
Hari sudah sore ketika Alisha pulang ke rumah. Tadi ia pulang diantar Alden. Sebenarnya ia ingin menolak, tapi karena sungkan dengan Tante Riani, jadi ia menurut saja tanpa penolakan.
Alisha jadi bingung sendiri akan sikapnya akhir-akhir ini. Niat awalnya ingin menolak perjodohan ini dan juga jauh-jauh dari Alden. Tapi kenapa semakin hari, justru ia semakin dekat dengan Alden dan keluarganya. Ini semua benar-benar di luar rencananya.
Alisha baru saja hendak membuka pintu saat terdengar suara deru mobil yang masuk ke halaman rumah. Dilihatnya itu mobil kakeknya. Kakek pasti habis mengahadiri acara penting sampai-sampai sore hari begini baru pulang dari kantor.
Meskipun usia kakeknya sudah tidak muda lagi, tapi lelaki tua itu masih sanggup memimpin perusahaan secara langsung. Membuat Alisha jadi bertekad kalau sudah lulus sekolah, ia akan terjun langsung mengurusi perusahaan keluarganya, agar Kakek tidak terlalu repot seperti sekarang.
“Alisha baru pulang?” tanya Kakek yang sudah berjalan menuju pintu.
Sambil masuk ke dalam rumah, Alisha menjawab, “Iya, Kek.”
“Sore sekali pulangnya? Ada pelajaran tambahan di sekolah?” tanya Kakek yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu.
Alisha yang duduk di samping kakeknya menggeleng pelan. “Bukan, Kek. Tadi baru pulang dari rumah Alden,” jelasnya.
Mendadak kakek jadi semangat akan topik pembicaraan ini. Suatu peningkatan besar cucunya mau berkunjung ke rumah keluarga Alden. “Tumben mau main ke sana?”
Alisha ingat kalau ia memang belum cerita ke kakeknya kalau ia diminta guru untuk membantu mengajar Alden. “Belajar bareng, Kek. Guru mtk Alisha minta bantuan buat jadi mentor privatnya Alden dalam pelajaran itu. Tadi belajarnya bareng Neola juga kok,” cerita Alisha.
“Oh… gitu. Baguslah kalau kalian bisa belajar sama-sama. Jadi pulang tadi diantar Alden?”
“Iya. Kan Alisha emang gak bawa motor.”
“Iya, ya. Oh ya coba cek ke garasi, motor kamu udah ada atau belum. Soalnya kalau emang udah selesai dibenerin, Kakek bilang ke bengkel untuk antar langsung motor kamu ke rumah,” ucap Kakek.
Alisha mengangguk paham. Nanti setelah ini ia akan segera mengecek keadaan motornya itu.
“Motor kamu sering mogok ya? Atau Alisha mau ganti motor aja? Kita beli yang baru. Atau mau diantar jemout pake mobil aja?” tawar Kakek.
“Gak sering juga kok kek. Emang beberapa kali pernah mogok, tapi kan gak terlalu parah. Nggak mau, Alisha mau tetep motor yang ini aja, dan gak usah antar-jemput. Alisha bisa mandiri kok.”
“Baiklah kalau itu mau kamu.” kakek menatap cucunya. Iya, cucunya memang selalu bersikap mandiri, berusaha melakukan segalanya tanpa merepotkan orang lain. Dan mungkin kalau ada masalah, ia akan berusaha menyelesaikannya sendiri.
Kakek tau kalau setiap ada masalah, Alisha tidak akan cerita duluan kalau tidak ditanya. Entahlah mengapa cucunya ini begitu bersifat tertutup, padahal kalau melihat dari segi kedua orang tuanya, mereka tidak memiliki sifat tersebut. Kakek berpikir sejank, atau jangan-jangan… keadaan yang membuat pribadi cucu kesayangannya menjadi berubah?
Lagi-lagi Alisha terjebak pada situasi yang tidak mengenakkan untuk dirinya. Seperti saat ini di suasana kantin yang penuh sesak, sama sesaknya akan keadaan hatinya sekarang. Di meja kantin ini, selain ada dia, Lani, dan Yuda, ada satu tambahan makhluk lain yaitu Kak Panji. Senior tersebut bergabung ketika Lani mengajaknya untuk bergabung, melihat kondisi kantai yang ramai tak menyisakan tempat duduk lain.
Awalnya Alisha sama sekali tak keberatan. Tapi melihat sikap dan gerak-gerik Yuda yang menjadi berubah, membuat ia jadi turut tak nyaman. Terlihat jelas di matanya kalau Yuda tak menyukai kehadiran Kak Panji di meja mereka. Apalagi dengan posisi duduk Kak Panji yang tepat di samping Lani. Yuda yang duduk di depan Lani jadi dapat melihat jelas kalau ekspresi Lani sedang girang banget. Sepertinya Lani benar-benar menyukai Kak Panji, membuat Yuda jadi misuh-misuh sendiri akhir-akhir ini.
__ADS_1
Alisha mengaduk-aduk nasi gorengnya tak minat. Hilang sudah nafsu makannya. Melihat orang yang disuka bersikap cemburu untuk orang lain di depan mata, rasanya itu benar-benar menyesakkan. Yuda bilang kalau Lani tidak peka dengan sekitar, padahal kalau boleh berteriak, ingin sekali Alisha bilang kalau yang sebenarnya tidak peka itu adalah Yuda sendiri. Di sampingnya jelas-jelas ada Alisha yang menaruh rasa sama dia, tapi Yuda sama sekali gak pernah sadar.
“Uhuk, uhuk!”
Perhatian Alisha teralih saat Lani tersedak. Dilihatnya secepat kilat kedua orang cowok di meja ini berlomba untuk menjulurkan minuman. Kak Panji yang tepat di samping Lani, lebih cepat sepersekian detik dibanding Yuda. Lani menerima minum yang diberikan Kak panji, sementara Yuda, ia menelan kecewa tan rasa tak suka sekaligus.
“Makannya pelan-pelan, Lan,” ucap Kak Panji setelah Lani menegak air mineral yang disodorkan.
Lani mengangguk patuh. Padahal ia tidak makan terburu-buru kok.
Yuda memperhatikan hal tersebut dalam diam, diam yang menbuat hatinya menjadi panas. Padahal kalau boleh dibilang, bukan Yuda saja yang merasakan hal tersebut, tapi Alisha juga. Bedanya ia dengan Yuda, Alisha tetap bersikap datar seperti biasanya, menutup rasa itu rapat-rapat. Ia biarkan semua rasa yang berkecmauk itu cukup di dalam hati saja, tidak ia biarkan sampai timbul keluar. Ia atur ekspresinya sedemikian rupa agar terlihat seolah tak ada yang salah di sini.
“Gue boleh gabung gak?” Sebuah suara yang tiba-tiba hadir membuat semua mata yang ada di sana menoleh, mendapati Alden yang sudah ikut duduk dengan santai di samping Alisha. Sudah ikut duduk. Yang artinya, kalau dijawab tidak pun cowok itu pasti tetap memilih akan duduk.
Ketiga orang tersebut, kecuali Alisha, mengangguk mempersilakan. “Duduk aja, kantin emang lagi rami banget,” komentar Lani. Dan selain alasan itu, Lani juga mulai memaklumi kalau Alden mulai dekat dengan Alisha. Mereka kan bakal sering ketemu untuk belajar bareng.
“Thanks,” balas Alden sekenanya. Karena tujuan utamanya ke sini ialah tidak tega melihat tampang Alisha.
Ia tau meskipun Alisha sudah berusaha setengah mati agar terlihat baik-baik saja, tetap saja Alden masih bisa menyadari ketidaknyaman Alisha. Ya mungkin itu dikarenakan karena hanya dirinya saja yang tau alasan di balik ketidaknyamanan tersebut. Terkadang Alden tidak habis pikir bagaimana Alisha bisa bersikap biasa saja, tetap dengan tampang datarnya yang membuat orang sering tertipu akan perasaan dia yang sebenarnya.
“Kehabisan tempat duduk juga, Al?” timpal Kak Panji.
“Kak Panji kenal sama Alden?” tanya Lani menatap Kak Panji ingin tau. Dari nada bicaranya, mereka seolah sudah kenal lama.
“Iya. Gue kan dulu juga ikut ekskul basket,” jawab Kak panji ringan.
Oh iya, Lani baru ingat kalau Kak Panji dulu memang aktif di ekskul tersebut. Pantas saja ia dan Alden terlihat seperti sudah saling mengenal. “Oh iya, ya, hehe…”
“Makanan itu dimakan, bukannya diaduk-aduk aja,” ucap Alden kalem yang tetap fokus pada makanan di depannya.
Tapi Alisha yang merasa jelas tau ucapan itu untuk dirinya. Ia melirik Alden yang nampak biasa saja, detik selanjutnya ia mendengus samar. Cowok ini suka sekali hadir tiba-tiba di dekat dia dan berbuat seenaknya. “Lo ngomong sama gue?” balas Alisha.
“Huh?” Alden memandang muka sok polos. “Emang lo ngerasa?” tanyanya balik dengan tampang yang disetel sepolos mungkin, membuat Alisha merasa menyesal karena sudah bertanya.
Yuda yang mendengar ucapan Alden menjadi mengalihkan pandang ke nasi goreng yang ada di piring Alisha. Benar kata Alden, ternyata sedari tadi Alisha tidak memakannya melainkan hanya mengaduk-aduknya saja. Kenapa dia baru sadar? Apa ini karena fokus utamanya sedari tadi hanya pada Lani dan Kak Panji? Sampai-sampai tidak menyadari sikap Alisha?
“Iya, Sha, kok gak dimakan? Nasi gorengnya gak enak? Seharusnya tadi lo pesen batagor aja kayak biasa,” timpal Yuda.
“Enggak, nasi gorengnya enak kok. Cuma kayaknya gue lagi gak nafsu makan,” jawab Alisha sewajarnya.
__ADS_1
“Jangan gak dimakan, Sha. Entar magh lo kumat lagi,” ingat Yuda.
“Iya.”
***
“Hari ini kita gak belajar dulu ya. Gue mau latihan basket,” ucap Alden langsung pada Alisha saat mereka bertemu di koridor sepulang sekolah.
Alisha menoleh sekilas. “Iya.” Kompetisi nggak lama lagi, tim basket sekolah pasti sedang banyak latihan. Alisha maklum kalau gitu. Apalagi mengingat Alden ini kaptennya.
“Lo mau langsung pulang?”
“Iya.”
“Jawabnya singkat-singkat amat Non.”
“Ya pertanyaan lo kan emang perlu dijawab kayak gitu aja,” ucap Alisha yang kali ini lebih panjang.
Alden memamerkan cengiran khasnya. “Hehe iya juga sih. Ehm maksud gue lo gak mau nonton tim basket latihan dulu gitu?”
Alisha mengernyit sebentar, lalu menggeleng.
Dalam hati Alden merutuki omongannya sendiri. Ya jelas lah Alisha gak mau. Selama ini emang Alisha pernah gitu ke lapagan buat nonton latihan basket? Daripada nonton, Alden berpikir nih cewek pasti lebih milih ke perpus atau baca-baca buku.
***
Keesokan harinya, terjadi kemacetan di depan gerbang sekolah. Membuat para murid yang akan pulang sekolah menjadi sedikit terhambat jalannya. Ada kecelakaan kecil yang terjadi, tapi untunglah sudah dibereskan. Tinggal mengatur jalan yang sempat terhambat tadi.
Gerbang sekolah menjadi penuh sesak akan kendaraan bermotor yang ingin keluar, termasuk Alisha. Dia yang biasanya bisa keluar gerbang dengan mulus, kini harus mengendarai motornya dengan perlahan. Panas matahari terasa begitu menyengat di kulitnya ketika ia terpaksa harus diam menunggu jalanan bisa dilalui.
Alisha menatap jalanan di depannya, berusaha mencari celah untuk lewat. Tapi, saat matanya tak sengaja menangkap sosok itu, pergerakannya menjadi terhenti. Sosok itu… kenapa bisa ada di sana? Berdiri di samping sebuah mobil dengan menghadap ke arah sekolahnya.
“Mama?” gumam Alisha pelan. Perempuan itu, perempuan yang pernah ditemuinya di mal, perempuan yang sangat mirip dengan mamanya. Kenapa perempuan itu ada di sini? Di depan sekolahnya?
Tin, tin!
Klakson di belakangnya membuat Alisha tersentak. Ia sadar kalau motornya dari tadi tidak ia jalankan, menciptakan kemacetan di belakang. Segera ia alihkan pandang untuk terus melaju ke depan. Lalu saat matanya berusaha mencari sosok perempuan itu, sosok itu tidak ada lagi di tempatnya, menghilang… membuat Alisha mengehela napas berat. Apa ia tadi salah lihat?
***
__ADS_1