
Neola terlihat sedang celingukan ketika akan masuk ke dalam kelas XI IPA 3. Untungnya Alisha berada di posisi yang strategis, membuat matanya bisa langsung menatap sosok itu ketika di depan kelas. Alisha dan teman sebangkunya sepertinya sedang bersiap akan keluar kelas, mengingat bel istirahat sudah berbunyi tadi.
Neola berjalan cepat masuk ke dalam kelas. “Sha bantuin gue…,” pinta Neola langsung saat sudah sampai di depan meja Alisha.
Lani yang tak menduga kedatangan sosok Neola yang tiba-tiba meminta bantuan pada Alisha, sontak mengerutkan dahi singkat. Tumben-tumben ada orang yang berani langsung minta tolong sama sahabatnya ini. Secara terang-terangan di depan mata lagi, dan juga bukan orang yang berasal dari kelas mereka.
“Bantuin apa La?”
Tidak seperti dugaan Lani, Alisha menanggapi dengan santai, tidak seperti biasanya. Biasanya mah boro-boro ditanggepi, langsung dihadiahi tatapan tajam sama Alisha, seolah yang meminta bantuan itu hama pengganggu. Apalagi ini udah waktunya istirahat.
“Ajarain gue mtk bentar, abis ini gue ada ulangan. Ada yang belum gue ngerti,” jelas Neola. Di tangannya memang sudah terdapat dua buku, yang bisa Lani tebak adalah buku latihan dan buku catatan.
Oh, mtk… Wajar aja sih kalau nanyanya sama Alisha. Mungkin sebelum ini Neola sudah sering berusaha mendekat ke Alisha. Tapi kedekatan mereka yang tiba-tiba ini membuat tanda tanya di pikiran Lani. Alisha kan orangnya tertutup. Kalau berteman pilih-pilih, bukan karena sombong, melainkan karena memang ia tidak suka berinteraksi dengan sembarang orang.
Ia hapal betul akan sikap sahabatnya itu. Tapi walaupun dengan orang lain begitu, Alisha tidak bersikap begitu padanya. Terkadang Lani merasa beruntung karena bisa menjadi salah satu orang yang paling dekat dengan Alisha. Lani tau sebenarnya banyak yang kagum pada sahabatnya ini, tapi mereka juga ngeri dan sungkan untuk mendekat langsung.
Lani yang sedari tadi diam memperhatikan kini melempar tatapan penuh tanya pada Alisha, meminta penjelasan akan hal ini.
Baru saja Alisha hendak mencoba menjelaskan, Neola kembali bersuara.
“Lani, kan?” tanyanya pada Lani.
“Iya,” jawab Lani.
“Gue pinjem temen lo gak apa kan? Genting ini, tau kan kalo mtk itu kalo gak ngerti bikin pusing kepala, hehe,” ucap Neola.
Lani melirik Alisha sekilas, sepertinya tidak ada tampang enggan di situ. “Iya, gak apa. Belajar aja di sini. Gue ke kantin ya. Nanti gue beliin lo roti Sha,” pamit Lani. Tapi sebelum itu, dia melempar tatapan yang seolah berkata setelah-ini-lo-harus-jelasin-ke-gue yang ditanggapi anggukan kecil oleh Alisha.
Setelah kepergian Lani, Neola duduk di kursi yang semula ditempati Lani. “Maaf ya Sha kalo gue ganggu. Gue bener-bener masih bingung sama materi yang ini,” ucap Neola dengan tampang melasnya.
Alisha tersenyum tipis. “Gak apa kok. Ya udah mana? Entar keburu bel lagi.”
Neola pun dengan cepat menyodorkan bahan materi yang masih dibingungkannya, berharap setelah bertanya pada Alisha, ia dapat jadi lebih mengerti.
Tidak terasa sepuluh menit sudah berlalu. Neola sudah paham sekarang, untuk segi menjelaskan materi, Alisha emang jago deh. Dia yang semula gagal paham mulu, sekarang jadi mengerti.
“Makasih ya, Sha,” ucapnya disertai senyum lebar.
“Iya, sama-sama.”
“Oh ya, besok lo ke GOR gak?” tanya Neola mengubah topik pembicaraan.
“Ke GOR?”
“Iya, tanding basketnya kan besok. Dateng ya. Gue juga dateng kok.”
Alisha menimbang-nimbang sebentar. Besok hari Minggu. Waktunya ia untuk bersantai-santai di rumah. Tapi besok itu Alden tanding, kompetisi yang bukan main-main pula. Apalagi Alden dan timnya membawa nama baik sekolah.
“Iya, gue dateng kok,” jawab Alisha akhirnya.
__ADS_1
***
Bel masuk sudah berbunyi. Murid-murid kelas pun sudah kembali duduk di tempat masing-masing. Tapi guru yang mengajar belum juga datang. Hal ini tentu dimanfaatkan Lani dengan sebaik-baiknya. Alisha masih ada hutang penjelasan ke dia.
“Sha, sejak kapan Neola deket sama lo?” tanya Lani mulai membuka pembicaraan.
“Baru sih….”
“Kok kalian bisa deket? Eh gue gak maksud nyinggung kok, tapi tumben aja gitu,” ucap Lani yang agak gak enak hati.
Alisha berpikir sebentar. Kalau ia kasih tau Lani bahwa Neola itu saudara kembarnya Alden, boleh gak ya? Habisnya dia tidak punya alasan lain untuk menjawab. Lagipula Lani kan sahabatnya, dia gak bakal menjual rahasia Alisha ke orang lain untuk digosipkan.
“Lan, gue pengen kasih tau lo sesuatu. Tapi lo janji jangan kasih tau ke siapa-siapa ya.”
“Iya, pasti itu.”
“Bener ya jangan cerita ke siapa-siapa. Ehm kalo Yuda pengecualian. Pokoknya selain dia lo gak boleh cerita ke siapa-siapa.”
“Iya, Alisha…. Berapa lama sih lo kenal gue? Berapa lama kita sahabatan? Gue jelas gak mungkin bocorin rahasia,” yakin Lani.
Alisha menarik napas dan mengembuskannya sebentar, berusaha berpikir sambil menyusun kalimat yang tepat. “Neola itu saudara kembarnya Alden,” ucapnya dalam satu kali tarikan napas.
Lani sontak membulatkan matanya tak percaya. Beneran? Kok gak ada kabarnya kayak begitu? “Beneran Sha?” tanya Lani untuk meyakinkan.
Alisha mengangguk pasti.
Mulut Lani mangap seketika. Selama ini gak ada yang tau kalau Alden punya saudara yang satu sekolahan dengan dia. Saudara kembar pula. Ini jelas berita yang mengejutkan. “Kok… kok lo bisa tau?”
Lani ber’o’ panjang. “Oooh… gituu. Pantes aja lo tau.”
“Gue juga belajarnya gak bareng Alden aja, tapi sama Neola juga,” tambah Alisha.
Lani manggu-manggut mengerti. “Jadi… karena itu Neola mulai deket sama lo?” Lani menarik kesimpulan sendiri.
Bingung ingin menjawab apa, Alisha pun mengangguk saja membenarkan. Sebenarnya ia ingin cerita kalau sebelum-sebelumnya dia juga udah pernah ngobrol-ngobrol dan jalan bareng sama Neola. Tapi kalau dia cerita hal tersebut, pasti bakal merambat ke Alden. Jadi biarlah cukup ini saja yang diketahui Lani.
“Oke oke, gue paham sekarang. Oh ya besok kita ke GOR ya,” ajak Lani yang telah mengubah topik pembicaraan.
“Iya.”
Lani tersenyum girang. “Pasti banyak anak SMA lain yang nonton di sana, mengingat ini kan kompetisi se-Jakarta. Kak Panji juga kayaknya bakal ikut nonton.”
Hah… sudah Alisha tebak, Lani segirang ini pasti karena orang itu. Baru kali ini Alisha melihat sahabatnya benar-benar seperti orang kasmaran.
***
Kompetisi basket yang dijadwalkan sudah tiba. GOR sudah penuh. Gedung berukuran besar yang biasanya sepi itu kini penuh dengan penonton yang hadir. Spanduk-spanduk besar terpampang di depan gedung. Para suporter dari masing-masing tim pun membawa atribut mereka masing-masing.
Neola sudah hadir sedari tadi, sejak GOR masih sepi. Ia duduk di deretan bangku paling depan. Beberapa tempat duduk di sampingnya dibiarkannya kosong. Saat ada yang hendak menempati, dengan cepat ia bilang kalau itu ada orangnya.
__ADS_1
Kepalanya celingukan melihat sekitar, mencari-cari di antara kerumuman penonton yang memadati bangku belakang. Ketika menemukan sosok Alisha yang tengah kebingungan mencari tempat duduk, Neola melambai-lambaikan tangannya. Ia panggil Alisha agar mendekat padanya.
“Alisha! Sini!” teriak Neola berusaha mengalahkan kebisingan suara di sekitarnya.
Alisha semakin melangkahkan kainya mendekat ke Neola. Ternyata setelah Neola perhatikan lebih dekat, ada Yuda yang ikut berjalan di samping Alisha.
“Kalian di sini aja, tempatnya emang udah gue booking kok,” ucap Neola dengan mendongakkan kepala. Di sini rami banget, mana pula posisi berdiri Alisha dan Yuda lebih tinggi dibanding tempat dia duduk.
Alisha dan Yuda melangkah turun dan duduk di samping Neola. Alosha duduk diapit oleh Neola dan Yuda.
“Gue kira lo gak bakal dateng,” canda Neola.
“Gue dateng kok.”
Neola celingukan sebentar sebelum kembali bertanya, “Temen lo yang itu mana?”
“Lani?”
“Iya.”
“Dia kayaknya sebentar lagi dateng,” jelas Alisha.
Neola lalu mengalihkan tatapannya pada Yuda. “Yuda kan? Kapten futsal sekolah?”
“Iyep, dan lo Neola saudara kembarnya Alden kan?” sahut Yuda dengan mengecilkan volume saat mengucapkan ‘saudara kembar’.
Neola sempat bingung kok cowok ini bisa tau. Tapi saat Alisha memberinya tatapan maaf dengan tampang bersalah, barulah Neola mengerti.
“Ah iya, bener. Jangan kasih tau siapa-siapa ya,” ucap Neola enteng. Gak apalah kalau Yuda dan kemungkinan Lani juga tau. Neola maklum, mereka kan sahabat dekat Alisha. Pasti sulit buat Alisha menyembunyikannya.
“Maaf ya, La,” ucap Alisha pelan.
“Ah enggak apa kok,” sahut Neola riang, tidak terlalu menanggapi kalau itu suatu masalah.
Sedetik kemudian, Neola menyenggol lengan Alisha. “Itu Lani kan?” ujar Neola yang melihat Lani sedang mencari-cari tempat duduk.
Yuda dan Alisha menoleh ke arah yang ditunjuk Neola. Awalnya Yuda memasang tampang ramah, tapi saat dilihatnya Lani datang bersama Kak Panji, tampangnya menjadi masam.
“Lan, Lani!” panggil Alisha dan Neola. “Duduk sini!”
Lani segera berjalan ke arah mereka, diikuti Kak Panji yang berjalan di belakangnya. “Wah kalian udah booking tempat aja. Gue kira gak bakalan dapet tempat duduk. Rami banget,” komentar Lani setekah duduk di samping Yuda. Kak Panji ikut duduk di sampingnya. Ternyata tempat yang disediakan Neola muat untuk mereka.
“Neola yang nempatin,” sahut Alisha yang dibalas cengiran oleh Neola.
Tiba-tiba penonton bersorak riuh, mereka pun ikut melemparkan pandanganan ke lapangan. Kedua tim yang akan bertanding sudah masuk ke dalam lapangan. Membuat para suporter tim masing-masing menjadi bersorak heboh. Pertandingan basket segera dimulai. Segera saja kedua tim menunjukkan kemampuan terbaik mereka masing-masing.
Sampai saat ini pertandingan berlangsung cukup seru bagi Alisha. Hingga akhirnya, giliran tim sekolahnya yang tanding. Alden dan timnya segera masuk ke dalam lapangan, membuat para pendukung yang berasal dari sekolah mereka menjadi bersorak heboh.
Alisha juga melihat tim cheerleader mereka di lapangan. Alisha amati konstumnya memang tampak berbeda dari yang semula. Menurutnya yang sekarang lebih baik. Apa ini karena Alden yang turun tangan langsung meminta mereka untuk merevisi seragam?
__ADS_1
***