
“**Woy cepetan ganti bajunya! Udah hampir sepuluh menit ini!” Reza –si ketua kelas XI IPA 3– berteriak di depan pintu kelas yang tertutup, membuat para cewek yang sedang berganti pakaian di dalam kelas mulai heboh. Masalahnya ini, Pak Nasir –guru olahraga mereka– tidak suka kalau murid-muridnya datang terlambat ke lapangan. Batas tolerasni waktu ganti baju biasanya sepuluh menit, gak boleh lebih kalau tidak mau kena hukuman.
“Iya, iya bentar!”
“Cepet, cepet, entar kita dihukum suruh lari di lapangan lagi.”
“Iya, buruan! Eh Zas, itu baju gue yang lo pake, ketuker nih punya kita.”
“Na, celana lo kebalik tuh.”
“Eh, eh jangan keluar dulu! Gue belum kelar nih!”
Grasak-grusuk para siswi mulai terdengar. Mereka yang semiula sempat bersantai, kini mulai gerak cepat, tak terkecuali Alisha dan Lani. Dua cewek itu juga bergerak cepat untuk berganti baju. Tapi tak serempong yang lain, mereka dengan cepat dapat selesai berganti baju.
“Buruan dong! Gue mau naro baju juga nih di dalem,” Arga ikut teriak di depan kelas. “Gue nyelonong masuk juga nih!” serunya menakuti kaum hawa di dalam kelas itu.
“Eh Arga kampret! Awas kalo lo berani masuk!” teriak salah satu cewek yang sudah selesai berganti baju, tapi masih setia berdiri di dekat pintu, berjaga-jaga kalau ada yang iseng membuka pintu dan masuk ke dalam. Saat waktu ganti baju begini, beberapa cewek yang memiliki berat badan di atas rata-rata memang selalu dijadikan penjaga di dekat pintu. Dan akan menyeru galak kalau ada yang berani-berani nyelonong masuk ke dalam.
“Udah belom? Pak Nasir udah nunggu di lapangan tu,” ucap Reza lagi memperingati makhluk hawa di dalam kelas tersebut.
Dia mengetuk-ngetuk kakinya di lantai dengan tidak sabaran. Tangannya memegang seragam putih abu-abu. Kaum cowok memang berganti di toilet, tidak diizinkan untuk berganti di dalam kelas. Selain karena para cewek tidak mengizinkan, katanya juga untuk menghemat waktu. Para cewek di dalam kelas, sementara para cowok di toilet. Tapi kadang tetap saja masih ada beberapa cowok yang nekad ganti baju di kelas, tak peduli jika masih banyak orang di dalam kelas.
“Iya iya udah kok.” Akhirnya pintu kelas pun dibuka dan mereka semua mulai keluar menuju lapangan di lantai satu.
“Sha, lo sakit?” bisik Lani saat mereka sudah mulai berbaris di tengah lapangan.
Beruntung penempatan jam olahraga berada pada jam pertama, jadi matahari masih bersahabat-sahabatnya, tidak terik sehingga membuat kaum hawa yang biasanya malas-malsana untuk olahraga, menjadi cukup semangat. Oh tentu jangan lupakan tisu dan parfum yang mereka sediakan setelah jam olahraga selesai.
Tapi meskipun sinar matahari tidak ada terik-teriknya, tampang Alisha cukup pucat, membuat Lani menjadi khawatir. Posisinya yang baris tepat di samping Alisha, membuat ia bisa melihat jelas tampang sahabatnya itu.
Alisha menggeleng pelan sebagai respon.
“Tapi kok lo pucat banget? Nggak usah ikut olahraga aja deh Sha,” saran Lani sambil melirik Pak Nasir yang mulai mengeluarkan instruksinya..
“Gue nggak apa-apa kok Lan,” ucap Alisha bohong, karena nyatanya Alisha memang merasa sedikit tidak enak badan, tapi ia pikir tidak masalah jika harus tetap ikut pelajaran ini.
“Reza, cepat pimpin teman-teman kamu untuk pemanasan,” perintah Pak Nasir.
Reza lalu mulai maju ke depan dan memimpin teman-temannya untuk melakukan pemanasan singkat.
“Setelah ini kalian langsung lari lima putaran! Tidak ada yang boleh menolak atau berusaha memotong jalur putaran,” perintah Pak Nasir mengingat kalau siswa-siswinya ini kadang suka bandel dengan langsung mengitar ke tengah lapangan, sehingga membuat jalur putaran lebih pendek. “Cepat, cepat! Semuanya harus berkeringat.”
Mereka kini semua mulai berlari mengitari lapangan sebanyak lima kali sesuai dengan instruksi Pak Nasir. Meski ada beberapa yang mendumel sebal, tapi mereka tak bisa membantah. Kalau masih ada yang bandel, sudah pasti Pak Nasir akan memberi hukuman yang lebih capek lagi.
Saat putaran keempat, Alisha merasakan nyeri di perutnya. Dia berdecak pelan. Ini pasti gara-gara dia yang belum sarapan. Alisha merintih dalam hati. Tolong, jangan sekarang. Perutnya terasa seperti dipelintir-pelintir. Terasa sangat nyeri. Wajahnya semakin pias karena menahan rasa sakit. Tapi meskipun begitu, tetap Alisha tahan agar bisa mengikuti jalannya jam olahraga ini.
__ADS_1
“Yang perempuan dibagi jadi dua kelompok.” Terdengar perintah Pak Nasir saat mereka semua sudah selesai berlari dengan napas ngos-ngosan.
Seketika para siswi mulai berpencar menjadi dua bagian. Alisha masuk ke tim bersama Lani. Sepertinya hari ini mereka akan bermain sepak bola, terlihat dari Reza yang baru saja menaruh bola di dekat Pak Nasir.
Peluit dibunyikan. Pertandingan pun dimulai. Alisha berdiri dengan bingung di tengah lapangan. Bingung mau melakukan apa. Meskipun ia sering melihat Yuda bermain futsal, tapi tetap saja ia tidak begitu mengerti. Yang ia tau hanya perlu menendang bola masuk ke gawang agar mendapat skor.
Baru saja Alisha hendak berlari untuk mengejar bola seperti teman-temannya yang lain, tapi rasa sakit di perut menghentikannya. Sambil meringis pelan, ia berusaha mengikuti pergerakan teman-temannya.
Tapi tak disangkanya, bola yang tadi diperebutkan dan ditendang, bukannya masuk ke dalam gawang, malah tepat mengenai kepala Alisha. Membuat Alisha yang memang sedang menahan sakit menjadi oleng terjatuh pingsan di tengah lapangan. Anak cewek langsung berteriak histeris dan segera berkerumun mengelilingi Alisha.
“Alisha!” teriak Lani. “Sha, bangun!”
“Ini gara-gara lo sih yang nendang gak tepat sasaran.”
“Duh gue beneran gak sengaja.”
Pak Nasir membunyikan peluitnya dan segera berlari ke tengah lapangan. “Yang laki-laki ayo cepat bawa Alisha ke UKS!”
***
Alden bangun dari posisi tidurnya saat mendengar suara berisik yang masuk ke dalam ruang UKS ini. Ia duduk bergeming di pinggir ranjang sambil memasang kuping rapat-rapat. Ia baru saja ingin tidur saat suara berisik itu mengganggu ketenangannya.
Bukan, dia di sini bukan karena sakit. Alden memang berencana untuk tidur saja di ruang UKS ini. Gara-gara ia yang datang terlambat, Bu Paulina tidak mengizinkan masuk ke dalam kelas. Bu guru itu menyuruh Alden untuk berdiri di luar kelas.
Kalau dia ke perpustakaan, pasti sudah diusir sama penjaga perpus. Dia bisa masuk ke sini pun dengan alasan tangannya yang masih sakit. Walau Mbak Dhiya tidak sepenuhnya percaya, mau tak mau akhirnya penjaga itu membiarkan juga Alden masuk karena tanpa diizinkan pun Alden sudah berbaring dengan santai di salah satu ranjang.
Saat suara berisik itu berangsur-angsur mulai hilang, Alden menyibak tirai yang membatasi tempatnya.
“Alisha?” gumamnya saat tau siapa orang yang sedang berbaring di samping ranjang tempat ia berbaring tadi.
“Pingsan rupanya…. Kok bisa?” Alden bertanya-tanya sendiri, karena di dalam ruangan ini memnag tinggal mereka berdua saja.
Alden mengamati seragam olahraga yang dikenakan Alisha dan wajah pucat cewek tersebut. “Nih cewek pasti magh-nya kumat, terus maksain diri buat ikut jam olahraga,” tebak Alden sambil menggelng pelan. “Dasar keras kepala.”
***
Alisha mengerjap-ngerjapkan matanya. Matanya perlahan mulai membuka. Bau balsam tepat di depan hidungnya akhirnya mampu membuat ia terbangun. Tunggu dulu. Balsam? Alisha mengeryit bingung. Saat matanya terbuka sempurna, segara ia rasakan nyeri di perut beserta kepalanya yang terkena tendangan bola.
“Lo baring aja dulu, jangan langsung duduk.”
Mata Alisha yang ingin terpejam lagi, langsung membuka sempurna untuk melihat si pemilik suara berat tersebut. Segera ia beringsut untuk duduk di ranjang dan menhandarkan punggungnya ke belakang. “Alden?”
“Iya, ini gue. Bisa aja dong mukanya, jangan kaget begitu,” ujarnya sambil menutup wadah balsam yang sedari tadi ia pegang. Alisha melihat balsam tersebut. Oh, jadi bau balsam tersebut dari Alden rupanya. Pantas saja, kalau Mbak Dhiya pasti akan membangunkannya dengan mengolesi minyak kayu putih atau minyak telon, bukan balsam kayak begitu.
“Bau balsamnya ampuh juga buat bangunan lo. Nih minum dulu tehnya Sha,” Alden menjulurkan segelas the hangat pada Alisha.
__ADS_1
Karena masih merasa sakit, Alisha tak terlalu menanggapi dan menurut saja.
“Mbak Dhiya tadi ada urusan mendadak, jadi gue yang jagain lo di sini,” ucap Alden seolah tau apa yang ada di benak Alisha. Setelah itu ia taruh kembali gelasnya ke tempat semula.
“Tapi kok lo bisa ada di sini?” tanya Alisha pelan.
“Gara-gara tangan gue mungkin?”
Segera Alisha dibendungi rasa bersalah.
“Enggak ding, bukan karena itu kok,” koreksi Alden cepat karena tak tega melihat tampang Alisha.
“Lo pasti gak sarapan kan?”
Alisha mengangguk.
Alden berdecak pelan. “Udah tau penyakit maag lo bisa kumat kalo gak sarapan, dipaksain lagi buat olahraga, ckckck.”
Alisha diam di tempat. Ia merasa seperti sedang diceramahi saja. “Tapi gue bukan pingsan karena itu kok.”
“Tapi karena kena tendangan bola kan?”
Dahi Alisha mengerut bingung. Kok Alden bisa tau sih?
Seolah bisa membaca apa yang dipikirkan Alisha, Alden berucap, “Gak usah heran gitu. Gue taunya juga dari Mbak Dhiya kok.” Alden bergerak untuk mengambil makanan di meja yang terletak di samping ranjang Alisha. “Makan dulu, Sha,” perintahnya tegas dengan menjulurkan sepiring nasi goreng.
Alisha menurut. Ia menerimanya.
“Dimakan, tenang gak diracunin kok,” canda Alden. “Atau mau gue suapin?”
Alisha dengan cepat menggeleng. “Gue masih bisa makan sendiri kok.”
“Ya gue kirain lo masih shock gitu. Abisnya dari tadi banyak diemnya.”
Alisha mulai menyuapkan nasi goreng tersebut ke mulutnya. “Ini Mbak Dhiya juga yang beliin?”
“Menurut lo dengan Mbak Dhiya yang buru-buru pergi, dia yang beliin lo nasgor?” tanya Alden dengan salah satu alis terangkat.
Alisha merutuk sebal dalam hati. Sikap menyebalkan Alden selalu saja muncul. Gak bisa langsung jawab aja apa. Baiklah, ia sadar kalau Alden yang berinisiatif membelikannya makanan. Tapi tingkah menyebalkan cowok itu seolah menutup kebaikan yang ia lakukan.
Bersambung
Ouhh,iyya temen temen jangan lupa baca novel She Iss my Love Yahh 😊🍁💞**
__ADS_1