(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Rumah Alden!


__ADS_3

Pelajaran sosiologi. Kalau tidak sekelas terkatuk-kantuk karena mendengar penuturan guru, kelas sibuk mengerjakan latihan yang diberikan. Seperti sekarang, siswa-siswi kelas XI IPA 5 sedang sibuk mengerjakan dua puluh soal latihan yang diberikan. Tak terkecuali Alden, cowok itu kali ini entah kesambet apa jadi rajin mengerjakan soal.


    Biasanya, dia akan lebih memilih tidur atau buat onar di kelas. Karena biasanya, latiahan ini akan dikumpul keesokan harinya, karena sekelas pasti akan kompak menjawab belum selesai mengerjakan jika ditanya sudah selesai atau belum. Suasana kelas juga tidak terlalu berisik, ya mungkin beberapa sudah terbang ke pulau kapuk.


     “Tumben rajin?” sindir Dito. Dia sedang mengetuk-ngetukkan penanya di atas meja, mengamati seisi kelas. Ada yang serius mengerjakan, ada yang menundukkan kepala di meja alias tidur, ada juga yang berpura-pura memegang buku padahal di baliknya ada ponsel yang dimainkan.


    Alden yang sedang fokus membaca untuk menemukan jawaban, melirik sekilas. “Tugas itu harus dikerjain. Kalau kita ninggalin tugas yang belum dikerjain, dia akan bertemu dengan tugas lain yang juga ditinggalkan. Mereka jatuh cinta, kemudian beranak pinak menjadi banyak.”


     “Njir omongan lo. Kesambet apaan? Biasanya juga woles aja ngadepin tugas,” komentar Dito seraya melempar Alden dengan tutup penanya.


    Biasanya nih kalau ada tugas sosiologi kayak gini, Alden paling ngerjain sedikit. Terus mungkin lanjut di rumah sampai separuh, separuhnya lagi jawaban ia peroleh dengan hasil menjarah di kelas. Dito hapal tu kelakuan Alden, soalnya dia juga beda-beda tipis lah kayak gitu.


     “Gak kesambet apa-apa. Udah kerjain aja, Dit, mata tu fokus ke buku jangan jelalatan di kelas,” balas Alden santai.


    Mengabaikan ucapan Alden, Dito berpikir sejenak. “Lo pulang ini mau kelayapan heh?”


     “Kagak. Mau belajar gue pulang entar.”


     “Belajar apaan?”


     “Mtk,” jawab Alden tenang.


    Dito membelalakkan matanya dengan mulut setengah mangap. “Canda lo ah,” ucapnya setelah berhasil menormalkan ekspresi.


     “Enggak, gue serius.”


     “Lo beneran serius??” tanya Dito dengan suara yang cukup keras, cukup keras hinggga mampu membuat semua mata di kelas tertuju padanya, tak terkecuali Bu Paulina.


    “Dito, jangan teriak-teriak di kelas. Cepat lanjutkan tugasnya,” ucap Bu Paulina.


     “Iya, Bu.”


***


    Tadi pagi, motor Alisha kembali melakukan aksi mogok. Untung saja kakeknya sedang berada di rumah, jadilah ia berangkat ke sekolah bareng kakeknya yang akan menuju ke kantor. Jadi saat bel pulang berbunyi, tidak seperti biasanya ia tidak menuju ke lahan parkiran sekolah. Ia terus berjalan sepanjang koridor sampai turun ke lantai bawah. Saat akan berbelok, Alisha menemukan Alden yang sedang bersandar di tembok dengan kedua tangan berada di saku celana.


     “Lo lama juga ya keluarnya,” ucap Alden sambil menegapkan badannya. Alisha memang tadi keluar kelas agak terlambat, ia biarkan Lani pulang duluan.


     “Hari ini jadi kan?” tanya Alden lagi karena Alisha belum juga memberi tanggapan.


     “Iya, jadi.”


     “Belajarnya di mana? Di rumah lo atau di rumah gue?” Alden memberi pilihan. Masalahnya, kemarin mereka juga belum memutuskan akan belajar di mana.


    Alisha berpikir bingung. “Kalo di kafe atau tempat lain aja gimana?”


     “Lo mau nongki atau belajar di kafe?” tanya Alden balik dengan wajah menyebalkan.


    Alisha mencebik. Ya, tapi bener juga sih kata Alden. Gak bakalan konsen dia kalau belajar di sana. “Ya jadi di mana?”


     “Di rumah gue aja,” putus Alden.


    Alisha sedikit membulatkan matanya.

__ADS_1


     “Rumah gue rame kok. Kita gak berdua aja di situ,” ucap Alden seakan bisa membaca pikiran Alisha.


     “Eh bukan gitu maksud gue.”


     “Atau mau di rumah lo aja?”


    Alisha diam sebentar. “Di rumah lo aja,” putusnya juga. Soalnya selain Lani dan Yuda yang biasa belajar bareng di sana, Alisha agak canggung kalau menerima orang lain di rumah.


     “Oke,” Alden mengangguk lalu mulai berjalan meninggalkan gedung sekolah, berjalan bersisian dengan Alisha.


    Saat mereka mulai meninggalkan gedung sekolah, dan Alisha malah berjalan menuju gerbang, Alden menghentikan langkah Alisha cepat. “Mau ke mana? Katanya hari ini jadi mau mentorin gue?”


     “Iya jadi kok. Gue mau ke rumah lo ini,” jawab Alisha.


    Alden mengangkat sebelah alisnya. “Ke rumah gue?”


     “Iya, tadi katanya di rumah lo?” tanya Alisha mulai sebal. Kok cowok ini nanya yang begituan sih?


    Alden terkekeh sebentar. “Iya sih. Lo mau pergi sendiri gitu?”


    Alisha mengangguk.


     “Tau rumah gue di mana?”


    “Eng… tau.” Sebenernya Alisha rada-rada lupa di mana letak rumah Alden. Dia kan baru sekali ke sana, perginya dari rumah Alisha pula. Jadi gak terlalu ingat jalan ke rumahnya Alden kalau perginya dari sekolah ini.


     “Naik apa?” tanya Alden karena Alisha tak terlihat ingin menuju parkiran. Alden tebak pasti cewek ini gak bawa motor kayak biasanya.


     “Angkot atau taksi mungkin?”


    Alisha bergeming. Eh, iya juga ya? Tapi balik bareng sama Alden gitu maksudnya?


    Alden memutar bola matanya jengah. “Nah mulai banyak mikirnya. Tinggal bilang iya aja susah amat sih. Ya udah lo tunggu di depan gerbang aja. Entar gue ke sana abis ambil motor.”


    Tanpa menunggu jawaban dari Alisha, Alden dengan seenaknya berjalan meninggalkannya yang masih sibuk akan pikirannya. Tuh kan, kebiasaan cowok itu yang suka seenaknya masih juga belum berubah-ubah. Merasa tak ada pilihan lain, Alisha menjawab pelan, “Oke.”


***


    Untuk kedua kalinya, Alisha kembali menginjakkan kakinya di rumah ini. Ia baru pernah sekali ke sini, yaitu saat acara makan malam saat itu.


     “Masuk Sha,” ujar Alden setelah membuka pintu.


    Alisha mengikuti langkah Alden.


     “Assalamu’alaikum,” ucap Alisha yang memang terbiasa begitu jika masuk ke rumah orang.


    Baru satu langkah ia masuk, terdengar suara Tante Riani yang menggema di rumah ini.


     “Waalaikumsalam. Wah ada Alisha?” Tante Riani menyambut dengan ramah.


     “Iya Tante,” Alisha menyalami tangan Tante Riani.


     “Tumben Alden ngajak kamu ke rumah. Kemajuan besar ini…,” Tante Riani berucap girang.

__ADS_1


     “Kita mau belajar bareng, Ma,” jawab Alden yang tidak membiarkan mamanya berpikiran terlalu jauh.


    Tante Riani tersenyum menggoda. “Bener nih belajar bareng?”


     “Iya, Ma. Kalo gak percaya, tanya langsung aja ke Alisha.”


     “Iya bener kok , Tan, kita mau belajar mtk,” Alisha ikut menjelaskan. Iya sih, kalau dipikir-pikir, setelah makan malam membahas perjodohan itu, Alisha gak pernah berkunjung ke rumah ini. Tapi memanganya untuk apa juga ia berkunjung ke sini? Melakukan pendekatan ke calon mertua gitu? Alisha bergidik. Enggka lah, dia kan gak mau perjodohan ini benar-benar terjadi.


     “Wah tumben-tumben Alden rajin banget mau belajar mtk,” komentar Tante Riani.


     “Atas permintaan Pak Rubandi juga sih, Ma. Pak Rubandi itu guru mtk kami. Alisha dimintai buat bantu aku memperdalam materi.”


     “Oh… gitu, wajar sih mengingat nilai mtk kamu yang jeblok,” komentar Tante Riani yang membuat Alden bergumam sebal. Tante Riani lalu mengangguk paham. “Alisha jago mtk berarti ya?”


     “Enggak juga kok, Tan.”


     “Ah kamu ini bisa aja merendahnyanya. Oh ya, kalian udah shalat belum?”


    Keduanya menggeleng. Pulang sekolah kan mereka langsung ke sini.


     “Ya udah shalat dzuhur dulu, ya. Terus makan. Belum makan siang kan?”


     “Iya, Tan.”


    Baru saja Alisha selesai menjawab, terdengar suara orang mengucapkan salam di pintu. Terlihat Neola yang masuk ke dalam rumah. “Eh ada Alisha….”


     “Hai, La.”


     “Nah Alisha shalat di kamar Neola ya. La, ajak dia ke kemar kamu,” ucap Tante Riani.


     “Oke, Ma.” Meskipun belum sepenuhnya mengerti kenapa Alisha tiba-tiba ada di rumahnya, Neola menurut saja. Sesampainya di kamar Neola, cewek itu baru bertanya. Alihsa pun menjelaskan secara singkat. Neola yang tau, diam-diam tersenyum lebar mendengarnya.


    Selesai shalat, mereka semua menuju ruang makan. Di sana ada Tante Riani yang sudah menunggu. Papa dan kakeknya Alden masih berada di kantor jam segini.


     “Yuk kita makan.”


    Melihat Tante Riani yang begitu perhatian pada anak-anaknya dan juga perhatian pada dirinya, membuat Alisha tak urung menjadi mengingat mamanya. Sedang di mana mamanya sekarang? Kalau benar mamanya belum meninggal, kenapa tidak menemuinya? Kenapa tidak pulang ke rumah mereka? Kenapa tidak pernah memberi kabar? Dan kenapa membiarkan saja kakeknya yang berucap kalau dirinya sudah tiada? Alisha mulai makan dengan pikiran berkecamuk di kepalanya.


     “Alisha kenapa melamun, sayang? Eh atau masakan Tante gak enak ya?” tanya Tante Riani yang melihat perubahan ekspresi dari Alisha.


    Alisha tersadar dari lamunannya. Ia hadirkan senyum di bibir. “Enggak kok, Tan. Masakannya enak kok,” kilah Alisha.


     “Ya udah, lanjut makan ya. Kalau kurang jangan sungkan-sungkan nambah ya.”


    Alisha mengangguk saja mendengarnya.


***


    Sekarang Alisha, Alden dan Neola sedang sama-sama belajar. Sejak setengah jam yang lalu, mereka mulai mengeluarkan buku-buku. Atas permintaan Alisha dan Alden, Neola jadi ikut bergabung. Keduanya memang sama-sama merasa canggung jika harus dihadapkan pada situasi harus belajar bersama.


    Selama belajar itu, Alisha terlihat serius akan materi yang ia jelaskan. Dia juga terlihat serius mengerjakan soal-soal yang ada. Alden yang biasanya paling males ngadepin angka-angka itu, jadi tertular rajin dan seriusnya Alisha. Neola yang melihatnya jadi diam-diam tersenyum, kakak kembarnya yang biasanya lebih milih tidur dibanding ngadepin pelajaran ini menjadi terlihat semangat untuk belajar. Kalau gitu, kenapa gak dari dulu aja dia tarik Alisha untuk sering-sering belajar bareng dengan mereka?


     “Soal yang itu ngerjainnya pake rumus ini, jangan pake rumus itu,” ajar Alisha saat mereka menemukan soal yang mulai rumit.

__ADS_1


    Saat belajar, Alisha gak ada tampang jutek-jutek dinginnya. Dia sabar ngadepin Alden yang sering buat salah ngerjain soal. Sabar juga kalo Alden mulai bertingkah menyebalkan.


    Selama dua jam terakhir ini, Alden jadi bisa melihat sisi Alisha yang lain. Membuat ia jadi bertanya-tanya kenapa orang kayak Alisha tidak mempunyai banyak teman. Padahal jika Alisha mau, ia bisa menjadi murid popular di sekolah. Tapi kembali lagi Alden berpikir, kadang dunia begitu lucu. Orang-orang yang irit bicara tidak banyak ditemani, sementara orang-orang yang banyak bicara meskipun kebanyakan tidak penting dan terkesan terlalu dibuat-buat mempunyai banyak teman.


__ADS_2