
**Lani menyadari suasana hati Alisha yang sedang mendung saat ini. Ya meskipun pada biasanya cewek itu tetap saja minim ekspresi dan lebih banyak diam, tapi kali ini ia merasa ada yang berbeda. Diamnya Alisha kali ini bukan karena memang bawaan sifatnya dari dulu, melainkan seperti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya saat ini.
Beberapa kali Lani mencoba mengajak Alisha bercanda saat jam pelajaran berlangsung, namun sahabatnya itu hanya merespon tak minat. Biasanya, secuek-cueknya Alisha pada orang lain, tapi kalau sudah bersama dengannya, Alisha pasti bakal banyak mengeluarkan ekspresi juga. Seperti tadi misalnya, saat Lani sengaja mencoba melucu, Alisha hanya bergeming dan menatapnya datar. Lalu saat Lani mengganggunya yang sedang menulis, Alisha menatapnya tajam penuh peringatan, seolah sedang malas kalau dirinya diusik.
Jadilah selama dua jam pelajaran ini Lani sibuk akan pikirannya tentang Alisha. Ingin segera ia merecoki Alisha dengan banyak pertanyaan, tapi sayangnya tidak bisa. Guru pelajaran datang dan keluar tepat waktu, tak memberinya kesempatan untuk berbincang lebih lanjut.
Hingga akhirnya bel istirahat pun tiba. Tepat saat guru yang mengajar keluar dari kelas, Lani membalikkan tubuhnya menghadap Alisha yang terkulai lemas menyandarkan kepalanya di atas meja. Sahabatnya itu hari ini seperti kehilangan semangat hidup, sama sekali tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu.
“Sha, lo sakit?” tanya Lani sambil menempelkan telapak tangannya pada dahi Alisha. “Nggak panas kok,” gumam Lani selanjutnya sebelum Alisha menjawab.
Detik selanjutnya telapak tangan yang ia gunakan untuk menmyentuh dahi Alisha, ia tempelkan singkat pada bokongnya. “Malahan masih anget pantat gue yang kelamaan duduk dari tadi,” ucapnya asal, berharap Alisha memberikan sedikit reaksi akan tindakannya. Kan biasanya Alisha akan mengerut jengkel kalau Lani melakukan hal konyol itu, tapi kali ini tidak. Alisha tetap diam lesu di tempatnya.
Lani menghela napas panjang dengan bibir cemberut. “Sha… jangan diem aja dong. Ngeri nih gue. Sakit, kayaknya enggak. Terus lo kenapa? Cerita Sha ke gue, cerita,” cecar Lani sambil menggoyang-goyangkan pelan lengan Alisha yang bertumpu di atas meja. Bersama Alisha selama hampir tujuh tahun membuat Lani tau kalau ada sesuatu yang sedang mengganjal di sahabatnya ini.
Alisha menatap Lani dengan tatapan sendu. “Lani, gue bingung mesti ngapain…?” ucap Alisha akhirnya setelah lama terdiam sibuk dengan pikirannya. Memang pada Lani, Alisha tidak akan sungkan menceritakan maslaahnya. Ya tapi tetap saja rahasia tentang perjodohan dia dengan Alden masih tersimpan rapat di dirinya.
Lani ikut menumpukan kedua tangannya di atas meja, diletakkannya kepala di atas tumpuan tangannya, menghadap ke arah Alisha dengan posisi yang sama seperti dirinya sekarang. Melihat tampang Alisha yang seperti ini, ia jadi tidak bersemangat menarik sahabatnya itu untuk ke kantin, padahal perutnya sudah keroncongan daritadi.
“Ada apa sih Sha? Kayanya berat banget,” ucap Lani hati-hati.
“Mama gue, Lan…. Gue akhirnya ketemu lagi sama mama gue,” ucap Alisha pelan.
Berbeda dengan Alisha yang masih lesu, Lani menegapkan punggungnya dengan semangat. Tentu hal tersebut juga menjadi kabar gembira baginya. Akhirnya sahabatnya itu bisa kembali bertemu dengan mamanya yang selama bertahun-tahun ini menghilang.
“Wah, selamat Sha! Akhirnya kalian bertemu lagi. Ya ampun gue ikut seneng Sha dengernya,” Lani berucap antusias, tapi menyadari kalau Alisha tak bereaksi sama dengan dia, kerutan di dahinya muncul. “Tapi kok lo lemes gitu? Seharusnya lo seneng dong. Ini kan yang lo tunggu-tunggu?”
Alisha mengangguk pelan. “Gue awalnya juga seneng Lan, seneng banget malah. Tapi, bukan itu masalahnya.”
“Terus masalahnya apa??” Lani bertanya dengan gemas, tidak bisa menebak apa yang ada di benak Alisha.
“Kakek gak ngizinin Mama buat pulang ke rumah lagi,” dengan berat diucapkannya kalimat tersebut.
__ADS_1
“Kok… bisa? Eh tapi gimana ceritanya lo bisa ketemu sama Mama lo Sha?” Lani bertanya dengan bingung. Untung saja kelas sedang sepi saat jam isitirahat seperti ini, jadi mereka tidak terlalu risih untuk membicarakannya di kelas.
Dan akhirnya cerita kejadian kemarin meluncur juga dari mulut Alisha. Semuanya ia ceritakan dengan singkat dan padat, yang dirasa seperlu Alisha saja. Ya semuanya, juga termasuk tentang adanya Alden saat itu, tentang Alden yang ikut menyaksikan. Tapi ia tidak bercerita lebih lanjut apakah Alden mengetahui segalanya atau tidak. Dan sepertinya Lani juga tidak terlalu memperhatikan hal itu. Fokus utamanya adalah pada permasalahan kakek Alisha yang masih tetap tidak mengizinkan sang mama untuk kembali.
Lani menepuk-mepuk pundak Alisha prihatin. “Sabar Sha, emang terkadang susah untuk membujuk hati orang tua. Lo harus tetap usaha. Gue bakal bantu lo. Kalo lo butuh bantuan, gue sama Yuda bakal siap bantuin.”
Sudah beberapa hari berlalu tapi tanda-tanda kalau Kakek akan menuruti kemauan Alisha, belum terlihat juga. Alisha jadi kehilangan ide untuk berbuat apalagi. Jadi, satu-satunya hal yang di pikirannya tinggal satu cara, satu cara terakhir yang akan terus ia lakukan sampai sang kakek mau meluluhkan hatinya.
Seperti hari ini, cara tersebut masih setia Alisha lakukan. Ia melakukan aksi mogok bicara pada kakeknya. Dia tentu masih bertegur sapa pada kakeknya, tapi bukan jenis tegur sapa yang akan berlanjut ke obrolan-obrolan ringan atau serius lainnya. Mungkin hanya sekedar ucapan salam saat pamit sekolah saja, ya sebatas itu.
Bahkan Alisha merasa enggan untuk duduk makan semeja dengan kakek. Ia sengaja mencari-cari alasan agar tidak sarapan atau makan malam bersama kakek di ruang makan seperti rutinitas yang biasa dilakukan. Hingga akibatnya ia sering melewati sarapan dan makan malamnya, yang berdampak pada kondisi fisik cewek itu. Dan akhir-akhir ini pula ia sudah beberapa kali memakan obat sakit maagnya.
Di koridor yang masih sepi ini, terlihat Alisha berjalan pelan menuju kelasnya. Sudah beberapa hari ini pula ia menjadi datang lebih cepat, sengaja agar tidak perlu banyak bicara pada sang kakek. Tapi ya itu, ia menjadi melewati waktu sarapannya di rumah, hingga datang ke sekolah dalam keadaan perut masih kosong.
Hingga tiba di kelasnya, Alisha terkejut akan sosok yang sudah duduk manis di bangkunya itu. Langkahnya sempat tertahan saat melihat Alden duduk bersandar dengan santai di bangkunya. Cowok itu terlihat duduk sendirian di kelas, walau dapat Alisha lihat sudah ada beberapa tas yang terletak di beberapa bangku lain.
Alisha melangkahkan kakinya menghampiri Alden –ehm atau lebih tepatnya menghampiri tempat duduknya sendiri.
“Nungguin lo,” jawabnya santai.
“Nungguin gue buat apa?” Seingat Alisha, ia sedang tidak punya janji pada cowok ini. Jadi untuk apa Alden datang pagi-pagi ke kelasnya seperti ini?
Alden menggerakkan badannya. Diulurkannya sebelah tangan untuk meraih sesuatu di dalam laci meja Alisha. Selanjutnya, dapat Alisha lihat sebuah kotak makan terletak manis di atas mejanya.
“Gue mau ngasih ini buat lo.”
“Kotak makan? Ada isinya?” tanya Alisha polos, belum sepenuhnya mengerti akan tingkah cowok ini.
Alden memutar bola mata geram. “Ya jelas ada dong. Ngapain gue ngasih kotaknya aja, emang bisa dimakan? Enggak kan?”
“Ya… terus?”
__ADS_1
“Ini titipan dari nyokap gue, khusus buat lo.” Alden mengangsurkan kotak makan itu pada Alisha.
“Kok tumben?” Ada kerutan samar di dahi Alisha saat ini.
“Ya soalnya kalo gak dikayak giniin, lo gak bakal makan lagi kan? Heran deh gue, buat makan aja, apa lo mesti berpikir beribu kali apa.”
Alisha mendengus jengkel, sikap menyebalkan sekaligus seenaknya cowok ini masih saja ada.
“Pokonya gue gak mau tau, lo mesti abisin makanan itu sekarang,” titah Alden dengan nada suara yang tidak terdengar main-main.
Melihat Alisha yang akan membuka suara, Alden dengan cepat mencela. “Gak ada penolakan. Mau gak mau lo mesti abisin makanannya.”
“Iya Alden iya, gue bakal makan kok,” Alisha berucap dengan jengkel. Namun meskipun begitu, ada perasaan hangat yang menyelimutinya, tidak menyangka kalau Tante Riani akan repot-repot memberinya bekal makan segala.
“Nah, bagus. Kayak gitu dong, gak banyak ngebantahnya.” Alden lalu bangkit berdiri. “Ya udah, gue keluar ya.”
“Alden,” panggil Alisha sebelum cowok itu melanjutkan langkahnya.
Alden menatap dengan salah satu alis terangkat.
“Makasih, sampein makasih gue buat Tante Riani,” ucap Alisha tulus.
Sebuah seringai tipis muncul di bibir Alden. “Oh, lo gak perlu berterima kasih kok. Makanan itu gak gratis. Sebagai imbalannya, nanti pas waktu istirahat lo mesti nemenin gue makan di kantin.”
Alisha mendegus samar. Baru aja dibaikin, tingkah cowok ini kembali membuatnya jengkel. Lalu saat dilihatnya Alden yang sudah benar-benar meninggalkan kelas, Alisha duduk di bangkunya. Tanpa sadar sebuah senyum tipis muncul di bibirnya. Walau semenyebalkan apa sikap Alden tadi, ia harus tetap berterima kasih. Karena dengan hadirnya cowok itu, seperti membawa emosi baru baginya, emosi yang membuatnya tidak seperti patung hidup yang menjalankan rutinitas tanpa ekspresi.
Baik Alisha maupun Alden, sama-sama tak menyadari kalau sedari tadi ada yang melihat gerak-gerik mereka. Semuanya, dari awal Alisha masuk kelas, hingga Alden yang memutuskan kembali ke kelasnya.
Di tempatnya, dari balik jendela kelas tersebut, ada Yuda yang masih berdiri di sana. Tadi ia berniat untuk mengajak Alisha makan di kantin –yang kemungkinan baru buka– karena menurut penglihatannya beberapa hari ini, Alisha sering terlihat lesu saat di sekolah akibat tidak sarapan. Yuda tentu sudah tahu mengenai masalah yang sedang menimpa Alisha saat ini. Itulah sebabnya ia lebih memperhatikan Alisha akhir-akhir ini.
Tapi rencana tersebut ia batalkan ketika melihat Alden yang sudah lebih dulu hadir membawa makanan untuk Alisha. Karena didorong akan rasa penasaran yang begitu kuat, ia pun tetap menahan langkahnya di sana, memperhatiakn mereka dari luar. Percakapan mereka pun dapat Yuda dengar dengan jelas. Lalu setelah menyadari kalau keduanya kini ternyata cukup dekat, tiba-tiba ada rasa aneh yang muncul di hatinya.
__ADS_1
Bersambung**