(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Hadir Disaat Yang Tepat


__ADS_3

Alden segera melambatkan laju motornya saat dari jauh matanya melihat sebuah motor yang tak asing sedang berhenti di pinggir jalan. Ia semakin memusatkan pandangan untuk melihat seseorang yang duduk dengan kaki tertekuk di samping motor tersebut. Motor itu seperti motor Alisha, dan… orang itu apakah Alisha juga? Alden segera menepis pikiran anehnya. Mana mungkin seorang Alisha mau berhenti di pinggir jalan yang sepi seperti ini, dengan posisi yang bisa dibilang agak aneh pula untuk takaran seorang Alisha.



    Tetapi semakin ia mendekati objek tersebut, semakin ia yakin bahwa itu benar Alisha. Hari sudah sangat sore. Keadaan sekeliling pun mulai terlihat sepi. Alden inginnya tidak peduli, ia juga tidak ingin untuk menghampiri seseorang itu. Tapi entah mengapa tindakannya bertolak belakang dengan pikirannya.



    “Sha. Alisha. Ini lo kan?” Dan sekarang, setelah ikut menepikan motornya, Alden sudah berdiri tepat di samping cewek itu sambil mengguncang bahunya pelan.



    Cewek itu mendongak. Benar seperti dugaannya. Itu Alisha.



     “Alden….”



    Alden membeku di tempat saat melihat setetes air mata itu jatuh. Ke-kenapa cewek ini nangis? Alden rasanya sudah tidak ingin peduli lagi dengan cewek ini. Dia yang awalnya ingin bersimpati karena tau kalau orang tua Alisha udah gak ada, jadi gak jadi karena sikap Alisha sendiri, bahkan Alisha bilang padanya jangan muncul lagi di hadapannya. Tapi lihat sekarang, siapa yang ada di depannya dengan tampang seperti ini?



    “E-eh, lo kenapa nangis?” Alden ikut duduk di sebelah Alisha. Peduli amat kalau ada yang melihat mereka seperti ini


.



    Alisha tidak menjawab, tidak juga balas menatap Alden. Masih dalam keadaan memeluk lutut, pandangannya kini tertuju pada jalanan aspal di depan mereka. Air matanya yang tadi sempat keluar, cepat-cepat dihapusnya kasar. Tapi sayangnya, air mata tersebut tidak juga mau berhenti keluar.



    “Kenapa? Lo dijambret?” tanya Alden khawatir. Bukan gak mungkin kalau Alisha dijambret, suasana kan lagi sepi sekarang.



    Alisha menggeleng pelan.



    “Terus kenapa?” Alden jadi parno sendiri melihat keadaan Alisha. Ini pertama kalinya ia melihat Alisha menangis. Iya, menangis. Tapi tidak seperti kebanyakan cewek-cewek yang bakal menagis dengan terisak-isak heboh, cewek ini malah lebih memilih untuk meredam tangisannya.



    Tak kunjung mendapat jawaban, Alden melihat kondisi Alisha. Tidak ada bekas luka atau apa pun. Lalu ia melihat keadaan motor matic di depannya. Saat ditemuinya ban motor Alisha yang kempes, rasa khawatir yang sempat bersarang kini menguap. Ia mendengus lucu.



    “Jadi gara-gara ban kempes, lo nangis?” Alden menatap Alisha geli.



    Alisha mencebik. “Bukan lah.”



    Alden kontan terkejut. Wah perkiraannya salah. Lagipula lucu sekali kalau memang itu alasan Alisha menangis di pinggir jalan.“Jadi kenapa?” tanyanya untuk kesekian kali.



    Alisha tetap dalam tangis diamnya tanpa berniat menjawab pertanyaan Alden.



    Alden menarik napas panjang. “Ya udah kalo lo gak mau cerita. Gue anter pulang sekarang.”



    “Motor gue gimana?” tanya Alisha dengan suara paraunya.



    “Bentar.” Alden yang masih mengenakan seragam basket meraih ponselnya dan menelepon seseorang. Cukup lama, hingga dering kelima telepon tersebut baru diangkat.



    “Halo, Dit?” Untung saja ia bersama teman-temannya baru selesai latihan basket. Jadi kemungkinan, Dito belum terlalu jauh dari sekolah dan bisa segera menyusul ke sini.



    “Kenapa? Gue lagi di jalan nih.”


    “Bantuin gue dong. Penting ini.”


    “Apaan?”



    “Lo ke sini, samperin gue. Lo lagi sama Dimas kan?” Alden ingat kalau tadi Dimas nebeng dengan Dito dengan alasan rumah mereka satu arah.


    “Iya nih kunyuk lagi nemplok di punggung gue. Oke, lo di mana emang?”



    Alden menyebutkan posisi mereka. “Ke sini ya, cepet.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia menutup telepon.



    Alden melirik sebentar Alisha sambil kembali menyimpan ponselnya. “Gue telpon Dito buat bantuin bawa motor lo ke tambal ban, gak apa kan?”



    “Iya.” Pertanyaan yang gak perlu Alisha jawab sebenarnya. Ya terkadang sikap seenaknya Alden bisa berguna juga.



    “Ya udah, berhenti dong nangisnya. Entar dikira gue lagi yang ngapa-ngapain lo sampe nangis begini.”



    Alisha pengennya juga gitu, gak nangis, apalagi di depan Alden. Tapi gak tau kenapa air matanya terus aja mengalir.



    “Mau dipeluk gak?” Pertanyaan bloon itu pun keluar juga dari mulut Alden.



    Alisha mendelik. “Enggak!”


__ADS_1


    Alden menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Gue bukan modus lho ya. Ya soalnya kalo cewek nangis biasanya pengen dipeluk, iya kan?”



    “Gak tau.” Perlahan, air mata Alisha pun berhenti keluar, berganti dengan tatapan tajam yang menatap cowok di sampingnya.



    “Eh, biasanya cewek kalo nangis butuh tisu atau saputangan, kan? Bentar, gue ada saputangan.” Alden bergegas membuka tasnya. “Nih.”



    Alisha hanya memandangnya, belum berniat untuk mengambil.



     “Masih bersih kok, belum bekas keringet gue. Tadi belom dipake, masih wangi,” kata Alden sembari mencium sekilas bau saputangan berwarna hijau itu.



Alisha pun menerimanya.



    “Pake aja buat ngelap air mata lo. Untuk sekalian buang ingus juga gak apa,” ujar Alden enteng.



    Alisha mendelik.



    “Beneran deh gak apa, pake aja.”



    Alisha tidak menjawab.



    Deru suara motor menghampiri mereka. Dapat Alden lihat, Dito dan Dimas menghampiri mereka dengan raut wajah heran.



    “Wah, kok tumben berduaan?” Dito langsung nyeletuk saat melihat Alden dan Alisha. Tapi saat dilihatnya Alden menatap penuh peringatan dan tampang Alisha yang murung, dihentikannya cengirannya.



    “Dit, Dim, tolong bawa motornya ke tukang tambal ban di simpang depan ya,” pinta Alden langsung.



    “Motor Alisha?” tanya Dimas.



    “Iya, motor gue. Eh, tapi kalo ngerepotin gak usah deh, gak apa,” ucapnya pelan.



    Alden, Dito, dan Dimas saling bertatap. Mengerti akan tatapan yang diberikan Alden, kedua cowok itu menganggguk.



    “Ah gak ngerepotin kok. Hitung-hitung olahraga tambahan. Ya gak, Dim?”




    “Makasih ya. Ini kunci motornya,” ujar Alisha yang sebenarnya tak enak hati untuk meminta tolong pada mereka.



    “Motornya jangan dibawa kabur. Jangan ampe lecet atau ada kurang satu pun,” bawel Alden.



    “Iya, Tuan,” jawab Dito dan Dimas mengangguk pura-pura patuh.



    Entar kalo udah selesai telepon gue, oke?”



    “Siap! Udah pegi gih sana, cepet,” ucap Dito sambil mengibas-ngibas tangannya.



    “Thanks, Bro.”



    Alden lalu menuju motornya. “Sha, yuk pulang.”



    Alisha pun menurut dan duduk di boncengan Alden. Sepanjang perjalanan, hanya hening yang tercipta di antara mereka. Keduanya sama-sama diam untuk beberapa saat.



   &nbsp“Sha, jangan diem aja dong. Lo gak kesambet kan? Eh, atau jangan-jangan elo bukan Alisha?” ucap Alden tiba-tiba dengan fokus mata tetap ke depan.



    “Gue beneran Alisha.”



    “Nah bersuara kek dari tadi. Serasa jadi tokeng ojek gue.”



    Tidak ada sahutan dari Alisha. Hening kembali membuat ia berpikir tentang kejadian di restoran tadi.



    “Yuda sukanya sama Lani.” Alisha berucap pelan. Nyaris tak terdengar di telinga Alden jika saja Alden tak menajamkan pendengarannya dari tadi. Hanya satu kalimat itu saja yang diucapkan Alisha, setelah itu, cewek itu kembali diam. Satu kalimat yang langsung membuat Alden mengerti tentang sikap Alisha hari ini.



    “Ehm, Al, kalau lewat konter pulsa, stop ya.”

__ADS_1



    Setelah mengantar Alisha sampai di depan rumahnya, Alden gak langsung pulang. Katanya mau nungguin Dito sama Dimas yang nganterin motornya Alisha dulu. Alisha pun mau tak mau nurut saja, menerima kedatangan cowok itu di rumahnya untuk pertama kali. Bukan hanya sampai di situ, Alden bahkan ketemu sama kakek Alisha dan disambut baik. Alden bahkan dengan berbaik hati menjelaskan kronologis kenapa sampai Alisha dia yang antar pulang dan tentang keadaan motornya, tentu minus tentang Alisha yang nangis gara-gara Yuda. Sepanjang menunggu, Kakek dan Alden jadi ngobrol-ngobrol ringan. Setelah motor diantar, Alden pun kembali ke rumahnya.



    Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Alisha yang telah selesai mengerjakan laporannya –tentu dipaksakan untuk fokus dulu ngerjain tugas, jangan memikiran tentang masalahnya– kini berbaring di kasur.



    Alisha memeluk guling. Ia pendamkan mukanya di antara celah bantal dan kasur. Rasanya dadanya begitu sesak untuk menghadapi kenyataannya ini. Seandainya ia punya tempat cerita…. Ia geser sedikit gulingnya untuk memberi celah agar ia bisa menatap foto yang terletak di nakas. Foto kedua orang tuanya. Ia rindu dengan mereka.



    Seandainya ia sama seperti Lani, yang masih mempunyai sosok ibu di dekatnya, pasti Alisha sekarang sedang curhat dengan mamanya, seperti remaja-remaja normal lainnya. Dan juga kalau boleh seandainya, Alisha ingin perasaan Yuda tersebut bukan untuk Lani, tapi untuk dirinya. Hah, terlalu egois kah dia?



    Tiba-tiba, kesunyian di kamar itu terpecah akibat deringan ponsel. Alisha menjulurkan tangan untuk menggapai ponsel yang terletak di samping foto. Ditatapnya sebentar layar ponselnya. Nomor tak dikenal.



    “Ya, halo?”



    “Ini siapa?”



    Otomatis kening Alsiha mengerut saat mendengar pertanyaan balik suara dari ujung telepon tersebut.



    “Seharusnya gue yang nanya.”



    “Eh orang nanya harus dijawab dulu.”



    Malas berdebat, Alsiha pun memilih mengalah dan menjawab. “Ini Alisha.”



    “Wah, ternyata bener ini nomor lo, gak salah sambung lagi, hehe.”



    Tunggu, sepertinya Alisha kenal dengan suara orang ini. “Alden?”



    “Eh kok tau? Udah hapal ya sama gue yang serak-serak seksi gitu?”



    Mendengarnya, Alisha tak tahan untuk mendengus menahan tawa. “Serah lo deh. Ngapain nelpon? Kalo cuma mau nanya-nanya tentang gue gak perlu. Gak usah pe-”



    “Gak usah peduliin gue,” potong Alden cepat. “Sampe hapal gue omongan lo. Lagian geer lo, siapa yang mau nanya-nanya tentang lo.”



    “Ya, terus?”



    “Gue bingung mau beli nasi goreng atau mi jawa aja. Menurut lo enak yang mana?”



    Apa banget deh si Alden ini. Malam-malam nelpon cuma untuk nanya hal begituan? “Terserah lo. Gue tutup deh teleponnya.”



    “Eh, jangan dong. Gue sendirian nih di sini, lagi ngantri. Lo gak kasihan gitu sama gue yang duduk sendirian di sini, kedinginan pula.”



    “Mas, kalau kedinginan, saya mau kok dibelai unutk ngangetin,” sahut suara lain dari ujung telepon.



    “Anjir! Eh, Mas, jangan deket-deket!”



    “Kok dipanggil Mas sih? Padahal udah cantik gini.”



    “Ya tetep aja situ kan laki.”



    “Jadi maksudnya, Mas Ganteng ngatain saya bencong gitu?”



    “Eh saya gak bilang gitu lho.”



    “Dasar ya kamu, sok jual mahal, huh.”



    Alisha menahan tawanya sedari tadi saat mendengar percakapan di ujung telepon tersebut.



    “Astaga, saking gantengnya gue ampe digodain bencong.”



    “Gue tutup ya teleponnya. Ngantuk,” ucap Alisha setelah berhasil mengontrol suaranya agar terdengar normal. Mungkin Alisha harus berterima kasih pada Alden. Karena berkat cowok itu, ia bisa tidur tanpa memikirkan kembali tentang keresahannya.



__ADS_1




__ADS_2