(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
His First Love


__ADS_3

     Beberapa hari ini seperti ada pelangi yang menaungi Alisha. Cewek itu terlihat berbeda dari biasanya. Ia bahkan beberapa kali melempar senyum pada teman-teman kelasnya, membuat mereka terbengong-bengong karena sang puteri es mau tersenyum ramah seperti itu.


     Jelas saja Alisha menjadi bahagia. Mama beserta Bima sudah tinggal di rumahnya saat ini. Semua barang-barang mereka semuanya sudah dipindahkan ke rumah Alisha. Kakek pun menyambut mereka dengan baik. Meski kadang sedikit kaku saat kedua orang itu bersinggungan, tapi Alisha yakin perlahan namum pasti keduanya akan kembali terbiasa.


     Kakek Alisha pun menjadi tertular sindrom bahagia Alisha. Dari yang Kakek amati beberapa hari ini, Alisha terlihat bahagia sekali bisa berkumpul kembali bersama sang mama dan sang adik, membuat Kakek tersenyum lega. Ia sekarang menjadi lebih tenang jika harus meninggalkan Alisha sendirian di rumah saat ia ada urusan bisnis di luar kota.


     Pagi ini Alisha beserta Bima dan Mama sedang sarapan bersama di meja makan. Kakek kembali sibuk mengurusi pekerjaan di luar kota, jadilah mereka bertiga saja saat ini. Sarapan kali ini mama Alisha sendiri yang memasak, bukan Bi Mari seperti biasanya.


     “Alisha, nanti di sekolah jangan lupa makan ya. Nanti magh-nya kumat,” ingat sang mama saat mereka tengah sarapan.


     “Iya, Ma,” jawab Alisha setelah memelan makanannya.


    Bima mengerjap polos. “Magh itu apa?”


     “Magh itu sakit yang kita rasain pas telat makan, sayang,” jelas Mama singkat.


    Bima mengangguk seolah sudah benar-benar paham. “Kalo gitu Bima juga gak boleh telat makan. Kakak pasti suka bandel sampe telat makan, iya kan?”


     tersenyum kecil. “Nggak dong, Kakak gak bandel, cuma kadang ada beberapa hal yang ngebuat kakak males makan.


    Bima menggeleng-geleng tak habis pikir. “Makan aja males, ckckck Kakak ini. Padahal kalo Bima, jelas gak bakal nolak kalo ditawari makanan, apalagi pake acara males makan. Bima kadang gak ngerti sama pemikiran orang gede.”


    Mama dan Alisha sama-sama tertawa kecil. “Ya udah kamu cepet makannya, biar bisa pergi bareng Kak Alisha.”


    Ya, semenjak mama dan Bima tinggal di sini, Alisha jarang bawa motor sendiri. Mama akan mengantar jemput mereka, hal kecil yang selama ini selalu Alisha rindukan. Bima yang masih kelas satu SD, juga pergi pagi sama seperti Alisha. Jadi setelah mengantar Bima, baru mengantar Alisha ke sekolah.


     “Alisha, Alisha!” Dengan berlarian di koridor sekolah, Neola berteriak-teriak memanggil Alisha yang berjalan jauh di depannya. Cewek itu dengan cepat berlari serta menyelip-nyelip di antara kermaian koridor karena bel pulang baru saja berbunyi.


     “Alisha, tungguin!”


    Merasa ada yang meneriaki namanya, Alisha menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, mendapati Neola yang tinggal berjarak beberapa meter lagi darinya.


     “Gue panggil-panggil kok gak noleh sih Sha?” ucap Neola langsung setelah sampai di depan Alisha.


     “Maaf, gue gak denger La,” ucap Alisha memasang tampang meminta maafnya.


     “Iya deh.”


     “Lo kenapa manggil-manggil gue? Ada berita penting ya?” Mereka berdua kini kembali berjalan pelan keluar gedung sekolah.


     “Ehm enggak juga sih. Gue mau ngajak lo ke taman kota sore ini.”


     “Taman kota?”

__ADS_1


     “Iya. Di sana lagi ada bazar buku lho, Sha. Sekalian juga kita jalan-jalan sore di sana sambil cari-cari buku,” kata Neola semangat, tau kalau Alisha sangat suka membaca.


    Benar dugaannya, Alisha langsung memasang ekspresi tampak tertarik. “Wah ada bazaar buku. Jam berapa mau ke sana?”


    Neola berpikir sebentar. “Jam setengah empatan lah, abis shalat asar. Gue jemput ke rumah lo ya, biar pulang perginya bisa barengan.”


     “Oke, nanti dateng aja ke rumah gue,” setuju Alisha.


    Sore hari ini rumahnya memang sedang sepi. Mama dan Bima sedang tidak ada di rumah. Mama ada urusan pekerjaan dengan koleganya, sementara Bima dia ada les piano.


    Alisha baru tau kalau ternyata selama ini adiknya itu bisa bermain piano walau masih sedikit-sedkit. Bahkan di rumahnya sekarang sudah terdapat sebuah piano berwarna hitam yang mereka bawa saat pindah ke rumah. Jadi Alisha sekarang ada kegiatan lain selain membaca buku di rumah saat sedang bosan, yaitu menemani adiknya bermain piano. Rasanya menyenangkan saat di rumah ia tidak sendirian lagi. Keberadaan Bima sangat menghiburnya di rumah.


     “Oke, gue sama Alden bakal jemput ke rumah lo sore nanti.”


     “Huh? Alden?”


    Neola mengangguk cepat. “Iya, kita perginya bareng Alden juga. Gak apa, kan?”


     “Gak apa sih. Cuma emang Alden mau ikut? Kita kan bukan cuma mau jalan-jalan aja di sana, tapi mau ke stand bazar buku juga. Entar dia gak betah,” ucap Alisha menyampaikan pemikiran mengganjalnya.


     “Jelas dia mau ikut lah. Apalagi ada elo, Sha. Gak kok, dia gak bakal kebosenan, tenang aja, dia juga gak bakal ngerengek-rengek buat pulang kok kalau kita keasikan cari buku,” jelas Neola semangat.


***


    Tapi sekarang sepertinya tidak lagi. Ada Alden dan Neola yang turut masuk ke kehidupannya, membuat ia ada tempat lain untuk berbagi. Tapi bukan berarti ia melupakan sahabat-sahabatnya. Hal itu jelas tak mungkin terjadi. Alisha sangat menyayangi kedua sahabtanya itu, bahkan saking sayangnya ia rela mau mengubur dalam-dalam perasaan sukanya pada Yuda.


    Ah mengingat Yuda, Alisha jadi sedikit bingung akhir-akhir ini dengan cowok itu. Yuda bersikap lebih perhatian dan terkesan suka muncul saat ia dan Alden sedang bersama. Seperti ada sesuatu yang terjadi di antara Yuda dan Alden yang tidak Alisha ketahui. Tapi Alisha berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Karena kalau ia membiarkan hal tersebut, ia takut hatinya akan kembali goyah, dan perasaan yang ia tata sedemikina rupa agar berhenti menyukai Yuda, menjadi berantakan.


     “Sha, itu stand bazaarnya,” Neola tiba-tiba berucap. Ia menunjuk sebuah tempat. Alisha segera tersadar dari lamunannya dan ikut menatap arah yang Neola tunjukkan. “Tuh rame kan? Yuk kita cepet ke sana,” ajak Neola sambil menarik sebelah tangan Alisha agar mengikuti. “Lo juga ikut Al, jangan ngilang ke mana-mana,” sambung Neola yang berucap pada Alden.


     “Iya, Ndoro.” Alden ikut mengikuti langkah kedua cewek itu yang menyerupai berlari. Terlihat Alisha yang berusaha mengimbangi langkah cepat Neola. Diam-diam, Alden tersenyum. Entah sejak kapan mengamati Alisha adalah hal favorit yang sering ia lakukan tanpa sadar.


    Alden hanya berdiri sambil melihat buku-buku tersebut dengan tak minat. Ia memang tidak terlalu suka membaca. Tapi berbeda dengannya, Neola dan Alisha terlihat asik sekali melihat-lihat buku yang ada.


    Alden lalu memundurkan langkahnya, merasa tak sanggup lagi untuk berlama-lama di sana. Lagipula sedari tadi ia merasa diacuhkan oleh kedua orang itu. Tapi meskipun menjauh, ia tetap berdiri di posisi aman, posisi di mana ia bisa melihat dan mengamati kedua cewek yang seolah tenggelam dalam dunianya sendiri. Alden menggeleng pelan, merasa tak habis pikir tentang kedua orang itu yang begitu menyukai membaca buku.


    Tiba-tiba dari belakang ada yang menabrak bahunya dengan keras. Membuat buku-buku yang tadi dibawa oleh si benabrak menjadi jatuh berserakan di jalan.


     “Maaf, maaf, saya gak sengaja,” ucap perempuan itu sambil membereskan buku-bukunya. Gerakannya terlihat buru-buru sekali, seperti ingin cepat-cepat pergi.


    Merasa tak tega, Alden ikut membantu cewek itu. “Iya gak apa,” ucapnya tanpa melihat lagi kepada si penabrak.


    Hingga akhirnya keduanya sama-sama berdiri. Lalu saat tak sengaja kedua mata itu bertemu, mereka sama-sama mendadak terdiam.

__ADS_1


     “Alden,” ucap perempuan itu yang baru menyadari.


     “Karla?” Untuk beberapa saat Alden tak mempercayai penglihatannya, tapi saat disadarinya sosok itu nyata, dinormalkannya kembali ekspresi. “Wah gak nyangka bisa ketemu lo di sini.”


    Kedua sudut bibir perempuan yang bernama Karla itu terangkat, menampilkan snyum manis yang dulu pernah menjadi favorit Alden. “Wah gue juga gak nyangka. Udah lama ya kita gak ketemu…. Lo jadi susah dihubungi sekarang,” ucap perempuan itu dengan nada yang terdengar gamang. Sedetik kemudian dipasangnya kembali tampang gembira, “Lo tumben mau ke bazar buku kayak gini Al? Sama siapa?”


     “Sama Neola dan temen gue,” jawab Alden sambil menunjuk dua cewek yang masih terlihat sibuk memilih-milih buku itu.


    Ada kerutan samar di dahi Karla saat melihat cewek yang ada di samping Neola. Tapi karena ia sedang buru-buru sekarang, ditepisnya rasa itu. “Kebetulan banget gue bisa ketemu lo di sini. Gue boleh minta tolong Al?”


     “Minta tolong apa?”


     “Anterin gue ke rumah sakit sekarang. Kakak gue tadi nelepon katanya dia kecelakaan dan baru dibawa ke sana.” Ada nada cemas yang terdengar di telinga Alden saat Karla mengucapkannya.


     “Parah kecelakannya?” Alden ikut cemas.


     “Gue juga gak tau, tapi kayaknya gak terlalu parah, soalnya dia tadi masih sempet nelepon gue langsung. Bisa Al?” tanya Karla penuh harap.


    Alden menimbang-nimbang sebentar, lalu setelahnya ia mengangguk. “Oke, tapi bentar ya, gue mau ngomong dulu sama mereka,” putus Alden yang dijawab anggukan oleh Karla.


    Alden lalu berjalan menuju Neola dan Alisha, ditoelnya bahu Neola lalu menatap kedua cewek itu bergantian. “La, Sha, gue mau pergi dulu.”


    Tatapan Neola yang tadi sedang sibuk membaca buku, kini menajam melihat saudara kembarnya itu. “Mau ke mana? Kan udah gue bilang mantep-mantep dulu di sini.”


     “Mau nganterin Karla.”


    Mata Neola membulat seketika. “Apa? Karla? Di mana dia?”


    Alden menujuk ke Karla yang terlihat sedang gelisah di tempatnya sambil melihat jam tangannya.


    Neola menyipitkan mata menatap Alden. “Tu cewek tiba-tiba muncul udah minta tolong aja. Kok lo mau nganterin?”


    Merasa kalau meladeni pertanyaan-pertanyaan Neola akan memakan waktu lama, Alden betujar, “Ada urusan penting lah pokoknya. Gue tinggal dulu bentar. Entar gue balik lagi.”


    Walau tak puas akan jawaban yang Alden berikan, akhirnya Neola pun menjawab juga, “Hm ya udah, tapi cepat ya.”


     “Iya.”


    Lalu Alden pun berjalan meninggalkan mereka, menghampiri Karla dan dengan cepat mereka melangkah pergi.


    Neola dan Alisha yang sama-sama melihat punggung yang semakin menjauh itu, sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu tanpa bisa ditahan lagi, Alisha bertanya, “Karla itu siapa, La?”


    Ada ragu sejenak sebelum Neola menjawab. “Bisa dibilang… Karla itu cinta pertamanya Alden.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2