
Bab 14 - Sikap
Ruang kelas XI IPA 3 terlihat tidak terlalu berisik. Empat orang dari perwakilan per baris berjalan ke bangku-bangku untuk membagikan buku ulangan mereka yang akan dikoreksi. Pelajaran matematika yang diajar Pak Rubandi memang begini. Setiap setelah ulangan harian, pekerjaan akan dikoreksi bersama-sama di kelas. Beberapa siswa akan ditunjuk untuk maju ke depan, mengerjakan soal ulangan di papan tulis.
Buku-buku selesai dibagikan kepada yang bukan pemilik sebenarnya untuk dikoreksi. Sekarang, kebanyakan dari mereka bersikap diam. Pura-pura fokus membaca buku atau menunduk dalam-dalam untuk menghindari tatapan Pak Rubandi yang terlihat seperti sedang mencari mangsa. Ini yang mereka takutkan selain ulangan itu sendiri, saatnya Pak Rubandi memilih beberapa siswa untuk maju ke depan mengerjakan soal ulangan yang ada.
Bagi mereka yang tidak bisa menjawab atau menjawab tapi hasil nyontek, jelas ini merupakan petaka, karena bisa dipastikan saat di depan nanti akan menjadi tontonan sekelas dengan posisi diam mengahadap papan tulis. Ya meskipun Pak Rubandi tidak akan marah-marah kalau tidak bisa, tapi guru tersebut akan membiarkan orang ditunjuk untuk mengerjakan sampai bisa. Akan diajari sedikit dan diberi petunjuk oleh Pak Rubandi, tapi kalau posisinya sudah gugup sendiri, pasti petunjuk yang diberikan pun tidak akan dapat dicerna dengan baik.
Dari empat orang yang ditunjuk untuk maju, sudah ada dua orang yang duduk ke kursinya masing-masing. Dua soal tersebut masih level yang cukup mudah untuk dikerjakan, jadi mereka dapat duduk dengan tenang. Selang beberapa saat kemudian, satu orang lagi kembali duduk. Meskipun ada kesalahan sedikit, untungnya masih bisa diperbaiki. Nah, tinggal satu orang lagi di depan. Soal yang dikerjakannya adalah soal yang paling sulit. Semua siswa di kelas itu rata-rata tidak bisa menjawabnya dengan sempurna.
Beno, nama siswa yang berdiri gemetaran di depan itu. Terlihat sesekali ia melirik ke belakang, berharap ada teman yang membantunya untuk menjawab. Tapi nihil. Hampir semua murid menggeleng lemah dan pasrah akan soal itu. Ya, hampir, karena dari semua siswa di kelas itu, ada Alisha yang sedang menulis jawaban yang ia ingat saat menjawab ulangannya.
“Soal uang itu emang susah banget. Mampus dah tu si Beno dapet yang itu,” komentar Lani yang terlihat gak tega pada Beno. Telapak tangannya sudah banyak dipenuhi dengan tinta spidol akibat ia yang sering menghapus menggunakan tangan, padahal ada penghapus. Pak Rubandi juga sudah beberapa kali memberi petunjuk, tapi ya karena dianya nggak ngerti dan gugup, jelas ia sama sekali tak mengerti maksud soal itu.
“Sha, lo bisa jawab soalnya?” Lani menoleh ke Alisha.
“Bisa, tapi gak tau juga bener apa enggak, tapi kayaknya bener.”
Pak Rubandi yang dari tadi mengawasi, kini perhatiannya terlaih saat ada panggilan yang masuk ke ponselnya. Sepertinya terlihat penting, ia lalu pamit sebentar untuk keluar. Jelas kesempatan itu dimanfaatkan Beno dengan sebaik-baiknya.
“Teman-teman, tolongin gue. Astaga keringet dingin gue di sini,” ucapnya keras.
“Gue nggak ngerti, Ben,”
“Gue nggak ngisi jawabannya.”
“Jangannya mau ngejawab, gue lirik pun enggak soal itu.”
Beno makin gelisah. Alisha yang merasa kalau ini buang-buang waktu dan juga merasa ada sedikit kasihan pada Beno, akhirnya menyerahkan secarik kertas yang berisi jawaban pada Beno.
“Nih, siapa tau bener,” ucap Alisha datar.
Beno langsung bersemangat. Penghuni kelas yang melihat kejadian itu, agak terkejut sekaligur terkesima. Terkejut karena jarang sekali Alisha mau membantu orang lain, terkesima karena dia satu-satunya yang sepertinya bisa menjawab soal memusingkan tersebut.
“Makasih banget, Sha. Walaupun jutek, ternyatra hati lo lembut juga,” puji Beno dengan tampang paling bahagianya.
“Hem,” jawab Alisiha seadanya.
Setelah Beno hampir selesai menulis cepat jawaban yang diberikan Alisha, Pak Rubandi kembali masuk. Cepat-cepat kertas tersebut ia masukkan ke dalam saku. Untung tinggal jawaban akhir yang belum ditulis, dan tadi ia sempat melihat sebentar, jadi akhirnya Beno selesai mengerjalan soal tersebut.
“Sudah, Pak,” ucap Beno pada Pak Rubandi.
Pak Rubandi menghampiri, meneliti jawab soal tersebut. “Nah, ini baru benar. Ya sudah silakan duduk.”
__ADS_1
Sambil berjalan ke tempat duduknya, Beno mengembuskan napas lega, benar-benar lega karena berhasil selamat.
“Untung lo bantuin, Sha,” ucap Lani.
“Iya, buang-buang waktu juga kalo nungguin soal itu cepet dikelarin sama dia,” ucap Alisha cuek.
Berbeda dengan kelas Alisha yang beberapa saat lalu terlihat tegang, kelas Alden sebaliknya. Suasana kelas itu kembali riuh saat Bu Dahlia –guru kesenian mereka– keluar kelas, yang katanya untuk menemui wali murid yang berkepentinmgan dengan dirinya. Padahal sebelum pergi tadi, Bu Dhalia sudah memberikan mereka tugas untuk dikerjakan.
Hanya beberapa siswa yang patuh saja yang menurut dan mulai mengerjakan. Sisanya, bukannya membuka buku, mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing atau mulai membentuk kelompok untuk bergosip. Seperti kawanan Rima misalnya.
Di mejanya sudah berkumpul teman sesama tim cheers-nya, Ellen dan Putri, serta beberapa teman yang membahas tentang seragam cheerleaders yang baru. Rima mengeluarkan seragam barunya dan menunjukkannya pada teman-temannya. Mereka terlihat tertarik dan mulai saling melihat seragam dengan paduan warna pink dan hitam tersebut. Tak cukup hanya satu seragam yang dikeluarkan, mereka mengelurakn tiga seragam sekaligus.
“Wah, apaan nih?” Alden yang dari tadi sibuk berpatroli di kelas, ikut tertarik pada seragam cheers yang baru. Ditariknya seragam tersebut dari pegangan Ellen.
“Seragam cheers yang baru,” jawab Rima.
“Oh, ganti seragam, ya?” tanya Alden basa-basi sambil melihat-lihat rok di pegangannya.
“Eh liat juga dong.” Dito dan Dimas ikut menimpali.
“Tuh, trio kwek kwek bawa pas bawa tiga seragam. Ambil gih buat diteliti.”
Rima, Ellen, dan Putri langsung cemberut saat mereka dipanggil trio kwek kwek oleh Alden. Panggilan itu dicetus Alden saat mereka hobi banget kumpul bareng dan ketawa haha hihi yang menurut Alden sungguh mengganggu pendengaran.
“Gak terlalu pendek kok, emang biasa kayak gitu,” bela Putri.
“Iya, ini pendek banget.” Dimas menimpali. Dia dan Dimas juga ikut-ikutan menempelkan rok itu pada pinggang mereka. Detik selanjutnya, mereka bertiga saling bertukar tatapan penuh arti.
“Gue coba pake ya,” ucap Alden nakal. Cowok itu benar-benar mencobanya! Sontak banyak pasang mata yang menatapnya dengan geli. Cowok macam Alden nih walaupun ganteng, tapi bener-bener gak jaga image. Lihat aja sekarang, ia bahkan gak malu-malu buat memakai langsung rok tersebut. “Tuh kan pendek banget, masa cuma sampe setengah paha aja. Terlalu terbuka nih.”
“Kalau pakaian yang tertutup mah bukan cheers, tapi rohis,” komentar Dito disertai kekehannya.
“Ah iya, bener lo, Dit. Tapi gue gak terima! Ini pendek banget, kalo nunduk dikit, keliatan dong,” ucap Alden sok polos sambil menundukkan sedikit badannya.
Ucapan Alden disambut tawa geli dari para cowok di kelas itu.
“Kan nanti kita pake celana pendek di dalemnya, Al,” geram Rima.
“Gitu, ya?” Alden berpura-pura berpikir keras. “Kalo menurut lo berdua gimana?” Alden menatap Dito dan Dimas.
“Tetep kependekan, banyak alesan nih kalian. Mau pamer paha ya?” ucap Dimas dengan tampang sok seriusnya.
Wajah Rima, Ellen, dan Putri merah menahan malu. “Enggak lah! Dasar kalian aja cowok yang pikirannya mesum!”
__ADS_1
“Dih, masa kita dibilang mesum, Al?” Kali ini Dito yang berucap dengan tampang tak terimanya.
“Bener ya gak kependekan? Kita coba pake bentar ya,” ucap Alden disertai seringaiannya. “Dit, Dim, coba pake roknya.”
“Roknya aja? Gak bajunya sekalian?” tanya Dimas.
Alden melirik sekilas baju yang terletak di atas meja. “Kayaknya bajunya gak muat, ketat gitu,” ujar Alden santai sambil berjalan ke depan kelas.
“Dari dulu gue selalu penasaran sama satu hal di tim cheers ini,” mulai Alden dengan tampang serius. Merasa akan ada tontonan menarik, kini semua mata di kelas ikut menatapnya.
“Apa?”
“Penasaran pengen nyoba posisi piramida yang mereka bikin. Kita coba yuk. Pake roknya biar lebih menjiwai gitu.”
“Oke!”
“Ada yang mau bantuin kita gak? Kita kekurangan personil nih,” teriak Alden keras.
Jelas kalau dipancing begitu, banyak cowok yang ikut-ikut gilanya Alden. Kelas mendadak jadi ribut. Para cowok mulai ikut ke depan, sedangkan para cewek duduk diam di kursi. Ada yang menggeleng-geleng tak habis pikir, ada juga yang cekikikan gak jelas.
Mereka lalu mulai membentuk posisi piramida yang jelas keliatan kacau banget, persis kayak orang mau manjat pinang. Yang eh ujung-ujungnya, bukannya membentuk posisi piramid yang diharapkan, mereka sekarang jadi saling tindih dan menimpa. Gagal sudah posisi piramida yang ingin dibuat.
“Woy, rok gue kesingkep nih, entar keliatan lagi. Malu adek, bang!”
“Oh, iya, tutupin dong.”
“Woy jangan tarik-tarik, koyak nih entar roknya.”
“Eh, bokong gue jangan dicolek!”
Rima, Putri, dan Ellen menahan kesal sekaligus malu di tempatnya. Tdak menyangka seragam yang mereka banggakan menjadi bahan untuk olokan dari permainan mereka.
“Hei, apa-apaan ini?”
Sontak ajang saling tindih itu berhenti, mulai membubar saat Bu Dahlia kembali masuk ke dalam kelas dengan tampang syok melihat pemandangan di depannya. Dito dan Diimas bergegas melepas rok cheers yang mereka pakai lalu cepat-cepat kembali duduk. Alden yang berada di posisi agak bawah tadi, agak telat berdiri. Beberapa cowok yang gak sadar berat badan, menimpanya dengan brutal.
Mata Bu Dahlia melotot saat melihat Alden yang masih mengenakan celana panjang abu-abunya, juga mengenakan rok cheers. “Alden, kenapa kamu pakai rok begitu?”
“Kenapa? Menggoda ya, Bu? Saya yang cowok aja pas make ini jadi terlihat menggoda, apalagi kalu cewek yang pake, bener gak, Bu?” tanya balik Alden dengan tampang kalemnya.
“Sudah-sudah! Cepat lepas rok itu dan kembali ke tempat duduk kamu.”
“Iya, Bu.” Alden mengangguk patuh, hilang sudah segala cengirannya dan kini memasang tampang serius. Setelah melepas roknya dengan cepat, Alden berjalan menghampiri meja Rima.
“Revisi seragamnya. Kalo kalian gak mau, gue bakal buat kalian gak bisa ikut pas kompetisi basket nanti,” ucap Alden tegas, kali ini wibawa khas kapten tim basketnya keluar.
__ADS_1