
“Nembak apa yang arahnya ke lantai tapi kena hidung?” tanya Salman lantang pada seisi kelas.
Sekarang sebenarnya adalah jam pelajaran bahasa Indonesia, tapi dikarenakan gurunya berhalangan untuk masuk, jadilah kelas menjadi ribut. Padahal jelas-jelas ada tugas yang mesti mereka kerjakan, tapi mereka malah asyik saling melempar tebak-tebakan. Saat ada yang protes jangan berisik, yang bikin onar keributan malah berkilah.
Mereka kan main tebak-tebakan, yang masih dalam ruang lingkup pelajaran bahasa, jadi mereka menolak untuk diam. Sang ketua kelas pun bukannya menghentikan, tapi malah ikut bergabung. Tapi ya karena akhirnya main tebak-tebakan tersebut membawa hiburan buat kelas, akhirnya penghuni kelas pun mulai menikmati permainan tersebut.
“Peluru yang mantul,” jawab salah satu siswa di pojokan kelas.
“Salah, salah. Kalo ditembak ke lantai, pelurunya gak mungkin mantul ke atas, yang ada lantainya malah bolong,” sanggah Salman cepat.
“Bisa aja sih. Siapa tau lantainya dilapisi lapisan anti peluru,” jawab Alden asal.
“Enggak, enggak. Jawabannya bukan itu. Pokoknya salah. Lagipula mana ada lantai yang dilapisi lapisan anti peluru.”
“Ah, gue tau jawabannya!” seru Dimas dengan antusias setelah sempat berpikir keras sesaat.
“Apa?”
“Jawabannya pasti kentut! Iya, nembaknya ke bawah, tapi kenanya ke hidung. Bener kan jawaban gue? Pasti bener itu!” ucap Dimas heboh sendiri.
“Seratus buat lo! Jawabannya bener,” timpal Salman –si ketua kelas– membenarkan.
“Yes! Dapet apa nih kalo bener?”
“Dapet cintanya Mila,” celetuk Alden lagi yang langsung disambut sorakan oleh seisi kelas.
“Eaaakkkk….”
“Aseeekkkk….”
“Tu hadiahnya paling mantep buat lo, Dim.”
Mila yang kini jadi bahan gunjingan kelas, pura-pura gak mendengar.
“Eaaaa kayak si Mila mau aja sama lo, hahaha,” sambut yang lain sambil tertawa ngakak.
“Sekarang giliran gue yang mau ngasih tebak-tebakan,” sahut Nyoman setelah berhenti ngakak. “Panjangnya 15 cm, kemerahan, ada kepalanya, dan membuat cewek tergila-gila. Hayo tebak apa….”
Kelas semula hening memikirkan jawaban tebakan dari Nyoman.
“Ini jawabannya ngeres kagak?” tanya salah satu dari mereka yang kadang suka geleng-geleng kepala akibat Nyoman yang terkenal sebagai biangnya mesum di kelas. Untungnya taraf kenakalan Nyoman masih batas wajar, sehingga tidak sampai membuat yang lain tidak tenang. Tapi kalau lagi kumat, sekelas bisa dibuatnya misuh-misuh sendiri dan berdecak tak habis pikir.
“Enggak dong. Ah lo-nya tu yang bepikiran mesum,” jawab Nyoman sambil senyum-senyum minta ditabok.
“Emang panjangnya harus 15 cm, Man?”
“Oh iya dong.”
“Apaan sih jawabannya. Gue takut kejebak ngejawabnya.”
“Nethink aja lo semua pada,” cibir Nyoman.
“Kita-kita gak nethink, Man, Cuma ya tampang lo aja gak meyakinkan sih,” sahut yang lain disertai kekehan geli.
“Bilang aja kalo kalian gak tau jawabannya. Bener kan gak tau? Pake alasan pada ngeles segala.”
“Iya deh. Kita-kita emang gak tau jawabannya,” jawab mereka saling bersahutan.
“Jawabannya adalah….” Nyoman segala menggantung jawabannya.
__ADS_1
“Dum dum dum dum tak, jeng-jeng-jeng-jeng-jeng….” Dito segera menimpali dengan racauan mulutnya yang menyerupai suara bunyi drum ala dirinya sendiri.
“Jawabannya adalah… duit seratus ribuan!” jawab Nyoman sendiri yang langsung disambut bunyi krik-krik-krik oleh seisi kelas.
“Woy kok pada gitu responnya?” tanya Nyoman tak terima saat suasana kelas malah hening setelah mendengar jawabannya.
“Ha-ha lucu banget, Man. Lucu….” Sambut Alden tapi dengan jenis tawa yang dipaksakan.
“Kampret ya lo, Al,” gerutu Nyoman. “Gue padahal serius ini bikin tebak-tebakannya.”
“Eaak Nyoman ngambek,” sahut Dito yang langsung diikuti oleh yang lain.
“Nyoman sebel.”
“Nyoman bete.”
“Nyoman merana.”
“Nyoman butuh belaian.”
“Huwahahaha.” Sekarang kelas malah ngakak sendiri mendengar timpalan timpalan demi Nyoman.
“Udah udah ngakaknya. Next next! Tebak-tebakan selanjutnya silakan,” sahut Nyoman keki sendiri.
“Gimana caranya menghilangkan bau pete di mulut?” tanya Danu sesaat setelah suasana kelas mulai berhenti tertawa.
“Minum baygon.”
“Makan melati.”
“Makan pete lagi.”
“Salah, salah! Belum ada yang bener itu jawabannya,” ucap Danu tidak terima.
“Masa gak ada yang bener?”
“Iye, belum tepat jawabnnya, hampir mendekati lah.”
“Makan jengkol. Bener kan? ” timpal Alden ikut menjawab.
“Nah, bener! Makan jengkol jawabannya.”
“Nah gue udah bener jawabnya, dapat apa nih?”
Danu melirik malas. “Dasar ye sesama teman pasti gak jauh-jauh. Sama-sama suka minta imbalan kalian,” ucapnya sambil melirik Dimas yang sedang nyengir saat itu.
“Ah Alden mah gak usah muluk-muluk. Asal dapat meluluhkan gunung es aja dia udah seneng,” timpal Dimas penuh maksud.
Alden langsung memberinya tatapan menusuk. Tau banget dia apa gunung es yang dimaksud si Dimas itu. Dasar Dimas kunyuk. Pasti ini pembalasan baginya yang tadi sempat menyerang Dimas dengan membawa-bawa Mila.
Yang dilirik tajam bukannya takut atau apa, malah tambah nyengir melihatnya. “Ampun Bang tatapannya tajam bener, takut Adek. Eh tapi ngomong-ngomong, gimana rasanya ngedeketin si puteri es?” tanya Dimas yang hanya dijawab dengusan oleh Alden.
Lani berjalan gontai memasuki kamar tersebut. Diraihnya remote dan menghidupkan AC kamar. Lalu ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur milik Alisha.
“Nah… kayak gini kan adem. Gerah banget gue dari tadi. Mana ditambah kasur yang empuk pula,” kekeh Lani sambil memeluk guling.
Siang ini memang sedang panas-panasnya. Alisha dan Lani yang baru pulang sekolah, langsung masuk ke kamar Alisha untuk melepas penat. Mana pula tadi di jalan sempat macet, semakin membuat dua anak manusia itu gerah saja akibat panas dan juga terpaan debu polusi. Eh yang terakhir khusus buat Lani saja, cewek satu itu kan paling rewel kalau mesti terkena debu di tengah hari yang panas.
Alisha yang baru menyusul, melangkahkan kakinya menuju nakas. Di tangannya terdapat nampan berisi dua gelas sirup dingin yang barusan diambilnya dari dapur.
__ADS_1
“Minum, Lan,” tawarnya lalu mulai meneguk minuman tersebut setelah duduk di pinggir kasur.
“Pengertian banget lo Sha, hehe.” Lani beranjak duduk dan ikut meminum sirup tersebut.
“Kamar lo adem banget Sha. Ini nih yang buat gue betah lama-lama main di sini,” komentar Lani setelah menaruh gelasnya kembali ke atas nampan.
“Bilang aja kalo lo mau numpang tidur,” timpal Alisha setengah bercanda.
“Nah itu tau,” cengir Lani.
“Eh tapi jangan tidur dulu. Kerjain tugas dulu Lan,” ingat Alisha.
“Bentar lagi ya Sha, mager nih. Gaya gravitasi kasur lo kuat banget,” kilah Lani yang telah bergelung di dalam selimut.
“Entar lo ketiduran. Cepet bangun, kerjain tugas sekarang,” ucap Alisha tak terbantahkan. Memang tujuan mereka kemari selain untuk berleha-leha, juga untuk menegerjakan tugas sekolah yang akan dikumpulkan besok.
“Sha….”
“Ayolah, Lani.”
“Iya deh” Dengan berat hati Lani bangun dan pindah duduk di atas karpet tebal di kamar itu. Mereka mulai mengeluarkan alat tulis beserta buku-buku yang berkepentingan. Selama beberapa saat, mereka sibuk megerjakan tugas.
Melihat Alisha yang serius mengerjakan tugas di depannya, tiba-tiba ada sebuah pertanyaan yang terlintas di benak Lani. “Sha?”
“Hm?” Tanpa menoleh, Alisha bergumam sebagai jawaban. Fokusnya kini hanya pada buku di depannya.
“Gimana rasanya jadi mentor privat Alden?” tanya Lani serius dengan sebelah tangan menopang kepala.
Gerakan mata Alisha yang sedang membaca buku, menjadi terhenti. Tatapan itu kini beralih menatap Lani yang melihatnya dengan sorot ingin tau. “Biasa aja,” jawabnya singkat. Lalu tanpa menunggu respon Lani, Alisha kembali melanjutkan aktivitasnya tadi.
“Gitu amat jawabannya Sha,” ucap Lani yang tidak puas akan jawaban sahabatnya itu. “Seneng kek, sebel, gak enak, menyenangkan, atau apa deh. Cerita bisa kali Sha,” ucap Lani panjang lebar. Sahabatnya ini emang suka banget jawab pertanyaan dengan jawaban yang singkat, tapi gak jelas.
“Emang rasanya biasa aja Lan. Ya kayak kita sama Yuda biasa belajar bareng. Biasa aja, gak ada istimewa-istimewanya kok,” jawab Alisha yang intinya masih sama seperti jawaban semula, membuat Lani mencebik pura-pura sebal lalu tak lagi mempermaslaahkan jawabannya.
***
Alisha memberikan botol air mineral yang sedari tadi dipegangnya kepada Yuda. Cowok itu terlihat kelelahan dengan keringat yang membasahi bajunya.
“Thanks, Sha,” ucap Yuda lalu langsung menegak hampir separuh isi botol tersebut. Yuda lalu menyandarkan punggungnya pada batang pohon di belakangnya.
Hari sudah sore saat ini. Yuda bersama teman satu tim futsalnya baru saja selesai latihan. Berangsur-angsur lapangan yang semula cukup ramai, kini mulai sepi. Teman-temannya yang lain mulai pamit untuk pulang. Sementara Yuda sendiri masih betah untuk beristirahat sejenak.
“Lani mana?” tanya Yuda tanpa melihat ke samping, menatap Alisha yang duduk di sampingnya. Ia menengadahkan wajahnya ke langit, menatap semburat jingga yang mulai menghiasi.
“Dia tadi pulang duluan,” jawab Alisha pelan. Selalu tentang Lani yang Yuda tanyakan. Kalau Lani tidak ada, pasti Alisha yang selalu dijadikan objek untuk menjawab pertanyaan Yuda. Kadang Alisha berpikir, apa kalau Alisha tidak ada, Yuda akan menanyakan kehadirannya? Akan mencarinyakah seperti ia mencari Lani saat tidak ada?
“Kok pulang duluan?”
Alisha terdiam sejenak, memandang kosong ke arah lapangan yang sudah sepi. Hanya tinggal mereka berdua duduk di sini. “Karena mau bareng sama Kak Panji,” jawab Alisha pelan.
Tadi Alisha dan Lani memang sedang sama-sama menonton Yuda yang sedang latihan. Tapi saat di pertengahan menonton, Lani melihat Kak Panji baru akan pulang. Maklum, anak kelas tiga memang sedang disibukkan akan tambahan jam belajar. Lani yang melihat kesempatan tersebut tentu saja langsung pamit untuk segera pulang, meninggalkan Alisha yang memilih untuk tetap tinggal menunggu Yuda selesai latihan.
“Oh….” Yuda bergumam lesu. Rasa capek di badannya terasa semakin bertambah saat mendengar berita tersebut.
“Lo belum mau pulang Yud?” tanya Alisha akhirnya karena melihat lapangan semakin sepi saja. Teman-teman Yuda yang lain sudah pulang semua.
“Tunggu bentar ya Sha. Capek nih. Lagian di sini suasananya lagi enak. Anginnya adem,” ucap Yuda lalu memilih untuk memejamkan matanya.
Alisha melihat ke samping, mengamati wajah Yuda dengan mata terpejam tersebut. Tapi, saat mata itu kembali terbuka, dengan cepat Alisha mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Lalu tanpa diduga, Yuda melontarkan sebuah pertanyaan, pertanyaan yang rasanya tepat menusuk ke dalam diri Alisha. “Sha… menurut lo, gimana rasanya suka sama sahabat sendiri, tapi orang tersebut gak sadar-sadar?”