(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Kesepakatan


__ADS_3

Saat tiba di kafe ini, Alisha memang sengaja memilih tempat duduk yang berada di pojok. Bukan apa-apa, ia takut aja kalau misal ada murid dari SMA Pusaka Bangsa yang ngelihat mereka sama-sama. Alden ini kan salah satu siswa popular di sekolahnya, jadi kalau ada yang ngelihat Alden dengan Alisha pasti akan menimbulkan tanda tanya. Ini sebenarnya juga kali pertama Alisha duduk semeja dengan Alden. Kalau bukan karena hal yang mendesak, gak mau deh Alisha berurusan sama nih cowok.



     “Kesepakatan?” Merespon dari penawaran Alisha sebelumnya, Alden menaikkan sebelah alisnya.



     “Iya, kita buat kesepakatan.” Alisha menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. Tapi sebelum ia membuka mulut untuk melanjutkan, seorang waiter kembali membawa pesanan mereka.



“Makasih, Mas,” ucap Alden dan Alisha hampir bersamaan.



    Setelah waiter tersebut berlalu, mereka kembali fokus ke pembicaraan. “Eh, sebentar,” henti Alden sebelum Alisha menyampaikan pikirannya. Cowok itu yang semula duduk bersender di kursi dengan tampang santai, kini memajukan badannya sedikit. Dicondongkannya punggung ke depan sehingga semakin mempertipis jarak antara mereka berdua.



Alisha mengernyit heran. Ia memundurkan sedikit badannya.



Alden menatap cewek ini dengan mata menyipit. “Elo beneran gak mau dijodohin sama gue?”



Alisha mengangguk pasti.



    Ada sedikit binar terkejut di raut wajah Alden. Ia memang menebak Alisha tidak mau dijodohkan, tapi meskipun dijodohkannya dengan Alden, dia tetap gak mau gitu? Ini Alden lho, cowok yang direbutin sama cewek sesekolahan. Bahkan kakak kelas aja banyak yang kepincut sama dia.



     “Kok gak mau? Dijodohin sama gue lho….” Ada nada membanggakan dari kalimat yang diucapkan Alden.



“Emang ada alesan buat gue mau dijodohin sama lo?”



    Telak! Alden terdiam. Bener juga sih. Tapi kalau ditanya sama cewek-cewek yang ngantri buat deket sama Alden, mereka pasti mau banget dijodohin sama Alden. Gak bakalan deh ada yang nolak.



    Rasa percaya diri Alden yang semula setinggi Mount Everest, kini melesat jatuh ke bawah. Melihat tampang yang benar-benar serius dari wajah Alisha membuat ia semakin yakin kalau Alisha ini gak seperti kebanyakan cewek yang ia temui. Kalau Alisha tadi bilang dengan wajah yang sedikit malu-malu gitu, atau ada gugupnya dikit aja, Alden masih bisa menebak kalau cewek ini juga jatuh sama pesonanya. Tapi hal itu sama sekali enggak.



    Alden nyegir kuda menanggapi pertanyaan sarkatis Alisha tadi. Mengembalikan harga dirinya yang sempat turun, Alden berucap, “Seharusnya gue yang ngomong kayak gitu.”



“Bukannya tadi lo bilang kalau mau-mau aja dijodohin sama gue?”



    Alden terdiam lagi. Kalau tidak mengingat kakeknya yang sampai kumat penyakit jantungnya dan permintaan dari orang tuanya, sudah Alden tolak mentah-mentah perjodohan ini. “Itu karena keluarga gue yang maksa,” belanya.



“Sama,” balas Alisha singkat.



“Ya udah kalo lo gak mau. Ngomong langsung.”



    Alisha berdecak. Tampangnya sekarang udah bener-bener bete. “Kan gue udah bilang kalao gue gak bisa nolak langsung di depan Kakek gue,” ketusnya.



     “Ya sama. Gue juga gitu. Jadi maksud lo, gue gitu yang mesti ngomong buat nolak perjodohan ini?”



“Ya iya, soalnya gak mungkin gue,” jawab Alisha pelan.



“Gue gak bisa.”



“Oleh karena itu, kita buat kesepakatan.”



     “Oke. Jadi… kita mau bikin kesepakatan apa?” Ia bertanya dengan posisi satu tangan ditaruhnya di atas meja untuk menyangga kepala. Ditatapnya Alisha lurus-lurus dengan sorot ingin tau.



    Alisha berdeham sebentar sebelum menjawab. “Kita buat kespekatan; siapa yang punya pacar duluan bakal minta perjodohan ini untuk dibatalin,” ucap Alisha dalam satu kali tarikan napas.

__ADS_1



    Alden mengedip beberapa kali dan diam sebentar untuk mencerna kalimat tersebut. “Wah, kayaknya ini kesepakatan menjebak ya?” tanyanya santai tapi ngena.



    Alisha pura-pura gak ngerti. “Apanya yang menjebak?” tanyanya balik dengan muka sok polos. Menolak menjawab pertanyaan Alsiha yang sebenarnya juga menjebak, Alden berujar enteng, “Kesepakatannya menguntungkan nih buat lo. Toh elo kan gak pernah pacaran.”



Agak geram karena Alden tau siasatnya, Alisha hanya menatapnya sengit.



    Alden menyesap latte-nya sebentar. Melihat Alisha yang tidak juga mengeluarkan suara, cowok itu bertanya, “Eh, jadi bener lo gak pernah pacaran?” Ada nada terkejut dari suaranya.



“Iya, emang kenapa?” tanya Alsiha dingin.



Sudut kiri bibir Alden tertarik ke atas. “Padahal gue tadi asal nebak aja lho.”



“Oh.”



    Alden diam sebentar, berpura-pura berpikir di depan Alsiha. “Hem gimana kalo misal salah satu dari kita rupanya udah punya pacar, tapi masih diem aja gak ngasih tau?” Sebenernya Alden ingin tertawa sih, entah mengapa kata yang diucapkannya agak dangdut begitu.



     “Ih gak boleh gitu. Emang masih mau perjodohan ini dilanjut kalau punya orang yang disayang?” sebal Alsiha. Tapi sebenarnya ucapannya tersebut lebih cocok untuk dirinya sendiri.



“Oke, berarti harus jujur gitu, ya?”



“Iyalah.”



“Sampe salah satu dari kita punya pacar kan?”



     “Iya.” Seingat Alisha, kemarin di toilet ia sempet dengar ada cewek yang ngaku kalau pacaran sama Alden. Tapi kok Alden gak ada bilang apa-apa? Atau mungkin Alden menutupinya? Ah, entahlah. Nanti mungkin Alisha akan segera menyelidikinya.




“Iya.”



     “Gue sih gak terlalu peduli soal perjodohan ini,” balas Alden enteng. “Nah berhubung elo yang gak mau, tapi elo-nya juga gak mau nolak, ya udah gue juga bakal bersikap begitu.”



“Bersikap gitu gimana?” tanya Alisha gak ngerti.



“Bersikap gak bisa nolak secara langsung.”



“Jadi?”



“Jadi, kita buat kesepakatan ini secara serius. Oke, gue setuju.”



     “Ya udah bagus kalo setuju.” Alisha meraih gelas orange juice-nya dan meminumnya sedikit. Capek juga lama-lama berdebat sama Alden. “Gue balik ya.” Merasa tidak ada pembicaraan yang ingin dibicarakan lagi, Alisha bergegas ingin beranjak.



“Udah mau balik?”



Alisha mengangguk.



     “Padahal kita baru aja sebentar di sini. Gak mau makan bareng gue dulu gitu? Kan tumben-tumben nih kita duduk berdua kayak gini,” cetus Alden.



    Alisha menatapnya malas. Sebentar katanya? Apaaan yang sebentar! Rasanya bokong Alsiha udah panas gara-gara kelamaan duduk buat diskusi sama Alden. “Udah ah gue mau balik. Kalo lo masih mau di sini ya udah terserah,” ucap Alisha sambil mencari-cari dompetnya di dalam tas untuk membayar minumannya.

__ADS_1



“Biar gue yang traktir.”



    Alisha berhenti mencari-cari dompetnya. “Oh, oke. Thanks,” ucap Alisha yang kalau dilihat dari mukanya, bisa dipastikan ucapan terima kasih tersebut hanya formalitas aja. Lalu dengan tanpa berdosanya, dia melenggang pergi meninggalkan Alden.



    Melihat dia yang benar-benar ditinggal sendirian, Alden ikut beranjak. “Eh gue balik juga deh. Gak enak sendirian.”



    Setelah meninggalkan sejumlah uang di atas meja untuk membayar minuman mereka, Alden ikut berdiri mengikuti Alisha yang menuju pintu keluar. Di belakangnya, Alden sempat tersenyum kecil. Kalau diingat-ingat, ini kali pertama mereka duduk berdua dan berbicara panjang lebar. Ya walaupun perbincangan mereka bukan jenis obrolan ringan sih.



    Saat sampai di pintu keluar, Alisha tak sengaja melihat seorang cewek yang berseragam sama dengannya. Tapi Alisha tetap saja Alisha. Walaupun ia tau cewek itu, ia gak bakal juga negur duluan. Ia hanya melihat sekilas saja. Melewatinya, Alisha bergegas menuju motornya yang terparkir.



“Lo berantem sama Dion gara-gara gue kan?”



    Dapat Alisha dengar suara dari cewek yang tadi dilewatinya. Jaraknya yang tidak terlalu jauh, cukup membuat ia mampu mendengar kalau cewek itu sedang berbicara dengan Alden. Alisha mengira itu pasti cewek yang membuat Alden berantem sama Dion. Kalau benar cewek itu yang mampu ngebuat sosok Alden sampe ngamuk di sekolah, berarti cewek itu cukup penting bagi Alden kan? Dan itu bagus untuk dirinya. Eh, atau itu pacarnya Alden? Tapi Alden gak bilang kalau dia udah punya pacar. Hem mungkin bentar lagi juga jadian. Mengangkat bahu tak acuh, Alisha segera menghidupkan mesin motornya dan mengendarainya meninggalkan tempat tersebut. 


*** 



    Alisha baru tiba di kamarnya. Ia langsung merebahkan diri dan memejamkan mata sebentar. Teringat akan sesuatu, ia kambali duduk. Tadi kenapa dompetnya gak ketemu-ketemu di dalam tas? Padahal seingatnya dompet tersebut sudah ia taruh di dalam tas.



    Alisha meraih tasnya dan segera menumpahkan seluruh isinya di atas kasur. Jadilah buku-buku beserta alat tulis yang juga di dalamnya ikut berserakan sekarang. Sedetik kemudian, Alisha melihat benda yang ia cari ternyata ada di sana. Ia menghelas napas lega. Saat hendak kembali merapikan lagi isi tasnya, ponsel Alisha bergetar.



Lani calling….



Segera Alisha meraih benda persegi itu. “Ya, Lan?”



     “Astaga, Alisha! Lo kok gak angkat-angkat telpon gue sih? SMS sama Line juga gak dibales,” cerocos Lani cepat.



    Ah iya. Alisha ingat kalau selama dia di kafe tadi ia sama sekali tidak memainkan ponselnya. Ponselnya juga dibuat mode getar. “Maaf, Lan. Tadi gue lagi gak megang hp.”



“Gue capek tau ngubungin lo terus dari tadi.”



“Maaf, Lani…. Eh, emang ada apaan?”



“Oh, iya! Gue ampe lupa mau ngapain nelpon elo kan.”



Dapat Alisha tebak pasti sekatang Lani tengah menepuk jidatnya pelan.



     “Sha, tau gak? Lagi ada diskon besar-besaran di Teen Shop! Ya ampun ini yang gue tunggu-tunggu! Lo tau kan kalo gue ada ngincer baju di sana? Harganya kemarin mahal banget. Nah ini udah diskon. Pasti lebih murah. Temenin gue yuk, Sha, ke sana. Pasti rame banget. Kan jarang-jarang tuh toko ngadain diskon.”



    Alisha ingin menjawab iya. Karena jelas tau kalau Lani memang ada menginginkan barang di toko tersebut. Tapi ia ingat kalau malam ini ia ada acara untuk bertemu dengan keluarga Alden. “Lan, gue gak bisa bemenin. Sori. Kakek gue baru balik,” ucap Alisha pelan. Ia sengaja menggunakan alasan tersebut untuk alibi.



    Terdengar helaan napas dari seberang sana. “Yah… ya udah deh kalo gitu. Sori nih gue gak tau kalo Kakek baru balik.”



“Eh iya gak apa.”



“Ya udah ya entar gue ajak nyokap aja ke sana. Dah….”



    Sambungan terputus, menyisakan Alisha yang kini tersenyum pahit. Nyokap. Kadang Alisha merasa iri pada Lani yang masih punya tempat lain untuk bergantung.



__ADS_1




__ADS_2