(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Stay Away From Me


__ADS_3

Miss Sundari masuk ke dalam ruang kelas tepat setelah bel masuk berbunyi. Kelas yang semula masih ramai, mulai menjadi sepi senyap. Ketua kelas segera memimpin untuk memberi salam. Hari ini materi untuk pelajaran Bahasa Inggris adalah listening. Alisha dan Lani yang duduk di bangku paling depan pun sudah duduk rapi, bersiap untuk mendengarkan sembari menunggu Miss Sundari membuka laptopnya.



     “Alisha, bisa tolong ambilkan speaker yang ada di meja Miss?”



    Alisha menoleh. “Bisa, Miss.”



     “Kamu tau kan meja Miss yang mana?”



     “Iya, tau, Miss.”



     “Tolong ambilkan ya, Miss lupa bawanya,” pinta Miss Sundari.



    Setelah mengangguk singkat, Alisha bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas. Koridor sekolah sudah sepi. Hanya terlihat beberapa murid yang berpakaian baju olahraga saja yang terlihat. Alisha mengalihkan pandang ke lapangan. Sekarang lapangan dipenuhi siswa-siswa yang akan mengikuti pelajaran olahraga. Tak sengaja, mata Alisha melihat Alden yang sedang bermain basket dengan teman-temannya. Hanya melihat sekilas, lalu ia kembali berpura-pura tak melihat. 



    Dari kelasnya untuk mencapai ruang guru memang cukup jauh. Ia harus berjalan menelusuri koridor lalu melewati pinggir lapangan sedikit.



    Bugh!



    Sontak Alisha menghentingkan langkah saat sebuah benda keras mengenai kepalanya. Ia memegang kepalanya yang terasa sakit dan melihat sebuah bola basket jatuh tak jauh dari tempatnya berdiri. Cukup sakit dan membuat kepalanya sedikit pusing. Baru saja Alisha ingin menoleh ke lapangan untuk mengetahui siapa yang kurang ajarnya melemparinya dengan benda tersebut, Alden muncul tepat di depan wajahnya.



     “Astaga, maaf maaf, gue gak sengaja,” ucap Alden cepat yang sarat akan kekhawatiran. “Mana coba gue liat, sakit gak?” Alden ingin mengusap kepala Alisha yang terkena bola, tapi langsung ditepis kasar oleh cewek itu.



     “Gak apa,” ketus Alisha.



    Alden melotot gemas. “Gak apa gimana? Itu pasti sakit! Bunyinya aja ampe kedengeran di gue.”



    Alisha mendengus samar. Itu Alden tau kalau sakit? Kenapa pake nanya segala?



     “Iya, beneran gak apa,” balas Alisha bohong, karena nyatanya ia merasakan sedikit nyeri di kepala.



     “Kita ke UKS aja, ya!”



     “Gak usah. Gue kan udah bilang gak apa. Kok lo yang bawel sih?”



    Baru saja Alden ingin berucap lagi, Alisha memotong cepat. “Gak usah sok peduliin gue.” Lalu setelah berkata seperti itu, Alisha berjalan cepat menuju ruang guru, meninggalkan Alden yang ternganga akan sikapnya barusan.



     “Tuh cewek kalo deket gue kayak orang PMS mulu.”

__ADS_1



    Sudah terhitung tiga hari sejak Alisha memberi peringatan kepada Alden untuk bersikap gak kenal dan gak peduli dengan dirinya. Dan sudah selama ini pula telinga Alisha gak dengar kabar cewek-cewek yang ngaku-ngaku jadi ceweknya Alden lagi. Niat awalnya mau nyelidikin tentang Alden. Tapi belum sempat niat itu terlaksana, ternyata gosip-gosip tentang Alden jadian sama si ini atau sama itu, gak benar. Baguslah, jadi dia gak perlu buang-buang waktu dan tenaga untuk mencari tau.



    Alisha menduga ini pasti gara-gara kesepakatan mereka. Berarti Alden gak main-main sama ucapannya. Dia serius sama seperti dirinya. Tapi ya sudah. Alisha pilih gak ambil pusing. Dia juga gak mau memikirkan soal perjodohan itu lagi. Biar semuanya mengalir seperti air mengalir. Alden juga gak pernah sok sok deket lagi sama dia. Kalau ketemu pun, mereka akan saling buang pandangan. Pura-pura gak punya hubungan.



    Kelas sudah sepi, hanya menyisakan beberapa siswa yang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Alisha menutup bukunya dan menyimpannya dalam laci. Hari ini Alisha memutuskan untuk ke perpustakaan sendirian. Baru saja Lani pamit pergi karena ada keperluan dengan ekskul tarinya. Ia beranjak berdiri dan berjalan sendirian di koridor ini. 


     “Sha, mau ke mana?” tanya Yuda yang tiba-tiba muncul di sampingnya. 


     “Mau ke perpus.” 


     “Gak ke kantin?” Yuda mengikuti langkah Alisha. 


     “Males ah.” 


     “Emang udah makan?’ 


     “Belum sih.” 


    Yuda mengembuskan napas keras. “Lo ini kebiasann deh. Nih gue bawa roti, tadi sempet beli.” Cowok itu menjulurkan sebungkus roti pada Alisha. 


    Alisha menerimanya dengan perasaan senang. “Buat gue?” 


     “Iya.”



     “Makasih,” ucapnya tulus. Alisha senang kalau Yuda mulai memberi perhatian padanya. Perhatian-perhatian kecil seperti inilah yang sanggup membuat hatinya jadi berbunga-bunga. 


     “Tadi gue emang mau nyamperin lo ke kelas, mau ngajak ke perpus bareng. Tapi kok gue gak liat Lani ya?” 


     “Lani ada rapat ekskul. Tadi pergi duluan,” jawab Alisha. 



     “Lo mau ngapain ke perpus?” tanya Alisha kemudian. 


     “Nyari buku buat tugas referensi bahasa. Tugasnya dikumpul lusa, tapi gue mau kerjain aja dari sekarang, mumpung ada waktu senggang,” terang Yuda.



    Selang beberapa meter dari tempat mereka berdiri, ada Alden yang berjalan malas sambil berdecak sebal. Entah kenapa Pak Rubandi suka banget cari gara-gara dengan dia. Lihat aja sekarang. Gara-gara nilai latihan Alden gak sampe KKM, dia disuruh cari soal-soal latihan di perpus. Padahal yang nilainya kurang bukan cuma Alden aja, banyak yang lain juga. 



    Perutnya lagi keroncongan ini, tapi mau gak mau di ke perpustakaan dulu. Untung tadi dia sempet minta ke Dito untuk mesenin dia batagor. Seenggaknya sebelum guru pelajaran masuk abis istirahat, ia bisa makan dulu.



    Saat baru masuk melangkahkan kaki ke dalam perpustakan, matanya tak sengaja menangkap sosok Alisha yang sedang bersama Yuda. Ketemu dia lagi. Entah kenapa takdir sepetinya terus memaksa mereka bertemu. Padahal Alden udah jaga jarak dari cewek itu, eh sekarang Alisha yang muncul di dekatnya. Kalau ketemu pun dia bakal bersikap seolah Alisha itu kasat mata. 



     “Kayak perangko deh mereka,” komentarnya tanpa sadar. Iya, Alden sama seperti murid lainnya yang tau kalau Alisha itu cuma punya dua temen di sekolah ini. Satu Yuda, dan satunya lagi Lani. Itu pun dia tau pas gak sengaja papasan dan liat Alisha cuma biasa jalan bareng mereka aja. 



    Dia lalu mengangkat bahu tak acuh. Ingin menyapa, tapi entar diketusin lagi. Alden lalu berjalan ke rak-rak buku pelajaran, mencari-cari buku yang dimaksud Pak Rubandi. Selama sekolah di sini, dapat dihitung pakai jari Alden masuk ke dalam ruangan sunyi ini. Membosankan. Itulah pendapatnya. Jadi kalau bukan hal yang penting-penting banget, dia gak bakal mau menginjakkan kaki ke sini. 



    Saat sedang fokus menelusuri rak ini, tak sengaja Alden melihat Alisha di ujung rak. Padahal dia udah berusaha menghindar, kok ketemu lagi sih? Sambil pura-pura melihat-lihat buku, Alden berjalan semakin dekat, semakin dekat… hingga akhirnya Alisha pun sadar dan lagi-lagi hanya meliriknya saja, tanpa ada niatan untuk menyapa. 



    Karena udah terlanjut ketangkep pandang sama Alisha, Alden berhenti selang dua langkah dari Alisha yang sibuk membaca buku yang dipegangnya. 


     “Ahh! Kok lo ada di sini?” tanya Alden pura-pura terkejut. 

__ADS_1


    Alisha menoleh malas. Suara Alden gak bisa dibilang pelan. Padahal ini perpus, dilarang berisik. 


     “Kita ketemu di sini. Kebetulan banget! Gue ampir mati kebosanan di sini sendirian.” 



    Alisha tak menanggapi, terus membolak-balik halaman buku yang ia pegang. Merasa tidak cocok, ia menaruh buku tersebut kembali ke rak, dan mengambil buku yang lainnya. 



    Alden mengembuskan napas panjang. Dicuekin mulu. “Ya ampun, lo gak jawab pertanyaan gue? Nyari apaan sih?” tanya Alden sambil memanjangkan leher untuk melihat buku apa yang sedang dipegang Alisha. 


     “Nyari buku.” Singkat, padat, gak jelas. 



    Alden memutar bola mata jengah. Ya iya tau lah orang ke perpus pasti cari buku. “Buku apa maksud gue?” tanyanya geram. 


     “Bukan urusan lo.” 


    Tuh kan. Selalu dijawab itu saat Alden bertanya. 


     “Lo bantu Yuda buat cari buku ya?” Masih belum menyerah, Alden kembali bersuara. 



    Alisha melirik Alden sekeilas. Kok Alden tau? Emang rencananya dia ke sini mau pinjam beberapa novel, tapi melihat Yuda yang kebingungan cari buku, akhirnya Alisha turun tangan juga buat bantuin. 


     “Eh bener ya bantu Yuda cari buku?” Wah, ternyata dugaannya benar. 


     “Hmm.” 


     “Baik banget sih lo.” 


    Alisha tetap diam. 


     “Kalo gitu bantuin gue juga dong. Cari buku mtk.” 


     “Gak mau. Cari aja sendiri.” 



     “Kok gak mau sih? Bantuin Yuda mau, bantuin gue enggak,” ucap Alden, “Atau jangan-jangan… lo suka ya sama Yuda? Itu sebabnya lo mati-matian nolak perjodohan ini?” Entah pencerahan dari mana, Alden dapat berucap seperti itu, dan topik pembicaraan pun menjadi menyimpang. 



    Alisha membeku di tempat. Gerakan tangannya yang membolak-balik halaman buku menjadi terhenti. Kok Alden bisa nebak yang pas banget sih? Atau jangan-jangan emang keliatan dari dirinya kalau suka sama Yuda? Masa sih? Gak mungkin, gak mungkin keliatan dari sikapnya. Selama ini dia berhasil menyembunyikannya rapat-rapat, kok Alden bisa mengendus baunya? 



    Alden diam memerhatikan rekasi Alisha. “Wah tebakan gue bener ya?” Dia tersenyum miring. 


    Alisha menoleh dan menatapnya horor.



    Melihat reaksi Alisha yang sepertinya membenarkan semua ucapannya, senyum Alden luntur dan berganti dengan tampang syok. “Ya ampun. Lo jadi suka sama sahabat lo sendiri?” Gak sadar, Alden agak mengeraskan suaranya. Sontak Alisha membekap mulut cowok itu. 


     “Sst, gak usah teriak,” desis Alisha. 


    Alden mengangguk mengerti. Alisha pun menarik kembali tangannya. 


    Cowok itu tersenyum menantang. “Wah jadi selama ini terjebak friendzone, huh?” ledeknya karena muka Alisha sekarang sudah merah menahan malu. 


    Alisha bingung harus ngapain. Dia meremas samping roknya dengan gusar. Ini kali pertama ada yang tau tentang perasaannya. Dan sayangnya orang itu adalah Alden.



    “Bu-bukan urusan lo.” Alisha mengumpulkan segenap keberaniannya dan balas menatap Alden nyalang. Ia tarik napas sebentar sebelum berucap kembali dan menatap tepat di manik mata cowok itu. “Harus berapa kali sih gue bilang jangan ngurusin kehidupan gue? Cukup jaga jarak dari gue, jangan deket-deket dan ikut campur sama permasalahan gue. Sebelum perjodohan sialan itu, kita gak pernah punya urusan, dan biarlah tetep seperti itu. Jadi, jangan muncul lagi di hadapan gue,” ucapnya dingin. Setelah berkata begitu, Alisha pergi meninggalkan Alden yang bergeming di tempatnya. 


***


__ADS_1



__ADS_2