(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Ingin Berunding


__ADS_3

Alisha memarkir motornya di parkiran yang masih sepi. Untungnya kemarin Alisha sempat meminta tolong pada Pak Daus –satpam rumahnya– untuk membawa motor matic-nya ke bengkel. Kalau tidak, pasti hari ini ia kembali naik angkot atau menebeng pada Lani. Parkiran belum terlalu ramai. Alisha melirik sebentar jam tangannya yang menunjukkan jam enam lewat dua puluh. Hari ini ia tidak mau datang terlambat lagi, jadi ia memang memutuskan untuk datang lebih cepat.



    Sesampainya di kelas, Lani belum terlihat. Kelas pun baru dihuni oleh beberapa siswa. Alisha duduk di bangkunya lalu menelungkupkan kepala di atas meja. Berita semalam masih mengguncangnya. Ia masih shock akan berita tersebut. Perjodohan. Ia masih tidak menyangka kakeknya akan menjodohkannya.



     “Pagi, Sha,” sapa Lani yang baru masuk kelas dan ikut duduk di bangku samping Alisha.



    Alisha menggerakkan sedikit kepalanya ke samping untuk menghadap Lani. “Pagi.”



     “Udah lama ya lo datang? Pasti kapok datang telat kan?”



     “Yap, bener,” jawab Alisha seadanya. Entah sudah berapa lama Alisha duduk diam di tempatnya, kelas sekarang mulai ramai akan para murid yang berdatangan.



    Lani mengamati Alisha yang terlihat lesu pagi ini. Oke, biasanya Alisha juga tidak terlihat terlalu bersemangat, tetapi pagi ini berbeda. “Lo sakit, Sha?” tanya Lani perhatian. Tangannya terulur untuk meyentuh dahi sahabatnya.



     “Gak panas kok,” gumam Lani sendiri.



     “Gue gak sakit kok, Lan.”



     “Lagi dapet?” tanya Lani lagi.



     “Enggak.”



     “Kok lesu?”



     “Gak apa-apa kok. Beneran deh.” Alisha menegapkan badan.



     “Bener?”



     “Iya, bawel deh, Lan,” jawab Alisha agak keki.



     “Gue kan perhatian tau, hehe.”



     “Hem.”



    Bukannya apa, Alisha belum mau aja cerita pada Lani tentang perjodohan dirinya. Ia belum siap. Berita itu saja masih sulit diterima dirinya. Lagipula perjodohan itu kan belum tentu pasti terjadi. Rencananya nanti ketika jam istirahat, Alisha ingin menemui Alden. Semalam ia sempat bertanya pada Kakek apa Alden tau tentang ini. Dan Kakek pun menjawab kalau Alden juga sama seperti dirinya, baru diberitahu tadi malam. 


*** 



    Bel tanda waktu istirahat berbunyi. Siswa-siswa yang sudah menunggu waktuu untuk istirahat langsung berhambur keluar kelas. Walau semuanya belum tentu menuju kantin –yang seketika menjadi ramai– tetap saja mereka banyak memilih untuk keluar kelas dibanding tetap berdiam diri di dalam kelas. Kalaupun ada siswa yang masih diam di kelas, paling-paling siswa yang kutu buku, siswa yang mengantuk dan lebih memilih untuk tidur walau sejenak, atau siswa yang bawa bekal.



    Rencananya Alisha akan tinggal saja di kelas, membiarkan Lani untuk pergi ke kantin. Sehingga ia bisa ada kesempatan untuk bertemu Alden. Tapi seperti biasa Lani mengajak, atau lebih tepatnya memaksa Alisha untuk menemaninya. Jadilah sekarang Alisha berjalan malas-malasan di samping Lani yang sedang menuju kantin.



    Saat berjalan di koridor, Alisha tak sengaja menangkap sosok Alden yang tengah berjalan cepat. Cowok itu terlihat berbeda dari biasanya. Tidak ada binar jenaka yang biasa dipasang. Rahangnya mengeras seperti menahan amarah. Baru kali ini Alisha melihat ekspresi Alden yang seperti itu.



     “Liat apa, Sha?”



    Alisha berhenti menatap Alden yang semakin menjauh. “Ah, enggak liat-liat apa kok.” Alisha sebenaranya cukup penasaran hal apa yang sampai-sampai bisa membuat Alden seperti itu. Tapi segera ia menepis rasa ingin tau tersebut. Peduli apa dirinya tentang Alden?



     “Ya udah, yuk cepet jalannya. Entar kantin keburu rame lagi.”



    Alisha lalu mengimbangi langkah lebar-lebar Lani. Sepetinya Lani tidak sarapan, napsu banget ingin segera makan.


__ADS_1


    Sesampainya di kantin, mereka bergegas menuju gerobak bakso untuk memesan. Baru saja hendak mengeluarkan suara, mereka dikejutkan akan berita heboh yang samapi terdengar di kantin.



     “Eh, Alden berantem sama Dion di kelas!”



     “Apa? Alden berantem?”



     “Iya!”



     “Gara-gara apa?”



     “Gue juga kurang tau pasti. Tapi katanya gara-gara cewek. Yuk liat!”



    Sepeti itulah percakapan yang Alisha dan Lani dengar. Kerumunan siswa yang tadi sibuk mengantri, kini berbalik arah dan berbondong-bondong menuju kelas yang dimaksud. Tanpa terkecuali Alisha dan Lani. Lani yang memang ingin tau ada berita apa, juga ikut terbawa arus dan sampailah mereka pada tempat yang dituju.



    Tenyata bukan hanya mereka yang penasaran akan hal tersebut. Di sekitar ruang kelas tersebut sudah terlihat para siswa yang juga ingin menonton acara gratis tersebut. Terlihat dari banyaknya siswa di depan pintu dan tak ayal juga ada yang mengintip dari jendela. Lani dengan gesit mengajak Alisha hingga sampai di barisan yang cukup depan untuk melihat apa yang terjadi.



    Alisha cukup terkejut melihat adegan di depannya. Ini kali pertama ia melihat orang berkelahi secara langsung. Biasanya ia hanya melihat dari film action yang ia tonton saja. Di depan kelas, terlihat Alden yang secara brutal memukuli Dion. Banyak siswa yang ngeri melihat ekspresi Alden sekarang.



    Bugh!



    Satu bogem mentah berhasil Alden daratkan di wajah Dion. Alden sekarang benar-benar terlihat berbeda. Para siswa yang menonton bahkan sampai tak berani untuk ikut campur, bisa-bisa mereka yang kena sasarannya. Dion pun terlihat kepayahan menghadapi Alden yang menjadi berang.



    Alisha rasanya ingin sekali maju ke depan untuk melerai mereka. Ia gak bisa melihat orang berantem di depannya langsung. Dalam hati ia merutuki para siswa yang mengaku cowok karena diam saja menyaksikan hal ini.



     “Mau ke mana, Sha?” cegat Lani yang mencengkram lengan Alisha kuat.



     “Mau ngelerai mereka. Masa berantem di sekolah sih?”




    Sebelum Alisha kembali melanjutkan langkah, terjadi dorongan dari keruman tempat ia menonton. Ada dua orang yang menerobos untuk melerai Alden yang Dion yang masih sibuk beradu jotos. Diam-diam Alisha menghela napas lega. Akhirnya ada juga yang mau melerai mereka.



     “Al, cukup, Al, entar ada guru yang datang!” seru salah satu dari dua orang tersebut sambil menarik Alden ke belakang, menjauhkan dari Dion.



     “Lepasin gue. Nih cowok harus dikasih pelajaran!” berang Alden yang berusaha melepaskan diri dari pegangan kedua temannya.



     “Cukup, Al. Kalo mau kasih pelajaran di luar sekolah aja. Lebih mantap,” timpal cowok yang satunya lagi



    Mendengar itu, Alisha mengernyit. Ajaran sesat juga nih temannya Alden. Bukannya diademin, malah suruh yang lebih lagi.



    Alden mulai meredakan emosinya. Ditatapnya Dion dengan tatapan tajam lurus-lurus. “Jangan berani deketin dia lagi,” desis Alden tajam lalu berlalu meninggalkan kelas. Kerumunan yang tadi menggerombol, kini mulai meminggir, memberi jalan untuk Alden lewat.



    Para cewek yang tadi menonton, bertanya-tanya akan kalimat terakhir yang Alden ucapkan tadi.



    Jangan deketin dia lagi.



    Berarti benar kabar angin itu kalau mereka berantem gara-gara cewek. Beberapa dari mereka mengeluh kecewa. Beberapa juga berkomentar betapa beruntungnya cewek tersebut sampai-sampai bisa dibela sebegininya oleh Alden, Alden yang termasuk jajaran most wanted guy di sekolah. 



    Ada rasa terkejut juga senang di hati Alisha. Senang karena ada kemungkinan bahwa ada cewek yang Alden suka. Dan itu berarti… Alden bisa sepaham dengan dirinya.



     “Kok senyum, Sha?” tanya Lani heran.


__ADS_1


    Alisha bahkan tak sadar kalau ia tersenyum.



     “Senyumnya agak serem ih,” lanjut Lani lagi.



     “Ah, masa sih?’ kilah Alisha.



     “Iya. Yuk balik ke kantin. Gue laper. Eh tapi Alden tadi keren juga ya,” komentar Lani yang tidak terlalu ditanggapi oleh Alisha. 


*** 



    Bel pulang sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Alisha yang biasanya langsung pulang ke rumah, kini berbalik arah menuju ruang kelas Alden. Ia tidak ada pilihan lain. Ia harus segera berbicara dengan Alden.



     “Ada yang mau gue omongin sama lo,” kata Alisha langsung saat Alden baru keluar dari kelas. Untung saja Alden keluar terkahir kali, jadi suasana dekat kelas sudah cukup sepi, tidak banyak yang melihat.



    Alden mengangkat sebelah alisnya, cukup terkejut cewek ini akan mencarinya. “Wah ada apa nih nyariin gue? Tumben.” 



    Alisha mendengus samar. “Jangan pura-pura gak tau. Kita ngobrol di Kafe Luxius, bisa?” tanyanya dengan menyebutkan kafe yang terletak tak jauh dari sekolah mereka.



     “Oke, bisa. Peginya mau barengan?” tawar Alden.



    Alisha menggeleng. “Gue bawa motor. Kita ketemu di sana.” Setelah mengucapkan itu, Alisha berlalu meninggalkan Alden yang diam di tempatnya.



    Sesampainya di Kafe Luxius, Alisha gak langsung berbicara. Ia menatap Alden yang dengan sikap santainya tengah membuka-buka buku menu.



     “Hm, pesen apa ya? Kalo lo mau pesen apa, Sha?” Alden menegapkan kepala untuk menatap Alisha.



     “Orange juice aja,” jawab Alisha tak terlalu minat.



    Alden lalu memanggil waiter untuk menyebutkan pesanan mereka. Setelah waiter tersebut pergi, Alden menatap Alisha dengan tatapan bertanya.



     ‘”Elo pasti udah tau soal perjodohan… kita, kan?” Agak berat bagi Alisha untuk mengucapkan kata ‘kita’ tersebut.



     “Iyap, gue udah tau. Dan gue juga tau lo pasti nolak,” ujar Alden enteng seolah tanpa beban.



    Tepat sasaran! Alden tau benar apa yang dirasakannya. “Elo juga pasti gak setuju kan?”



     “Ya mau gimana lagi,” jawab Alden acuh tak acuh.



     “Jadi maksudnya lo nerima aja gitu?”



     “Kayaknya.”



     “Tapi gue gak setuju.”



     “Ya udah bilang aja sama kakek lo.”



     “Gak bisa, gue gak bisa nolak di depan kakek.”



     “Gue juga gak bisa nolak.” Alden gak mau ngalah.



    Alisah menatap sengit cowok di hapannya ini. “Kalo gitu, gimana kalo kita buat kesepakatan?” 


__ADS_1



__ADS_2