(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Friend Zone!


__ADS_3

Bab 2 - Stuck on Friendzone, huh?


    Bel pulang berbunyi. Para penghuni ruang kelas XI IPA 3 yang sedari tadi berusaha keras untuk membuat mata mereka terjaga, kini membuka mata dengan sempurna. Ini bukan tanpa sebab. Pelajaran sosiologi –yang masih mereka pertanyakan keberadaanya kenapa masih ada di kelas IPA- yang terletak pada jam terakhir sekolah benar-benar membuat mereka mengantuk. Penempatan pelajaran yang tidak pas.


    Terang saja para siswa yang sudah mulai lelah, tambah terbuai untuk tidur dikarenakan pelajaran yang menurut merek membosankan tersebut. Hanya siswa yang benar-benar serius belajar saja yang masih setia mendengar dan mencatat seluruh materi yang dijelaskan, seperti Alisha misalnya. Tidak peduli itu pelajaran apa, dan membosankan seperti apapun, Alisha hanya tau kalau ia harus bisa mendapatkan nilai terbaik di setiap mata pelajaran.


    Lani yang duduk di sebelah Alisha sudah beberapa kali memejamkan mata dan kepalanya jatuh ke atas meja. Namun ketika bel berbunyi pun, hilang sudah rasa kantuknya yang sedari tadi mendera.


     “Sebelum ke rumah lo, kita mampir ke supermarket dulu ya, Sha,” ucap Lani setelah Bu Paulina menutup materinya. Guru itu keluar kelas diikuti para siswa yang sebelumnya memang sudah menyimpan buku mereka ke dalam tas, tak peduli jika materi pelajaran masih berjalan.


     “Mau beli apa?” tanya Alisha sembari membereskan barang-barangnya yang masih bercecer di atas meja.


     “Biasa, kayak lo gak tau aja, hehe,” jawab Lani disertai senyum lebarnya.


     “Tapi bukannya lo ada ekskul menari hari ini, Lan?” Alisha menatap Lani sebentar dengan kerutan di dahi.


     Alisha ingat kalau hari ini Lani ada ekskul yang ia ikuti. Sementara dirinya? Jangan ditanya. Selain kegiatan sekolah, Alisha tidak punya kegiatan lain di luar rumah. Saat ditanya Lani dan Yuda waktu itu kenapa ia tidak ikut ekskul, Alisha hanya menjawab gak minat. Padahal alasan sebenrnya Alisha gak mau ikut kegiatan yang gak ada Lani dan Yuda di dalamnya. Lagipula gak memungkin kan kalau Alisha ikut gabung ke ekskul yang digeluti sahabatnya itu. Futsal? Jelas Alisha gak bisa masuk dan juga gak mau menari? Alisha sama sekali gak berminat dengan bidang tersebut, berbeda sekali dengan Lani yang tergila-gila pada kegiatan tersebut.


    Cewek berkulit putih pucat ini juga gak ikut bimbel apa pun di luar sekolah. Baginya belajar sendiri di rumah dan diselingin dengan belajar bareng Yuda dan Lani sudah cukup. Sesekali juga ia tidak sungkan untuk berdiskusi langsung dengan guru yang bersangkutan. Kalau beberapa murid akan sungkan untuk bertanya langsung pada guru, berbeda dengan Alisha yang akan terus bertanya sampai ia paham betul tentang materi tersebut. Mungkin murid-murid yang lain menilai kaku dan dingin, tapi guru-guru jelas tidak menilainya begitu. Meskipun lebih sering diam, Alisha terkenal pintar.


    Ia tidak keberatan kalau orang-orang menilainya tertutup, anti sosial, sombong, atau hal apa pun itu. Baginya, keberadaan Lani dan Yuda yang selalu berada di sampingnya itu sudah cukup. Siapa yang butuh orang lain –yang kemungkinan mendekatinya karena maksud tertentu– kalau ia mempunyai sahabat yang sangat menyayanginya dan juga ia sayangi tersebut.


    Lagipula Alisha merasa membuang-buang waktu kalau harus mengikuti tren-tren murid di sekolahnya. Alisha memang bukan jenis manusia followers, yang selalu mengikuti tren terbaru dan kegiatan yang lagi populer. Lebih baik dirinya belajar segiat mungkin agar bisa menunjukkan nilai rapot yang memuaskan pada kakeknya. 


    Lani terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab acuh tak acuh, “Oh iya, gue lupa. Biarin deh.”


     “Lo ikut ekskul aja deh.” 


     “Gak ah. Gak apa kok sesekali bolos. Kan kita bertiga udah janji mau belajar bareng.” 


     “Beneran gak apa?” 


     “Iya, bener,” jawab Lani meyakinkan. 


*** 

__ADS_1


    Sudah hampir lima belas menit Yuda menemani dua cewek ini mengitari supermarket. Katanya mereka tidak lama, paling sekitar sepuluh menit. Tapi, nyatanya?


     “Sini, Sha, gue aja yang bawa keranjangnya.” Yuda mengambil alih keranjang bewarna biru tersebut dari pegangan Alisha.


    Di samping mereka, ada Lani yang sibuk mencari barang entah apa yang Yuda tidak tau.


     “Sha, bantu gue cari vitamin yang biasa kita pake dong,” pinta Lani tanpa menoleh, matanya sibuk meneliti rak-rak yang terpampang di depannya.


     “Oke.” Alisha melangkahkan kaki ke tempat lain. Hanya butuh waktu beberapa detik bagi Alisha untuk menemukan barang yang dicari. Tapi sayangnya benda tersebut terletak di rak yang cukup tinggi. Tangannya berusaha menggapai-gapai benda tersebut.


     “Elo bisa minta bantuan gue kan Sha kalo gak nyampe,” ucap Yuda yang kini telah berhasil meraih benda tersebut dan memasukkan ke keranjang.


     “Ah, iya, thanks, Yud,” kata Alisha disertai senyumannya. Ia berusaha menampilkan senyum senormal mungkin, karena nyatanya jantungnya entah kenapa jadi berdegup kencang saat posisi dirinya dan Yuda tadi sangat dekat. 


*** 


    Katanya, tidak ada persahabatan antara lelaki dan perempuan tanpa melibatkan perasaan cinta. Yang ada hanyalah keduanya memendam rasa atau cinta bertepuk sebelah tangan. 


    Dulu, Alisha jelas akan menyangkal argument tersebut. Tapi sekarang, nyatanya semua itu benar. Walaupun untuk sekarang ia belum tahu berada di posisi mana ia sekarang, yang jelas cewek itu tahu bahwa rasanya pada Yuda lebih dari sekedar sahabat. Alisha tidak tahu pasti sejak kapan rasa itu datang. 


    Seperti saat ini. Alisha diam-diam **** senyum saat tengah menatap Yuda yang sedang serius mengerjakan soal-soal kimia di hadapannya. Walau ia kini juga sedang menatap buku kimia di hadapannya, senyum Alisha terpampang manis saat sengaja melirik Yuda berhenti menggerakkan penanya, lalu telunjuk kanannya ia tempelkan pada hidung. Begitulah Yuda saat tengah bingung akan sesuatu. Ia akan berpikir serius dengan telunjuk yang setia menempel di hidung. 


     “Setahu gue, letak otak itu ada di kepala, bukan di hidung. Bener kan, Sha?” Lani menatap sebentar Alisha untuk meminta persetujuan yang dibalas anggukan kecil dari Alisha. “Eh, tapi gak tau deh kalau itu gak berlaku buat elo.” 


    Yuda menarik telunjuknya. “Gue lagi berpikir. Soalnya agak susah nih,” jawab Yuda lalu meraih gelas jus yang tersedia di meja. 


    Alisha memperhatikan Yuda yang telah selesai minum dengan meninggalkan setengah dari isi sebelumnya. Alisha tersenyum tipis sebelum akhirnya juga berhenti menatap buku dan mengambil gelasnya. Selalu seperti itu. 


    Semua hal tentang Yuda tanpa sadar telah Alisha ketahui. Entah itu karena lamanya kebersamaan mereka selama ini, atau juga karena Alisha yang suka memperhatikan cowok itu. Jika ada yang bertanya tentang Yuda, Alisha pasti akan dengan senang hati mengacungkan tangan untuk menjelaskan semua yang ia tau. 


    Alisha tau kalau Yuda adalah salah satu siswa popular di sekolahnya. Karena selain tampang yang bisa dibilang di atas rata-rata, Yuda juga merupakan ketua tim futsal sekolah mereka. Yuda juga cukup pintar, atau bahkan menjadi sangat pintar pada beberapa pelajaran tertentu, seperti pelajaran kimia misalnya. Yuda juga baik. Ia selalu bersikap baik pada semua orang yang temui, gak pandang bulu. 


    Selain itu, dan yang menurut Alisha paling penting, Yuda punya senyum yang menenangkan. Senyum Yuda selalu menjadi favorit Alisha. Senyum yang mampu membuat ia merasa kalau ia punya orang-orang berharga yang menyayanginya dalam hidup ini. 


     “Sha, ngeliatin apa?” tanya Yuda yang seketika membuyarkan lamunan Alisha. 

__ADS_1


    Cewek itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya memberikan senyuman. “Ah, enggak apa-apa, Yud.” 


    Tapi, sesuka apa pun Alisha pada Yuda, ia tidak bisa mengungkapkannya. Biarlah tetap seperti ini. Tetap berada dalam zona persahabatan yang membuat mereka tetap bisa bersama. Alisha takut kalau perasaannya diketahui, semuanya tak lagi sama. 


     “Jangan suka melamun, entar kesambet, hehe,” canda Yuda lalu kembali meneguk minumannya. 


     “Iya, jangan melamun, Sha. Gue tau kok elo pasti udah eneg belajar ini. Kita bertiga maskeran aja, yuk. Atau sekalian creambath juga boleh. Sekalian medi-pedi juga deh. Peralatannya kan udah kita beli tadi,” usul Lani panjang lebar, tak memedulikan Yuda yang tengah menatapnya dengan tampang masam. 


    Oh, ayolah, apa cewek ini lupa kalau ada cowok di sini? Atau mereka menganggap kalau Yuda ini bukan cowok? 


     “Tapi gue lagi males ah, Lan. Pegel badan gue kalau kayak gituan,” jawab Alisha yang membuat Yuda sedikit menormalkan ekspresinya. Setidaknya Alisha masih berpihak padanya, masih menganggap kalau ada cowok di sini yang perlu diakui keberadaannya. 


    Lani cemberut sebentar lalu memasang tampang memohonnya. “Ayolah, Sha, kan enak kalau perawatannya gak sendirian, bisa saling gantian gitu. Kita belajarnya udah cukup lama juga, bosen tau.” 


    Lani ini memang suka banget ngelakuin perawatan sejenis itu. Jadi gak heran kalau penampilannya selalu rapi dan wangi, semakin menampilkan dirinya yang memang terlihat cantik. Tapi, berbeda dengan Lani, Alisha agak malas melakukan hal tersebut. Padahal kalau dibandingkan, Alisha ini gak kalah cantik. Malah akan lebih cantik kalau cewek itu suka melakukan perawatan seperti yang Lani lakukan.


     “Iya, deh. Beresin dulu buku-bukunya,” putus Alisha akhirnya.


     “Yeay!”


    Yuda yang sedari tadi memperhatikan akhirnya bersuara. “Gue pulang sekarang, ya,” ucap Yuda yang mengehentikan aksi dua cewek yang tengah beres-beres tersebut.


     “Kok balik?” tanya Alisha.


    Yuda menjawab pertanyaan tersebut dengan menatap Alisha. Ditatapnya Alisha dengan pandangan yang seolah berkata ya-lo-pasti-tau-alesannya.


    Seakan mengerti, Alisha hanya tertawa kecil dan menjawab, “Ya udah deh.”


     “Gak asik lo, Yud,” timpal Lani.


     “Have fun, girls.” Lalu Yuda pun pamit dan meninggalkan rumah besar itu.


    Sepeninggal Yuda, Lani bergegas menarik tangan Alisha untuk menuju kamar Alisha, ia bertingkah seolah ini rumahnya saja. Tapi jelas Alisha tidak keberatan, malah ia senang karena Lani bersikap begitu menyenangkan.


     “Oke, mari kita mulai ritualnya!” seru Lani bersemangat sembari menatap peralatan di depannya. Berbeda sekali pada tampangnya beberapa menit yang lalu, saat sedang belajar kimia. Sekarang Lani kembali bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2