(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Cemburu?!


__ADS_3

Yuda berjalan masuk ke ruang kelas XI IPA 3 setelah tadi sempat melempar tatapan penuh selidik pada Kak Panji. Tidak biasanya ia melihat kakak kelas itu datang ke ruang kelas ini. Cowok itu melangkahkan kaki menuju meja di mana terdapat Alisha dan Lani dengan buku bertebaran di atas meja.


    Yuda segera menarik kursi kosong di samping mereka, lalu meletakkannya di samping meja Alisha dan Lani. Ia daratkan bokongnya di sana. Untung saja Yuda tidak menarik bangku ke depan meja mereka. Kalau itu dilakukan, Yuda pasti sudah kena semprot sama Lani dan Alisha karena menghalangi pandangan mereka untuk melihat ke papan tulis.


    “Gak ke kantin, Yud?” tanya Alisha yang sudah menyadari kehadiran cowok itu sejak bertatapan dengan Kak Panji.


    “Belom,” jawab Yuda singkat. “Tadi Kak Panji ngapain ke sini?” tanyanya langsung ketika mendapati Lani yang masih dengan senyum manis melekat di bibir. Sementara Alisha, ia kembali melanjutkan catatannya. Berusaha ia mengabaikan tatapan yang diberikan Yuda pada Lani.


    “Ketemu gue dong,” jawab Lani sumringah, memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi. Senyumannya memang manis, tapi kali ini senyum itu tidak bisa membuat Yuda juga ikut tersenyum seperti biasanya.


    “Ketemu lo? Ngapain? Udah tetanggan, kok masih nyamperin ke kelas?” tanya Yuda berusaha santai, tapi tetap tidak bisa menutup ada nada cemburu di sana. Alisha yang berpura-pura fokus pada catatannya, jelas dapat menyadari itu. Posisinya yang berada di antara Yuda dan Lani entah mengapa membuatnya tidak nyaman. Apalagi dengan aura Yuda yang tidak seperti biasanya.


    “Dia nganterin buku ke gue.” Dasar Lani yang memang tidak peka. Ia menjawab sama santainya. “Banyak nanya deh, Yud,” sambungnya kembali lalu mulai meraih penanya dan kembali menulis.


    “Ya gue kan cuma nanya. Soalnya lo keliatan sumringah banget.”


    Lani kembali tersenyum lebar. “Jelas sumringah dong. Yud, ternyata Kak Panji makin diliat, maik manis ya.”


    “Gula kali dibilang manis,” komentar Yuda asal. Alisha melirik Yuda sekilas. Saat mendapati ekspresi Yuda yang keliatan bete, diam-diam Alisha tersenyum pahit.


    Lani mencebik. “Ih dasar sirik aja lo.” Lalu teringat sesuatu, Lani kembali berucap dengan antusias. “Oh ya, lo tau gak Yud?”


    Yuda mengangkat alisnya sebagai respon.


    Lani mengedikkan dagu ke Alisha. “Alisha diminta Pak Rubandi buat jadi mentor privat mtk Alden,” cerita Lani girang, seolah-olah suatu kebahagian besar mendapat berita itu. Padahal Alisha saja bersikap biasa aja.


    Ekspresi penuh selidik dan bete Yuda, kini berangsur-angsur mulai menghilang. “Oh, ya? Wah enak dong,” goda Yuda sambil menaik turunkan alisnya. Ada senyum kecil di sana.


    “Kalian berdua ini sama aja ya. Enak apaan? Biasa aja kok,” sahut Alisha.


    “Tapi, gimana ceritanya Pak Rubandi bisa minta bantuan Alisha kayak gitu?” tanya Yuda dengan dahi mengerut bingung. Alisha dan Alden kan bukan teman dekat, terlihat bersama aja kayaknya gak pernah. Kok bisa-bisanya Pak Rubandi meminta bantuan kayak gitu? Oke, dia tau kalau Alisha emang jago di pelajran MTK, tapi emang harus Alisha ya yang jadi mentor privatnya Alden? Gak ada orang lain gitu?


    “Gue juga agak heran sih. Tapi kayaknya wajar aja Yud. Mengingat rekor Alisha di pelajaran itu dan juga kepribadian mereka yang kayaknya cocok,” jawab Lani mengambil alih.


    Lani lalu melanjutkan dengan antusias kemungkinan-kemungkinan mereka bisa disuruh untuk belajar bareng. Tentu semua pendapat itu menurut sudut pandang Lani. Alisha yang mendengarnya pun tidak merespon apa-apa, tidak membenarkan dan juga tidak menyalahkan.


    “Kok kayaknya elo yang semangat Lan?” cengir Yuda. “Alishanya aja biasa aja tuh.”


    Lani mencebik. “Alisha kan emang gitu. Ada hal seheboh apa pun, pasti tampangnya biasa aja.”


    Yuda hanya terkekeh mendengarnya. Ia lalu melirik jam tangannya sekilas. “Kalian gak mau ke kantin?” tanyanya mengubah topic pembicaraan.


    “Enggak.”


    “Kita mau lanjut nyatet aja deh.”


    “Masih ada waktu sih. Gue beliin roti aja ya, gimana?” tawar Yuda.


    Lani mengangguk senang. “Jelas mau dong. Coba dari tadi deh Yud nawarinnya.”


    “Ya yang tadi asyik cerita siapa?”


    “Yang tadi nanya-nanya siapa?” Lani tak mau kalah.


    “Bisa aja muter faktanya.”

__ADS_1


    “Hehe… ya udah sana gih ke kantin. Gue roti coklat ya. Lo mau yang keju kan Sha?”


    “Iya,” jawab Alisha singkat.


    “Nah beliin dua itu ya Yud. Sama minumnya jangan lupa,” cengir Lani.


***


    Keesokan harinya, siswa-siswi XI IPA 3 gak lagi sibuk mencatat saat jam istirahat. Kali ini semuanya bisa keluar menikmati waktu istirahat. Alisha menunggu Lani di luar kelas. Saat hendak keluar tadi, mereka berdua dicegat saama bendahara kelas yang nagih uang kas. Untung saja Alisha sudah membayar sejak beberapa hari kemarin, sementara Lani yang belum membayar, terpaksa kembali ke tempat duduknya untuk mengambil uang lagi.


    Kelas mereka terletak di lantai dua. Dari lantai dua, Alisha melihat ke arah lapangan yang dipenuhi oleh anak-anak yang bermain basket. Saat tak sengaja melihat-lihat, ternyata Alisha juga menemukan Alden di sana. Detik selanjutnya Alisha tersenyum kecil. Jelas lah ada Alden. Cowok itu kan suka banget main basekt, merangkap sebagai kapten lagi.


    Alisha memperhatikan Alden yang sangat gesit akan permainannya. Ia fokus bermain, tidak peduli pada sekitar yang heboh menyorakinya. Alisha jadi berpikir, apa ia seberuntung itu bisa dekat-dekat dengan Alden? Lagipula Alisha bertanya-tanya, memang apa sih yang membuat para cewek getol banget deketin Alden? Oke lah kalau tampang memang tidak diragukan. Bahkan meskipun tau Alden itu tengil dan suka buat onar, masih aja banyak yang suka sama dia.


***


    Bel yang menggema di seluruh penjuru sekolah sudah berbunyi sekitar satu menit yang lalu. Setelah guru yang mengajar keluar kelas, sontak semua siswa membereskan semua bukunya, tak terkecuali Alisha dan lani.


    Saat mereka baru saja melangkahkan kaki keluar kelas, mereka bertemu dengan Yuda yang kelihatannya baru saja akan masuk ke dalam kelas mereka. Cowok itu cepat juga keluar kelasnya..


    “Mau balik kan?” tanya Yuda bergantian menatap Alisha dan Lani.


    “Ya menurut lo?” tanya Lani balik.


    “Ya kan kali lo ada rapat ekskul atau apa gitu,” bela Yuda.


    “Enggak kok. Ini mau langsung balik,” jawab Lani serius.


    “Lo bawa motor Sha?”


    “Kalo lo Lan?”


    “Gue bawa pesawat.”


    Yuda mendengus saat pertanyaan seriusnya dijawab main-main sama Lani.


    Melihat tampang Yuda, Lani jadi terkekeh. “Canda Yud, hehe….”


    “Terus lo dijemput?” tanya Yuda lagi.


    “Enggak.”


    “Terus?”


    “Mau nyari tebengan. Gue mau nebeng sama Kak Panji aja ah. Kan searah, searah banget malah rumahnya,” ujar Lani dengan pandangan mata menelusuri koridor, berharap dapat menemukan sosok yang dicari.


    “Kenapa gak bareng gue atau Alisha aja?”


    Lani menoleh, menatap Yuda seolah pertanyaan yang dilontarkannya adalah pertanyaan terbodoh sedunia. “Sesekali modus sama kakak kelas boleh lah.”


    “Kok jadi ganjen sih?” cibir Yuda.


    Lani mendelik. “Siapa yang ganjen?”


    “Tuh buktinya.”

__ADS_1


    “Ah rese lo Yud.” Lani menggeplak bahu Yuda menggunakan buku yang sedari tadi ia bawa.


    “Pulang bareng gue aja. Siapa tau tetangga lo itu lagi sibuk. Anak kelas tiga kan sibuk tambahan belajar.”


    Lani berpikir sebentar. “Iya deh, elo maksa sih.”


    “Gue gak maksa.” Ya walaupun di mulut Yuda bilang kayak gitu, padahal dalam hati dia memang benar-benar akan memaksa Lani agar pulang bareng dia aja kalau Lani mau nebeng sama Kak Panji. Dia gak suka kalau liat Lani mau pedekate sama tu kakak kelas.


    “Hehe iya ya udah yuk.”


    Melihatnya Alisha tersenyum masam. Apa segitunya Yuda gak mau Lani deket-deket sama cowok lain? “Kalian duluan aja. Buku gue kayaknya ada yang ketinggalan di laci.”


    “Mau ditemenin gak?”


    “Gak usah. Kalian duluan aja.”


    “Oke, ya udah, dah Sha.”


    Seiring mereka yang berjalan menjauh, Alisha tetap diam di tempatnya, memperhatikan dua punggung orang yang semakin menjauh itu dengan pandangan nanar.


    Katanya, tidak ada persahabatan antara lelaki dan perempuan tanpa melibatkan perasaan cinta. Yang ada hanyalah keduanya memendam rasa atau cinta bertepuk sebelah tangan.


    Sekarang, Alisha benar-benar percaya akan argument tersebut. Kalau dulu ia belum tahu berada di posisi mana ia sekarang, sekarang ia sudah di mana posisinya. Cinta bertepuk sebelah tangan. Opsi kedua. Di situlah posisinya. Alisha sudah berusaha menata perasaannya agar baik-baik saja saat melihat Yuda yang terus memberi perhatian lebih pada Lani. Tapi kenapa hatinya mengkhianatinya? Otak dan hatinya tidak sinkron. Inginnya ia bersikap baik-baik sjaa, tapi nyatanya, kenapa sesakit ini?


    Alisha pikir, mungkin ia akan terjebak dalam hubungan cinta segitiga. Di mana dia dan Lani sama-sama menyukai Yuda, dan Yuda bingung harus memilih yang mana. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Di dalam hubungan ini, hanya ia yang mencinta. Hanya dia... dia yang diam-diam mencintai, diam-diam patah hati, dan juga… diam-diam berusaha bangkit sendiri.


    “Kenapa? Kok diem?”


    Alisha tersentak saat sebuah suara berat terdengar di sampingnya. Ia menoleh, mendapati Alden sudah berdiri di sampingnya.


    “Gak apa-apa,” jawab Alisha yang telah berhasil menormalkan kembali ekspresinya.


    Alden berdecak sebal. “Kenapa makan? Karena lapar. Kenapa tidur? Karena mengantuk. Jadi, pertanyaan kenapa, harus dijawab dengan sebuah penjelasan. Bukan dijawab ‘gak apa-apa’.”


    Awalnya Alisha bingung akan ucapan awal Alden, tapi setelah cowok itu selesai bicara, ia jadi mengerti. Alisha mengembuskan napas pelan sebelum menjawab. Toh gak masalah kan kalau dia kasih tau ke Alden? Lagipula cuma Alden satu-satunya orang yang tau tentang perasaannya pada Yuda. “Liat Yuda sama Lani,” jawab Alisha akhirnya.


    Alden mengangguk paham. “Hah… suka sama sahabat sendiri emang susah ya? Apalagi yang disuka itu sama sekali gak peka.”


    Alisha melirik sebal, lalu mulai berjalan menuju parkiran.


    “Kapan mulai belajar barengnya Al?” tanya Alisha saat mendapati cowok itu malah ikut melangkah bersamanya menuju parkiran.


    “Belajar bareng?” Alden sempat bingung sesaat. “Oh… maksudnya yang Pak Rubandi itu? Jadi, elo serius mau mentorin gue?”


    “Iya, kan gue dari kemarin-kemarin udah bilang begitu.”


    “Ya kali lo berubah pikiran, atau baru sadar kalo waktu itu lo asal setuju aja.”


    “Enggak kok. Gue serius.” Nyatanya, Alisha memang benar-benar serius akan ucapannya.


    “Besok aja gimana? Soalnya hari ini gue mau latihan.” Kompetisi yang tingggal menghitung hari memang membuatnya dan tim basket sekolah menjadi sangat sibuk untuk latihan. Latihan yang biasanya hanya memakan waktu dua jam, kini bisa menjadi tiga hingga empat jam. Jadwalnya pun menjadi semakin rutin.


    “Oke, besok,” putus Alisha mengikuti Alden.


***

__ADS_1


__ADS_2