
“**Alisha kangen sama Mama.” Sebuah kalimat yang memang dari lubuk hati Alisha yang paling dalam, meluncur juga. Alisha menyandarkan badannya ke samping, pada bahu sang mama yang amat ia rindukan.
Keduanya kini sedang duduk bersama di sebuah restoran. Sengaja memilih tempat duduk yang paling pojok di ruangan ini. Di atas meja sudah terdapat dua gelas minuman yangs sengaja dipesan sebagai alasan untuk mereka bisa duduk di sini dalam jangka waktu yang cukup lama. Beberapa saat yang lalu, saat Alisha melontarkan runtutan pertanyaan, mereka memutuskan untuk kemari, agar bisa membicarakannya dengan jelas.
Alden dan Bima tidak terlihat bersamanya. Mereka berdua sengaja pergi, memberikan waktu bagi sang mama dan Alisha untuk berbicara empat mata. Alden yang mengerti situasi tadi, segera mengambil inisiatif untuk mengajak Bima pergi bersama. Meskipun sempat heran kenapa ia tiba-tiba diajak pergi, padahal ia telah menemukannya mamanya, Bima pun menurut. Sang mama sendiri yang menjamin kalau ia tidak akan apa-apa jika pergi bersama Alden.
Suasana hening menyelimuti mereka. Restoran yang sedang tidak ramai seolah mendukung mereka untuk berbincang. Alisha tidak bisa mengalihkan tatapannya dari sosok di sampingnya saat ini. Sosok yang nyata, bukan delusi semata lagi.
Mama Alisha menatap puterinya dengan penuh rasa bersalah sekaligus kerinduan yang begitu memuncak. Tanpa sadar, bergantian, satu tangannya mengelus kepala Alisha, merapikan rambutnya lalu mengacak-acaknya lagi pelan, lalu mengusap-usap punggungnya.
Bahkan sudah beberapa kali wanita ini mencium dan memeluk anaknya yang dulu saat ia tinggalkan masih berupa anak perempuan kecil, anak perempuan kecil yang tak mengerti akan masalah yang menimpa mereka. Sekarang malaikat kecilnya sudah tumbuh remaja, tinggi badannya bahkan sudah setara dengan dirinya. Anak perempuannya kini sudah tumbuh besar menjadi gadis remaja yang cantik, cantik sama seperti saat ia muda dulu.
“Mama juga kangen banget sama Alisha…,” balas Mama Alisha dengan suara pelan.
Alisha mengendurkan sedikit pelukannya untuk menatap Mama. Untuk beberapa saat ditatapnya tanpa berkedip, takut kalau hal ini hanyalah bayangnnya saja. Tapi setelah beberapa saat menyadari kalau sosok ini masih di sampingnya, masih dalam pelukannya, ada rasa lega luar biasa dalam hatinya.
“Mama masih hidup,” gumam Alisha tanpa sadar. “Kakek bohong, Alisha tau itu. Kakek bohong ketika bilang kalau Mama sudah meninggal karena kecelakaaan pesawat.”
Tidak ada raut terkejut di muka itu saat mendengar ucapan Alisha. Sejak beribu-ribu hari yang lalu, ia sudah mengira pasti argumen tersebut yang akan digunakan untuk mengelabui Alisha, membukam mulutnya agar tak bertanya terus tentang ke mana ibu kandungnya.
Teringat akan suatu hal yang teramat penting, kali ini Alisha menegapkan punggungnya. Ditatapnya sang mama dengan tatapan meminta penjelasan.
“Mama selama ini ke mana aja?”
Pertanyaan yang selalu menjadi tanda tanya besar dalam hidupnya akhirnya bisa juga ia tanyakan pada satu-satunya orang yang bisa menjawab. Pertanyaan yang menggumpal dalam hati, yang sering kala membuat dadanya sesak ketika mencoba menerka-nerka apa jawabannya.
Karena sungguh, selama ini Alisha hanya mampu meraba-raba, tanpa sedikit pun pegangan, tanpa petunjuk yang bisa membawanya pada sang mama. Satu-satunya orang yang tersisa di sampingnya –Kakek– menutup mulutnya rapat-rapat, tak membiarkan Alisha mendapat jawaban atas segala pertanyaan yang berkecamuk. Dan kali ini, saat ia sudah dipertemukan dengan orang yang dinanti-nantikannya, tidak akan ia lewati kesempatannya lagi. Sudah cukup selama tujuh tahun ini ia hidup dalam penantian.
Mama Alisha mengalihkan pandangannya, tidak kuat melihat tatapan penuh ironi di sana. Menghela napas berat, sang mama pun menjawab, “Mama selama ini pergi dulu Alisha, dan sejak dua tahun yang lalu, Mama memutuskan untuk kembali ke kota ini.”
“Kenapa harus pergi, Ma?”
“Sayang… Mama melakukannya bukan karena ingin. Mama juga sebenarnya enggak mau kalau harus meninggalkan Alisha.”
“Tapi nyatanya Mama tetap pergi,” ucap Alisha pahit.
__ADS_1
“Maafin Mama, sayang, maaf….” Dengan nada sungguh penyesalan, kalimat tersebut diucapkan.
“Terus, kenapa Kakek bohong tentang Mama? Kenapa Kakek gak bilang kalau Mama masih hidup?” cecar Alisha menuntut penjelasan yang lebih dalam lagi.
Mama Alisha tersenyum kecut. “Kakek kamu berbohong bukan tanpa alasan, Alisha.”
Dahi Alisha berkerut samar. “Kenapa Kakek mesti bohong sama Alisha? Dan kenapa Mama gak pernah muncul untuk membantah kebohongan Kakek?”
“Kamu waktu itu masih terlalu kecil, sayang. Kakek kamu… Kakek marah sama Mama.”
Tanda tanya di hati Alisha semakin besar. “Kenapa? Apa itu yang menyebabkan Mama pergi?”
Mama Alisha meneguk ludah susah payah. Pada akhirnya, saat ini tiba juga, saat ia bertemu kembali pada puterinya dan harus menjelaskan semuanya. “Karena kematian papa kamu.”
Kerutan di dahi Alisha semakin dalam. “Tapi Papa meninggal kan karena kecelakaan.”
“Iya, tapi apa kamu tahu tujuan Papa kamu saat itu yang sedang mengemudi?”
  “Menjemput Mama?” tebak Alisha, karena berdasarkan ingatan masa kecilnya, hanya itulah yang tersisa.
Alisha menggeleng kuat. “Enggak, ini bukan salah Mama.”
“Tidak Alisha, seandainya saja Mama tidak terlalu manja menyita waktu kesibukan papamu untuk menjemput, dia pasti masih di sini sekarang bersama kita.”
Alisha meneguk ludahnya susah payah. “Lalu apa karena itu Kakek menjadi marah?”
Mama Alisha tersenyum perih. “Hal tersebut yang menjadi puncaknya. Kamu tau, dari awal sebenarnya Kakek tidak terlalu setuju atas pernikahan mama dan papamu. Kakek kamu sudah menjodohkan Papa dengan orang lain. Tapi Papa kamu menolak dan lebih memilih Mama, memilih mama yang pada awalnya tidak begitu mencintai papa kamu. Tetapi karena perusahaaan keluarga Mama sangat bergantung pada perusahaan papa kamu, Mama menerima lamarannya dan perjodohan yang direncanakan kakek kamu pun batal.
“Kakek tahu kalau Mama tidak mencintai papa kamu sebesar Papa yang mencintai Mama. Mama selalu banyak menuntut dan sering merepotkan Papa. Tapi asal kamu tahu Alisha, Mama menyesal, sangat menyesal karena selama menikah lebih banyak menyia-nyiakan papa kamu. Hingga akhirnya balasan itu ada, tanpa ampun. Mama baru sadar kalau mama sangat menyayangi Papa kamu saat dia sudah pergi utnuk selamanya.”
Kini terjawab sudah, terjawab mengapa Mamanya pergi tiba-tiba dan tak pernah kembali, mengapa kakeknya membohonginya…. Ada rasa lega luar biasa di hati Alisha saat mengetahui semua kebenaran itu, lega karena nyatanya Papa dan Mama yang selama ini pergi bukan karena ia yang membawa sial. Namun juga ada rasa perih yang sama, tidak menyangka kalau kisah cinta kedua orang tuanya begitu tragis.
Alisha tersadar dari lamunannya saat melihat setetes air mata itu kembali jatuh. “Mama jangan nangis….”
Cepat-cepat sang mama mengusap air matanya. Sedetik kemudian sebuah senyum manis muncul di bibirnya. “Tapi setidaknya sekarang Mama senang karena bisa bicara lagi sama Alisha. Tujuh tahun… Mama melewati begitu banyak waktu meninggalkan Alisha. Maafin Mama.”
__ADS_1
Alisha kembali memeluk mamanya. “Yang penting Alisha bisa ketemu lagi sama Mama, gak masalah sudah begitu banyak waktu yang kita lewati. Tapi… semenjak kepulangan Mama ke sini sejak dua tahun lalu, apa Mama pernah berusaha menemui Alisha?” tanya Alisha yang teringat kalau beberapa kali ia seperti melihat bayangan mamamnya.
Mamanya mengangguk pasti. “Tentu, Mama ketemu sama kamu waktu di dekat toilet di mal, ngeliat kamu pulang sekolah… Maafin Mama yang waktu itu bukannya menghampiri kamu, tapi cepat-cepat pergi.”
Alisha hampir tidak mempercayai indera pendengarannya saat itu, tidak menyangka kalau ia sudah pernah beberapa kali berpapasan dengan mamanya. “Mama tahu, Alisha kira waktu itu Alisha berkhayal melihat Mama, tapi ternyata enggak,” sudut bibir Alisha terangkat saat mengucapkannya.
“Terus… Bima, dia adik Alisha?” Alisah kembali melepas pelukannya agar bisa melihat wajah mamanya.
Mamanya menganguk. “Iya, dia tentu adik kamu, Alisha.”
“Tapi… seingat Alisha Mama gak….”
Mama Alisha tersenyum maklum, mengerti kalau anaknya pasti mempertanyakan hal tersebut. Tentu saja, saat itu, tidak ada yang tahu selain dirinya. “Saat kematian papamu, Mama baru tahu kalau saat itu sedang mengandung Bima. Bahkan sebelum kepergiannya pun, papa belum tau kalau ia akan mempunyai seorang putera.”
Senyum Alisha semakin lebar meskipun ada rasa sedih saat mendengar kalimat terkahir yang diucapkan mama tadi. “Jadi Alisha punya adik?”
“Iya, sayang.”
Kenyataan kalau ia mempunyai saudara benar-benar membuat Alisha senang. Pantas saja saat bertemu dengan Bima tadi dia merasa ada sesuatu yang aneh. “Kakek pasti juga bakal seneng kalau tau dia punya cucu lagi. Makanya ayo Mama pulang ke rumah,” pinta Alisha dengan nada memohon.
Mamanya menggeleng pelan, tidak enak hati jika harus mengecewakan Alisha. “Mama gak bisa kembali ke rumah itu, Nak.”
“Kenapa?” Ada begitu banyak kata kenapa yang ia ucapkan hari ini. Setimpla memang, karena nyatanya kata tersbut sudah terlalu lama mengendap di dalam hatinya, menuntut jawaban akan semua kejadian yang menimpanya.
“Kakek kamu pasti masih menyimpan amarah itu. Selama ini… Mama tidak kembali juga karena Kakek kamu yang melarang keras. Tidak mungkin kalau Mama tiba-tiba kembali, Alisha.”
“Kalau begitu biar Alisha yang bicara ke kakek. Alisha bakal bujuk Kakek untuk maafin Mama dan ngebolehin Mama kembali.”
Ada rasa tidak yakin yang menyelimuti hati Mama Alisha sekarang. Meluluhkan hati kakek pasti tidak mudah. Nyatanya, sudah bertahun-tahun ini ia berharap amarah itu surut, tapi tak kunjung juga harapannya terkabul.
“Mama ayo pulang ke rumah, sama Alisha, sama Bima juga….” Alisha menggenggam tangan Mamanya. Ditatapnya sang mama dengan tampang memohon yang amat sangat. Ia sudah bertemu kembali dengan mamanya, bahkan dengan adiknya, sungguh ia tidak rela kalau harus kembali berpisah.
Mamanya menghela napas berat. “Ngggak bisa Alisha, Kakek pasti belum menerima Mama.”
Alisha menghentikan aksi memohonnya. Kembali dipasanganya raut muka minim ekspresi. “Baiklah, kalau begitu Alisha akan berusaha buat bicara sama Kakek,” tekadnya.
__ADS_1
Bersambung**