(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Harapan Yang Terkabul!?


__ADS_3

  Bel pulang sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Alisha berjalan menuju parkiran dengan pikiran berkecamuk. Ya, hari ini ia memang sudah masuk ke sekolah seperti biasanya. Walaupun kondisinya belum sepenuhnya pulih, tapi ia yakin akan baik-baik saja. Dan terbukti, sepanjang jam pelajaran tadi, ia bisa mengikuti semua dengan baik seperti biasa. Pagi tadi pun ia kembali sarapan di rumah, sudah berhenti melakukan aksi protes pada sang kakek.


    Ada rasa senang sekaligus gugup yang melingkupinya saat ini. Senang karena kakek ma menuruti permintaannya, gugup karena ada hal yang menanti pada malam hari nanti. Semalam, saat kakek menyetujui permintaannya, Alisha segera menyusun rencana kilat. Ia meminta pada sang kakek agar mau makan malam bersama hari ini. Makan malam di restoran dengan mengundang mama serta Bima untuk turut hadir. Kakek pun menuruti kemauan Alisha, membuat Alisha lanjut berlonjak senang.


    Alisha juga segera menghubungi mamanya tadi malam. Tentu saat pertemuan waktu itu, Alisha meminta kontak mamanya agar bisa ia hubungi suatu saat. Dan ternyata saat yang ia tunggu-tunggu akan tiba juga. Nanti malam mereka sekeluarga akan malam bersama. Makan malam yang mungkin akan menegangkan, namun entah mengapa ada rasa antusias juga pada Alisha.


    Ia berharap setelah perbincangan nanti malam, sang kakek mau benar-benar memaafkan dan menerima kembali mamanya. Berharap sang mama beserta adiknya bisa tinggal serumah dengan dirinya. Tapi ada rasa takut juga padanya saat ini. Rasa takut kalau kakek akan kembali mengeraskan hatinya, takut ia dipaksa untuk menjauh lagi dengan mamanya. Sungguh kalau itu benar terjadi, Alisha pasti tidak akan sanggup lagi.


     “Ini, kerutannya jangan dalem-dalem.” Alden yang sedari tadi sudah ikut berjalan di samping Alisha, menyentuhkan sebentar ujung mistar plastiknya pada dahi Alisha. Ia tidak tahan untuk tidak berkomentar saat cewek ini sibuk dengan pikirannya sendiri dengan kening yang berkerut dalam, bahkan Alisha tidak sadar kalau Alden dari tadi sudah di sampingnya sambil memperhatikan.


    Alisha langsung berjengit kaget. “Astaga, hobi banget sih lo ini muncul tiba-tiba,” ucap Alisha sebal.


    Mengabaikan ucapan Alisha, Alden bertanya, “Mikir apa sampe keningnya berkerut-kerut gitu? Lo itu baru mulai sehat, jangan kebanyakan mikir dulu.”


     “Mikir tentang acara entar malem,” ucap Alisha gusar. Ia mengigit bibirnya sekilas, lalu mengembuskan napas pelan. Pemikiran tentang hal buruk uang mungkin akan terjadi nanti malam benar-benar membuatnya risau.


     “Acara apa?” tanya Alden merasa tertarik dengan pembicaraan ini. Apalagi Alisha mau mulai bercerita. Bagi Alden, ia akan senang jika Alisha yang mau berbagi cerita atau masalah dengannya.


     “Makan malem sekeluarga….”


   &nbsp “Sekeluarga?” Kedua alis Alden terangkat.


   &nbsp Alisha mengangguk pelan.


   &nbsp “Kakek sama nyokap lo juga?”


   &nbsp “Iya.”


   &nbsp “Sama Bima juga?” tanya Alden memastikan.


     “Iya Alden iya, kalau bukan sama mereka, emang sama siapa lagi?” ucap Alisha yang mulai bete. Alden kalau bawelnya kumat benar-benar membuat Alisha pusing.


     Alden memamerkan cengiran khasnya. “Ya kan mastiin aja, Sha. Gimana perasaan lo?” tanya Alden sambil mencolek-colek bahu Alisha pakai mistar yang masih ia pegang.


     Alisha menghela napas lagi, entah sudah berapa kali ia melakukannya. “Gue seneng, takut, antusias, gugup, pokoknya semuanya campur aduk.”

__ADS_1


     Alden tersenyum maklum. Wajar saja Alisha merasakannya. “Jangan dibawa terlalu serius. Coba dibawa santai aja, Sha. Yakin kalo semuanya bakal baik-baik aja. Jangan terlalu banyak berpikiran negatif,” ucap Alden disertai senyum menenangkannya.


     Alisha melirik Alden sekilas. Memang ia terkadang was-was karena Alden bisa tau permasalahannya, tapi sedikit pun ia tak pernah merasa menyesal kalau cowok itu sudah tau. Ia tetap merasa aman sesudahnya.


     Lagipula Alden tidak berkoar-koar pada orang lain tentang masalahnya. Cowok itu pasti bakal berusaha menghiburnya, entah dengan tingkah yang membuat emosi naik, atau juga dengan senyum menenangkan tersebut. Senyum yang beberapa waktu sempat membuat Alisha tertegun. Soalnya Alden jarang banget senyum kayak gitu. Biasanya dia itu suka senyum-senyum nyebelin minta ditabok.


     “Jangan terlalu gugup, oke?”


    Tanpa sadar, Alisha mengangguk. Sedikit demi sedikit ia merasa beban yang sedari tadi menghimpit dada, mulai berkurang. Alisha sempat merasa heran. Aneh rasanya saat orang yang selalu membuat naik pitam, kini malah berhasil menenangkannya.


***


     Alisha membuka mata dengan perasaan yang berbeda hari ini. Ada rasa senang luar biasa yang melingkupinya sekarang. Senyumnya terus terpasang saat ia bangkit dari kasur dan mengambil ponsel di nakas. Ia buka menu galeri di ponsel tersebut, lalu senyumnya makin lebar saat melihat fotonya bersama dengan mamanya serta Bima semalam, di restoran tempat mereka makan malam.


     Ini bukan mimpi. Semua hal yang terjadi semalam benar-benar bukan mimpi. Alisha girang bukan main, tentu saja. Ada rasa lega luar biasa di hatinya saat ini. Kembali ia mengingat kejadian semalam, tentang acara makan malam yang berjalan dengan sukses, sesuai dengan harapannya.


     Saat acara makan malam semalam baru dimulai, awalnya memang terasa canggung. Terlihat sekali dari ekspresi kedua orang itu, mama dan kakeknya. Tapi untungnya hal tersebut tak berlangsung lama, berkat kehadiran Bima, Kakek mulai melunakkan sikapnya.


     Alisha jelas mengingat bagaimana kakeknya senang saat bisa melihat Bima, mengobrol-ngobrol dengan cucunya satu itu, dan tak enggan pula tertawa melihat tingkah Bima yang menggemaskan. Alisha akui, adiknya itu memang bisa menarik perhatian seseorang dalam sekejap saja, tak terkecuali dengan kakeknya. Sementara Bima, yang belum terlalu mengerti keadaan, jelas girang bukan main saat mengetahui dia punya kakek dan seorang kakak.


     Kakek tidak lagi melarang mama untuk menemui Alisha, bahkan saat Alisha dan Bima meminta mereka dapat tinggal serumah, Kakek menyetujiunya. Kakek memperbolehkan sang mama kembali ke rumah dan tinggal bersama Alisha lagi.


     Tapi mama beserta adiknya tidak serta merta langsung ke rumahnya tadi malam. Mereka semalam sudah sama-sama berunding bahwa sang mama akan segera pindah ke rumahnya sekitar satu atau dua hari lagi, masih perlu membereskan beberapa hal. Tapi hal tersebut tentu tak masalah bagi Alisha, asal ia sekeluarga bisa berkumpul kembali, Alisha akan sabar menungggu.


     Alisha bangun dari duduknya, segera ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Denagn langkah ringannya, ia menuju kamar mandi masih dengan senyum yang terus mengembang.


***


     Pagi ini Alisha sedang sarapan bersama kakek seperti biasa. Tapi ada yang berbeda dari Alisha saat ini, Kakek menyadari itu. Dari tadi senyum Alisha tak juga luntur. Dia bersikap sangat manis, seolah energi kehidupan kembali ke dirinya. Kakek tentu saja senang akan perubahan pada cucunya ini.


     Ia pun juga merasakan perasaan yang sama. Rasa marah sekaligus benci pada sang menantu, kini perlahan mulai surut. Kakek rasa ini adalah pilihan terbaik, berusaha memaafkan dan merelakan. Lagipula balasannya akan setimpal, keluarga anaknya bisa bersatu kembali. Dan rumah ini pun nanti akan kembali ramai. Anaknya pasti akan sennag mengetahui keluarganya bisa utuh kembali.


     Apalagi dengan kehadiran Bima. Baru pertama kali bertemu saja kakek sudah merasa sangat sayang pada anak kecil itu, bocah lelaki yang menggemaskan. Perpaduan wajahnya benar-benar mirip dengan kedua orang tuanya, seolah ia bisa melihat cerminan ayah Alisha saat masih kecil pada wajah itu.


     “Kek, makasih karena kakek udah mau maafin dan menerima Mama lagi. Alisha seneng banget,” ucap Alisha saat mereka selesai sarapan. Ditatapnya Kakek dengan tatapan penuh rasa terima kasih.

__ADS_1


     Kakek tersenyum lembut. “Seharusnya Kakek yang bilang terima kasih sama kamu karena kamu berhasil menyadarkan Kakek. Dan Kakek juga harusnya minta maaf sama kamu,” mendadak Kakek memasang tampang bersalahnya.


     “Kakek gak perlu minta maaf. Alisha ngerti kok. Udah gak usah dibahas lagi yang udah lalu, Kek. Yang penting ke depannya kita bakal kumpul bersama lagi. Itu aja udah cukup buat Alisha,” ucap Alisha disertai senyum manisnya.


***


    Alden yang sedang menyandarkan badan di tembok dekat tangga, menegapkan badan saat melihat kedatangan Alisha. Dari tadi ia memang sengaja menunggu kedatangan cewek itu, tak sabar ingin mendengar perkembangan kabar dari Alisha.


     “Girang banget pagi ini,” sapa Alden langsung, lalu ia mulai mengikuti langkah Alisha yang menuju kelas.


     Alisha tersenyum kecil sambil mengangguk.


     “Gue tebak pasti acara semalam berlangsung sesuai harapan baik lo,” ucap Alden yang mengamati ekspresi Alisha lurus-lurus. Setelah kemarin cewek ini seperti kehilangan semangat hidup, akhirnya Alden bisa melihat wajah itu kembali bersemangat. Senang rasanya saat mendapati Alisha bisa kembali bahagia.


     “Iya, Kakek mau maafin nyokap gue, dan secepatnya mereka bakal balik tinggal di rumah,” cerita Alisha langsung. Alisha bahkan tak berpikir lebih lanjut sebelum bercerita, seolah lidahnya refleks bergerak sendiri saat Alden ada di dekatnya untuk mendengar.


     Alden ikut tersenyum. “Wah gue turut seneng dengernya. Selamat ya akhirnya harapan lo terkabul juga. Gue seneng liat lo kalo senyum-senyum kayak gini. Gak kayak mayat hidup seperti kemaren-kemaren.”


     Alisha mengembungkan pipi sebentar. Dihilangkannya senyum yang tadi sempat ia tampilkan. “Masih pagi, Al, jangan mulai ngajak ribut.” Tapi walau begitu, Alisha tak sepenuhnya sebal, tanpa ia sadari Alisha bahkan mulai terbiasa dengan tingkah Alden yang seperti ini.


     Alden hanya menyengir. “Gue kan cuma berkomentar. Lagipula banyak senyum itu bagus lho buat kesehatan.”


     “Iya deh, iya,” ucap Alisha akhirnya. “Alden?”


     “Yap?”


     “Makasih,” ucap Alisha pelan dengan kepala menunduk.


     Alden menaikkan sebelah alisnya. “Makasih buat apa?”


     Alisha bingung sendiri menjawabnya. Makahis karena kehadiran Alden selama ini di sisinya, mungkin? Tapi lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan hal itu. “Ehm, gak tau, ya pokoknya makasih aja.”


     Ada binar geli di mata Alden saat ini. “Bilang makasih kok tanpa alasan. Makasih buat apa emangnya?”


     Alisha kini mengangkat kembali dagunya. “Ya pokoknya makasih. Udah ah, gue buru-buru mau ke kelas,” ucap Alisha cepat lalu berjalan dengan langkah lebarnya menuju kelas, meninggalkan Alden yang tersenyum lebar di belakangnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2