(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Meninggalkan Dan Ditinggalkan


__ADS_3

   “Sha, gue seneng banget kemaren. Bisa jalan bareng Kak Panji,” cerita Lani girang saat Alisha baru mendaratkan bokongnya di kursi. Kelas sudah mulai nampak ramai saat Alisha datang ke kelas, disambut dengan Lani yang sepertinya terlihat sedang gembira.


     “Emang ketemu tiap hari masih kurang ya, Lan?” tanya Alisha mengingat kalau mereka berdua itu tetanggan.


     “Ya kan ketemunya masih ada yang menghalangi, Sha, hehe. Ketemunya juga paling sesekali. Kak Panji juga biasa pulang sore. Dia sibuk. Itu juga gue sempet-sempetin ngelirik ke sebelah buat ngeliat dia. Kan kemaren beda. Ya walaupun Cuma ke toko buku, tapi kan tetep seneng gue, apalagi kalo ampe makan atau nonton ya,” Lani tetap bercerita riang sembari berkhayal.


    Alisha berpikir sejenak dengan sebelah tangan menopang kepala menghadap Lani. “Kak Panji gak punya pacar, Lan?”


    Lani menggeleng dengan senyum merekah di bibir. “Nggak punya. Dia mah juga jomblo sama kayak gue, eh sama kayak kita maksudnya, elo kan juga jombls, haha…. Peluang gue besar kan,” ucapnya sambil menaik turunkan alis.


    Alisha tersenyum tipis, merasa cukup terhibur dengan sahabatnya yang lagi kasmaran ini. Lani kan jarang banget menunjukkan rasa sukanya pada lawan jenis. Bisa dibilang pada Kak Panji inilah Lani jadi bersemangat sekali.


    “Eh tapi Sha, Yuda kemaren aneh. Gak kayak biasanya. Kemaren kesannya kayak bawa aura gelap gitu. Salah minum obat kali ya dia.”


    Mendadak senyum manis Alisha luntur, berganti dengan senyum masam yang tak Lani sadari. Ah, Alisha mengira Yuda pasti bete setengah mati di sana. Lani sepertinya benar-benar tidak menyadari tentang perasaan Yuda, sementara Yuda sendiri masih memilih untuk belum mengungkapkapnnya. Entah Alisha harus senang atau sedih akan hal ini.


***


    Sepulang sekolah ini, Alisha kembali ke rumah Alden. Neola ada ulangan harian matematika besok, jadi ia sangaja meminta Alisha datang untuk membantunya belajar. Alisha yang merasa tak keberatan pun menyetujui. Ia ke rumah Alden berbarengan dengan Neola, karena hari ini ia tidak membawa motornya. Pulang sekolah ini ia memang tidak ada rencana apa-apa.


    Saat ini mereka sedang duduk mengelilingi meja segi empat yang tersedia di ruang tv, tentu dengan tv yang tidak dinyalakan. Mereka terlihat serius untuk belajar, bahkan Alden yang katanya malas jika berhubungan dengan matematika, kini jadi ikut serius belajar juga.


    “Gue masih belum ngerti kenapa hasilnya bisa segini, Sha,” gumam Neola dengan pandangan mata fokus kepada soal yang barusan Alisha kerjakan.


     “Gini caranya, emang agak ribet sih,” Alisha pun dengan sabar menjelaskan dari awal bagaimana caranya. Kalau lagi ngajarin, Alisha bisa tergolong cukup sabar, gak ada ketus-ketusnya, kecuali kalau Alden mulai menggodanya seperti biasa. Neola dan Alden yang memperhatikan pun , mulai mengangguk mengerti.


    Mereka lalu kembali melanjutkan mengerjakan soal yang lain dalam hening, fokus pada pekerjaan masing-masing. Keheningan mereka terpecahkan saat terdengar suara getaran ponsel. Fokus mereka terpecahkan. Alisha segera meraih ponselnya yang ada di dalam tas.


    Yuda is calling….


    Alisha memandang layar ponselnya sebentar, lalu menatap Alden dan Neola bergantian. “Gue angkat telepon dulu ya,” ucapnya yang dijawab anggukan oleh mereka berdua.


     “Iya, Yud?” jawab Alisha setelah menekan layar sentuhnya di gambar pilihan berwarna hijau.


    Terlihat Alden melirik ingin tau dan memasang pendengarannya rapat-rapat. Meskipun fokus pandangannya ke buku, tapi Neola tau Alden hanya berpura-pura. Neola tak datap menahan sebuah senyum kecil muncul di bibirnya saat melihat tingkah Alden yang seperti itu.


     “Sha temenin gue yuk!”


     “Ke mana?”


     “Ke toko buku. Gue mau cari barang di situ, sekalian juga sama lo. Novel karya penulis favorit lo kayaknya udah ada, Sha.”


    Alisha tak dapat menhan senyumnya saat mendengar hal tersebut. Yuda tau kalau ia memang sedang menunggu-nunggu novel itu.

__ADS_1


    Tanpa pikir panjang lagi Alisha menyetujui. “Oke, di mana Yud?”


    Yuda segera menyebutkan nama dan tempat toko bukunya. Tempatnya berbeda dengan toko buku yang kemarin Lani kunjungi. Ini bukan toko buku yang letaknya berada di sebuah mal, tapi toko buku yang berdiri sendiri dengan gedungnya yang bertingkat.


     “Mau gue jemput gak?”


    Alisha baru saja ingin menjawab iya jika tidak ingat di mana posisinya sekarang. “Enggak usah, Yud. Gue pergi sendiri aja.”


     “Oke, gue jalan sekarang. Lo juga ya. Hati-tai di jalan. Dah.”


    Sambungan telepon dimatikan. Alisha tak dapat menutupi ada raut bahagia di wajahnya. “Ehm kita belajarnya udahan ya. Gue ada urusan,” ucap Alisha hati-hati hendak menyudahi kegiatan mereka. Sebetulnya merka belum terlalu lama belajarnya, tapi materi yang kurang dimengerti Neola tadi sudah sempat ia coba ajarkan. Jadi Alisha rasa tidak masalah kalau ia pergi sekarang.


     “Urusan sama Yuda? Hm oke-oke kita ngerti kok,” sahut Alden kalem.


     “Iya. Eh kok tau gue ada urusannya sama Yuda?”


     “Lo kan teleponannya di sini, dalam jarak kurang dari satu meter deket gue, bukannya teleponannya di ujung dunia sana. Ya jelas gue bisa denger lah apa yang diomongin,” jawab Alden malas seolah pertanyaan Alisha adalah pertanyaan paling bodoh sedunia.


    Alisha tak merespon. Ia tidak tau juga ingin menimpali apa. Sekarang ia tengah sibuk membereskan barang-barangnya.


     “Lo pergi sendirian?” tanya Alden mengingat Alisha tadi ke sini bersama Neola.


     “Iya,” jawab Alisha seolah pertanyaan Alden itu adalah pertanyaan yang tanpa dijawab pun sudah diketahui apa jawabannya.


     “Iya sih, tapi gue bisa naik bus kok,” jawab Alisha.


     “Gue anterin aja. Yuk!” Alden bangkit dari duduknya sambil meraih kunci motor yang terletak di samping buku-bukunya.


     “Eh, gak usah. Gue pergi sendirian aja,” tolak Alisha.


    “Kalo lo takut keliatan sama Yuda gue yang nganter, tenang, gue bakal turuni lo sebelum tempat tujuan lo itu.”


    Eh bukan gitu juga sih maksud Alisha. Toh pasti kalau Yuda duluan sampai, cowok itu akan menunggu di dalam.


     “Mulai kan banyak mikirnya. Mau pergi gak?”


     “Iya, iya,” jawab Alisha yang akhirnya menerima tawaran –atau mungkin paksaan– Alden.


***


    Alisha masuk ke dalam toko buku tersebut. Ia langkahkan kakinya menuju lorong barisan rak-rak untuk mencari keberadaan Yuda. Saat ditemuinya cowok itu sedang fokus membaca sebuah buku, segera dihampirinya.


     “Hai, Yud, udah lama datengnya?”

__ADS_1


    Yuda menoleh. “Nggak juga Sha, baru kok gue dateng. Oh ya Sha, novel yang lo incer tadi gue liat ada di rak depan,” terang Yuda sembari mengedikkan dagu ke arah rak buku yang ia maksud.


    Dalam hati ada perasaan senang yang melingkupi Alisha. “Iya, entar gue ambil novelnya. Lo sendiri ke sini mau nyari buku apa? Bukannya kemarin udah ke toko buku ya bareng Kak Panji sama Lani?” tanya Alisha penasaran.


     “Gue mau nyari buku buat Lani,” ucap Yuda dengan mata berbinar.


     “Buat Lani?”


     “Iya. Kemaren pas di sana, Lani ada mau ngambil buku pelajaran, tapi sayangnya keduluan sama orang lain. Stoknya juga tinggal satu di sana. Gue pikir mungkin bukunya bakal ada di sini,” terang Yuda.


    Oh gitu…. Ada perasaan kecewa di hati Alisha. Jadi ini demi Lani toh? Demi Lani, Yuda memintanya datang untuk menemani. Hah… dia kira cowok ini… ah, sudahlah. Mendadak Alisha tak sesemangat tadi.


     “Emang apa judul bukunya?” tanya Alisha datar.


    Yuda tidak menyadari perubahan raut wajah Alisha. Ia menjawab serta menyebutkan nama penerbitnya. Mereka pun mulai mencari buku yang dicari. Tak perlu waktu yang begitu lama, Alisha dapat menemukannya dengan mudah meskipun ada rasa tidak enak di hatinya.


     “Ini bukan, Yud?” tanya Alisha memastikan sambil menunjukkan buku tersebut.


     “Nah iya bener, Sha! Cepet banget lo nemuinnya, gak sia-sia gue ngajak lo, hehe,” jawab Yuda disertai senyum lebar.


     “Gue mau ke sana dulu ya,” ucap Alisha dengan menunjuk rak buku yang memajang novel incarannya.


    Yuda mengangguk saja menjawabnya.


    Alisha sudah berusaha agar perasaannya baik-baik saja, tapi kenapa ia tidak bisa? Rasa sakitnya tetap ada. Mendadak rasa semangatnya untuk menyambut novel yang ia tunggu-tunggu, sirna sudah.


    Sementara di tempatnya, Yuda masih disibukkan dengan buku yang tengah dibacanya. Tiba-tiba getaran ponsel di saku menyadarkannya. Segera diraihnya ponsel tersebut dan dengan cepat menjawab begitu Lani yang menelepon.


     “Yuda… tolongin gue.”


    Yuda mendadak panik saat mendengar suara Lani yang seperti ingin menangis. “Lo kenapa, Lan?” tanya Yuda khawatir.


     “Yud, lo bisa nyamperin gue sekarang gak? Gue bingung di mana jalan pulangnya. Gue udah keliling-keliling dari tadi, sampe bensin gue mau habis. Di sini sepi banget. Gue takut, Yud….”


     “Lo di daerah mana?” tanya Yuda yang semakin panik saja.


    Lani lalu menyebutkan daerah di mana ia berada. Lalu seperti kesetanan, Yuda tinggalkan buku-buku yang dipegangnya, termasuk buku yang akan ia kasih untuk Lani. Tanpa menghiraukan sekitar, segera ia berbalik arah. Nyaris menyerupai berlari ia keluar dari gedung toko buku tersebut. Setelah menuju motornya, segera ia melesat pergi.


    Alisha melihatnya. Alisha melihat Yuda yang terburu-buru keluar, wajahnya benar-benar terlihat panik. Alisha ingin ikut menghampiri, tadi saat dilihatnya Yuda pergi dengan begitu cepat tanpa menoleh lagi ke belakang, langkahnya mendadak terhenti. Yuda pergi tanpa sedikit pun berusaha menemuinya dahulu. Hal begitu penting apa yang mampu membuat Yuda seperti itu? Sampai-sampai tidak menyadari kalau ia datang tidak sendirian ke sini, melainkan juga bersama Alisha….


    Alisha kembali berjalan menuju rak-rak novel sembari mengembungkan napas keras. Mungkin Yuda sedang benar-benar terdesak, mungkin juga Yuda ingin menghampirinya tapi tidak sempat lagi. Alisha segera memenuhi pikirannya dengan sugesti-sugesti yang menenangkan. Ia tidak mau berburuk sangka dulu. Ia tau seperti Yuda, tunggu saja sampai cowok itu memberi kabar atau kembali lagi ke sini untuk menjemputnya.


    Alisha kembali menyibukkan diri dengan novel di tangannya.

__ADS_1


    “Gue heran kenapa cewek suka banget baca novel,” sebuah suara berat tiba-tiba terdengar di samping Alisha. Suaranya nampak familiar, ya familiar karena suka tiba-tiba muncul mengejutkan Alisha. Cewek itu menoleh, demi mendapati seseorang sudah ikut berdiri di sampingnya dengan santai.


__ADS_2