(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Menghilang!


__ADS_3

  Selama Alisha menjelaskan, Lani hanya diam mendengarkan. Tentu saja, karena kalau sampai ia berani mencela, Alisha akan menghadiahinya dengan tatapan tajam. Alisha menjelaskan secara singkat dan padat, tentunya minus tentang dia yang sebenarnya sangat enggan dijodohkan karena naksir sama Yuda. Tetapi saat bercerita tadi, dia merasa biasa saja, tidak merasa berat lagi akan perjodohan ini. Dan tentang Yuda pun, ia mulai merasa itu bukan lagi alasan utamanya.


    Akhirnya setelah beberapa menit berlalu, Alisha selesai bercerita.


    Di sampingnya, Lani sempat terbengong-bengong sesaat setelah mendengar penuturan Alisha. Lalu setelahnya ia berucap, “Lo tega ya Sha baru cerita sekarang,” dumelnya dengan menatap Alisha sewot.


    Alisha balas menatap Lani dengan tatapan meminta maafnya. “Maaf Lan, waktu itu gue rasa bisa ngebatalin perjodohan ini secepatnya, jadi ngerasa gak perlu ada orang lain yang tau,” ucapnya pelan.


     “Tapi gue kan bukan orang lain buat lo, Sha. Udah berapa lama sih kita kenal?”


     “Lani… maaf, gue waktu itu benar-benar bingung waktu itu,” ucap Alisha yang kali ini tak bisa menyembunyikan nada merengek di suaranya.


    Lani menghela napas kasar. “Lain kali kalo ada apa-apa, jangan sungkan buat cerita ke gue. Oke?”


    Alisha mengangguk cepat. “Oke.”


    Lalu secepat kilat, ekspresi Lani yang semula sebal, berganti dengan tampang antusias yang kentara. “Terus terus, tentang kesepakatan kalian yang itu, sudah ada hasilnya? Ehm maksudnya lo atau Alden udah ada naksir sama orang lain belum dan mau bilang buat batalin perjodohannya?”


    Alisha sempat mengernyit menyadari perubahan tingkah Lani. Ck, sahabatnya ini seperti bunglon saja. Lalu Alisha menggeleng pelan. “Belum. Alden gak ada pacar tuh. Dan lo tau juga kan gue gimana.”


     “Iya ya, lo kan jomblo abadi,” jawab Lani cepat. “Atau lo mau gue sama Yuda bantuin buat batalin perjodohannya? Kita bantu cariin cowok buat lo gitu?” usul Lani asal yang segera dibalas tatapan menusuk oleh Alisha.


     “Nggak perlu.”


    Lani mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu, memikirkan ide lain. Tapi sebelum itu, dia bertanya, “Tapi Sha, emang lo yakin mau batalin perjodohannya?”


    Untuk beberapa saat, Alisha tidak merespon. “Ehm… iya,” jawabnya gamang.


    Lani mendekatkan mukanya ke dekat Alisha. “Beneran yakin?”


    Alisha mendorong muka Lani yang mendekat itu dengan telapak tangannya. “Iya yakin. Emang kenapa?”


    Lani tersenyum penuh maksud. “Beneran yakin nih? Lo sama Alden sekarang jadi deket banget lho, sampe berbagi berbagai cerita hidup lagi. Beneran gak mau dijodohin sama Alden? Alden lho ini…. Yang gantengnya di atas rata-rata dan juga kayaknya perhatian banget sama lo.” Lani menaik turunkan alisnya dengan nakal, sengaja menggoda Alisha.


     “A-apaan sih, Lan,” balas Alisha yang jadi salah tingkah sendiri.


    Sudah dua hari ini Alisha tidak pernah melihat Alden. Biasanya, entah disengaja atau tidak, cowok itu akan tiba-tiba muncul di dekatnya. Tapi sekarang tidak lagi. Semenjak kejadian setelah di bazar buku itu, Alisha seperti kehilangan jejak Alden. Dari pandangannya, ia tidak pernah lagi melihat Alden berkeliaran. Entah ke mana menghilangnya cowok itu.


    Kali ini Alisha baru saja dari kantin, habis membeli roti yang akan dimakannya di dalam kelas. Saat bel istirahat tadi, Lani buru-buru pergi untuk menghadiri rapat ekskulnya, membuat ia jadi menghabsikan waktu istirahat sendiri.


    Alisha berjalan di koridor yang ramai ini dengan tenang. Tetapi dalam diamnya itu, matanya awas melihat sekitar. Mengamati seluk beluk sekolah yang mungkin saja menyembunyikan sosok itu. Tadi di kantin, ia juga mengawasi sekitar. Ia melihat ada Dito dan Dimas, tetapi tidak dengan Alden. Biasanya, kalau ada dua orang itu, Alden juga ada. Tetapi ia tetap tidak menemukan kehadiran si Alden.

__ADS_1


    Alisha mengembuskan napas dengan gusar, merasa aneh sendiri dengan sikapnya saat ini. Kenapa ia jadi seperti ini? Seperti mencari-cari sosok Alden. Tapi tanpa bisa ia pungkiri, kalau cowok itu tidak menghampirinya seperti biasa, seperti ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang sudah terlanjur dibuat terbiasa, namun tiba-tiba ditinggalkan.


     “Alisha!”


    Sebuah panggilan menghentaknya tiba-tiba, sampai-sampai cewek itu berjengit kaget. Segera dia menoleh ke samping.


     “Astaga Yuda, ngagetin aja.”


     “Lo dari tadi gue panggil-panggil, tapi gak noleh-noleh. Fokus banget merhatiin koridor. Nyari apa?” tanya Yuda yang ikut berjalan di samping Alisha.


    Nyari Alden. Tapi jelas jawaban itu hanya diucapkan dalam hati saja. “Ah bukan sesuatu yang penting kok,” kilahnya.


     “Bukan sesuatu yang penting, tapi kok fokus banget? Sampe kayak gak menyadari sekitar lagi,” komentar Yuda.


    Masa sih? Apa iya ia tadi seperti itu? Duh kalau benar, sepertinya memang ada sesuatu yang salah sama dirinya saat ini. Tapi, kalau mencari-cari kehadiran Alden, apa itu termasuk sesuatu yang salah? Lagipula, siapa yang selama ini selalu muncul dan membuat Alisha terbiasa dengan kehadirannya? Dan sekarang setelah Alisha mulai terbiasa, dia tiba-tiba menghilang tidak ada kabar, membuat mood Alisha menjadi buruk.


    Alisha lalu memaksakan sebuah senyum untuk hadir. “Ah gak apa kok, Yud. Mungkin karena pengen cepat sampai kelas, jadinya terlalu fokus liat jalan.”


    Mendengar jawaban itu, Yuda tak banyak tanya lagi. “Mau makan di kelas? Ke kantin aja yuk bareng gue,” ajaknya.


    Kemarin-kemarin, Alisha mungkin dengan cepat akan menjawab iya. Tapi sekarang lidahnya terasa kelu untuk bilang iya. Padahal Yuda yang mengajaknya; seseorang yang pernah menjadi alasan baginya untuk menentang perjodohannya, seseorang yang membuat perasaanya sempat campur aduk. Tetapi sekarang… kenapa rasanya biasa saja? Hambar… tidak ada rasa senang yang luar biasa ketika Yuda menghampirinya.


     “Gue makan di kelas aja, Yud. Lo ke kantin aja, gak apa kan?” ucap Alisha kemudian.


    Alisha mengerutkan dahi sebentar. “Masa sih, Yud? Perasaan lo aja kali, gue biasa aja kok. Ya udah gue duluan ya ke kelas,” ucap Alisha cepat lalu melangkahkan kakinya kembali menuju kelas.


    Ya, mungkin Yuda benar tentang perubahan sikapnya ke Yuda beberapa hari ini. Dan mau tak mau, Alisha harus mengakui kalau penyebabnya adalah orang tersebut. Orang yang dengan seenak udelnya menghilang tanpa jejak. Lalu tiba-tiba mood-nya kembali memburuk mengingat Alden yang menghilang itu. Membuat ia yang biasanya bisa mengontrol emosi dengan baik, menjadi seolah lepas kendali.


***


    Brak!


    Lani menggebrak meja dengan sebal, membuat beberapa pasang mata menatapnya ingin tahu. Tetapi karena aura Lani yang seperti mau marah-marah itu, belum ada yang berani bertanya.


    Alisha yang selama jam istirahat ini tetap duduk diam di tempatnya sambil memakan roti, menatap Lani dengan tampang datar, seolah bukan suatu masalah menghadapi Lani yang seperti ini. “Kenapa?” tanyanya.


    Lani duduk di tempatnya dengan emosi yang bergejolak. “Gue sebel banget sama Kak Intan, rasanya pengen gue cekik tu leher mak lampir!”


    Ah, Alisha tau siapa Kak Intan. Kak Intan itu ketua ekskul menari mereka. Iya, memang benar kalau sudah kelas tiga semester dua, murid kelas tiga tidak diperbolehkan lagi mengurusi ekskul. Tetapi karena sekarang masih proses penyusunan pengurus baru, jadilah Kak Intan masih memgang jabatannya. Tapi, kenapa Lani jadi marah-marah begini karenanya?


     “Emang dia ngapain, Lan?”

__ADS_1


     “Dia marah-marah sama gue, Sha. Catet! Dia ma-rah-ma-rah sama gue! Astaga! Apa banget dah tu si senior lampir,” cerita Lani berapi-api.


     “Lah kok bisa dia marahin lo? Memang lo salah apa?”


     “Ya ampun Allisha, kalo gue merasa salah, gak mungkin lah gue bakal balik marah kalo dimarahi. Ini nih kasusnya gue gak salah, dianya aja yang marah-marah gak jelas.”


     “Emang permasalahannya apa?”


     “Ini,” Lani menunjuk dua prososal yang tadi dilemparnya di atas meja, “Pas selesai rapat tadi kan gue mau nyerahin proposal lomba yang baru ini ke dia. Eh bukannya disambut baik, gue malah diceramahi sama dia. Katanya, proposal lomba yang lama ini aja belum selesai, tapi gue mau ngajuin proposal yang baru. Kayak gini nih katanya,” lalu Lani pun mengatur ekspresinya, berusaha meniru Kak Intan yang tadi memarahinya.


     “Gue kecewa sama lo. Lo bikin gue kayak orang bego aja! Proposal belum selesai, tapi udah ngasih ke gue aja. Bayangin betapa malunya gue pas Bu Zaskia negur gue tentang proposal lo yang belum selesai itu. Dan sekarang, lo mau ngajuin proposal baru lagi? Belum bisa. Pokoknya selesaian dulu proposal yang lama, batu bicarain proposal yang baru ke gue.”


    Lani selesai menirukan gaya bicara Kak Intan itu dengan baik. Lalu setelahnya kembali ekspresi kesal ia pasang. “Astaga! Dia selama ini ke mana aja sih? Gue kan kemarin emang udah pernah bilang kalau proposal itu tu belum selesai. Gue masih mau revisi sedikit lagi. Dan dia bilang oke-oke aja. Pas gue tanya kalau gue mau ngajuin proposal untuk lomba yang lain, dia bilang ajuin aja. Padahal gue udah bilang proposal yang lama belum bener-bener selesai, dan bakal gue serahin barengan sama yang baru. Tapi entah ke mana kupingnya dia waktu itu pas gue bicara.


     “Eh tiba-tiba tadi dia marah-marah sama gue. Lah apaan coba? Salah dia sendiri main asal aja nyerahin tu proposal yang belum kelar ke Bu Zaskia. Kan gue udah pernah bilang kalo itu belum kelar. Dasar dianya yang sok sibuk sampe-sampe gak ingat omongan gue.


     “Dan sekarang, dia belum mau terima proposal gue yang baru. Iikkhhh…. gue sebel banget! Dia kira bikin proposal itu semudah kentut apa?! Gue pake usaha ini ngerjainnya. Seolah gak dihargai, gue terus yang nunggu dia, tapi dianya kayak gak minat gitu. Rasanya pengen banget gue cekik dia, Sha! Tapi belum sempet gue bales omongannya, dia pergi sok sibuk lagi.


     “Nyebelin dasar! Dia marah-marah ke gue lantaran ditegur Bu Zaskia. Duh eneg banget gue sama orang yang ngelampiasin kesalahannya sama orang lain! Pake acara balik marah lagi sama gue! Argh sebel banget gue sam dia, Sha,” cerita Lani tanpa jeda.


     “Tarik napas, Lan. Lo ngomongnya kepanjangan. Jangan lupa napas,” ingat Alisha.


    Lani menurut. Ditariknya napas dan mengembuskan dengan pelan, berusaha mengontrol emosinya.


     “Lo beneran mau nyekik si Kak Intan itu?” tanya Alisha tiba-tiba dengan aura gelap yang Lani rasakan.


    Lani menatapnya sedikit terkejut. “Ehm itu perumpamaan aja sih, Sha.”


     “Kalo beneran mau, ayo kita cegat dia sepulang sekolah nanti.”


     “Astaga, Sha! Kok lo jadi nyeremin gini, sih?” Lani lalu mengguncang-guncang bahu Alisha. “Ayo keluar lo! Lo apain sobat gue! Pergi!”


    Alisha memutar bola mata jengah. “Lani, stop! Lah tadi siap coba yang cerita mau ngelabrak Kak Intan tadi?”


    Lani menghentikan aksinya. “Iya gue sih, Tapi gue gak serius juga kali Sha. Kok elo jadi neyeremin sih tadi?”


     “Ya anggap aja gue lagi bad mood tadi, dan lo menawarkan penawaran yang menggiurkan,” ucap Alisha asal.


     “Alisha! Jangan nakutin gue.”


    Alisha tersenyum geli. “Bercanda, Lan. Udah ah stop marah-marahnya, buang energi aja. Eh tapi kalo lo emang butuh tambahan personil untuk ngedamprat Kak Intan, gue mau kok bantuin dengan cara lo tadi.”

__ADS_1


    Lani melotot horor. “Sha!”


Bersambung


__ADS_2