(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Hubunganku hancur karna kehadiran nya


__ADS_3

  Lani: Udah selesai belom?


    Lani: Lo di mana??


    Lani: Filmnya udah hampir setengah jalan ini. Kok gak balik-balik sih Sha?


    Lani: Alisha??


    Setelah Alisha bersama Alden dan Neola keluar, selesai menonton, cewek itu baru mengecek ponselnya. Ada tiga pesan dan dua panggilan tak terjawab dari Lani. Memang selama di dalam bioskop tadi, ia sama sekali tidak memainkan ponselnya. Diamatinya pesan-pesan itu. Dia harus menjawab apa? Tidak mungkin kalau ia bilang yang sebenarnya. Lalu setelah menimang-menimang sebentar, sebuah balasan ia kirim untuk Lani.


    Alisha: Gue udah pulang, Lan. Sori gak dateng lagi tadi. Lo sama Yuda sekarang di mana?


    Alisha pikir ia tak sepenuhnya berbohong, toh setelah ini ia juga berencana untuk segera pulang. Lani dan Yuda pasti sudah cukup lama keluar dari bioskop ini, mengingat ia saja juga telah selesai menonton. Tak lama, sebuah pesan kembali masuk.


    Lani: Oh ya udah gak apa. Gue kirain ke mana tadi, hehe. Lagi makan bareng Yuda sekarang. Abis itu mau balik.


    Alisha membacanya, lalu tanpa berniat untuk kembali membalas, ia simpan ponsel tersebut dalam saku celananya.


“Ekhem.”


    Alisha menoleh ke sumber suara, menatap Alden yang dari tadi memperhatikannya dengan tangan bersedekap dan kaki diketuk-ketukkan di lantai. Ah, terlalu sibuk mengurusi pesan yang masuk, Alisha sampai lupa kalau Alden dan Neola masih setia berdiri di sampingnya.


“Eh, sori. Kok kalian masih di sini?” tanya Alisha spontan.


“Menurut lo kenapa?” Alden balik bertanya.


Alisha mengangkat bahunya tak tau.


“Ya karena lo masih di sini lah,” ucap Alden.


“Gue kirain kalian udah pergi,” ucap Alisha pelan.


Alden memutar bola mata. “Makanya Non jangan sibuk sama dunia sendiri,” cecarnya.


    Alisha tanpa sadar mencebik. “Ya udah, gue mau pulang ya. Kalian juga abis ini ada kerjaan kan?”


“Lo mau pulang sekarang, Sha?” Kali ini Neola yang bertanya.


“Iya, kan udah nontonnya,” jawab Alisha polos.


“Pulang naik apa?” tantang Alden.


    “Ya naik motor gue… lah,” suara Alisha mengecil saat di ujung kalimat. Ia baru ingat kalau ia ke sini tadi diantar oleh mobil Yuda. Jadi otomatis ia tidak bawa kendaraan.


“Bawa motor?” tanya Alden dengan sebelah alis terangkat.


    “Enggak sih.” Alisha menggigit bibir bawahnya sebentar. “Tapi gue bisa balik sendiri naik taksi kok,” kilahnya cepat.


“Kami anter aja entar, Sha. Alden bawa mobil kok,” Neola memberi saran.


“Eh gak usah, gak apa gue balik sendiri aja,” tolak Alisha halus.


    “Ck, tinggal bilang iya aja kayaknya susah banget ya buat lo?” jengah Alden. Ditatapnya cewek ini lurus-lurus.

__ADS_1


    Alisha balas menatap tajam cowok di depannya ini. Gak di mana-mana tingkahnya itu selalu aja seenaknya.


“Bareng kita aja ya, Sha…,” bujuk Neola.


    Alisha melirik Neola, menarik napas sebentar, lalu berusaha tersenyum tipis. “Oke, tapi gak ngerepotin nih?”


Neola menggeleng cepat seraya tersenyum lebar. “Enggak lah.”


“Ya udah, yuk pulang,” ucap Alisha yang bersiap mengambil langkah.


    “Eh tunggu Sha,” Neola menahan lengan Alisha, “kita mau ke bagian supermarket dulu, buat belanja,” ingat Neola akan tujuan awal mereka kemari.


“Jadi…?”


    “Lo ikut kami aja dulu gak apa kan? Abis belanja, entar kita makan dulu, baru pulang. Mau ya?” tawar Neola.


    Alisha berpikir sejenak. Kok jadi beruntun gini sih? Niat awalnya kan bukan kayak gini, gak sampe jalan bareng terlalu lama dengan dua saudara kembar ini. “Ehm….”


    “Banyak mikir deh lo. Ayuk ah.” Alden menarik ujung lengan baju Alisha, memaksa cewek itu untuk mengikuti langkahnya.


    “Itung-itung aja ini bayaran buat nganterin lo pulang. Temenin kita bentar gak apa kan?” Baru saja Alisha ingin berkelit, Alden kembali berucap. Membuatnya kembali terdiam.


    Alisha melirik ujung bajunya yang ditarik Alden, lalu menyentaknya. “Gue bisa jalan sendiri,” ucapnya ketus.


    Alden menatapnya dengan tampang menyebalkan. “Kalo bisa jalan sendiri, kenapa gak jalan-jalan dari tadi? Masa ditarik dulu baru mau?”


“Seperti kata lo tadi, gue lagi mikir.”


    “Kalo lo dikasih pertanyaan soal-saol matematika, wajar kalo lo mikir dulu. Lah ini, pertanyaan simpel aja pake acara sok-sokan mikir berat.”


 


    Hari sudah hampir menjelang malam saat Alisha melangkah masuk ke rumahnya. Di luar rencana, setelah menemani mereka belanja –yang lebih kebanyakn muter-muternya dibanding cepet ngambilin barang yang ingin dibeli – dan makan di salah satu restoran Mal itu, Alisha belum langsung diantar pulang. Bahkan untuk memilih tempat makan pun, mereka tadi sempat berdebat. Ehm lebih tepatnya sih Alisha dan Alden yang berdebat, Neola kebanyakan hanya menonton saja, membiarkan dua orang itu beradu pendapat.


    Setelah makan, bukannya langsung pulang, Neola mengajak mereka untuk bermain dulu di Timezone. Dengan dalih hanya sebentar, Alisha pun menuruti permintaan Neola. Tapi entah Neola yang pintar menahannya atau memang dirinya yang keasyikan bermain, sampai-sampai ia lupa waktu dan menghabiskan waktu cukup lama di sana.


    Meskipun terkadang kesal akan sikap Alden yang selalu ingin mendonimasi dan berbuat seenaknya, Alisha seharusnya bersyukur. Karena selama menghabiskan waktu bersama mereka, ia jadi bisa lupa untuk memikirkan Yuda… dan juga lupa kalau sebenarnya selama ini belum ada orang lain yang menghabiskan waktu lama bersamanya selain Lani dan Yuda.


“Alisha habis dari mana?”


    Alisha menghentikan langkah dan menoleh ke kakeknya yang tengah duduk santai di ruang keluarga. Ada binar terkejut di matanya saat melihat sang kakek ada di rumah ini. Karena ia tau kemarin Kakek baru saja pergi keluar kota yang katanya untuk menghadiri acara kolega pentingnya. Ia tidak menyangka kalau kakeknya sudah pulang sekarang. Untung saja saat Lani dan Yuda yang menjemputnya tadi tidak mengetahui kalau kakeknya sedang tidak di rumah, sehingga bisa mendukung kebohongannya.


    Dihampirinya sang kakek dan ikut duduk di sebelahnya. “Dari jalan-jalan, Kek. Kakek kapan pulangnya?”


Kakek melirik sebentar jam di dinding. “Sekitar satu jam yang lalu. Pergi sama siapa?”


    Ragu, Alisha pun menjawab, “Sama Alden dan Neola.” Kenyataannya memang begitu kan? Memang ia dijemput sahabatnya, tapi toh ia di sana bersama dua orang kembar itu.


Ada senyum di bibir Kakek. “Sama mereka?”


“Iya.” Alisha mengangguk.


    Kakek tersenyum senang. “Sering-sering ya mengakrabkan diri dengan mereka. Apalagi kalian kan satu sekolahan, sebaya pula. Jadi bisa juga kan sharing tentang sekolah? Mungkin bisa kalian sering-sering belajar bareng?” ucap kakek panjang lebar.

__ADS_1


    Alisha tersenyum, jenis senyum yang ia paksakan. “Iya.” Dijawabnya seadanya pertanyaan Kakek tadi. Ia sendiri tidak yakin akan melakukan hal tersebut. Hari ini kan kebetulan saja dia bertemu dan menghabiskan waktu dengan mereka.


    “Alisha ke kamar dulu ya, Kek,” pamit Alsiha lalu pergi menuju kamarnya. Rasanya badannya lelah sekali hari ini. Kakinya juga pegal karena terlalu banyak berjalan.


    Kakek memandangi punggung Alisha yang semakin menjauh. Ia tersenyum lega. Meskipun ia melihat Alisha belum sepenuhnya menerima perjodohan ini, ia yakin kalau lama-kelamaan Alisha pasti akan menerimanya dengan senang hati. Itulah tujuannya mengenalkan perjodohan ini sedari dini, biar Alisha bisa beradaptasi.


    Lagipula perjodohan ini memang harus terjadi. Pak Bustoro tidak mau rencana perjodohan yang telah ia susun dengan Pak Danubrata kembali gagal. Ada rasa sesal yang menjalar di hatinya saat mengingat anak lelakinya yang tak jadi dijodohkan dengan anak Pak Danubrata.


    Seandainya dari dulu anaknya menurut, pasti mereka masih bisa bersama-sama sekarang. Ia akan melihat anaknya bersama keluarganya yang bahagia. Bukannya seperti sekarang, merasa kehilangan, yang hanya menyisakan putri yang mereka tak salah apa-apa.


“Oh iya, Kek,” Alisha yang sudah berjalan cukup jauh, kembali melangkah mendekat.


Kakek tersadar dari lamunannya. “Iya?”


    “Tadi… tadi pas di mal, Alisha ketemu seseorang,” ucapnya pelan setelah kembali duduk di dekat Kakek.


“Seseorang? Siapa?” tanya Kakek penasaran.


“Orang itu… mirip banget sama Mama, Kek,” jawab Alisha.


“Benarkah?”


    “Iya. Mirip banget,” ujar Alihsa sambil mengingat-ingat sosok perempuan yang tadi ia temui tersebut.


Kakek menghela napas. “Tapi Alisha tau kan kalau Mama kamu sudah–”


“Meninggal?” potong Alisha cepat.


Dengan berat hati, Kakek mengangguk.


    “Mama memang bener-bener sudah meninggal ya, Kek?” yanya Alisha dengan kepala menunduk. Ada tanda tanya besar di pikirannya sekarang. Kenapa kakeknya tidak berkata yang sebenarnya pada dia?


    ‘”Iya. Mama kamu sudah meninggal sejak tujuh tahun yang lalu,” jawab Kakek pelan namun tegas.


    Alisha menegakkan kepalanya. Ditatapnya sang kakek yang berucap dengan serius, membuat ia kembali menelan segala pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada kakeknya. Menghela naps berat, Alisha berucap, “Ya udah, Alisha ke kamar dulu ya, Kek.”


Kali ini, kembali ia bersikap pura-pura tak tahu akan kebenaran yang sebenarnya.


    Alisha menuju kamarnya. Ingin rasanya ia cepat-cepat menjatuhkan dirinya di atas kasur. Tapi mengingat ia yang baru selesai makan, diurungkannya niat untuk segera berbaring. Ia menuju meja belajarnya. Setelah selesai menyusun pelajaran untuk besok, ia membuka sebuah novel untuk dibaca. Tapi baru beberapa menit ia tenggelam dalam dunia imajinasi, getar ponsel menarik perhatiannya. Ada pesan Line yang masuk.


    Yuda: Sha, tadi abis nganter Lani, gue beli brownies buat lo. Hitung-hitung tanda terima kasih lah, hehe.


    Kedua sudut bibir Alisha terangkat saat membaca kalimat pertama pesan itu. Ia senang karena Yuda mau repot-repot melakukan hal itu. Tapi saat membaca kalimat kedua, perlahan senyum itu luntur. Yuda melakukannya hanya sebagai ucapan terima kasih, ucapan terima kasih karena Alisha mau mengobarkan semangat Yuda mengejar Lani.


    Hah, tiba-tiba ruang kamar Alisha menjadi sesak. Ia sendiri bertanya-tanya kenapa rasanya tidak enak ketika berusaha untuk merelakan orang yang disuka berdekatan dengan orang lain. Tapi saat terlintas di benaknya bahwa orang lain itu adalah Lani, sahabatnya sendiri, Alisha menggeleng pelan. Ia hilangkan rasa tak rela itu.


    Alisha: Wah, thank you!


    Pura-pura senang, pura-pura antusias. Mungkin hal itulah yang terbaik untuk Alisha lakukan sekarang. 


 


Maap yahh semua aku baru uploud dan aku karena aku sakit aku baru lanjutin buat kelanjutan nya kulanjutin besok yahh 😊

__ADS_1


i



__ADS_2