
Bukan hanya Alisha saja yang melihat kepergian buru-buru Yuda, tetapi Alden juga. Alden yang saat itu tengah duduk di salah satu kedai pinggir jalan, merasa aneh dengan kepergian buru-buru Yuda yang hanya sendiri, tidak bersama dengan Alisha.
Dia memang tidak langsung pulang setelah mengantar Alisha. Entah mengapa ia lebih memilih untuk menepikan motornya dan mampir di sebuah kedai di dekat toko buku tersebut. Ia pun memilih tempat yang strategis agar dapat melihat ke gedung tersebut.
Dan saat dilihatnya Yuda pergi sendirian, langkah kakinya membawa ia turut masuk ke dalam, mencari-cari di mana keberadaan cewek itu. Tak butuh waktu lama bagi Alden untuk menemukan Alisha. Cewek itu pasti sedang berada di jajaran rak novel. Dilihatnya Alisha yang berwajah murung seperti sedang memikirkan sesuatu. Cewek itu… apa sebenarnya yang ada di pikirannya?
Perasaan tidak sebercanda itu. Iya, jelas Alden tau akan hal tersebut. Lagipula, dia sama sekali tidak ada niat untuk main-main dengan perasaan seseorang, apalagi kalau untuk bermain-main dengan Alisha. Ia juga tidak tau dengan jelas mengapa masih betah mendekati Alisha. Tapi sekarang, saat melihat Alisha dengan situasi seperti ini, ia tidak tahan untuk tidak menghampiri.
Tanpa pikir panjang lagi Alden segera melangkah menghampiri Alisha dan berdiri di sampingnya. Memasang sikap santai, seolah tidak tau apa yang terjadi pada Alisha.
“Gue heran kenapa cewek suka banget baca novel,” ucapnya untuk menyadarkan Alisha bahwa ia berada di sana.
Alisha menoleh ke samping, mendapati Alden yang tengah menatap jajaran novel di depannya dengan tak begitu minat.
“Elo? Kok bisa ada di sini?”
“Kenapa? Gak boleh? Ini tempat umum kan? Siapa aja bebas masuk,” jawab Alden menyebalkan yang kini mulai pura-pura memilah-milah novel mana yang mau ia ambil. Sikapnya santai, seolah tidak terlalu peduli. Padahal ia datang ke sini bukan tanpa sebab.
“Iya sih. Tapi kok… lo bisa ada di sini? Gak langsung pulang abis nganterin gue?” tanya Alisha penasaran.
“Ya anggep aja gue mau nyari buku mungkin. Lagian, masa abis nganterin, langsung pulang? Kayak ojek dong gue kalo kayak gitu.”
“Hm iya deh, serah lo,” jawab Alisha akhirnya, malas berdebat lama-lama dengan Alden. Kembali ia membuka-buka lembar novel di hadapannya.
“Yuda mana?” tanya Alden pura-pura tidak tau.
“Pergi.”
“Ke toilet?”
“Bukan.”
“Terus ke mana?”
“Gue juga gak tau. Udah ah gak usah nanya-nanya,” jawab Alisha sebal.
“Jiah si eneng sebel ditinggal gebetan,” goda Alden yang langsung dihadiahi tatapan tajam Alisha.
“Apa banget bahasa lo,” komentar Alisha keki lalu berjalan menjauh dari Alden. Ditaruhnya novel yang tadi sempat ia lihat-lihat.
Perasaan sebal Alisha semakin menjadi saat Alden malah menjadi ekor di belakangnya. Cowok itu mengikutinya ke mana pun ia berjalan mengitari rak-rak novel tersebut.
“Lo ngapain ngintilin gue?” tanya Alisha akhirnya yang merasa mulai risih. Ia seperti membawa seorang anak kecil ke sini, anak kecil yang setia mengikuti ke mana-mana.
“Ya masa gue mau ngikutin Mbak-mbak yang di sana? Entar dikira gue naksir lagi,” jawab Alden asal. “Lagian gue cuma kenal lo di sini, gak tau siapa-siapa lagi,” sambungnya tambah ngaco.
“Ya pergi ke mana gitu Al.”
“Ngusir nih ceritanya?”
“Itu tau.”
“Ah menyakitkan,” jawab Alden dengan ekspresi pura-pura terluka dengan tangan menyentuh dada.
Alisha hanya memutar bola mata jengah menanggapinya. “Katanya lo mau nyari buku juga?”
__ADS_1
“Oh iya. Wah jadi lo diem-diem peduli juga ya sama gue.”
Capek meladeni Alden berbicara, Alisha kembali pindah tempat untuk melanjutkan melihat-lihat novel yang lain.
Kegiatan Alisha melihat-lihat buku terhenti saat ponsel yang ada di sakunya bergetar. Dilihatnya layar ponsel yang menampilkan nama Yuda tersbut. Dalam hati dia mendesah lega. Dugaannya benar, Yuda pasti menghubunginya.
“Yud, lo di mana?” tanya Alisha langsung saat ia mengangkat telepon. Alden yang ada di dekatnya ikut memperhatikan Alisha yang sedang berbicara di telepon.
“Sha, maaf banget gue jadi ninggalin lo. Ini gue lagi di jalan mau nyamperin Lani. Katanya dia kesasar, gak tau jalan pulang.”
Alisha mendadak lemas. Wajahnya kembali murung. Jadi… karena Lani ia jadi ditinggal seperti ini? Karena Lani, Yuda sampai lupa kalau dirinya ada? Eh, tapi, apa kata Yuda tadi? Lani kesasar? Ya ampun, bagaimana bisa?
“Ya ampun, Yud. Kok bisa sih? Ya udah lo cepet samperin Lani. Jangan terlalu ngebut di jalan.”
“Iya, Sha. Lo bisa pulang sendiri kan? Sori banget gue ampe lupa nyamperin lo dulu tadi.”
Meskipun ikut dilanda khawatir, Alisha tak bisa menyembunyikan senyum kecut di bibirnya saat Yuda bilang ia lupa akan kehadiran Alisha.
“Iya Yud gak apa. Ya udah hati-hati di jalan.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, sambungan telepon ditutup.
Alisha tidak sadar kalau sedari tadi Alden memperhatiannya dengan badan bersandar di rak buku. “Ada apa?” tanya Alden dengan kedua alis terangkat.
“Yuda ternyata pergi buat nyusul Lani. Dia kesasar soalnya,” jawab Alisha jujur.
“Oh… lagi nyamperin istri pertama rupanya.” Alden berucap dengan mengangguk mengerti.
Alisha mendelik tajam mendengarnya, tidak terima akan julukan yang diberikan. Mendadak rasa kecewa yang melingkupinya berganti dengan rasa sebal yang ingin sekali menimpuk Alden dengan buku terdekat. Hah, cowok ini bisa banget kembali mengaduk-aduk emosinya.
***
“Astaga, gue kemarin takut banget, Sha. Jalannya sepi banget, mana bensin motor gue ampir abis lagi. Udah gue muter-muterin jalan itu, tapi masih gak nemu-nemu jalan juga,” cerita Lani.
“Kok bisa lo sampe ke jalan sepi itu Lan?” tanya Alisha yang belum mengerti kenapa Lani bisa menjadi kesasar begitu, padahal setaunya sahabatnya ini tidak ‘buta’ jalan.
“Gue abis nganterin pesenan pelanggan Mama.” Iya, mamanya Lani membuka usaha kue kecil-kecilan, rata-rata yang memesan adalah teman-teman arisannya. Sering Lani yang dijadikan petugas antar oleh mamanya untuk mengantar pesanan. “Gue nyari alamatnya sih bisa, tapi pas pulang gue lupa jalannya di mana. Mana pas abis gue muter-muter, jadi ke jalanan yang jauh dari keramaian lagi,” jelas Lani dengan wajah sendu ketika mengingat kejadian kemarin.
“Lo gak nyari jalan lewat GPS?”
“Hape gue lowbat, Sha. Untung aja masih bisa dipake buat nelepon Yuda. Ya ampun pas nunggu Yuda kemarin rasanya gue deg-degan banget. Rasanya gue kayak terdampar di pulau terpencil gitu.”
“Tapi selama nunggu Yuda, gak ada yang ngangguin lo kan, Lan?”
Lani menggeleng. “Alhamdulillah gak ada. Yuda juga datengnya gak terlalu lama. Tu anak tau banyak jalan rupanya,” puji Lani dengan senyum mulai merekah. Tampang sedihnya hilang sudah.
“Baguslah. Lain kali lebih hati-hati, Lan….”
“Iya, jera banget gue kemaren. Oh ya, kata Yuda, kemaren dia lagi sama lo ya?” tanya Lani yang kini telah mengubah topik pembicaraan.
“Iya, dia cepet-cepet pergi pas lo nelepon.”
“Duh gue jadi gak enak nih sama lo Sha. Yuda ninggalin lo buat nyamperin gue,” ucap Lani dengan tampang memelasnya.
Alisha tersenyum tipis, berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya. “Gak perlu minta maaf, Lan. Lagipula lo kemaren kan lebih butuh Yuda. Gue ngerti kok kalo dia buru-buru pergi.” Iya, ngerti banget malah, tambah Alisha dalam hati. Apalagi mengingat Lani adalah orang yang disukai Yuda.
“Kalian berdua emang sahabat gue yang paling top deh! Oh ya, tadi pas gue baru dateng, Yuda ngasihin gue buku ini. Tau banget dia kalo gue lagi butuh nih buku,” ucap Lani sambil menunjukkan sebuah buku yang kemarin memang dicari-cari Yuda. Sepertinya cowok itu kembali lagi ke toko buku untuk membeli buku tersebut.
__ADS_1
***
“Lo kemaren sore ke mana Al?” tanya Dimas pada Alden saat mereka baru saja duduk di kantin selepas jam pelajaran usai. Kantin sudah ramai, penuh sesak akan manusia-manusia yang memenuhi hampir semua meja dan kusi yang tersedia.
“Entar dulu deh nanya-nanyanya. Yang penting isi perut dulu. Laper banget gue,” timpal Dito yang seperti orang tak makan sebulan.
“Iye iye. Kalian mau pesan apa?” tanya Dimas yang berinisatif untuk memesankan makanan yang mereka inginkan. Tapi hanya memesankan, minus membayarkan.
“Gue nasi goreng sama es teh,” jawab Dito dengan semangat.
“Gue batagor sama es teh juga, Dim,” timpal Alden.
“Duitnya?” tanya Dito dengan menadahkan tangan pada dua orang di dekatnya.
“Kirain mau bayarin sekalian,” cibir Dito.
“Iya ini gue mau bayarin, tapi pake duit kalian,” cengir Dimas.
“Sama aja itu, dodol.”
“Udah lama deh, sini mana duitnya, cepet-cepet,” pinta Dimas tidak sabaran.
Alden dan Dito pun mengeluarkan uang dari saku mereka masing-masing. Dimas mengambilnya dengan cepat dan melesat pergi, membelah kerumuman yang sedang sibuk mengantri.
Tidak butuh waktu lama bagi Dimas untuk kembali lagi ke tempat duduknya.
“Kok cepet banget baliknya? Mana makanannya?” tanya Alden saat tak menemui Dimas ada membawa makanan.
“Gue kan cs-an sama Pakde, entar makanannya dianter,” jawab Dimas santai.
“Oke lah.”
“Eh kembali ke pertanyaan tadi. Lo kemaren sore ke mana? Kita kemaren nyamperin lo di rumah, tapi lo gak ada. Mau ngajak main padahal.”
“Gue lagi ada urusan negara.”
“Cuih, urusan negara apaan, paling juga lo ke minimarket disuruh Neola beli Kiranti,” cibir Dito. Ya, kedua sahabatnya sudah tau sejak lama kalau Neola itu saudara kembarnya Alden. Itu pun diketahui mereka dengan tak sengaja saat mereka nekad mendatangi rumah Alden.
“Kampret lu,” sahut Alden sambil melempar gulungan tisu di depannya.
“Hahaha,” Dito dan Dimas tertawa ngakak menanggapinya.
“Eh gimana belajar bareng Alisha-nya? Digigit gak lo?” tanya Dimas saat tawanya berangsur berhenti. Yep, mereka juga tau kalau Pak Rubandi kesayangan Alden itu meminta Alisha untuk menjadi mentor privat Alden.
“Kagak, dia jinak kok kalo lagi ngajarin.”
“Ciyeee abang Alden mulai deket sama puteri es.”
“Ciye… abang Alden….”
“Pasti rasanya menggigil ya deket-deket sama puteri es.”
“Ah jangan-jangan kemaren itu gak ada karena lagi pergi bareng Alisha? Wah kemajuan besar!”
Keduanya sahabatnya itu terus saja menggodanya. “Udah, udah, diem!” serunya menghentikan aksi kedua orang itu.
__ADS_1
•Semua bab yang ada di catatan hpku, kukira kalian sudah bosan dengan cerita author ini dan besok baru update lagi yahh•