
Bab 15 Bertemu
“Gue sebel banget sama Alden dan kawanannya itu!”
Alisha yang sedang menutup bukunya tak sengaja mendengar perbincangan kumpulan anak cewek di kelasnya. Selang satu meja dari tempatnya, ada anak cheers kelas lain yang masuk ke dalam kelas mereka setelah bel istirahaat berbunyi tadi. Terlihat kerumunan mulai membentuk di sana. Ikut mendengar ada berita heboh apa yang terjadi. Apalagi kalau yang berbuat onar adalah Alden. Rana yang memang penghuni kelas ini pun menjadi ikut-ikutan bergabung dalam kerumunan.
“Sebel kenapa? Digodain, ya? Wah kalo digodain seharusnya seneng dong, orangnya ganteng gitu,” sahut Hilda yang juga merupakan anggota cheerssekolah.
“Bukan. Dih boro-boro digodain. Ini gue, Ellen, sama Putri dibuat malu sama Alden.”
“Kenapa? Kenapa?” sahut yang lain benar-benar ingin tau.
“Masa ya rok cheers kita dipake dia buat main-main.” Terdengar Ellen berucap berapi-api.
“Main-main kayak gimana?”
“Ya dimainanin, dipakenya malah.”
“Apa? Alden make rok cheers? Ya ampun! Ada fotonya gak? Liat dong, mau liat tampang Alden make rok, lucu pasti, ganteng-ganteng gimana gitu… hehe.”
“Bikin sebel tau! Katanya rok itu kependekan, dia maksa buat revisi lagi roknya.”
“Emang kenapa harus pake revisi segala? Seragamnya kan udah jadi, udah dibagiin malah sama anggota cheers yang lain.”
“Katanya kependekan, terlalu pamer paha.”
“Masa sih kependekan?”
“Iya katanya gitu. Pokoknya dia nentang lah. Kalo kita gak mau nurut, kita gak boleh ikut pas kompetisi basket nanti. Kan gak mau….”
“Wah kalo emang alesannya gitu, berarti bagus dong. Dia itu bermaksud ngelindungi tim cheers,” sahut yang lain, merasa setuju dengan sikap yang diambil Alden.
“Eh, ehm iya juga sih…. Tapi caranya itu lho yang bikin kesal,” kesal Putri.
“Ya udah, entar kita revisi lagi aja, kita gerak cepat biar pas kompetisi, seragamnya udah jadi. Huft banyak komplen juga dia.”
Diam-diam, Alisha juga menyetujui keputusan tersebut. Bagus kalau kapten basket peduli sama seragam cheers mereka. Tapi kalau dilihat dari ekspresi ketiga orang itu, sepertinya Alden benar-benar membuat mereka keki.
***
Hari Minggu. Hari yang memang ditunggu-tunggu para pelajar yang hanya mendapat jatah libur sehari dalam satu minggu. Kalau tidak ada kerjaan, Alisha akan memanfaatkan waktu ini untuk sepuasnya membaca novel di kamarnya atau berlanjut pergi ke toko buku. Tapi sepertinya hal tersebut tidak bisa ia lakukkan hari ini. Pagi-pagi sekali Lani menelepon kalau Yuda mengajak mereka untuk nonton di bioskop yang terletak di salah satu mall. Dan Lani terlihat sangat bersemangat karena waktunya pas banget, film yang ia tunggu-tunggu hadir di bioskop, hari ini bisa ia tonton.
Dan di sinilah Alisha sekarang, bersama Yuda dan Lani mereka telah mendapatkan tiket. Filmnya akan diputar beberapa saat lagi. Sambil menunggu, merek bertiga duduk di sofa yang disediakan di kawasan bioskop itu. Tak berapa lama kemudian, tiba giliran kloter mereka untuk masuk.
“Sha, yuk masuk?” ajak Lani sembari berdiri.
__ADS_1
Alisha yang sedari tadi ragu dan menimbang-nimbang keputusannya kini berucap. “Eh, gue lupa kalo Kakek tadi ada pesan buat ngambil barang di toko. Penting. Kalian aja yang nonton.”
“Yah, kok gitu? Atau kita temenin aja ya?” usul Lani.
Alisha menjawab cepat. “Nggak usah. Kalian nonton berdua aja. Gue bisa kok pergi sendiri.”
“Bener nih gak apa?” Kali ini Yuda yang bertanya.
“Iya,” jawab Alisha yang berusaha terlihat meyakinkan di depan mereka.
“Emang harus sekarang ya? Gak bisa nanti aja?” tanya Lani yang masih berusaha untuk mengajak Alisha.
“Iya harus sekarang, soalnya… ehm soalnya orang yang dititipin itu mau ada urusan, entar keburu pergi.”
“Hm ya udah deh. Padahal sayang banget, Sha. Kita tadi udah ngantri, udah nunggu, lo-nya gak bisa ikut,” ucap Lani yang terlihat kecewa.
“Gak apa kok, Lan. Ya udah buruan gih masuk,” balas Alisha dengan mendorong Lani dan Yuda pelan.
“Ya udah, entar kalo udah selesai, masuk aja, Sha, hehe,” ucap Lani.
Alisha tidak menjawab.
“Sha, lo bohong kan soal itu? Lo sengaja ngebiarin gue buat berdua sama Lani? Kalo bener begitu, thanks, ya. Lo emang sahabat gue yang paling pengertian,” bisik Yuda disertai senyum manisnya saat Lani sudah ada beberapa langkah di depannya.
“Iya,” jawab Alisha seadanya disertai senyum yang disetel sepas mungkin.
Setelah mereka berdua hilang dari pandangnnya, senyum tersebut luntur. Alisha menghela napas. Gak apa kan kalau ia memberikan waktu buat Yuda jalan berdua saja dengan Lani? Yuda tadi terlihat senang. Meskipun agak menyakitkan buatnya, tapi ia akan berusaha baik-baik saja. Demi Yuda dan Lani, rasanya tak apa kalau ia korbankan perasaannya.
“Sendirian?”
“Ini tempat umum kan? Jadi siapa aja bebas di sini,” jawab Alden enteng.
“Iya deh.”
“Lo belum jawab pertanyaan gue tadi,” ingat Alden.
“Tadi sama Lani dan Yuda.”
“Terus mereka ke mana?” tanya Alden pura-pura gak tau. Karena sebenarnya, dari jauh tadi, ia sudah melihat mereka. Memang tidak jelas apa yang dibicarakan, tapi dari gerak-geriknya, Alden sepertinya tau apa yang terjadi.
“Nonton… berdua,” jawab Alisha pelan.
“Lo ditinggal?”
“Enggak, gue yang nyuruh mereka berdua aja.”
“Oh….” Alden manggut-manggut mendengarnya. Diliriknya Alisha sekilas. “Daripada lo bengong-bengong di sini, mending nonton aja sama kami, gimana?” tawar Alden santai.
“Kami?” Alisha bertanya heran. Memang selain Alden, ada siapa lagi?
“Iya, gue sama Neola.”
Alisha menoleh ke kanan kiri, berusha mencari sosok yang dimaksud. “Neolanya mana?” tanyanya saat tak ditemukan sosok yang dimaksud.
“Itu.” Alden menunjuk seseorang di belakang Alisha. Di sana terdapat Neola yang sedang duduk manis. Ia melempar senyum saat Alisha melihat ke arahnya. Ia tadi disuruh Alden untuk duduk mantap dulu di situ sebelum Alden menyuruhnya untuk ikut bergabung. Ya dia sebagai adik yang baik, menurut saja.
__ADS_1
“Ehm… gak bisa. Ada pesenan Kakek yang mesti gue ambil sekarang,” jawab Alisha tanpa berani balas menatap Alden.
Alden menatapnya jengah. “Alesan bohong kayak gitu, lo pake juga buat gue?” tanya Alden dengan menaikkan salah satu alisnya.
Alisha mendongak kaget. “Kok lo tau kalo gue bohong?”
“Lo mencurigakan sih. Alesannya juga sebenernya kedengaran gak masuk akal.”
Alisha mengembungkan pipi , lalu mengembuskan napas kesal. “Iya, gue bohong,” aku Alisha juga.
Alden tersenyum penuh kemenangan. Diliriknya sebentar Neola, diberi kode untuk menghampiri.
“Kita nonton aja yuk, Sha.” Neola yang sudah berdiri di samping Alisha, ikut membujuk.Dirangkulnya bahu Alisha sok akrab.
“Ehm, emang kalian berdua ke sini buat nonton juga?” tanya Alisha pelan.
“Sebenernya sih enggak. Tapi berhubung udah terlanjur di sini, ya sekalian aja,” jawab Neola. “Kita ke sini mau belanja mingguan, tapi entar aja, abis nonton. Mau ya, Sha? Jarang-jarang kita jalan bareng. Pas lagi ketemu sama elo di sini.”
Alisha terlihat berpikir sejenak.
“Ayolah….”
“Oke,” putus Alisha akhirnya.
“Yeay!” seru Neola girang.
Alden tersenyum.
“Jadi… kita mau nonton apa?”
“Sha, temenin gue ke toilet yuk, mau pipis,” pinta Neola saat Alden sedang mengantri untuk membeli tiket. Dilihat dari gerak-geriknya yang menggerak-gerakkan kaki, Neola sepertinya sedang kebelet.
“Yuk.” Alisha ikut berdiri, mengikuti langkah lebar-lebar Neola setelah ia setuju untuk menemani.
Neola lalu menarik tangan Alisha. “Jalannya cepet dikit, yuk! Kebelet nih.”
Saat di lorong untuk mencapai toilet, dari arah berlawanan Alisha yang berjalan cepat lantaran tangannya ditarik neola, tak sengaja menabrak bahu seseorang yang terlihat sibuk dengan lawan bicaranya di ujung telepon. Alisha yang menyenggol tangan kiri orang tersebut, otomatis membuat ponsel yang dipegang menjadi terlepas dan jatuh terlempar.
“Ya ampun. Duh maaf, Tante.” Dengan cepat Alisha menghentikan langkah dan mengambil ponsel yang terjatuh itu dan mengembalikannya. “Ini, Tan. Ponselnya rusak gak?” tanyanya cemas. Detik selanjutnya setelah memperhatikan keadaan ponsel, Alisha menoleh untuk menatap wajah wanita tersebut. Saat dapat dilihatnya wajahnya dengan jelas, kecemasan Alisha pudar. Ia bergeming menatap wajah di depannya. Untuk beberapa saat, ia merasa speerti terlempar ke masa lalu.
Wanita itu menjawab cepat. “Ponselnya gak apa-apa, kok.” Setelah mengatakan kalimat itu, wanita itu meninggalkan Alisha. Alisha yang masih bergeming dengan segala pikiran yang berkecamuk, membiarkan wanita itu pergi.
“Kenapa, Sha?” tanya Neola yang melihat Alisha mendadak menjadi bengong.
Tersadar akan tepukan di bahunya, Alisha menjawab, “Ah, enggak apa-apa.”
“Ya udah, yuk.” Kemabli ditariknya tangan Alisha agar menemaninya masuk ke dalam toilet.
Saat Neola sudah masuk ke dalam salah satu bilik toilet, Alisha termenung. Wanita itu… kenapa mirip sekali dengan mamanya? Meskipun ada perbedaan dari yang diingatnya, tapi tetap saja raut mukanya sangat mirip dengan mamanya. Ia ingat betul wajah itu, wajah yang fotonya selalu ia liat setiap hari.
Kata Kakek, mamanya sudah meninggal. Alisha mendengus samar. Kakeknya bohong. Dia bukan anak kecil lagi yang akan mudahnya percaya dengan kata-kata tanpa bukti tersebut. Selama ini ia tidak pernah ditunjukkan di mana makam mamanya. Hal itu semakin membuatnya curiga. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, Alisha tau kalau kakeknya memang berbohong. Mamanya belum meninggal. Ia tau itu. Tidak ada bukti yang menandakan kalau mamanya sebagai korban kecelakaan pesawat. Sudah ia carin informasi mendalam soal itu. Tapi kalau mamanya tidak meninggal, kenapa amamnya tidak pernah kembali padanya? Kenapa mamanya meninggalkan dia juga?
Dan kalau memang benar itu mamanya, kenapa ia tidak mengenali Alisha? Ah, atau…wanita itu memang bukan mamanya? Ragu, Alisha kembali berusaha mengingat-ingat wajah wanita yang tadi ditabraknya. Wajahnya mirip… atau itu hanya delusi yang ia ciptakan sendiri? Delusi yang menganggap kalau wajah wanita itu sama dengan mamanya? Tapi benarkah? Apa ia sampai segitunya? Alisha menggeleng pelan. Ditariknya napas dan dikeluarkan perlahan. Iya, berharap suatu saat nanti dapat bertemu kembali dengan wanita itu.
***
__ADS_1