
“Seragam mereka yang sekarang lebih baik ya. Alden sendiri yang minta buat direvisi. Tuh tim hore jelas gak bakal bisa nolak kalo Alden udah turun tangan langsung.” Seolah bisa menerka pikiran Alisha, Neola berucap nyambung. Ia mengikuti arah pandang Alisha, terlihat tim cheers mereka mulai bersorak untuk menyemangati tim basket.
Alisha yang di sampingnya mengangguk menyetujui. Masih ingat dia akan waktu itu saat kelas heboh akan perbincangan anggota cheers yang kesal dengan Alden.
“Aldeen!! Semangat!!”
“Kyaaa Kak Alden!!”
“Semangat, Pusaka Bangsa!! Semangat!!”
Riuh rendah suara pendukung SMA mereka mulai menggema. Para kaum hawa mulai berteriak histeris, seakan saling berlomba siapa yang suaranya terdengar paling nyaring, tak terkecuali Neola dan Lani.
Sama seperti penonton lainnya, mereka bersorak heboh meneriaki tim sekolah. Seolah ini adalah saat yang paling tepat untuk berteriak sebebas mungkin tanpa ada yang menegur tak suka. Sementara Alisha, dia hanya berdiri diam seperti patung. Ia ikut berdiri pun karena tadi tak sengaja Neola menarik tangannya agar ikut berdiri juga seperti penonton yang lain, ikut mengadu suara dukungan dengan tim lawan yang tak kalah heboh.
“Wuuuuuuu!!”
Alisha bingung ingin melakukan apa. Ingin ikut berteriak heboh, tapi rasanya hal tersebut aneh untuk ia lakukan, terasa begitu kaku. Akhirnya, ia hanya mampu berdiri tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Dan kalau boleh, ingin sekali ia menutup kupingnya rapat-rapat, tidak tahan dengan suara berisik di sekitar. Ah, cewek yang suka berada di tempat yang hening ini malah terlihat seperti orang yang salah tempat, terlihat berbeda dari yang lain.
“Lo baru kali ini nonton Alden tanding kan?” Tiba-tiba Neola menoleh ke Alisha, menghentikan aksi teriak gila-gilaan yang barusan ia lakukan. Tampangnya begitu antusias. Alisha sempat bertanya-tanya dalam hati, apa Neola selalu begini setiap saudara kembarnya mau unjuk kemampuan di lapangan?
“Iya,” jawab Alisha akhirnya, Kenyataanya emang gitu. Emang sebelum-sebelumnya Alisha pernah melihat sekilas Alden main basket, tapi hanya sebatas melihat sekilas saja, itu pun karena tidak sengaja. Kalau ekskul basket lagi ada latihan pun, dia tidak pernah ikut menonton seperti yang lain.
Senyum Neola merekah, nampak begitu bersemangat. “Kalau gitu, selamat menyaksikan! Gue harap lo bakal jadi suka ngeliatin Alden main basket, hehehe.”
Alisha tak berkata lagi, nampak tak begitu yakin akan harapan Neola. Apa asyiknya menonton banyak orang merebutkan satu bola? Ia sama sekali tak tertarik. Oh, mungkin ada pengecualian, yaitu saat Yuda sedang bermain futsal. Satu-satunya yang mampu membuat ia betah menonton acara perebutan bola yaitu saat Yuda ikut serta di dalamnya.
Pertandingan basket pun akan segera dimulai. Sorak-sorak yang terdengar mulai melemah, tak seheboh tadi. Penonton pun kembali duduk dengan antusias untuk menyaksikan pertandingan yang akan segera dimulai.
Lawan tim Pusaka Bangsa sekarang adalah dari tim SMA Caturwulan, sekolah yang terkenal tim basketnya kuat. Lawan mereka sekarang bisa dikatakan imbang. Tapi hal tersebut sama sekali tak menurunkan nyali timnya Alden. Mereka justru tambah bersemangat. Terutama Alden. Dia yang paling berambisi untuk menang di pertandingan ini.
Okelah kalau dalam kegiatan sehari-hari Alden bisa bersikap tengil dan terkesan hobi main-main. Tapi kalau berurusan sama basket, jangan harap sifatnya yang itu bisa keluar. Ia bisa menjadi makhluk paling disiplin, ambisius, dan juga keras. Oleh karena itu, tim basket sekolah bisa semakin terdengar raungannya saat ia menjabat sebagai kapten.
Pertandingan basket dimulai. Kedua tim benar-benar menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Pertandingan benar-benar berlangsung seru. Sorak-sorakan makin menggema saat salah satu tim berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
Saat ini terlihat Alden sedang men-dribble bola menuju ring lawan. Cowok itu melompat dan hap… dengan gerakan yang sempurna ia melakukan lay-up-shoot. Teriakan yang mengelukan nama Alden semakin menggema, bahkan dari sekolah lain pun tak dapat menahan diri untuk ikut menyoraki cowok tersebut.
__ADS_1
Alisha melihat dan menyadari hal tersebut. Alden benar-benar seperti bintang di lapangan ini. Baru kali ini ia melihat Alden begitu serius, berbeda sekali saat hari-hari biasa ketika ia bersama dengan cowok itu.
“Alden emang gitu. Kalo lagi tanding basket, dia serius banget, gak ada deh tampang-tampang petakilannya keluar. Gue heran, cinta banget dia sama basket,” komentar Neola pelan yang tetap fokus menatap pertandingan di depan.
Alisha menoleh sebentar, memastikan kalau Neola sedang berkata pada dirinya. Lalu detik selanjutnya ia kembali menatap ke lapangan, tanpa sadar kalau mulai menikmati acara pertandingan ini.
Sementara di sisi Neola yang lain, ada Yuda yang mendadak menjadi tak begitu minat akan pertandingan ini. Kupingnya mendadak panas saat mendengar ocehan Lani yang mengobrol dengan Kak Panji. Posisinya yang pas di samping cewek itu, membuatnya dapat mendengar dengan jelas serta melihat betapa Lani begitu menikmati obrolannya dengan Kak Panji.
“Itu nama gerakannya apa, Kak?”
“Lemparan dengan teknik itu dapet berapa poin?”
“Posisi yang jaga di sekitar ring itu apa namanya?”
Pokoknya segala hal yang berhubungan dengan pertandinagn basket di depannya, Lani tanyai. Yuda rasanya ingin sekali ikut bergabung ke dalam obrolan tersebut, tapi ia tidak bisa. Ini bukan dunianya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan basket.
Yang ia tau hanya kalau melempar bola ke dalam ring, maka akan mendapat poin. Udah segitu aja yang dia tau. Lain halnya kalau ditanya soal sepak bola, cowok itu pasti mengerti luar-dalam tentang hal itu. Kak Panji yang statusnya adalah mantan pemain tim basket sekolah, jelas sangat lebih tau dibanding Yuda yang tak tau apa-apa.
“Alden!” Neola memekik begitu melihat Alden terdorong jatuh. Dia jatuh tersungkur dengan posisi miring yang membuat tangan kanannya tiba-tiba terasa nyeri. Neola, dan juga Alisha, bisa melihat seulas senyum puas muncul di bibir orang yang tadi sepertinya sengaja mendorong Alden.
Pertandingan berhenti untuk sesaat. Hampir semua fokus mata orang di tempat itu tertuju pada Alden yang meringis kesakitan.
Alden menggeram, menggertakkan giginya dengan penuh amarah. Segera ia bangkit dan berdiri tegap menatap lurus-lurus lawan mainnya satu itu. Diacuhkannya rasa nyeri yang begitu kentara terasa di tangan kanannya. Wasit sempat bertanya apakah Alden mau berganti dengan pemain cadangan, tapi tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Alden.
“Pertandingannya tetap dilanjut. Tanpa-ada-pergantian-pemain,” ucap Alden dengan nada penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.
“Curang tu! Masa yang ngedorong gak dikasih kartu pelanggaran! Curang, curang! Emang ini ajang serodok-serodok apa sampe jatuh begitu!” Neola berkomentar dengan emosi. Apalagi ia dapat melihat Alden menahan rasa sakit pada tangan kanannya, tangan yang ia andalkan untuk menguasai bola.
Di tempatnya Alisha membenarkan ucapan Neola. Sempat ada raut khawatir di mukanya saat melihat Alden begitu, tapi selanjutnya ia merasa sedikit ngeri akan tampang yang ditunjukkan Alden kemudian.
Pertandingan kembali berlangsung. Tak menghiraukan rasa sakitnya, Alden terus bermain dengan begitu lincah dan bisa berkelit dengan mudah sambil tetap membawa bola. Ia juga mengatur pola dan posisi setiap anggota agar bisa semakin menguatkan tim mereka. Pertandingan mendadak menjadi lebih seru dan menegangkan, seolah Alden sama sekali tak memberi ampun pada tim lawan main mereka.
Tidak butuh lama bagi Alden dan timnya untuk melakukan banyak tembakan, mengungguli skor yang semula sempat berimbang. Akhirnya setelah melakukan persaingan yang ketat dan permainan yang menegangkan, tim basket Pusaka Bangsa memenangkan pertandingan. Wasit segera meniup peluit dan menandakan pertandingan telah usai dan dimenangkan oleh tim basket SMA Pusaka Bangsa. Sorak-sorak ramai langsung berteriak menggema menyambut kemenangan mereka.
Halaman GOR mulai lengang. Para pemain dan juga para suporter satu per satu atau berombongan mulai meninggalkan gedung tersebut dan pulang. Tapi tetap masih ada beberapa yang tinggal, masih setia menempati salah satu ruangan di gedung besar itu.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Neola berjalan keluar dari toilet. Lalu saat baru beberapa langkah melangkah, ia menyadari ada seseorang juga yang nampaknya baru keluar dari dalam toilet yang berlainan.
“Abis setoran, heh?” ejek Neola pada Alden yang ditemuinya di belakang.
“Bener, tepat sasaran,” jawab Alden kalem.
“Tangan lo masih sakit gak?” tanya Neola seraya memperhatikan tangan kanan Alden.
Alden mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Gue kan kuat, kayak gitu doang mah gak apa-apa.”
Neola langsung mencebik. “Apaan. Gue liat kok lo kesakitan tadi, dan jangan coba-coba bohongin gue, gue tau apa yang lo rasain. Lo lupa kalau kita kembar?”
“Ah, saudara kembarku ini benar-benar sulit dibohongi,” ucap Alden dengan ekspresi pura-pura kecewa.
“Jadi sekarang masih sakit gak?” Neola terus bertanya.
“Enggak kok. Tadi sempet dipijit sama Dito, haha.”
“Baguslah,” ucap Neola lega.
“Lo mau langsung pulang, La?” kali ini Alden yang bertanya saat tak dilihatnya Neola mau bergabung mengikutinya..
“Iya.”
“Gak mau ikut? Gue sama yang lain mau makan-makan dulu,” tawar Alden.
Tanpa berpikir panjang, Neola menggeleng. “Enggak deh. Mereka kan gak tau gue siapanya lo. Kalo tiba-tiba ikut nimbrung kan aneh.”
Alden mendengus samar. “Gara-gara siapa coba? Lo kan? Sok-sokan gak mau terpublish kalo kita kembaran.”
“Ih gue bete kalo bahas-bahas itu. Lagian gue gak mau pas sekolah ada di bawah bayang-bayang lo. Alden yang ini lah, yang itu lah. Entar dikit-dikit gue dibandingin sama lo, kalo gue jadi populer, dikira nebeng nama lo lagi,” celoteh Neola panjang lebar. Emang itu alasan dia tidak mau orang lain tau kalau mereka kembaran. Dia malas kalau harus berada di bawah bayang-bayang populer kakak kembarnya.
“Hm iya deh, serah lo,” sahut Alden malas.
“Eh, Alisha gak diajak?” tanya Neola tiba-tiba.
__ADS_1
“Tuh cewek mah pasti tanpa pikir panjang lagi bakal nolak tawaran gue,” ada jeda sejanak sebelum Alden melanjutkan, “Kalo di depan tuh cewek entah kenapa gue ngerasa pesona gue luntur, gak mempan sama dia,” ucapnya dengan pandangan menerawang.
Neola pandangi wajah saudara kembarnya itu lamat-lamat. “Terus… kenapa lo masih mau deket-deket sama dia?” tanya Neola tepat sasaran. Pertanyaan yang langsung membuat Alden bergeming, bertanya-tanya sendiri apa jawaban sebenarnya.