(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Tidak Sebercanda Itu!


__ADS_3

Ruang kelas itu nyaris kosong. Hampir tidak ada satu murid pun yang terlihat masih berada di dalamnya. Tentu saja, bel pulang sekolah yang dinanti-nanti sudah berbunyi sekitar sepuluh menit yang lalu. Hanya tertinggal meja-meja dan kursi-kursi yang kosong, tidak ditempati seperti biasa.


    Tapi dari semua deret kursi yang kosong tersebut, terlihat mencolok sebuah tas yang masih setia berada di tempatnya. Sementara pemilik tas tersebut terlihat sedang sibuk memegang sapu di depan kelas. Alisha menyapu ruang kelasnya dalam hening, atau mungkin dengan pikiran yang berkelana.


    Ia bahkan tidak takut sama sekali berada sendirian di ruang kelas ini. Toh menurutnya masih ada anak-anak ekskul paskibra yang setia berdiri di lapangan. Dan juga masih ada beberapa anak organisasi lain yang sibuk akan tugasnya di gedung sekolah ini.


    Bukan tanpa alasan Alisha tiba-tiba menjadi rajin seperti ini, membersihakn ruang kelas tanpa ada yang menyuruh. Murid-murid yang piket besok pasti terkejut mendapati ruang kelas yang sudah bersih, tidak seperti kapal pecah seperti biasa saat mereka belum memulai ritual membersihkan kelas.


    Alisha melakukan ini sebagai pembelaan untuk menyibukkan diri. Ia sekarang sedang dilingkupi perasaan lelah dan menyakitkan. Tadi saat sepulang sekolah, Lani bilang ia akan pergi bersama Kak panji untuk ke toko buku. Alisha nyaris saja ikut bergabung tadi. Tapi niatnya hilang sudah saat mendapati Yuda juga ingin ikut bergabung.


    Kalau dalam keadaan biasa, Alisha pasti akan senang-senang saja. Tapi tadi itu berbeda. Yuda ingin ikut karena pasti tidak terima kalau Lani pergi dengan Kak Panji. Dan ia, ia tidak setegar itu untuk menbiarkan perasaannya kembali terluka melihat Yuda yang berusaha menarik perhatian Lani meski saat Lani bersama Kak Panji


    Ia tau Yuda pasti tidak akan bisa menutupi rasa tidak sukanya. Mungkin Lani tidak bisa menyadarinya. Tapi Alisha, ia jelas dapat menyadari hal tersebut dengan jelas. Sangat jelas malah, hinga membuat hatinya merasa sakit.


     “Kenapa gak mau ikut, Sha?”


    “Iya, tumben gak mau. Kita mau ke toko buku lho, satu-satunya tempat yang lo pandangi dengan tatapan menakjubkan.” Begitu kata Yuda dan Lani saat dirinya menolak ikut.


     “Gue ada urusan sama Kakek pulang sekolah ini.” Begitu jawaban Alisha saat tadi.


    Jelas saja ia berbohong. Kakeknya hari ini sedang sibuk keluar kota mengurusi pekerjaan. Sepertinya untuk menutupi dan menjaga perasaannya, akhir-akhir ini Alisha jadi sering berbohong. Ya soalnya selain jawaban tersebut, ia merasa tidak punya alasan lain lagi. Ingin bilang yang sebenarnya? Jelas tidak mungkin. Ada persahabatan mereka yang ia taruhkan jika berani mengungkap semuanya.


    Alisha masih terus menyapu sampai menuju dekat pintu. Diraihnya serokan sampah untuk menampung debu serta sampah yang terkumpul.


    Sedangkan beberapa meter dari tempat Alisha berdiri, ada cowok yang sedang berlari-lari di koridor. Suasana yang lengang semakin membuatnya bebas untuk berlari, menghindar dari kejaran dua orang di belakangnya. Cowok itu menoleh sekilas ke belakang sambil tertawa.


     “Tangkep gue, baru gue balikin ke lo!” teriaknya memecah keheningan koridor sekolah.


     “Alden! Berenti coeg! Rese lo ah!” Di belakang Alden, terdapat Dito dan Dimas yang ikut berlarian mengejar cowok itu.


    Saat melihat ada pintu kelas yang terbuka di depannya, Alden berniat masuk ke dalam. Ingin bersembunyi dari dua kunyuk temannya itu. Ia berlari dan memasuki kelas dengan terburu-buru, tak menyadari kalau ada Alisha di dekat situ yang sedang sibuk memasukkan sampah ke selokan.


    Akibatnya, Alden jadi tersandung gagang selokan tersebut. Membuat Alisha terkejut dan memekik tertahan. Refleks ia mundur ke belakang untuk menghindar. Selang dua detik kemudian, ikut masuk Dito dan Dimas dengan berlari. Kedua cowok itu langsung menghampiri Alden dan menangkap cowok itu.


     “Dapet juga lo akhirnya!” seru Dito sambil ikut jongkok di samping Alden yang sudah terkapar di lantai kelas.


     “Ayo, Dit, kita gelitikin Alden ampe dia kencing di celana. Kan lumayan kita ditraktir makan dan kunci motor lo dibalikin sama dia!” sahut Dimas yang ada berhadapan dengan Dito.


    Alden sendiri sulit mengelak. Ia tertawa terbahak-bahak sambil berusaha menepis tangan-tangan temannya yang berusaha menggelitikinya. Bahkan rasa sakit akibat tersandung selokan sampah tadi tidak terada di dirinya.

__ADS_1


    “Woy, Stop! Sakit perut gue!” seru Alden di sela-sela tertawa gelinya. “Alisha, bantuin gue dong!”


    Kepala Alisha mendadak tambah pening. Tiga orang ini tiba-tiba saja menerobos masuk memecah keheningan yang selama ini menemaninya. Membuat suasana kelas kembali ramai akan berisik yang mereka buat.


    “Oy, stop! Gue balikin nih Dit kunci motor lo. Gue traktir juga. Kan gak lucu kalo gue sampe ngompol di depan Alisha.”


    Mulut Alisha sedikit ternganga mendengarnya. Bibirnya sedikit berkedut.


    Dito dan Dimas menyudahi penyerangan mereka. Memang, cara paling ampuh untuk membuat Alden menyerah itu adalah menggelitikinya.


    Alden lalu bangkit berdiri. “Parah lo berdua, hobi banget gelitikin gue sebagai penyerangan,” gerutu Alden sambil merapikan seragamnya yang berantakan.


     “Siapa suruh lo iseng dan nantangain, haha,” jawab Dito dengan tawa kemenangannya.


     “Keroyokan lo pada,” dumel Alden.


     “Biarain, yang penting menang,” jawab Dimas puas.


     “Ekhem!” Alisha sengaja berdeham keras, ingin membuat ketiga cowok itu sadar kalau ada dirinya di ruangan ini yang bertindak sebagai penonton.


     “Tuh liat Al, sampahnya balik berserakan gegara lo,” tuding Dito yang duluan menyadari kalau serokan sampah sudah jatuh berguling, menumpahkan isinya yang susah payah Alisha kumpulkan.


     “Maaf gak membuat sampahnya kembali berkumpul kayak tadi,” ketus Alisha.


     “Wah kita gak ikut campur ya,” timpal Dimas sambil melangkah mundur.


     “Bener. Salah lo itu, Al. Dah kita mau balik, ditunggu traktirannya besok. Titip Alden, Sha.” Setelah berkata seperti itu, tanpa ba-bi-bu lagi Dito dan Dimas segera ngacir keluar kelas.


     “Gue bantuin beresein kok. Tenang aja,” ucap Alden kalem sambil memamerkan cengiran khasnya.


     “Ya udah, gih beresin.”


    Alden segera mengambil alih sapu yang berada di tangan Alisha. “Puteri es baik bener mau ngebersihin kelas sendirian,” ucap Alden tanpa rasa bersalah, sambil menyapu ia mengucapkan hal itu.


    Entah itu pujian atau ledekan untuk Alisha.


     “Gak usah banyak komentar, Al. gara-gara lo sampahnya kembali berantakan tu.”


     “Kan gue beresin, Alisha. Gue tangguk jawab. Sekalian nemenin lo gitu. Sendirian pasti gak enak kan? Untung gue ke sini, jadi lo gak kesepian,” ucap Alden disertai kekehannya.

__ADS_1


    Alisha tetap diam di tempatnya. Mood-nya belum terlalu bagus untuk menanggapi Alden.


     “Sudah nyapu ini mau ngapain?” Alden menoleh ke Alisha. “Ngepel? Gue bantuin, tenang, gue ahli kok dalam hal begituan, lo bisa ngandelin gue. Eh, terus kursi-kursinya mau diangkat ke atas meja gak? Terus sekalian isi spidol, nyemprot-nyemprot pengharum ruangan gitu di sini,” kata Alden panjang lebar yang segera memenuhi indera pendengaran Alisha.


    Sepulang membersihkan kelas tadi, Alisha dan Alden memutuskan untuk belajar matematika saja. Alisha dengan motornya kembali menuju rumah Alden. Kali ini ia bawa motor seperti biasa, jadi gak nebeng ke Alden lagi kayak waktu itu. Di sana sudah terdapat Neola yang telah sampai di rumah duluan.


    Sama seperti waktu itu, Tante Riani menyambut ia dengan tangan terbuka. Neola pun juga ikut bergabung ke acara belajar mereka. Beruntung tadi ada pelajran Pak Rubandi di kelas, sehingga buku catatan dan latihan matematika Alisha masih ada di dalam tasnya, sehingga ia bisa jadi meminjamkan kepada Alden.


    Kalau Alisha boleh berkomentar, Alden ini gak terlalu sulit menangkap apa materi yang ia coba ajarkan. Dia juga serius untuk belajar, sikap tengilnya jarang keluar saat mereka tengah belajar bersama. Ya walau terkadang sikap itu masih muncul saat ia mulai pusing untuk melanjutkan.


    Dua jam sudah berlalu. Mereka pun memutuskan untuk menyudahi acar bekajarnya. Alisha segera berpamit untuk pulang. Karena kali ini Alisha bawa motor Alisha sendiri, Tante Riani tidak bisa memkasanya untuk pulang diantar Alden.


     “Hati-hati bawa motornya ya, Alisha. Jangan ngebut-ngebut,” pesan Tante Riani saat Alisha berpamit pulang.


    Meskipun saat berhadapan dengan Alden, sikap dingin dan ketusnya masih keluar, tapi saat bertemu tante Riani, ia berusaha bersikap manis. Anggap saja ia menghormati keluarga Alden, bukan karena hubungan perjodohannya dengan Alden dapat ia terima. Ah perjodohan, bahkan Alisha mulai melupakan hal tersebut dan bersikap untuk tak lagi peduli. Suatu saat nanti salah satu dari mereka pasti kan punya orang spesial yang harus diakui keberadaannya, sehingga perjodohan bisa mereka minta untuk dibatalkan.


***


    Kenapa dia masih mau dekat-dekat sama Alisha walau sikap cewek itu tak begitu ramah? Bahkan terkesan menolak terang-terangan.


    Hal tersebut masih menjadi pikiran Alden. Ia berguling telentang dengan kedua tangan dilipat di belakang kepalanya. Ditatapnya langit-langit kamar yang ia hias dengan hiasan bintang-bintang. Yang jika lampu kamar dimatikan, maka tempelan bintang-bintang itu akan bercahaya.


    Dia sendiri bingung akan jawabannya. Dia merasa hanya ingin membuat cewek itu mengeluarkan ekspresinya, tidak datar seperti patung hidup. Itu saja. Lagipula ia tidak keberatan dengan sikap Alisha yang dingin dan ketus itu. Semakin ke sini, ia mulai terbiasa dengan sikap cewek itu.


    Pintu kamarnya diketuk, sedetik kemudian Neola membukanya dan masuk ke dalam.


     “Al, pinjem catetan Alisha dong,” pinta Neola sambil duduk di kursi dekat meja belajar.


    Alden beranjak duduk. “Tu ambil di sana.” Tunjuk Alden pada tumpukan buku paling atas di dekat Neola. Segera Neola meraih buku tersebut.


    Belum beranjak untuk pergi, Neola masih tetap duduk di tempatnya. “Masih mikirin soal pertanyaan gue waktu di GOR itu ya?” tanya Neola mnegingat kalau saat itu Alden tak bisa menjawab pertanyaannya.


    Alden berdecak dalam hati. Terkadang Neola ini seperti cenayang. Apa ini karena ikatan batin mereka yang kuat?


    “Lo udah tau jawabannya,” jawab Alden malas, merasa tak ada gunanya untuk berbohong.


    Neola mengangguk paham. “Apa pun alesan lo, gue cuma berharap lo gak main-main aja di sini, sama kayak sikap lo ke cewek-cewek yang lain, dulu. Karena lo tau kan, perasaan gak sebercanda itu,” ucap Neola hati-hati, yang tau sekali apa makna dari kalimat terakhir yang ia ucapkan buat Alden.


    Perasaan gak sebercanda itu. Bukan hanya untuk Alisha saja kalimat itu, tapi juga untuk Alden sendiri. Membuat sekelebat ingatan masa lalunya kembali hadir.

__ADS_1


__ADS_2