(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Risau?!


__ADS_3

    Cinta pertamanya Alden? Alisha membeo dalam hati. Jadi, ternyata Alden juga pernah punya rasa sama orang lain…. Satu fakta ini ternyata merupakan hal yang benar-benar baru bagi Alisha. Ia kira selama ini cowok itu sibuk bermain-main saja, tidak pernah menduga orang tengil macam Alden bisa juga merasakan first love.


    Alisha sibuk berpikir. Setelah ia telaah lebih jauh lagi, memangnya selama ini apa yang ia tau tentang Alden? Selama ini ia hanya sibuk akan permasalahannya sendiri, seolah tidak ada waktu lagi untuk sekedar memperhatikan orang yang tanpa ia sadari kalau selama ini selalu menemaninya.


    Dan dilihat dari bagaimana Alden mau membantu si Karla itu, entah kenapa ada sesuatu yang salah di hatinya. Tapi dengan cepat segera ditepisnya segala rasa aneh itu.


     “Sha, kok bengong?” Neola kini menoleh ke Alisha dan menyenggol pelan lengan cewek berkulit putih pucat itu.


    Alisha mengerjap sebentar, menarik dirinya kembali dari segala pikiran yang berkecamuk. “Ah, gak apa kok.”


    Neola perhatikan sekilas raut muka sosok di sampingnya ini. Ia berusaha membaca arti dari ekspresi yang ditunjukkan Alisha. Tapi nihil. Ia sama sekali tidak bisa menduga apa yang sedang dipikirkan Alisha saat ini. Ekspresi Alisha terlalu datar, ya as always…. Yang terkadang Neola bertanya-tanya sendiri, kok Alden bisa sering menduga dengan benar apa yang Alisha rasakan.


    Detik selanjutnya Neola kembali menoleh ke depan. Alden dan Karla sudah tidak terlihat lagi. Neola sengaja diam sejenak, menunggu reaksi Alisha selanjutnya. Tapi yang ditunggu tak kunjung juga memberikan respon, tetap diam tanpa mengeluarkan suara apa pun lagi. Neola mendengus pelan, merutuki kebodohannya karena menunggu Alisha untuk bereaksi lebih lanjut. Memangnya apa yang ia harapkan? Alisha yang bertanya-tanya kepo gitu tentang si Karla? Ya gak mungkin lah. Baiklah, sepertinya ia sendiri yang harus bercerita.


     “Iya, waktu itu Alden sempet suka sama Karla. Suka dalam artian yang emang bener suka, bukan main-main kayak yang lo tau selama ini di sekolah.” Neola mulai bercerita, lalu berhenti sejnak utuk melihat reaksi Alisha. Tapi ya sama seperti tadi, Alisha hanya tetap diam dengan ekspresi tak terbacanya.


     “Karla ini waktu itu rumahnya tepat di sebelah rumah kami. Tapi beda sekolah. Sebenarnya umur Karla lebih tua setahun dari kami, tapi karena udah deket banget jadi panggil nama aja. Alden deket banget sama dia. Alden emang suka sama Karla, tapi dia kayaknya gak pernah nyampein dengan benar. Eh giliran Karla jadian sama orang lain dan pindah rumah, baru deh si Alden nelangsa. Dan eh tiba-tiba Karla muncul lagi di sini setelah sekian lama gak ada kabar.” Neola pun mengakhiri ceritanya sambil menghela napas.


     “Tapi itu kan udah berlalu. Alden sekarang udah dijodohin sama elo,” sambung Neola sambil tersenyum lebar dan menepuk-nepuk pundak Alisha. Sementara Alisha sendiri, ia masih sibuk mencerna informasi yang diberikan Neola barusan.


     “Dasar ya si Alden kampret! Mana coba dianya? Kita udah sejaman nungguin dia di sini, eh tapi belum nongol-nongol juga. Nomor hapenya gak bisa dihubungi lagi.” Neola merutuk sebal. Ia menghentakkan kakinya dengan sebal, lalu sibuk berjalan mondar-mandir lagi dengan gelisah.


    Alisha yang duduk di bangku taman, melihat pergerakan Neola dengan pusing. “Tunggu aja bentar lagi, La. Lo mantep-mantep gih. Gue pusing lihatnya.”


    Sekarang mereka berdua masih berada di taman kota, lebih tepatnya di pinggiran taman yang berdampingan langsung dengan jalanan aspal, sehingga kendaraan yang berlalu-lalang pun dapat terlihat.


Selesai berburu buku-buku tadi, Neola segera menelepon Alden. Tapi itu cowok ponselnya gak aktif, jadilah si Neola misuh-misuh begini. Apalagi sekarang sudah satu jam berlalu. Sekarang sudah hampir jam tujuh malam, dan mereka masih saja terpaksa tinggal di sini.


    Neola menghentikan aksi mondar-mandirnya. “Ini udah lama, Alisha. Alden bilang kan gak bakal lama-lama dan bakal balik ke sini lagi buat jemput kita. Ini udah lebih dari dua jam sejak dia pergi, tapi belum balik-balik juga. Ngapain sih tu anak?” Neola lalu kembali memainkan ponselnya untuk menghubungi Alden, tetapi lagi-lagi nomor hapenya tidak aktif. “Nomor hapenya masih aja gak aktif,” kesalnya.


    Bisa dibilang ini kali pertamanya Alden tidak menepati omongannya. Karena dari yang Alisha tahu selama ini, Alden itu selalu menepati omongannya. Tapi kali ini… entah apakah karena si Karla itu, Alden tidak menepati janjinya.


    Lalu Alisha kembali teringat akan omongan Neola tadi. Tapi itu kan udah berlalu. Alden sekarang udah dijodohin sama elo.


    Tanpa Neola sadari, Alisha tersenyum kecut. Memang berpengaruhkah jika Alden sudah dijodohkan dengannya? Dia dan Alden kan sama-sama tau kalau tidak ada yang benar-benar serius ingin mempertahankan perjodohan konyol ini. Lalu kenapa Neola berharap perjodohan ini bisa menjadi tameng agar Alden tak kembali mengejar si Karla Karla itu?

__ADS_1


     “Argh Alden nyebelin dah! Karla juga ngapain sih sama Alden sampe-sampe nahan sodara gue buat balik,” gerutunya. Neola akhirnya mendaratkan bokongnya di samping Alisha. Ponsel yang sedari tadi ia pegang, kini disimpan di saku celana.


    Alisha lalu menoleh ke Neola dan mengamati sekitar. Hari sudah malam, kalau ia tidak cepat pulang, mamanya pasti akan khawatir. “Gimana kalau kita pulang sendiri aja?” usul Alisha akhirnya.


    Neola menimbang-nimbang sebentar. “Hm, iya deh, kayaknya kita pulang sendiri aja. Tuh kunyuk satu ditungguin dari tadi belum nongol-nongol juga. Kita pesan taxi aja ya?”


    Alisha mengangguk menyetujui. Tapi belum sempat Neola kembali meraih ponselnya, sinar lampu yang menyilaukan mengenai pandangan mereka. Sontak kedua cewek itu menggerakkan tangan untuk menutupi mata dari silaunya. Lalu detik setelahnya, sinar lampu mobil tersebut mati, berganti dengan suara mobil yang terbuka lalu tertutup.


     “Hei… kalian ngapain di sini?”


    Alisha dan Neola sama-sama menoleh ke sosok yang sudah berdiri di dekat mereka itu. Lalu keduanya pun sama-sama tak menyangka jika orang tersebut adalah Yuda.


    Neola melirik Alisha dan Yuda bergantian. “Kami tadi habis ke bazar buku yang ada di sini. Sekrang mau pulang, nih mau nelepon taxi,” jelas Neola singkat.


     “Iya, kita mau pulang sekarang. Lo sendiri ngapain di sini, Yud?” tanya Alisha.


     “Hampirin kalian?” jawab Yuda bingung.


     “Eh iya juga sih, maksudnya kok bisa pas ada di sini?” ulang Alisha.


     Kini Alisha dan Neola sama-sama saling melempoar tatapan lagi.


     “Mau gak?” tanya Yuda lagi.


    Neola mengangguk pelan. Alisha lalu kembali menoleh ke Yuda. “Ehm, oke….”


***


    Yuda fokus menatap jalan di depan sambil menyetir. Mereka baru saja mengantarkan Neola ke rumahnya. Dan benar seperti dugaan Alisha dan Neola, Alden belum juga pulang ke rumah, karena terlihat dari halaman rumah yang sama sekali tak menampakkan mobil yang dikendarai Alden tadi.


    Alisha sedari tadi hanya diam sambil menoleh ke samping, menatap jalanan tanpa benar-benar mengamatinya.


     “Mau makan dulu gak, Sha?” tanya Yuda memecah keheningan di antara mereka.


    Alisha melirik sekilas. Lalu tanpa pikir panjang lagi, ia menjawab,” Nggak usah, Yud. Gue mau langsung pulang aja.”

__ADS_1


    Ada kerutan samar di dahi Yuda saat mendengar jawaban itu. Ia alihkan pandang sebentar untuk melihat ekspresi datar Alisha. Setelah itu, kembali ia menatap jalanan di depan. “Hem, oke,” ucap Yuda yang tanpa Alisha sadari ada nada ragu di sana.


    Sepertinya Alisha sedang ingin sendiri saat ini. Soalnya biasanya kalau diajak sama Yuda, Alisha gak bakalan nolak, tapi kali ini berbeda. Padahal Alisha habis berbelanja buku, tapi kenapa mood-nya begini?


    Sementara Alisha sendiri juga sedikit terkejut akan jawabannya. Entahlah. Tiba-tiba ia merasa tidak terlalu nyaman di sini. Ia ingin cepat-cepat pulang dan beristirahat saja. Seperti ada sesuatu yang salah, sesuatu yang bukan keinginan hatinya. Padahal biasanya, menghabiskan waktu berdua dengan Yuda adalah favoritnya. Tapi entah sejak kapan, hal tersebut tidak lagi dirasakannya.


***


    Keesokan harinya, kedatangan Alisha di kelas disambut oleh pandangan menyipit dari Lani. Sahabatnya itu sudah duduk manis di tempat duduknya, tapi tatapannya terus mengikuti pergerakan Alisha.


    Alisha mengedikkan dagunya. “Kenapa, Lan?” tanya Alisha setelah duduk.


    Lani bersedekap dengan posisi kaki menyilang. Arah duduknya sengaja dihadapkan tepat menghadap Alisha. “Lo nggak ngerasa ada hutang sesuatu gitu ke gue?” Lani berusaha memancing ingatan Alisha.


    Alisha berpikir sebentar. “Kayaknya nggak ada, Lan,” jawabnya kemudian.


    Lani semakin memicingkan matanya. Ia merengut sebal. “Ck lo ini kadang gak pekanya bener-bener gak ketolong, Sha.”


    Wah, wah si Lani bahas-bahas masalah gak peka nih. Emang ada apa sih? Sontak Alisha mengangkat salah satu alisnya, menunggu penjelasan lebih lanjut.


     “Ini udah lewat beberapa hari, Sha. Gue kemaren-kemaren emang sengaja gak nanya-nanyain lagi tentang hal itu, sengaja ngasih lo waktu dulu buat nyelesain masalah lo. Tapi berhubung masalah keluarga lo udah beres, dan lo belum juga mau cerita ke gue, ya jadi gue tagih hutang penjelasan lo,” ucap Lani panjang lebar, tapi terdengar agak mutar-mutar di telinga Alisha.


    Baru saja Alisha ingin meminta Lani langsung to the point saja, ingatan tentang perjodohan itu muncul. Ah, Lani pasti sedang menagih penjelasan tentang ia yang dijodohkan dengan Alden.


     “Oh iya, hutang penjelasan yang itu. Duh maaf, Lan, gue belum sempat cerita ke lo,” ucap Alisha merasa bersalah.


     “Maaf diterima asal lo mau ceritain sekarang,” putus Lani dengan tampang seriusnya.


     “Tapi… emang mesti ya ceritanya di sini?” tanya Alisha yang merasa kalau suasana kelas sudah ramai.


    Lani lalu ikut melihat sekitar. Ah iya juga ya. Mereka kan mau bahas masalah yang privasi, gak enak kalau bahasnya di kelas. Bel masuk juga bentar lagi berbunyi.


     “Ya udah, nanti pas istirahat kita ke taman belakang aja. Dan lo mesti cerita semuanya. Semuanya tanpa ditutup-tutupi lagi, oke?”


     “Oke,” jawab Alisha sambil mengangguk yakin. Lalu setelahnya ia sibuk memikirkan kalimat-kalimat yang tepat untuk dikatakan nanti.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2