(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Dinding Air Mata


__ADS_3

Semenjak hari itu, dinding pembatas antara Alisha dan Alden semakin tinggi. Alisha tetap dengan sikapnya yang seperti itu, dan Alden pun mengikuti apa kehendak Alisha. Sekarang, bukan hanya tak bertegur sapa saja saat bertemu, atau berpura-pura tak kenal saat berpapasan, kali ini lebih parah. Bahkan melirik pun tidak. Biasanya, jika tak sengaja bertemu, Alden akan melirik Alisha sekilas, tapi sekarang tidak lagi. Cowok itu sepertinya sudah benar-benar menganggap kehadiran Alisha tidak ada.



    Setidaknya dengan begitu, Alisha bisa sedikit lega. Alden tidak lagi berusaha membahas masalah di perpustakaan waktu itu, dan sepertinya Alden tutup mulut. Buktinya tidak ada desas-desus tentang rahasianya yang terbongkar.



     “Bagus kalo gitu,” yakin Alisha pada dirinya sendiri.



    Istirahat kali ini, Alisha berjalan sendirian di koridor. Tak jauh dari dirinya, ada Neola yang melihat. Cewek itu ingin menghampiri Alisha untuk sekedar berbincang, tapi melihat ada Lani yang segera menyusul di belakang cewek berkulit putih pucat itu, Neola mengurungkan niat. Akan terlihat aneh kalau tiba-tiba Neola menyapanya dan bertindak sok akrab. Ia sudah diperingati Alden untuk menjaga rahasia tentang perjodohan mereka. Jadi menuruti kehendak kakaknya, Neola pun akan bersikap seperti sebelum ia tau akan hal itu. Padahal Neola ingin sekali lebih dekat pada Alisha.



    Bukan hanya sekali itu saja Neola ingin mendekat, sering malah. Tapi sepertinya Alisha tidak menyadari. Dan kalaupun mereka tak sengaja bertemu, Alisha dan Neola paling hanya bertukar senyum saja. Setidaknya Neola lebih beruntung dari orang lain, bisa dibalas senyum oleh seorang Alisha.



    Alisha juga tidak berniat untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan saudara kembar Alden tersebut, tapi ia juga tidak bisa bersikap kepada Neola sebagaimana ia pada Alden. Tentang dia dan Alden cukup mereka saja, tidak perlu menyebar ke yang lainnya. Kalau ia dingin setengah mati pada cowok itu, setidaknya tidak pada cewek itu atau keluarganya. 


*** 



    Alisha gusar di tempatnya. Sudah beberapa kali ia mencoba untuk fokus pada tugas sekolahnya, tapi tetap saja ingatan akan Alden yang mengetahui rahasianya kembali berputar-putar di kepala. Meskipun tau kalau Alden tidak akan membocorkan ke mana-mana, tetap saja ada perasaan tidak tenang dalam hatinya. Bisa-bisanya orang luar seperti Alden mengetahui hal sensitif dalam hidupnya.



    Setelah cukup lama merenung, cewek itu menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Beberapa kali ia melakukannya, berharap agar tidak memikirkan hal-hal yang lain lagi. Matanya kini tertuju pada setumpuk buku dan kertas-kertas yang berceceran di meja belajarnya. Ada laporan fisika yang harus ia kerjakan.



    Setiap selesai melakukan praktikum, mereka akan diberi tugas membuat laporan yang memusingkan kepala lagi. Bukan hanya angka-angka saja yang harus ditulis, melainkan lengkap dengan dasar teori, analisa, dan segala macamnya. Alisha membutuhkan banyak referensi untuk tugas kali ini.



    Tidak puas hanya dengan membuka-buka buku pelajaran, ia meraih ponsel dan mencoba mencari bahan di sana. Tapi, beberapa waktu menunggu, loading-nya tidak jalan-jalan juga. Padahal sinyal di ponselnya tidak sedang naik turun, cuaca pun sedang bagus-bagusnya. Alisha lalu menekan sesuatu di layar untuk mengecek berapa sisa kuota yang ia punya. Nol. Itulah sisa kuota yang ia miliki. Alisha berdecak. Pantas saja internetnya tidak jalan-jalan.



    Cewek itu lalu bangkit dari duduknya dan bergegas keluar. Saat sampai di luar, ia bertemu dengan Bi Mari.



    “Mau ke mana, Non?”



    Alisha menoleh. “Mau ke konter depan, Bi. Mau beli kuota internet.”



     “Konter yang depan komplek ya, Non?” tanya Bi Mari memastikan.



    “Iya.”



    “Tadi Bibi habis dari depan, dan lihat konter itu tutup, Non.”



    “Duh,” keluh Alisha. “Ya udah kalo gitu aku keluar nyari dulu ya, Bi. Aku bawa motor.”



    “Iya, hati-hati, Non.”



    Alisha lalu mulai mengendarai motornya untuk mencari konter terdekat. Masalahnya ia kurang tau mana lagi konter dekat rumahnya ini. Saat lagi di jalan, tiba-tiba ponsel di saku celananya berbunyi. Alisha segera menepikan motornya.



     “Iya, Yud?” ucap Alisha setelah mengangkat panggilan telepon dari Yuda.



    “Sha, lagi ada kerjaan gak?”



    Alisha ingin menjawab ada, tapi dia urungkan niatnya. Mungkin Yuda ada perlu dengan dirinya.



    “Sekarang gak ada sih. Kenapa?”



    “Keluar, yuk. Temenin gue makan.”


__ADS_1


Kedua ujung bibir Alisha langsung tertarik ke atas. “Wah, boleh. Lani ikut juga?”



     “Ah, Lani… ehm, enggak. Kita berdua aja.”



    Makan di luar berdua aja dengan Yuda? Gak mungkin lah Alisha nolak meskipun tugasnya sedang menumpuk. “Oke! Di mana?”



    Yuda pun menyebutkan nama restoran yang akan mereka tuju.



    “Mau gue jemput gak?”



    Alisha melihat keadaanya sekarang. “Gak usah. Kebetulan gue lagi di luar sekarang. Gue pergi sendiri aja.



     “Oke, gue juga jalan sekarang. Dah.”



    Telepon ditutup, menyisakan Alisha yang tersenyum girang. Batal mencari konter, ia melajukan motor menuju restoran yang dimaksud. Tapi sebelum itu, ia menelepon telepon rumahnya dulu, untuk memberi tau kalau ia akan makan di luar. Sekedar info kalau-kalau kakeknya bertanya kenapa Alisha keluar rumah terlalu lama. Ia kan tadi hanya bilang mau beli kuota saja. Pasti makan dengan Yuda tidak sebentar. Nanti setelah pulang, baru ia akan menuruti niat awalnya keluar rumah.



    Setengah jam kemudian, Alisha sudah duduk berhadapan dengan Yuda. Mereka datang di waktu yang hampir bersamaan.



     “Lo mau pesen cumi asam pedas kan?” tebak Yuda saat waiter ingin mencatat pesanan mereka.



     “Yap bener.” Lagi-lagi ada perasaan senang saat Yuda ingat makanan kesukaannya.



    Yuda pun menyebutkan pesanan mereka.



    Setelah waiter tersebut pergi, Alisha membuka suara. “Tumben ngajak makan berdua aja, Yud.”




    Alisha tak urung mengerutkan dahinya melihat tingkah Yuda yang gak seperti biasanya ini. “Ngomong apa?”



    Yuda ingin membuka mulut, tapi diurungkannya. Matanya bergerak ke mana-mana, ke mana saja asal tidak bertemu pandang dengan mata Alisha yang menatapnya ingin tau.



    “Yud?” panggil Alisha.



    “Ah nanti aja deh pas udah makan, gue baru ngomong,” jawab Yuda.



    Alisha terkekeh kecil melihat Yuda yang jadi salah tingkah begini. Salah satu kejadian langka. Biasanya Yuda itu paling bisa ngontrol emosi, tapi sekarang lagaknya kayak orang mau nyatain cinta aja.



    Eh, nyatain cinta?



    Tak lama kemudian, pesanan mereka sampai. Yuda lalu cepat-cepat menyantap makanannya saat Alisha lagi-lagi bertanya.



     “Makan dulu, Sha,” ucapnya.



    Menyimpan sejuta tanya, Alisha memilih diam dan ikut makan. Mereka lalu makan dengan sesekali tetap membicarakan hal-hal ringan. Seperti tentang tugas sekolah, atau tentang latihan futsal Yuda.



    “Cuminya enak gak?” tanya Yuda.



    “Iya, enak.”


__ADS_1


    “Berarti gue gak salah pilih tempat kan, hehe,” ujar Yuda memamerkan senyumnya.



    Setelah makanan di piring mereka sama-sama habis, Yuda mulai gelisah di tempatnya. Bingung harus memulai dari mana.



    “Sha….”



    “Hem?” Kok jantung Alisha jadi deg-degan gini sih?



    Yuda mengetuk-ngetukkan jarinya di meja beberapa saat sebelum bersuara. “Sha, kalo suka sama sahabat sendiri itu salah gak sih?” tanya Yuda pelan, tiba-tiba. Ia berbicara tanpa berani menatap lawan bicaranya.



    Alsiha melotot seketika. Hampir saja ia menyemburkan minuman di dalam mulut. Kali ini bukan cuma deg-degan, jantung Alisha rasanya berdetak cepat banget, sampai-sampai ia takut Yuda bisa mendengarnya. Alisha diam sesaat. Kok Yuda jadi nanyain hal yang beginian sih?



    “Hah?” Alisha tergagap di tempatnya.



    Yuda mulai memberanikan menegapkan punggungnya. Ditatapnya Alisha dengan tampang yang serius. “Kayaknya ada yang aneh sama gue, Sha. Padahal kita udah sahabatan lama banget.”



    Alisha meneguk ludahnya susah payah. Kita? Kita? Kita maksudnya Alisha dan Yuda gitu? Duh Alisha keringet dingin ini. Tapi entah kenapa kok dia jadi seneng sih dengan obrolan ini?



    “Sha, kok lo diem aja sih?”



    “Lo-lo lanjut ngomong aja deh, Yud. Gue dengerin,” jawab Alisha terbata-bata.



    Yuda menghela napas berat. “Kalau ada rasa suka di antara persahabatan kita, salah gak sih, Sha?” tanyanya sambil menatap tepat di manik mana hitam Alisha.



    Alisha lekas memalingkan pandangannya. Gak kuat ditatap begitu sama Yuda. “Mak-maskudnya, Yud?” Jantungnya tambah berdegup kencang. Mak-maskudnya Yuda mau bilang kalau dia juga suka gitu sama Alisha? Kalau benar begitu, berarti perasaan Alisha gak bertepuk sebelah tangan.



    Hening sebentar. Keduanya sama-sama berusaha mengontrol diri masing-masing. “Gue suka sama Lani, Sha.” Pelan. Suara itu terdengar pelan, namun tetap saja Alisha bisa mendengarnya dengan jelas.



    Alisha menatap Yuda dengan tampang pucat. Saat itu juga, ia merasa jantungnya berhenti berdetak.



Gue suka sama lani, Sha.


Suma sama Lani.


Sama Lani.


Lani.



    Kata-kata tersebut terus terngiang-ngiang di telinga Alisha. Selama perjalanan menuju rumahnya ia terus memikirkan hal tersebut. Seperti patung, wajahnya pucat tanpa ekspresi. Rasanya separuh jiwanya sedang tidak bersamanya saat ini. Pengakuan Yuda beberapa saat yang lalu benar-benar mengguncangnya. Harapannya yang sempat melambung, kini terhempas keras ke bawah.



    Tiba-tiba, Alisha merasa ada yang aneh dengan motornya. Dipaksakannya kesadaran untuh utuh kembali. Segera ia menepi untuk melihat. Ia turun dari motor dan melihat apa yang salah. Detik selanjutnya ia menggerang kesal. Ban motornya kempes.



    Ia melihat sekitar. Tidak ada tukang tampal ban di dekat sini. Jalanan pun sepi, hanya terlihat beberpa kendaraan yang terlihat berlalu-lalang.. Alisha menggigit bibir bawahnya takut. Dia bingung harus bagaimana.



    Astaga, rasanya hari ini benar-benar buruk untuk dirinya. Dia menendang ban motornya kesal. Lalu merasa lelah karena emosinya menguap begitu saja, ia luruh di tempat. Duduk dengan kaki tertekuk dan menenggelamkan kepalanya di sana.



    Lani. Kenapa harus Lani? Oh, atau lebih tepatnya yang harus ditanyakan adalah kenapa ia harus menyukai Yuda? Yuda yang merupakan sahabatnya sendiri. Kenapa? Sebelumnya, ia belum pernah jatuh cinta pada siapa pun, sekedar menyukai pun belum pernah. Tapi kenapa saat baru kali ini merasakan, ia harus patah hati? Bahkan sebelum orang yang disukainya itu tau.



    Tiba-tiba, ada yang mengguncang bahunya pelan. Menyadarkan ia akan segala pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati. “Sha, Alsiha. Ini lo, kan?”



    Seperti mengenali suara berat yang memanggilnya, Alisha mendongak. Dan detik itu juga air mata yang sedari tadi ditahannya mati-matian, sukses keluar. “Alden….” 


__ADS_1



__ADS_2