
Secepat kilat, Lani langsung menolehkan kepalanya kembali menatap Alden yang masih setia berdiri dengan santai. Sementara Yuda, untuk beberapa saat ia terbengong mendengar ucapan tersebut, mulutnya bahkan sedikit menganga mendengar hal tersebut. Dan Alisha… ia menatap horor ke Alden, tak menyangka cowok itu akan mengucapkan hal sakral tersebut saat ini.
“Lo serius, Al?” tanya Lani dengan suaranya yang melengking, benar-benar merasa tidak percayan dengan apa yang diucapkan Alden.
Alden mengangguk kalem.
Yuda tadi yang sempat menatap Alden tak percaya selama beberapa detik, kini mengerjapkan mata dan menormalkan eskpresinya kembali. Lalu sebuah senyum merendahkan muncul di bibirnya. “Jangan bercanda deh.”
Alden menatap Yuda dengan serius, nampak meyakinkan agar ucapannya bisa dipercaya. “Gue gak bercanda.”
“Ya ampun! Astaga! Jadi ini beneran?” Lani menatap Alisha lurus-lurus dengan kedua telapak tangan menggenggam bahu Alisha erat. “Sha, apa yang dibilang Alden itu bener?”
Alisha meneguk ludahnya susah payah. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Kepalanya yang tadi memang sudah pening, kini lebih pening lantaran tingkah Alden. Ck, Alden ini… suka banget bikin orang jantungan.
Dengan gerakan perlahan, Alisha menganggukkakan kepalanya, nampak ragu untuk mengiyakan.
Mulut Lani menganga seketika. “Woow, gue gak nyangka masih ada acara perjodohan di zaman sekarang. Dan sekarang lebih gak percaya lagi kalo hal itu menimpa ke elo, Sha.” Lani geleng-geleng kepala tak habis pikir sekaligus takjub. “Elo dijodohin sama Alden, ya ampun kok bisa??” Lani bertanya dengan heboh, terlihat bersemangat untuk mengetahui semuanya. Lani mengguncang-guncang lengan Alisha, mendadak lupa kalau sahabtanya itu sedang sakit sekarang.
Alisha bingung sendiri ingin menjawab apa. Ia alihkan pandangan menatap Alden. Diberikannya tatapan tajam menusuk, seolah kalau bisa ingin sekali ia menerkam Alden sekarang. Seenaknya saja dia membocorkan rahasia yang selama ini mereka tutup rapat.
Kembali menatap Lani dengan tatapan bingung, Alisha mengusap-ngusap tengkuknya. Ia belum menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan ini. Ya ia tahu cepat atau lambat, hal ini pasti juga akan diketahui sahabat-sahabatnya, tapi apa harus sekarang? Badannya tidak mendukung untuk hal itu, bahkan untuk mengucap beberapa kalimat saja ia merasa kepayahan, dan ini harus menjelaskan semuanya? Alisha menghela napas berat.
Tak kunjung mendapat jawaban dari Alisha, Lani berganti menatap Alden dengan tatapan menyelidik ingin tau. “Al, bisa diceritain gimana kronologisnya?”
Yuda yang tadi membeku di tempat, kini kembali melemparkan tatapannya pada Alden, menunggu cowok itu menjelaskan sesuatu. Berita ini sungguh tak terduga. Dari segala pemikiran hal yang ada, tidak pernah terlintas di pikirannya tentang perjodohan yang membuat mereka jadi sedekat sekarang.
Alden baru akan membuka mulut saat dering ponsel di saku baju sergamnya terdengar. Alden meminta izin sebentar untuk mengangkat telepon. “Ya Dit? Gue masih ada urusan sekarang. Gue izin bentar lagi deh, bilangin ke mereka suruh tunggu. Apa? Ke sana sekarang? Gak bisa ditunda aja? Oke oke, ya udah gue ke sana sekarang.”
Alden lalu menutup sambungan teleponnya. Kini ditatapnya satu per satu ketiga orang yang ada di ruangan ini. “Gue sih pengen nyeritain gimana kejadiannya. Tapi kayaknya cerita versi gue bakal beda sama cerita versi Alisha. Jadi mending kalian denger penjelasan dari Alisha aja,” putus Alden akhirnya. Sikapnya masih sama seperti tadi, santai seolah tida beban, berbeda dengan Alisha yang sempat tegang tadi.
“Gue ada urusan, jadi mau pergi sekarang.” Alden menatap Alisha sebentar, padahal sebenarnya ia masih ingin di sini. Tapi karena ada urusan dengan tim basket sekolah, mau tak mau ia harus pergi juga. Tadi sepulang seolah ia memang cepat-cepat pergi untuk ke sini, hanya memberi kabar singkat kalau ia ada urursan. Tapi tadi Dito meneleponnya seolah memberi kabar bahwa waktu menghilangnya sudah habis.
__ADS_1
Lani mengangguk-angguk maklum. “Ya udah Alisha aja yang cerita.” Ia beralih menatap Alisha.
Alden melemparkan tatapan penuh menilai pada Alisha, lalu detik selanjutnya ia kembali memutuskan. “Nanti aja nuntut ceritanya, Lan. Biarin Alisha istirahat dulu.” Alden sebenarnya merasa tak enak hati pada Alisha jika tiba-tiba harus pergi setelah meninggalkan pernyataan yang menggantung. Dia tahu Alisha pasti sedang kebingungan sekarang.
Yuda dan Lani akhirnya sadar, sahabat mereka ini sedang sakit. Lani menghela napas sebentar lalu memasang tampang meminta maafnya pada Alisha. “Oke, kita gak nuntut ceritanya sekarang,” ayo jeda sejenak, “Tapi, inget Sha, lo ada hutang penjelasan ke kita.”
Alisha hanya mengangguk saja, sedikit lega karena tak harus menceritakan sekarang.
“Ya udah gue pamit. Sha, inget jangan lupa makan, entar mati lagi,” ceplos Alden asal yang membuat Alisha kembali dilingkupi rasa ingin segera menimpuknya dengan sesuatu.
Sepeninggal Alden, ketiga makhluk itu terdiam, sibuk akan pikiran masing-masing. Tapi selanjutnya, Lani yang duluan sadar.
“Oh iya, Sha kita nonton drakor aja yuk. Gue bawa kaset baru nih, tadi baru minjem sama Siska,” cerita Lani dengan girang sambil membuka tasnya dan mengeluarkan CD tersebut. “Lo kan butuh waktu istirahat, jadi mending nonton aja biar gue juga bisa nemenin lo tanpa mati kebosanan,” lanjut Lani dengan cengirannya.
Merasa itu adalah pilihan terbaik saat ini, Alisah kembali mengangguk.
Yuda yang sedari tadi diam melihat kondisi, akhirnya bersuara juga. Sejenak ia berusaha mengusir segala pertanyaan yang berkecamuk. “Ya udah lo istirahat aja Sha. Kalo Lani ngacau, usir aja,” ucap Yuda yang disambut pelototan oleh Lani. “Gue pulang duluan ya,” lanjutnya.
“Yah kok cepet banget pulangnya?” tanya Lani duluan sebelum Alisha bersuara.
***
Sampai malam harinya, nyatanya kondisi Alisha tidak membaik juga. Badannya semakin panas dengan dia yang mengeluarkan keringat dingin. Pusing di kelapa pun masih tetap dirasa. Tapi setidaknya perutnya tidak melakukan aksi protes, ya itu pun dikarenakan dipaksa untuk tetap makan dengan jadwal yang ditetapkan seperti beberapa waktu lalu sebelum ia merusak jadwal makannya. Sakit maghnya tidak akan kambuh jika ia mengikuti jadwal makanan sesuai aturan.
Seharian ini, selain ke kamar mandi dan shalat, Alisha hanya menghabiskan waktunya berbaring di atas kasur saja. Sepanjang menonton drakor bersama Lani tadi pun dia masih tetap berbaring.
Kakek yang melihat kondisi Alisha seperti ini merasa cemas. Beberapa hari ini tentu ia tau kalau cucunya ini sedang melakukan sikap protes halus padanya. Tapi ia berusaha untuk mengeraskan hati. Namun saat melihat cucunya terbaring sakit seperti ini, mau tak mau membuat hati Kakek melunak juga.
“Kalau Alisha tidak mau ke dokter, bagaimana kalau Kakek panggil dokter saja kemari?” tanya Kakek yang saat ini sedang duduk di tepi kasur Alisha, sedang melihat bagaimana kondisi cucunya saat ini.
Alisha dengan selimut yang menutup rapat badannya sampai leher, menggeleng pelan.
__ADS_1
“Tapi kondisi kamu belum membaik juga Alisha, malah tambah parah.”
“Nanti juga sembuh kok, Kek,” Alisha mengeluarkan suaranya pelan.
Kakek menghela napas berat. “Kamu masih marah sama Kakek?” tanya Kakek yang langsung membicarakan inti permasalahan mereka beberapa hari terakhir ini.
Alisha diam sejenak, menimbang-nimbang kalimat apa yang sebaiknya ia ucapkan. “Alisha gak marah sama Kakek,” ucap Alisha yang sangat berbeda dari nada yang terdengar. Dari nada suara yang Alisha ucapkan, Kakek mendengar ada nada ketus di sana, terdengar tidak meyakinkan.
“Kalau begitu, kenapa beberapa hari ini kamu sering mogok makan?” tanya Kakek tepat sasaran.
“Gak nafsu makan aja.”
Kakek menggeleng pelan, tak habis pikir dengan sikap keras kepala Alisha saat ini. Tapi bukankah seharusnya ia berkaca? Jelas-jelas sikap keras kepala cucunya itu merupakan turunan sifat darinya sendiri.
Kakek memijit dahinya sebentar. “Kamu tau kan kalau bohong itu dosa, Alisha? Dan Kakek jelas tau kalau kamu sedang berbohong.”
Alisha mengembuskan napas keras. “Dan Kakek juga tau kan apa penyebab Alisha marah ,” kening Alisha berkerut samar, merasa tak suka akan kata tersebut, lalu dikoreksinya kembali kata itu, “ehm ralat, bukan marah, tapi cuma protes. Kakek seharusnya tau apa penyebab Alisha kayak gini,” lanjutnya dengan tampang kesal.
“Alisha, kamu tidak mengerti…”
Bibir Alisha cemberut kesal. Mendadak emosinya tersulut. Ia yang tadi sedang berbaring, kini menegapkan punggung untuk duduk. “Kakek yang gak ngerti gimana perasaan Alisha. Kakek gak ngerti gimana rasanya hidup sendirian tanpa seorang ibu, kakek gak ngerti gimana sedihnya Alisha hidup sendirian….” Alisha tersenyum getir, sekuat tenaga ditahannya air mata yang ingin keluar.
Alisha mendengus samar. “Kakek gak ngerti…. Dan sekarang saat Alisha sudah ketemu sama Mama, Kakek gak ngizinin Alisha hidup normal seperti orang pada umumnya. Kakek jangan egois. Yang sedih karena kematian papa bukan cuma Kakek aja. Aku dan juga Mama juga sedih, Kek. Kenapa Kakek gak berushaa untuk memaafkan aja? Kenapa Kakek membuat ini menjadi lebih rumit? Dibanding untuk mempersatukan lagi keluarga, kenapa Kakek lebih memilih untuk memecah belahnya?”
Runtutan pertanyaan menuntut itu membuat sang kakek membeku. Ia tidak menyangka cucunya yang selama ini manis dan selalu menurut, akan bersikap seperti ini. Dua pertanyaan terakhir seperti menikam tepat di jantungnya. Pertanyaan-pertanyaan itu selama ini juga menghantuinya. Tapi dikarenakan emosi dan segala rasa sakit masa lalu, diusirnya segera pertanyaan-pertanyaan tersebut saat mulai hadir.
Alisha berusaha mengatur napasnya agar kembali normal. Beberapa saat kemudian, ditatapnya kembali sang Kakek. Tapi kali ini bukan tatapan menghakimi yang ia berikan, melainkan tatapan memohon.
“Tolong terima Mama lagi, Kek. Maafin Mama…. Apa Kakek gak kepengen kita hidup kayak dulu lagi? Lagipula sekarang ada cucu Kakek yang lain, ada Bima, adik Alisha.”
Kakek menatap Alisha penuh pertimbangan. Detik selanjutnya ia alihkan pandang dan menghela napas pasrah. “Baiklah kalau itu mau Alisha. Kakek akan mencoba untuk bertemu dengan Mama kamu.”
__ADS_1
Alisha tak berkedip beberapa saat saat mendengarnya. Lalu selanjutnya, ia tersenyum lebar. Ia merasa suntikan semangat masuk ke dalam tubuhnya, membuat badan yang sedari tadi lesu, kini seperti berenergi kembali.
-Bersambung