
Matahari sudah hampir tenggelam saat Lani pamit pulang kepada Alisha. Sepulangnya Lani dari rumah Alisha, rumah tersebut kembali senyap. Rasanya Alisha ingin menahan Lani agar menginap di rumahnya saja. Tapi Alisha tidak boleh egois. Lani masih punya keluarga yang menunggunya untuk pulang. Sembari menutup pintu, Alisha mengembuskan napas panjang. Rumah ini kembali sepi saat sahabatnya pulang.
Alisha berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Di sana, ia melihat Bi Mari yang kembali melanjutkan pekerjaannya. Sosok paruh baya itulah yang selama ini sudah membantu kakek untuk mengurus dirinya. Ia memperhatikan Bi Mari yang sedang mengaduk sesuatu di panci.
Setelah meneguk sedikit air putih yang ia tuang, Alisha bersuara. “Masak apa, Bi?” tanya Alisha yang duduk di kursi meja makan yang berada di dekat Bi Mari berdiri.
“Ini, Non, Bibi mau masak bubur kacang hijau. Udah lama gak makan yang buatan sendiri,” jawab Bi Mari disertai senyum ramahnya.
Meskipun Alisha dari dulu sering bilang kalau Bi Mari tidak perlu memanggilnya dengan embel-embel ‘Non’, tetap saja wanita itu memanggilnya begitu. Padahal Alisha tidak keberatan kalau Bi Mari memanggilnya cukup dengan namanya saja. Tapi Bi Mari bilang kalau ia sudah terbiasa begitu, agak aneh kalau memanggil Alisha dengan panggilan nama saja. Ya, Alisha bisa apa lagi kalau sudah begitu.
“Iya juga ya, Bi. Bibi tau aja nih kalau aku lagi pengen makan bubur itu juga. Mau dibantuin gak, Bi?” tanya Alisha yang kini sudah bangkit dari duduknya dan berdiri di dekat Bi Mari.
“Gak usah, Non. Ini tinggal diaduk-aduk aja,” tolak Bi Mari halus.
“Ya karena tinggal diaduk-aduk aja makanya aku bantuin,” kata Alisha disertai cengiran kecilnya.
“Non mending mandi aja, udah mau malem ini. Kan gak bagus mandi malem-malem, Non.” Bi Mari mengingatkan.
“Iya, deh. Aku ke kamar dulu ya, Bi.”
Alisha lalu berjalan menuju kamarnya. Tadi ia dan Lani sudah creambath, jadi ia tidak keramas, mandi seadanya saja. Kamar beserta kamar mandinya cukup berantakan akibat ulah mereka berdua tadi. Untung saja ada Bi Mari yang membantu membereskan. Selesai mandi yang tidak memakan waktu lama, Alisha lalu duduk di atas kasur. Bosan tidak melakukan apa-apa, ia meraih ponselnya yang terletak di nakas dekat kasur. Bukan untuk mengecek sosmed, tapi ia bermain game di sana.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu kamar Alisha diketuk. Tanpa menoleh dan masih fokus memainkan game-nya, Alisha berkata, “Buka aja pintunya, Bi.”
Detik selanjutnya, pintu yang memang tidak ia kunci, terbuka. Tapi bukan sepeti perkiraan Alisha, yang berdiri di sana bukan Bi Mari. Merasa janggal kenapa Bi Mari tidak juga bersuara, Alisha menghentikan sebentar permainannya dan menatap ke arah pintu.
“Kakek??” seru Alisha kaget karena yang berdiri di sana adalah kakeknya yang tengah tersenyum hangat. Secepat kilat Alisha melempar ponselnya ke sembarang arah di kasur, bergegas ia mengahmpiri dan memeluk kakeknya.
“Kakek kok pulang gak ngabarin Alisha dulu?” tanya Alisha setelah melepas pelukan. Jelas Alisha kaget, karena setaunya kakeknya masih ada di luar kota untuk mengurus pekerjaannya. Ya, walaupun kakek Alisha sudah tua, tapi ia masih sanggup mengurus perusahaan mereka tersebut.
“Kejutan, mungkin?” ujar kakeknya sambil mengusap-usap kepala Alisha penuh kasih sayang.
Alisha tersenyum lebar sebagai respon.
“Gimana sekolah kamu?” tanya Kakek saat mereka sudah duduk santai di ruang keluarga, ruang yang sebenarnya jarang dikunjungi di rumah ini. Hanya ketika ada kakeknya saja ruangan ini terpakai.
“Baik, Kek. Oh, iya, ulangan matematika kemarin Alisha dapet nilai tertinngi di kelas,” cerita Alisha riang. Beginilah ia, saat di depan kakeknya, kembali menjadi seperti anak kecil.
“Oh, ya? Wah hebat cucu kakek. Pertahankan terus ya nilainya.”
Alisha mengangguk mantap.
“Begini, Alisha, kepulangan Kakek kali ini mau menyampaikan sesuatu yang penting sama kamu,” ujar kakeknya yang kini memasang tampang serius.
__ADS_1
Alisha memusatkan perhatian pada kakeknya. Kalau sudah memasang tampang begitu, pasti ada hal yang memang penting yang akan disampaikan kakeknya.
***
Byuuur!
Alden sontak menyemburkan air yang berada di mulutnya. Gagal air tersebut melewati tenggorokannya. “Apa?! Dijodohin??” seru Alden menggelegar memenuhi seluruh ruangan ini. Tanpa mengindahkan air yang sedikit tumpah di lantai, ia mengelap sekilas daerah sekitar mulutnya yang kena air.
Tidak menghiraukan reaksi terkejut Alden, semua orang yang ada di ruangan tersebut mengangguk mengiyakan.
“Iya, dijodhin,” ujar mamanya enteng.
Alden menatap mamanya horor. Tidak mendapati kalau mamanya sedang bercanda, Alden menatap satu per satu wajah di ruang tersebut. Ia menatap papa dan juga kakeknya yang sama sekali tidak memasang tampang bercanda.
“Beneran, Kek, Pa?” tanyanya pada dua orang yang memegang kekuasaan tertinggi di rumah ini.
“Iya,” jawab kakek dan papa Alden hampir bersamaan.
Alden terduduk lemas di tempatnya.
“Kamu mau, kan?” tanya mama riang, seolah anaknya ini sama sekali tidak menunjukkan ekspresi penolakan.
Alden merasa seperti pantatnya tidak menempel di kursi yang ia duduki. Dunia pun seolah berputar tanpa menyertakan dirinya. Ia bahkan tidak memperhatikan apa yang mamanya ucapkan barusan.
“Kakek sama Pak Bustoro sudah merencanakan perjodohan ini bahkan sebelum kamu lahir. Kami sama-sama berjanji kalau cucu kami berlawanan jenis, maka akan dijodohkan. Nah, karena kenyataannya begitu, jadilah perjodohan ini akan dilangsungkan.” Kakenya angkat berbicara dengan tenang, seolah sedang membicarakan dongeng tidur untuk cucunya.
Alden hanya menatap cengo ke kakeknya.
“Ehm gini,” mamanya membuka suara dengan tingkah yang sedikit mencurigakan di mata Alden, “sebenernya waktu itu mama yang mau dijodohin sama anaknya Pak Bustoro, tapi karena mama udah terlanjur cinta sama papa kamu…”
Alden yakin sempat melihat pipi mamanya sedikit memerah saat mengucapkan kalimat barusan.
“Karena mama udah terlanjur cinta sama papa kamu, ya jadi perjodohan itu dibatalkan.” Mama menyudahi ucapannya dengan cepat.
“Kalo gitu aku juga mau perjodohin ini dibatalkan,” ketus Alden tanpa berani menatap mata kakek dan papanya.
Ia sebenarnya agak takut menatap mata mereka, tapi ini masalah yang serius. Astaga, dia belum genap tujuh belas tahun, tapi kenapa harus dijodoh-jodohkan seperti ini? Kenapa?? Ia bukan bujang lapuk yang tak laku-laku, banyak cewek yang mau sama dia. Tapi kenapa ia harus terlibat perjodohan macam zaman siti nurbaya begini? Argh, rasanya kepala Alden mau pecah memikirkan hal ini.
“Gak bisa, Alden. Mau gak mau kamu harus terima perjodohan ini,” timpal papanya tegas.
Bagus! Para tetua di rumah ini sedang mengeroyoknya. Alden mendengus. “Gak mau. Tunggu anak Alden lahir aja, baru entar dijodohin,” ucapnya asal.
Mama menepuk bahu Alden gemas. “Ya gak bisa gitu dong. Kesepakatan perjodohan ini antara Kakek kamu sama Pak Bustoro. Kalau menunggu anak kalian sama-sama besar, kami kira Kakek sama Pak Bustoro belum tentu… ehm, belum tentu….” Mama kehabisan kata-kata untuk menjelaskan. Bukan mengharapkan mereka cepat pergi sih, hanya saja pasti para kakek itu sudah terlampau tua kalau mengikuti kehendak Alden. “Ya, pokonya gitu deh,” sambung mama akhirnya.
“Pokoknya Alden gak mau dijodoh-jodohin. Gak mau.”
__ADS_1
Kening kakek sempat mengerut mendengarnya, ada sedikit rasa kecewa yang masuk ke dalam relung hatinya.
Alden bangkit dari duduknya dan menghampiri Kakek. Ditatapnya Kakek dengan tampang memohon andalannya. “Kakek, aku gak mau dijodhin. Aku bisa cari jodoh sendiri. Lagipula aku kan masih kecil, Kek. Masa udah mau dijodoh-jodohin sih?”
Untuk kali ini, kakeknya tidak akan mempan dengan bujukan setan cilik ini. “Kamu harus nurut, Alden.”
Telak! Suara kakeknya terdengar sangat serius. Tidak bisa dibantah. Kakeknya benar-benar serius kali ini.
“Kek….” Alden kembali mengeluarkan rengekannya. Kalau teman-temannya di sekolah melihatnya seperti ini –yang sedang bersimpuh sambil merengek sepeti minta dibelikan permen– pasti ia sudah diejek dan ditertawakan habis-habisan.
Kakek menggeleng tegas. Bahu Alden merosot seketika. Ia menoleh kepada kedua orang tuanya, meminta sedikit saja bantuan. Tapi nihil. Orang tuanya sama sekali tidak mau mengerti akan tatapan itu.
Alden bangkit berdiri. Ditegapkannya badan dan diangkatnya dagu, hilang sudah tampang memohonnya tadi. “Oke kalo gitu. Kalau kalian masih maksa aku buat dijodohin, aku lebih baik keluar dari rumah ini.”
Terdiam. Seluruh orang di ruangan itu terdiam mendengar penuturan Alden yang terdengar sangat serius itu. Detik selanjutnya, mereka saling melempar lirikan penuh arti.
***
Braak!
Pintu tertutup tepat di depan muka cowok itu. “Kakek, Mama, Papa, kenapa kalian tega melakukan ini sama aku? Kenapa??” teriak Alden menggelegar sambil menggedor-gedor pintu.
“Katanya kamu lebih baik pergi. Ya sudah silakan pergi,” sahut suara perempuan yang pasti mamanya dari dalam rumah. Setelah itu hening. Tidak ada suara lagi.
Alden menatap tasnya yang berisikan baju-bajunya. Hanya tas itu saja. Tanpa ponsel, kunci motor, dan dompet beserta isinya. Mereka benar-benar mengizinkan Alden untuk keluar dari rumah. Alden mengacak-acak rambutnya frustasi. Diambilnya tas tersebut dan ditentengnya.
“Oke, aku bakalan pergi,” ucapnya keras, berharap orang rumah dapat mendengarnya dengan jelas.
Beberapa detik berlalu, tetap tidak ada sahutan dari dalam rumah. “Aku pergi nih, ya,” cicit Alden yang sedari tadi masih diam di tempatnya. Harapannya, akan ada orang yang menahannya untuk pergi. Tapi sudah hampir sepuluh menit ia menunggu, tidak ada juga orang yang menunggunya.
“Oke, fine, aku pergi!” seru Alden akhirnya berlalu benar-benar pergi meninggalkan rumah.
Alden terus berjalan menjauhi rumahnya. Rencannya ia akan menuju ke rumah Dito, tapi sialnya, orang tuanya sama sekali tidak memberikan ia sedikit pun fasilitas. Ia tidak punya uang untuk naik kendaraan umum. Motor beserta ponsel pun sama sekali tidak diberikan.
Sambil terus berjalan, sesekali ia menengok ke belakang. Kalau-kalau ada yang menyuslnya. Tapi, ya harapan tinggal harapan. Tidak ada yang peduli jika ia mau keluar rumah karena pilihannya sendiri.
Sudah lama Alden berjalan menyusuri jalanan kota, rasanya kakinya pegal sekali. Rumah temannya masih jauh. Ah, dia seperti gembel ganteng kalau begini. Sendirian di tengah jalan, sesekali juga merutuk jika ada tante-tante yang menggodanya di pinggir jalan. Benar-benar membuatnya bergidik ngeri.
Tin, tin!
Oh, ayolah, jangan tante-tante lagi! Klakson terakhir yang ia dengar berasal dari mobil yang dikendarai oleh seorang tante-tante yang mengedipkan mata padanya. Ugh, menyebalkan. Tapi bukannya berlalu seperti mobil yang sudah-sudah, mobil itu berhenti di sampingnya. Alden tetap tidak mau menolehkan kepala untuk melihat sampai orang yang amat ia kenali berdiri tepat di depannya.
“Alden, kakek masuk rumah sakit, sakit jantungnya kumat,” kata mamanya panik, benar-benar panik sehingga mampu menularkan pada diri cowok itu.
__ADS_1