
“Siang hari langit berawan. Paling enak ke senayan. Adek manis senyum menawan. Boleh dong Abang kenalan.”
“Eaaakkk, aseek. Si Dimas pagi-pagi udah ngelawak aja,” celetuk salah satu siswa yang mendengar pantun Dimas tersebut.
“Gue bukan ngelawak woy!” seru Dimas tak terima pantunnya dianggap lawakan. Padahal ia mengucapkannya khusus untuk Mila.
“Mila, lo denger gak? Si Abang ngajak kenalan tuh!” teriak Dito yang geli sendiri melihat temannya pagi-pagi ini.
Mila diam di tempatnya. Ditundukkannya kepala dalam-dalam, pura-pura fokus pada buku pr yang dipinjamnya untuk disalin.
“Eh tapi bukannya lo udah kenalan ya sama Mila, Dim? Basi ah pantun lo,” ejek Alden, setelah itu tertawa geli bersama Dito.
“Kampret ya kamu. Gak pernah dukung sohib sendiri untuk pedekate,” dumel Dimas.
“Sadar kali Dim, si Mila eneg lo deketin mulu,” ucap Alden lagi yang bener-bener gak pake hati.
“Biarin, gue mah jelas sukanya sama siapa, jadi pendekatanya pun jelas sama siapa. Dibanding situ, gak jelas sukanya sama siapa,” balas Dimas yang mampu membuat Alden kicep.
“Ah Dimas pagi-pagi udah ngajak perang rumah tangga ya,” geram Alden dengan nada halus namun tajam.
***
Bel masuk sudah berbunyi beberapa saat yang lalu, tapi Alisha tidak terlihat berada di dalam kelas. Ia berjalan menelusuri koridor. Tadi saat melewati ruang guru, ia diminta salah satu guru untuk memanggil Dito. Iya, Dito temannya Alden itu. Tapi saat dihampirinya kelas tersebut, Dito tidak ada di tempat, kelasnya masih berisik belum ada guru yang masuk.
“Alden, liat Dito gak?” tanya Alisha pada Alden yang dijumpai di depan tangga. Meskipun sempat ragu sebelumnya untuk bertanya, Alisha akhirnya bertanya juga. Karena di sepanjang koridor ini, cuma Alden satu-satunya yang ia temui untuk bisa ditanyakan.
Semenjak insiden di depan perpustakan waktu itu, Alisha seolah kembali memasang dinding tinggi-tinggi untuk membatasi dia dengan Alden. Ia ingin bersikap tidak terlalu dekat lagi dengan Alden. Tapi nyatanya, takdir seolah memaksa mereka untuk terus berinteraksi.
Alden menyandarkan badan pada tembok di belakangnya sambil bersedekap. “Hm… kasih tau gak ya?” ucapnya dengan wajah menyebalkan. Menurut Alden, menggoda Alisha membawa kesenangan tersendiri untuknya, apalagi jika wajah datar itu mulai mengeluarkan ekspresinya.
Alisha berdecak sebal. “Gak usah main-main. Gue gak punya banyak waktu nih.”
“Ya udah, gue gak mau jawab,” jawab Alden berusaha acuh tak acuh.
Alisha mengembuskan napas keras. “Cepetan kasih tau, Al.”
Alden menimbang-nimbang sebentar, sengaja mengulur waktu lebih lama. “Emang ngapain nyari Dito? Mending nyari gue aja yang udah pasti bakal ada buat lo.”
Alisha memutar bola mata jengah. “Dia disuruh ke ruang guru,” jelas Alisha.
“Oh… kirain mau ngapain. Tu cowok tadi masih di kantin.”
Alisha menggeleng pelan mendengar jawaban Alden. Ya ampun, bisa-bisanya masih di kantin padahal bel masuk sudah berbunyi, waktu istirahat kan udah habis. Dan menurut tebakan Alisha, cowok yangs sedang di hadapannya ini juga pasti habis dari kantin.
“Oke, makasih,” ucap Alisha lalu ingin buru-buru melangkah menuruni tangga.
Tetapi karena ingin cepat-cepatnya menuruni tangga, Alisha sampai tidak begitu fokus melangkah turun. Akibatnya, kakinya tersandung oleh kakinya sendiri, sehingga menyebabkan ia oleng. Dengan cepat ia ingin meraih pegangan, tapi apa daya ia tidak bisa menggapainya. Alisha akhirnya pasrah saja akan apa yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
Untungnya, dengan sigap Alden sempat menangkap pergelangan tangan Alisha. Niatnya sih ingin mencoba membantu cewek itu. Tapi, mereka malah jatuh berdua. Alisha terjatuh di lantai dengan sedikit menimpa badan Alden. Dia gak apa-apa. Tapi, tangan Alden yang kayaknya ada apa-apa.
Menyadari badannya yang menimpa Alden, Alisha bergegas bangkit dengan panik. Ia lalu melihat Alden yang meringis kesakitan sambil memegang tangan kirinya.
“Alden, tangan lo…?” tanya Alisha panik. Seingatnya, tangan Alden yang sedang kesakitan itu merupakan tangan yang juga sempat terkilir saat pertandingan basekt waktu itu.
“Ayo ke UKS!” seru Alisha cepat sembari mengajak Alden berdiri dan membawanya ke UKS.
Alden dengan wajah bingungnya pasrah saja saat ujung bajunya yang memang sedikit keluar ditarik paksa oleh Alisha, agar dia bisa mengikuti langkah Alisha yang menyerupai berlari itu. Alden sempat merengut sebal, kenapa harus ujung bajunya coba yang ditarik? Tangan kek yang dipegang buat ditarik, ini malah ujung baju. Membuatnya terlihat seperti bocah nakal yang sedang dipaksa pulang oleh ibunya.
Tapi tak urung Alden memasang wajah geli juga, sakit di tangannya bahkan tak begitu ia rasakan. Baru kali ini ia melihat Alisha begitu mengkhwatirkan dirinya, biasanya mah boro-boro. Mau Alden ketimpa pesawat jatuh juga gak bakal Alisha peduli.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke ruang UKS. Alisha dengan cepat membawa Alden masuk ke dalam. Untungnya di dalam ada Mbak Dhiya, petugas UKS yang selalu menjaga ruangan ini.
“Mbak, tangan Alden kayaknya terkilir, coba tolong Mbak obatin,” ucap Alisha langsung pada wanita berusia pertengahan dua puluhan itu.
Melihat wajah Alisha yang begitu panik, Mbak Dhiya bergerak cepat memeriksa tangan Alden. Ia sempat mengernyit heran saat si korban sendiri sama sekali tidak merasa sakit ataupun cemas.
“Bener tangan kamu terkilir?” tanya Mbak Dhiya memastikan, karena ia tak begitu yakin ketika melihat tampang Alden.
“Kayaknya bener, Mbak. Tadi dia jatuh dari tangga,” Alisha yang menjawab sebelum Alden sempat bersuara. Ia berdiri di samping Alden yang duduk di tepi ranjang UKS tersebut.
Mbak Dhiya memandang ekspresi Alisha sekilas. “Saya heran, yang tangannya kesakitan itu Alden atau kamu.”
Alisha mendadak jadi diam. Kok gitu sih? memangnya dia terlalu panik ya?
Setelah itu Mbak Dhiya mulai mengambil tindakan. Untungnya Mbak Dhiya ini ahli dalam hal mengobati tangan yang terkilir. Mbak Dhiya memijit tangan kiri Alden yang ternyata memang benar terkilir.
Alden sempat meringis kesakitan saat pijitan itu mengenai tepat sumber rasa sakitnya. Ada warna kebiruan yang mulai tampak di tangannya.
“Sakit ya Al?” tanya Alisha tak enak hati. Ia menggigit bibirnya, seolah ikut merasakan sakit yang sedang dialami Alden.
“Enggak kok. Gue kan strong. Masa beginian aja sakit.”
Mbak Dhiya mendengus mendengarnya. Lalu dengan jahil Mabk Dhiya memekan agak kuat di sumber memar tersebut.
“Aw! Sakit, Mbak,” jerit Alden kesakitan, tak dapat menyembunyikan lagi rasa sakit yangs sedari tadi ia tahan.
“Katanya gak sakit,” cibir Mbak Dhiya. “Temen kamu ini sok kuat, Sha,” sambung Mbak Dhiya berucap pada Alisha.
“Kalo beneran sakit ngomong aja Al. Biar Mbak Dhiya bisa bantuin ngobatinnya,” saran Alisha yang berdiri gelisah di samping Alden. Alisha bahkan mengesampingkan dulu tujuannya untuk mencari Dito.
“Mbak Dhiya payah nih, gak bisa diajak kerja sama,” gerutu Alden pelan.
Mbak Dhiya lanjut mengobati tangan Alden. Untungnya tangannya terkilir tidak terllau parah. Setelah beberpa lama dipijit, akhirnya berangsur-angsur Alden mulai merasa tangannya membaik.
“Mulai baikan?” tanya Mbak Dhiya memastikan setelah selesai.
__ADS_1
Alden menggerakkan tangannya perlahan dan menekan-nekannya di beberapa tempat. “Iya, Mbak, udah gak sesakit tadi. Makasih Mbak.”
Mbak Dhiya mengangguk singkat. “Mbak mau ke koperasi dulu ya. Mau nngambil obar pereda nyeri. Obatnya lagi habis di sini. Kamu harus makan obat itu biar lebih baik.” Setelah itu Mbak Dhiya keluar dan menghilang di balik pintu ruang UKS.
Alisha kini ikut duduk di samping Alden. Ditatapnya lengan kiri Alden yang memar tersebut.
“Maaf,” gumamnya pelan. Tapi Alden yang berada tepat di sampingnya jelas dapat mendengar ucapan tersebut.
“Gak perlu minta maaf, Sha.”
Alisha mendongak dengan wajah bersalah. “Gara-gara mau nolongin gue, lo jatuh terluka kayak gitu.”
Alden melirik sebentar tangan kirinya. “Enggak apa kok, memar segini mah gak masalah buat gue. Beneran,” ucap Alden dengan wajah meyakinkannya, sama sekali gak ada tampang tengil sekarang di wajahnya.
“Entar lo bakal kesusahan main basket lagi….” Alisha berucap dengan menundukkan wajah.
“Ya ampun, enggak lah Sha. Tangan gue kan cuma terkilir, bukan patah. Lo mikirnya kejauhan nih. Makanya jangan terlalu banyak mikir Sha,” ucap Alden dengan tampang gelinya.
Alisha kembali mengigit bibir bawahnya. “Beneran gak apa?”
“Iya, Alisha…. Jangan terlalu khawatir, oke?”
Mau tak mau Alisha pun mengangguk. Hening sebentar, Alisha sibuk akan pikirannya.
“Nah lo diem ini mikirin apalagi?” tanya Alden yang dari tadi setia mengamati ekspresi cewek di sampingnya.
“Kenapa…?”
Kening Alden sedikit berkerut mendengar pertanyaan Alisha yang menggantung itu.
Alisha mendongakan kepalanya, Ditatapnya mata Alden lurus-lurus. “Kenapa lo baik banget sama gue sih Al? Kenapa? Padahal gue gak begitu baik sama lo. Bahkan terkesan jahat,” ucap Alisha pelan pada saat akhir kalimat.
Alden sempat terpana mendengar pertanyaan itu. Tapi detik selanjutnya ia tersenyum kecil. Ia memandang Alisha dengan sorot mata geli. “Emang lo mau dijahatin gitu?”
Alisha sontak membulatkan matanya.
“Cewek ni kadang serba salah ya. Dibaikin, salah. Dijahatain, tambah salah,” Alden menggeleng tak habis pikir. “Apalagi elo, Sha. Semua yang ada sama lo itu nampak beda.”
Alisha terdiam mendengarnya, bingung ingin berkata apalagi. Cowok di sampingnya ini selalu saja berhasil membuat emosinya muncul. Lihat sekarang, ia bahkan tak bisa menutupi rasa khawatir sekaligus penasaran yang melingkupinya. Mendadak jantung Alisha berdegup kencang, debarannya terasa menyesakkan dada.
“Lagian, bukan ucapan maaf yang pengen gue denger.”
Alisha berpikir sejenak mendengarnya. Lalu saat sadar apa yang diinginkan Alden, segera ia bersuara. “Makasih,” bisik Alisha.
Kedua sudut bibir Alden tertarik ke atas. “Gitu dong. Gue lebih suka denger kata itu dibanding kata maaf. Apalagi diiringi senyuman. Biar makin tulus gitu kedengarannya.”
Alisha mengerjap beberapa kali. “Makasih, Al,” ulang Alisha akhirnya disertai senyumannya.
__ADS_1
Alden tersenyum lebar mendengarnya. Entah sejak kapan, senyum Alisha yang jarang muncul itu selalu menjadi favoritnya. “Nah kan kalo senyum, lo tambah manis Sha.”