(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Mereka pun tahu?


__ADS_3

    **Sepertinya hari ini adalah puncak dari segala bentuk protes tubuhnya terhadap apa yang Alisha lakukan akhir-akhir ini. Badannya tidak bisa diajak kompromi, berbeda dengan kemauannya. Di kasurnya saat ini, Alisha masih bergelung di dalam selimut, meringkuk seperti janin bayi yang masih di dalam kandungan.


    Semalam ia hanya makan sedikit, sebagai syarat saja untuk meminum obat. Ia masih terus melanjutkan aksi protes halus pada kakeknya. Ditambah lagi dengan kondisi tubuh yang tidak fit, badannya kini jatuh sakit. Kemarin saat pulang sekolah, Alisha memutuskan untuk menerobos hujan yang mengguyur dengan deras. Jaket yang ia kenakan bahkan tidak cukup membantu melindungi badannya, jadilah ia saat pulang kemarin hampir basah kuyup kehujanan.


    Meskipun ia sudah menduga akan terkena flu karena hujan-hujanan, tapi Alisha tidak menyangka kalau kondisinya akan separah ini. Dia kira hanya jenis flu ringan yang akan sembuh jika ia minum obat saja, tapi nyatanya tidak.


    Sekarang ini, seharusnya Alisha sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah, tapi ia malah tetap diam di atas kasurnya. Beberapa saat yang lalu, Kakek sempat menyuruh Alisha untuk segera ke dokter saja, tapi hal itu ditolak Alisha. Alisha beralasan mungkin nanti siang atau sore ia akan kembali sehat dengan sendirinya.


    Alisha menggigil kedinginan di balik selimutnya. Ia merasa kedinginan, namun badannya malah mengeluarkan keringat. Kepala Alisha juga terasa pusing sekali, belum lagi rasa sakit di perutnya yang mulai terasa. Semalaman bahkan ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


    Suara ketukan di pintu membuat Alisha sedikit membuka kelopak matanya. Bi Mari masuk ke dalam kamarnya dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bubur ayam.


     “Non, makan dulu ya. Setelah itu Non harus minum obat,” ucap Bi Mari setelah menaruh nampan tersebut di atas nakas.


    Alisha menggeleng pelan. “Nggak nafsu makan, Bi.”


     “Non harus makan, cukup atuh Non aksi mogok makannya. Non Alisha juga harus mikirin kesehatan. Mama Non pasti bakal sedih kalo tau Non sakit,” Bi Mari berusaha membujuk Alisha.


    Alisha mendesah berat. Disingkapnya selimut dan ia mulai duduk masih dengan posisi berada di atas kasur. “Iya, Alisha bakal makan,” ucapnya akhirnya. Napasnya terdengar berat dan rasa pusing terasa begitu kentara saat ia memakasa duduk tadi.


     “Mau Bibi suapin gak Non makannya?” Bi Mari menatap Alisha dengan prihatin, tak tega dengan kondisi Alisha saat ini.


     “Nggak usah, makasih Bi. Alisha masih bisa makan sendiri kok.” Lalu Alisha menjulurkan tangannya, meminta tolong Bi Mari untuk memberikan mangkuk bubur tersebut.


     “Buburnya dihabisin ya Non, terus jangan lupa minum obatnya,” ingat Bi Mari lagi.


    Alisha mengangguk pelan, rasanya susah untuk mengeluarkan suara.


    Lalu setelah Bi Mari keluar dari kamarnya, Alisha makan dalam hening. Pelan ia memakan bubur tersebut. Alisha sebenarnya tidak terlalu suka bubur, tapi untuk saat ini hanya makanan ini yang bisa ia habiskan dengan cepat tanpa harus banyak mengunyah.


    Keheningan di kamar itu terpecah saat ponsel Alisha mengeluarkan suara singkat, tanda ada SMS yang masuk. Alisha melirik malas ke ponselnya yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk. Belum diraihnya benda persegi tersebut. Tapi saat ponselnya kembali berbunyi untuk ketiga kalinya, Alisha akhirnya meraih benda tersebut dan membaca pesan yang masuk.


    From: Lani


    Sha udah bel ini. Lo di mana?


    From: Lani


    Alisha??


    From: Lani


    Bu Paulina udah masuk kelas nih. Lo di mana? Telat?


    Alisha mengetik balasan dengan cepat.


    To: Lani

__ADS_1


    Gue sakit Lan, gak masuk hari ini, izinin ya.


***


    Siang harinya, pintu Alisha yang tertutup rapat kembali diketuk oleh Bi Mari. Setelah mendapat jawaban dari Alisha, Bi Mari baru membuka pintu tersebut dan melangkah masuk ke dalam.


     “Non, ada temen Non di bawah, mau nengokin,” lapor Bi Mari langsung.


    Alisha yang dari pagi tadi masih setia menempel di kasur, membuka matanya sedikit. Kondisi badannya tidak seburuk pagi tadi, tapi tetap saja ia merasa tidak enak badan. “Yuda sama Lani? Langsung suruh masuk ke sini aja Bi.”


    Bi Mari menggeleng cepat. “Bukan mereka Non, kalo mereka mah Non Lani pasti udah masuk duluan ke sini.”


     “Terus siapa?” Ada nada heran yang terdengar saat Alisha mengucapkannya. Masalahnya, nggak ada teman lain yang selama ini sering kemari kecuali Yuda sama Lani.


     “Den Alden, Non,” jawab Bi Mari.


    Kini mata Alisha terbuka sempurna. “Alden?”


     “Iya. Den Alden ada di ruang tamu. Dia tadi minta tolong Bibi buat nanyain ke Non boleh gak dia nengokin.”


    Alisha terdiam sejenak. Dari mana Alden tau kalau dia sakit? Detik selanjutnya, Alisha sadar. Tu cowok kan emang suka gitu, tingkahnya gak ketebak, mungkin dia sadar tidak melihat Alisha di kelas seperti biasa.


    Lalu kembali ke pertanyaan Bi Mari, Alden mau mengokin dia, yang berarti masuk ke kamarnya? Alisha sempat ragu, merasa canggung kalau ada orang luar masuk ke kamarnya. Apa dia suruh Alden balik lagi aja ya? Tapi… kalo dia kayak gitu, kok kesannya jahat banget? Alden kan udah baik mau nengokin keadaan dia.


     “Ya udah gak apa Bi dia ke sini,” jawab Alisha akhirnya.


     “Oke Non.” Lalu Bi Mari kembali turun ke lantai bawah.


     “Permisi, Nona, saya izin menghadap. Apakah saya diperbolehkan masuk?” Suara Alden terdengar dari balik pintu.


    Alisha mendengus geli. “Masuk aja, Al.”


    Alden melongokkan kepala ke dalam. “Bener boleh nih?”


     “Iya.”


    Alden lalu membuka pintu lebar-lebar dan melangkah masuk ke dalam. “Wah gue gak nyangka kalo lo bisa sakit juga.” Itu kalimat pertama yang Alden ucapkan ketika melihat kondisi Alisha yang lemas.


    Alisha memutar bola mata jengah. Bukannya menanyakan kondisi Alisha, eh malah itu. “Nggak usah ngajak ribut deh.”


    Alden memasang tampang sok terkejut. “Siapa juga yang ngajakin ribut? Oh ya, gimana keadaan lo? Merasa bau kah karena belum mandi dari pagi?”


    Alisha menatap Alden menusuk.


    Alden malah nyengir. “Lagi sakit gak boleh marah-marah lho. Walaupun lo belum mandi, tapi masih wangi kok,” ada jeda sejenak, “wangi iler maksudnya.”


    Dahi Alisha berkerut sebal. Kedatangan Alden benar-benar membuat emosinya keluar. “Lo dateng-dateng kok ngajak rusuh sih? Gue timpuk juga entar.”

__ADS_1


     “Jangan dong.” Lalu tiba-tiba tampang menyebalkan Alden bernganti menjadi tampang serius. “Lo kenapa bisa sakit?”


     “Kehujanan kemarin.”


    Alden berdecak. “Lo itu bego atau apa sih, udah tau ujan masih aja diterobos. Gue yakin ini juga lo bisa sakit karena sering gak makan kan?” cecar Alden.


    Alisha menunduk, merasa seperti anak kecil yang dimarahi oleh orang tua.


    Alden lalu kembali bertanya. “Udah makan? Minum obat?”


    Alisha mengangguk. “Udah.”


    Alden perhatikan lamat-lamat kondisi Alisha. “Lo jaga kesehatan dong Sha, jangan terlalu keras nyiksa badan lo.”


    Alisha menggigit bibir bawahnya singkat. “Gue gak maksud buat gitu….”


    Alden menghela napas pelan. “Ya udah lah. Duh gue ngerasa kayak bapak-bapak kalo kayak gini.”


    Alisha yang tadi merasa bersalah, kini mendongak untuk melihat Alden yang masih mengenakan seragam sekolah. Ada binar geli di matanya saat melihat cowok itu.


     “Oh ya, sori nih gue dateng gak bawa apa-apa, buru-buru tadi. Tapi gue yakin, dengan kedatangan gue ke sini aja itu sudah amat teramat cukup buat lo,” ucap Alden dengan tingkat kepercayaan diri yang super tinggi.


    Alisha mencebik. “Serah lo deh, serah.”


    Entah sejak kapan Alisha mulai terbiasa dengan kehadiran Alden. Ia bahkan tidak mengira akan banyak berbagi cerita dengan cowok ini, cowok yang dulu tidak ia sukai sikapnya. Tapi sekarang, ia bahkan bisa berbicara dengan Alden tanpa canggung lagi. Dan tanpa sadar… Alisha sudah mulai mengizinkan Alden masuk ke dalam zona privasinya.


     “Alisha! Ya ampun, kok lo bisa sakit sih?” Suara yang amat Alisha kenali, tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam. Lani dengan langkah lebarnya menghampiri Alisha dan megecek keadaan cewek itu.“Badan lo panas banget.”


“Gue gak apa kok Lan,” ucap Alisha pelan.


     “Gak apa gimana, lo ampe gak masuk sekolah gara-gara sakit ini kan?” ucap Lani gemas sendiri dengan tingkah Alisha.


     “Alden, lo… di sini?” Yuda yang tadi berjalan di belakang Lani, menatap tak percaya kehadiran Alden yang ada di kamar Alisha.


    Lani yang tadi menerobos masuk saja, tidak menyadari kehadiran Alden yang jelas-jelas berdiri di dekat Alisha. “Eh iya, ada Alden. Wah gue gak nyangka bisa ketemu lo di sini.”


     “Yep, gue mau jenguk Alisha,” jawab Alden santai, mengabaikan ekspresi terkejut dari dua makhluk yang baru datang tersebut.


     “Wah lo cepet juga nyampenya ke sini,” ucap Lani yang mengingat kalau sepulang sekolah tadi, Alden memang sempat menanyakan Alisha.


    Alden hanya tersenyum saja sebagai respon. Tapi saat merasa risih akan tatapan yang terus ditujukan Yuda padanya, Alden mengangkat sebelah alis pada cowok itu. “Kenapa?”


    Akhir-akhir ini Alden merasa ada yang aneh pada Yuda. Sikap cowok itu menjadi tidak seramah yang sering orang katakan. Ya Alden akui memang kalau beberapa hari ini ia jadi sering bersama Alisha walau cewek itu sedang bersama sahabat-sahabatnya. Tapi ia sama sekali tidak merasa ada yang salah.


    Tiba-tiba pemikiran itu muncul. Ah, atau jangan-jangan…. Alden mendengus dalam hati. Kenapa ia tidak sadar sejak kemarin-kemarin? Alden arahkan pandangannya lurus-lurus pada Yuda. Melihat Yuda yang terus menatapnya tak suka, ada rasa sebal tersendiri pada cowok itu.


     “Gue ngerasa heran aja lo bisa ada di sini,” jawab Yuda yang sama sekali tak menyembunyikan raut tak sukanya pada Alden.

__ADS_1


    Sudut kiri bibir Alden tertarik ke atas. “Lo gak tau? Gue sama Alisha itu dijodohin, jadi wajar kalo kami dekat,” ucap Alden santai yang membawa efek badai pada semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.


Bersambung**


__ADS_2