Pak Rubandi.


    Tujuan Pak Rubandi meminta Alisha membantu mengajari Alden kan agar cowok itu mengalami kemajuan dalam pelajaran tersebut. Jadilah hari ini Alisha berinisiatif meminjamkan Alden buku catatan serta buku latihannya. Paling tidak ia berharap Alden mau membaca-baca catatannya, sehingga saat Pak Rubandi bertanya, Alden bisa menjawab, dan juga bisa terlihat ada kemajuan pada cowok itu.


    Alisha baru setengah jalan menuju ruang kelas XI IPA 5 saat seseorang menepuk pelan bahunya. Ia hentikan langkah dan menoleh ke samping.


     “Mau ke mana, Sha?” tanya Yuda yang sudah berdiri di sampingnya.


     “Mau ke…” Alisha bingung mau menjawab apa, ingin mengatakan yang sebenarnya tapi lidahnya terasa begitu kelu untuk menjawab.


     “Bantuin gue dong, Sha,” ucap Yuda kembali, tidak begitu menanggapi kalimat menggantung Alisha.


    Alisha mendesah lega dalam hati, lega karena Yuda mengubah topik pembicaraan. “Bantuin apa?”


     “Ngerjain soal mtk. Ada satu soal yang bener-bener bikin kepala gue pusing. Udah dicari-cari jawabannya, masih aja belum nemu yang pas,” ucap Yuda dengan tampang lelahnya.


     “Sekarang?” tanya Alisha memastikan.


     “Iya lah Alisha,” kata Yuda gemas sendiri. Untuk apa dia meinta bantuan sekarang kalu untuk nanti? “Oh iya, Lani mana? Gue gak liat tadi di kelas, bareng lo juga gak ada dia.”


     “Tadi buru-buru keluar kelas, gak tau juga mau ke mana,” jawab Alisha setengah berbohong. Karena nyatanya, Lani tadi pergi keluar kelas ingin menghampiri Kak Panji. Ia memilih berbohong, karena selain ingin menjaga perasaan Yuda, dia juga ingin… berusaha melindungi perasaannya sendiri. Akan menyakitkan jika dia harus kembali melihat Yuda cemburu pada Lani di depan matanya langsung.


     “Oh… gitu. Ya udah, kita ke kelas gue sekarang. Tadi gue mau nyamperin lo ke kelas, eh gak jadi pas liat lo malah keluar kelas.”


     “Ehm….” Alisha jadi bingung, dia mau nyamperin Alden sebentar buat ngasih buku-buku ini. Cuma sebentar saja, sekedar memberikan buku. Tapi Yuda sekarang ada di depannya untuk meminta bantuan. Kalau dia bilang ke Yuda dulu mau ke kelas Alden, aneh gak ya? Entar sahabatnya ini bertanya-tanya lagi. Soalnya Alisha sbeelumnya gak mau repot-repot seperti ini untuk sekedar membantu orang lain.


     “Sha, mau kan?” Pertanyaan Yuda kembali menyadarkan Alisha dari lamunannya.

__ADS_1


     “I-iya. Yuk,” jawab Alisha akhirnya lalu memutar balik badan dan berjalan bersama Yuda menuju kelas cowok itu.


    Selama perjalanan, Alisha sempat merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia ini? Kenapa ragu untuk memilih pergi bersama Yuda? Kenapa juga sempat-sempatnya memikirkan Alden di saat orang yang disukainya muncul di hadapan untuk meminta tolong? Alisha menggeleng pelan, segera menepis segala pertanyaan-pertanyaan aneh yang berkecemuk. Nanti saja lah ia meminjamkan buku kepada Alden. Sekarang biarkan ia membantu Yuda dulu.


    Mimpi itu kembali hadir. Setelah sekian lama tidak pernah menyapa Alisha, ia kembali menampakkan diri, membangkitkan segala ingatan masa lalu dan rindu yang kian memuncak.


    Alisha terduduk di tempat tidurnya. Jam masih menunjukkan pukul dua pagi, tapi matanya kembali memaksa membuka. Napasnya naik turun, peluh keringat dingin mulai membasahi kulitnya. Tidak, ia bukan bermimpi buruk, tapi jenis mimpi yang membuat luka lama kembali menguak.


    Kenapa mimpi itu hadir kembali? Seolah ingin menegaskan bahwa ia benar-bear seperti yatim piatu di muka bumi ini. Mimpi tentang kedua orang tuanya yang hadir menemui, tentang ia yang seolah merasa keluarga utuhnya kembali. Tapi lalu perlahan ingatan buruk menyeruak masuk ke dalam. Tentang kecelakaan yang merenggut nyawa papanya, dan juga tentang mamanya yang pergi tapi tak pernah kembali.


    Di saat semua rasa sesak mencapai titik tertingginya, kesadaran kembali hadir, membuat ia bangkit dari tidurnya dan terlepas dari jeratan bayangan masa lalu. Alisha terisak pelan. Dibiarkannya air mata mengalir di pipi, berharap semoga setelah air mata itu mengering, lukanya pun akan turut mengering. Berharap air matanya tersebut juga membantu mengeluarkan rasa sesaknya.


    Mama… seseorang yang pernah dipanggilnya beberapa tahun lalu kini tak pernah lagi menampakkan diri di hadapannya. Membuat ia bertanya-tanya ke mana perginya sosok itu. Lalu ingatan tentang ia yang tak sengaja bertemu dengan seseorang yang mirip dengan mamanya kembali muncul. Alisha tersenyum getir. Apa benar itu mamanya? Atau hanya sekedar delusinya saja yang sudah terlalu tinggi sehingga menganggap perempuan tersebut mirip dengan mamanya?


    Ia raih gelas air minum di atas nakas samping tempat tidur. Diteguknya pelan air tersebut, berharap bisa membantu menenangkannya. Ditariknya napas dan dikeluarkannya perlahan. Beberapa kali ia melakukannya. Setelah merasa lebih baik, ia kembali membaringkan tubuh. Alisha meringkuk dalam-dalam, seperti bayi yang berada dalam janin. Dipejamkannya mata kembali, berharap bisa kembali tertidur dengan nyenyak tanpa mimpi sialan itu.


***


    Guru itu sama sekali tidak mentoleransi murid yang berani datang terlambat. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam kelas saat ia sudah berada di dalam ruangan. Ini berarti kalau Alisha memilih masuk melalui gerbang, ia akan diberi hukuman dulu sebelum diperbolehkan masuk kelas. Dan berarti, ia tidak bisa mengikuti ulangan harian yang diberikan guru tersebut.


    Ulangan susulan? Hah, seperti guru itu mau saja melakukannya. Sekali tidak masuk saat ulangan harian, maka nilai dianggap nol. Tidak ada alasan apa pun, kecuali kalau memang benar-benar yang tidak hadir itu sedang sakit parah sehingga tidak bisa sekolah, atau ada kebutuhan yang benar-benar mendesak. Dan bangun kesiangan bukanlah salah satu alasan yang dapat diterima Pak Hamdani.


    Alisha meremas bagian samping roknya dengan gelisah. Ia tidak mau sampai nilai ulangan hariannya dianggap nol. Ia sudah belajar semalaman. Ini semua gara-gara mimpi itu. Alisha baru bisa tidur jam tiga pagi, membuat ia menjadi bangun kesiangan untuk sekolah.


    Alisha berpikir keras. Masih ada satu jalan. Ya, satu jalan. Ia bisa saja masuk sekolah dengan tidak melalui gerbang sekolah yang dijaga ketat. Langkah kakinya kini telah membawa ia menuju sebuah tempat. Dipandanginya tembok yang berdiri kokoh di sampingnya. Tingginya sekitar dua meter, dan tembok ini adalah bagian pembatas luar sekolah dengan bagian samping gedung sekolahnya.


    Alisha menimbang-nimbang apa keputusannya ini sudah tepat. Ia mau diam-diam masuk ke sekolah dengan memanjat dinding? Dulu, ia jelas memandang ini dengan suatu cara yang tidak terhormat. Bahkan ia masih ingat kalau pernah menolak mentah-mentah ajakan Alden untuk ikut masuk ke dalam sekolah dengan memanjat tembok.


    Tapi sekarang ia tidak punya pilihan lain. Waktu semakin berjalan, memaksanya untuk segera bergerak. Dihembuskannya napas keras, memantapkan keputusan. Dia lirik ke bagian bawah sedikit ujung dinding itu. Seperti ada tumpukan tanah di sana yang membuat ketinggiannya bisa membantu Alisha untuk memanjat tembok ini.

__ADS_1


    Dia berjalan cepat ke sana dan berdiri di sana. Ia belum pernah melakukan hal ini, tapi ia yakin bisa melakukannya dengan mudah. Sepertinya tidak terlalu sulit. Yang perlu ia lakukan hanyalah melompat memanjat dinding, lalu melompat lagi untuk turun. Dengan gerakan sigap, ia angkat sedikit roknya dan melompat, berusaha untuk menggapai bagian atas. Setelah berhasil, segera ia melompat turun ke dalam bagian sekolah.


    Berhasil. Alisha mendaratkan kakinya dengan mulus ke dalam sekolah. Ia berhasil masuk dengan mengendap-ngendap!


     “Menyusup, heh?”


    Badan Alisha seketika menegang mendengar suara tersebut. Tidak menyangka kalau akan ada yang menangkapnya. Astaga, bagaimana kalau ia ketahuan oleh guru? Akan panjang masalahnya nanti. Dia yang terkenal sebagai murid yang patuh aturan, kini bersikap seperti anak nakal.


    Eh, tapi tunggu. Ia seperti mengenali suara berat tersebut. Dengan gerakan cepat, Alisha tolehkan kepalanya ke belakang.


     “Terkejut, Alisha?” tanya Alden dengan sudut bibir kiri tertarik ke atas.


    Alisha tak dapat menahan diri untuk mendesah lega. “Astaga, gue kira tadi siapa.”


     “Masa gak ngenali suara gue?” gerutu Alden pelan. “Lo ngapain manjat-manjat tembok buat masuk?” tanya Alden yang sebenarnya pertanyaan paling malas untuk dijawab Alisha.


    Cewek itu memutar bola mata jengah. “Ya menurut lo emang ngapain lagi?’


     “Ah si murid teladan berubah menjadi nakal sekarang.”


    Alisha mengernyit tak suka. Apa banget deh bahasa Alden. “Gue terpaksa tau. Lo sendiri ngapain di sini? Abis nyusup juga?”


     “Enggak dong. Gue dateng tepat waktu hari ini. Lo gak liat bola basket di tangan gue? Gue abis ngambil bola buat main, guru di kelas gue gak masuk,” jelas Alden santai.


     ‘Oh,” jawab Alisha dingin, tidak terlalu minat. Dia harus cepat, tidak ada waktu untuk meladeni Alden berbicara. Ia merapikan seragam lalu bersiap untuk melangkah menuju kelasnya.


     “Ketus sama dinginnya belum hilang-hilang juga ya,” komentar Alden.


    Alisha mendelik. “Udah tau kayak gitu. Terus kenapa lo masih mau deket-deket sama gue?” tanya Alisha sambil angin lalu. Setelahnya, ia dengan cepat berjalan meninggalkan Alden.

__ADS_1


    Alisha tidak sadar akan efek dari pertanyaan yang ia lontarkan tersebut. Alden masih bergeming di tempatnya. Memikirkan dengan baik-baik omongan Alisha tadi. Pertanyaan yang sama dengan yang dilontarkan Neola saat di GOR waktu itu. Ya, kenapa dirinya masih saja mau dekat-dekat dengan Alisha walau tau sikap Alisha yang seperti itu?


•Maafkan Author jarang update yahh hari ini update gila gilaan kok•


__ADS_2