
Alisha duduk di depan cermin kamarnya, mematut diri yang kini telah mengenakan dress berwarna hijau toska kesukaannya. Ia sapukan sedikit bedak di wajahnya yang memang sudah terlihat putih, lalu tak lupa bibirnya ia lapisi dengan lip gloss. Hanya itu saja, tanpa tambahan apa-apa lagi. Begini sudah cukup baginya.
Mata hitamnya tak lepas dari cermin, memerhatikan pantulan dirinya sendiri yang terlihat tidak bersemangat. Kalau boleh memilih, rasanya ia tidak mau keluar kamar sekarang. Lebih memilih untuk bergelung di tempat tidur sambil mendengarkan musik favoritnya. Atau membaca novel-novel koleksinya yang tertumpuk di meja belajar. Tapi sayanganya, sekarang tidak tersedia pilihan untuknya.
“Semangat, Alisha! Demi Kakek.” Cewek itu berusaha menyemangati dirinya sendiri dengan tangan terkepal ke udara. Sebuah senyum manis ia paksakan untuk hadir. Perhatian Alisha teralih saat mendengar ponselnya berbunyi singkat. Ada pesan Line yang masuk. Diraihnya benda canggih tersebut.
Yuda
Sha, catetan mtk lo lengkap kan? Bsok gw pinjem ya. Kayaknya ada materi yg blum gw catet nih.
Alisha mengetik balasan dengan cepat.
Alisha
Iya, lengkap kok. Oke, besok gw bawa.
Yuda
Sip, makasih ya.
Alisha.
Iya, sama2.
Alisha hendak meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, namun sebuah pesan masuk lagi menghentikannya.
Yuda
Udh makan, Sha? Makan gih, entar magh lo kumat lg.
Hanya satu pertanyaan singkat, satu pertanyaan yang mampu membuat senyum cewek itu merekah dengan sempurna. Hanya dengan membaca sebaris pesan itu pun mood-nya mendadak berubah menjadi lebih baik.
Alisha
Iya, bntr lg makan kok.
Mungkin bagi Yuda itu hanya sebuah bentuk perhatian antar sahabat, tapi bagi Alisha hal itu lebih, membawa efek yang luar bagi dirinya. Sekarang cewek itu jadi senyum-senyum sendiri. Kembali dirinya mematut diri.
“Lo pasti bisa. Lagi pula ini kan cuma makan malem biasa,” ucapnya, “yang kemungkinan bakal membahas masalah perjodohan,” ringisnya pelan. Perasaan tak enak itu kembali muncul.
Beberapa detik ia hanya memandangi dirinya saja di cermin. “Argh! Lagian kenapa pake acara perjodohan segala sih? Gak bisa apa gue kayak remaja normal lainnya? Gak usah pake acara jodoh-jodohan segala. Ini kan udah abad dua puluh satu”
Terdiam, Alisha menertawai sendiri ucapannya. “Normal? Bukannya dari dulu lo gak sama kayak orang kebanyakan, Sha?” ledeknya pada diri sendiri.
Tok tok tok
Terdengar suata ketukan pintu yang diikuti suara panggilan kakeknya. “Alisha udah siap belum? Kalau sudah, yuk kita berangkat sekarang.”
Alisha menyahut cepat. “Iya, Kek. Udah siap kok.”
Sekali lagi, sebelum ia keluar, kembali ia memandangi dirinya di depan cermin dengan senyum manis yang ditunjukkan. “Harus bersikap manis,” yakinnya sendiri dengan menganggukkan kepala. Setelah itu, ia keluar dan mengikuti kakeknya menuju mobil yang akan mengantarkan mereka ke kediaman keluarga Alden.
Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke rumah ini. Rumah yang hampir sama besarnya dengan rumah Alisha. Tapi bedanya, rumah ini terkesan hangat, berbeda sekali dengan rumahnya yang kelihatan seperti tak berpenghuni. Ada taman bunga yang terlihat rapi di pekarangan rumah ini. Alisha yakin, kalau pada siang hari taman tersebut pasti akan terlihat lebih indah.
Sesampainya di dalam rumah, Alisha dan Kakek disambut hangat oleh keluarga tersebut. Alisha dapat melihat ada seorang kakek yang sepertinya seumuran dengan kakeknya, ada mama dan papa Alden, Alden sendiri tentunya, dan… seorang cewek yang sepertinya Alisha pernah lihat sebelumnya.
__ADS_1
“Jadi ini yang namanya Alisha?” suara lembut khas keibuan itu bertanya pada Alisha. Senyum manis terpampang jelas di wajahnya yang masih terlihat muda meskipun sudah cukup berumur.
“Iya, Tante,” jawab Alisha disertai senyum sopannya.
Tanpa Alisha duga, mama Alden meraihnya ke dalam pelukan. Alisha kikuk harus bagaimana. Pelukan ini… jenis pelukan yang sangat Alisha rindukan. Menghangatkan sekaligus menentramkan, mengingatkannya akan sosok ibunya. Refleks, Alisha balas memeluk mama Alden. Tanpa disadari sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.
“Ternyata aslinya lebih cantik ya dari di foto,” puji wanita itu setelah melepas pelukannya.
“Makasih, Tan,” balas Alisha.
“Alisha sebelumnya pasti udah kenal sama Alden kan?” tanya Tante Riani –mama Alden– sembari melirik putranya.
“Iya, udah, Tan.”
“Kalau sama adiknya Alden juga udah kenal?”
“Adik?” Alisha tak bisa menyembunyikan raut bingungnya.
“Mama… ya pasti Alisha belum tau lah.” Alden ikut ke dalam pembicaraan.
Tante Riani tertawa kecil. “Oh iya, Mama lupa nih. Alisha, ini adiknya Alden. Namanya Neola. Lebih tepatnya adik kembar.” Tante Riani menatap cewek yang kehadirannya mengundang tanda tanya bagi Alisha.
Ah iya, kalau Alisha tidak salah ingat, cewek ini adalah cewek yang ia temui tadi siang di depan kafe. Jadi… cewek ini adiknya Alden? Kok dia gak tau? Sejak kapan Alden punya adik yang satu sekolah dengan dia? Kembar pula.
“Kembar, Tan?”
Alisha mengangguk menyetujui. Kalau diperhatikan, Alden dan Neola gak kelihatan mirip-mirip banget kayak orang kembar kebanyakan. Nama mereka juga gak beda-beda tipis, kayak orang kembar kebanyakan. Pantas saja orang gak ngira kalau mereka kembar. Murid di sekolah pasti geger kalau tau Alden punya kembaran.
“Hai, Alisha,” sapa Neola ramah. “Wah, gak nyangka nih kalo elo yang bakal dijodohin sama Alden.”
Gue lebih gak nyangka lagi, ucap Alisha dalam hati. Oh jadi cewek ini adik kembarnya Alden. Terus kenapa tadi Alden berantem yang menyangkut Neola?
“Alden sama Neola ini gak tau kenapa sejak masuk SMA gak mau bilang-bilang ke orang kalo mereka kembaran. Tante gak habis pikir,” cerita Tante Riani. “Ya udah, yuk kita ke ruang makan. Tante udah masak banyak lho.”
Mereka lalu menuju ruang makan, di mana terdapat meja persegi panjang yang sudah dipenuhi dengan berbagai macam hidangan. Ternyata ‘masak banyak’ yang diucapkan Tante Riani tersebut memang benar dalam artian yang sesungguhnya.
“Jadi Alisha udah kenal juga belum sama Neola?” tanya Tante Riani saat mereka semua sudah duduk.
“Baru sekedar tau aja, Ma. Belum terlalu deket.” Neola yang menjawab. “Tapi kayaknya setelah ini kita bakal deket, ya kan, Sha?”
Alisha tersenyum ramah, sama sekali gak ada raut muka dingin yang biasa ia tampilkan di sekolah. “Iya.”
Alden tertegun sejenak. Sejak kapan Alisha jadi manis begini? Dikit-dikit senyum. Tumben. Gak seperti yang biasa ia liat. Bahkan tadi siang saat di kafe pun Alisha masih setia dengan tampang juteknya. Alisha sekarang benar-benar berubah seratus delapan buluh derajat.
“Mari dimakan, Toro,” tawar Pak Dabubrata pada Kakek Alisha, “Alisha juga makan yang banyak ya. Mamanya Alden bener-bener semangat nyambut kedatangan kamu,” sambungnya sambil menatap Alisha dengan senyuman yang hampir sama dengan senyuman kakeknya yang biasa ditunjukkan.
“Iya, Kek,” balas Alisha sopan.
__ADS_1
“Gue juga ikut bantuin Mama lho,” timpal Neola.
“Ya yang sebenernya lo lebih tepat ngebatuin ngacauin dapur, bukan bantu masak,” timpal Alden gak pake hati.
“Dibanding elo yang gak bantuin.”
“Gue bukannya gak mau bantuin. Itu karena Mama gak ngizinin. Katanya cukup satu pengacau aja di dapur.”
“Udah-udah, kalian ini. Jangan ribut mulu,” lerai Tante Riani.
Semuanya kini mulai mengambil makanan masing-masing. Alisha hendak mengambil nasi dan lauk-pauknya, tapi gerakannya dihentikan oleh Tante Riani. Wanita itu dengan luwes mengambilkan nasi untuk Alisha. “Segini cukup?”
“Cukup, Tan.”
“Alisha suka makan cumi asam pedas sama sayur capcay, kan? Tante sengaja lho masak ini buat kamu,” ujar Tante Riani.
Kok Tante Riani bisa tau? Hm mungkin tau dari kakeknya kali ya. “Wah makasih, Tan. Jadi ngerepotin nih.” Entah kenapa ada perasaan hangat yang menyusup ke dalam hatinya. Melihat Tante Riani yang begitu perhatian padanya, membuat ia jadi kangen sama mamanya.
“Ah enggak kok. Tante senang malah. Nih, makan yang banyak ya.”
Suasana makan malam tersebut berlangsung menyenangkan. Keluarga Alden sangat welcome akan kehadiran Alisha dan kakeknya. Alisha pun jadi sering memamerkan senyumnya dan kadang tertawa kecil saat mendengar mereka bercerita lucu tentang keluarga mereka. Alisha merasa senang di sini. Ia merasa kehadirannya diterima. Dan juga… ia merasa seperti meiliki keluarga kembali.
“Alisha, Tante harap kamu sama Alden bisa sama-sama cocok, ya. Mungkin agak shock bagi kalian tentang ini. Tapi gak apa kan mulai saat ini kalian saling lebih kenal dulu?” Tante Riani kembali membuka suara saat makanan di piring mereka hampir bersih tak tersisa. Kini semua mata tertuju pada Alisha.
Alisha diam sejenak. Ia menatap Alden, menunggu mungkin Alden ada menyampaikan kode apa gitu. Soalnya dia bingung juga mau jawab apa. Tapi nihil. Alden juga sama diamnya seperti dirinya. Nih cowok kok mendadak jadi banyak diam kayak gini? Gak kayak biasanya.
“Iya, Tan.” Akhirnya hanya dua kata itulah yang mampu keluar dari mulutnya. Memang mau jawab apa lagi selain ngiyain aja?
“Atau kalian mau dibikin acara tunangan?” usul Pak Danubrata.
Merek berdua saling bertatap horor, lalu detik selanjutnya berujar cepat, “Gak usah, Kek,” jawab Alisha dan Alden serempak. Benar-benar serempak hingga mampu membuat semua orang menatap mereka bergantian.
Tante Riani terkekeh. “Duh kompaknya. Ya udah kalo kalian gak mau. Mungkin acara tunangannya bisa dilaksanain pas kalian lulus?”
Diam. Alisha dan Alden sama-sama diam.
“Ah, atau kalian gak mau pake acara tunangan-tunangan? Mau langsung nikah aja gitu?” goda Tante Riani kembali.
Alden sampai tersedak mendengarnya. Mamanya mikirnya kejauhan nih. Gak tau apa kalau mereka berdua sama-sama gak niat sama perjodohan ini?
“Ma…,” rengek Alden menghentikan aksi Tante Riani.
“Duh anak Mama salting ya.”
Alden cemberut.
“Hehe iya deh. Untuk saat ini kalian jalani aja dulu ya. Fokus belajar tetap yang utama. Jangan terlalu diambil beban ya,” ucap tante Riani akhirnya, tak tahan melihat Alden dan Alisha yang sama-sama terdiam mati kutu.
***
__ADS_1