
Pagi yang cerah di pemukiman kumuh pemulung. Matahari muncul di timur, burung-burung berkicau, dan orang-orang yang bekerja berangkat ke tempat kerjanya. Seorang pemuda bernama Darma Satria terbangun dari tidurnya.
Darma adalah pria bertubuh tinggi dengan tinggi 170 cm, kulit sawo matang, rambut panjang, pakaian compang-camping dan robek-robek, dan penampilannya Kumal dan lusuh. Ia berusia 19 tahun. Ia adalah yatim piatu sejak usianya 7 tahun.
Ayahnya meninggal saat usianya 2 tahun, sedangkan ibunya meninggal saat ia berusia 7 tahun atau lebih tepatnya 5 tahun setelah ayahnya meninggal. Setelah ayah dan ibunya meninggal, rumahnya digusur karena letaknya yang di pinggir kali.
Sejak saat itu ia menjadi anak yang sebatang kara. Pada saat usia 7 tahun, ia berjalan mengemis makanan. Namun seperti sudah tak ada manusia yang baik, sampai ia tertidur di jalan pun tak ada yang mau memberikan uang ataupun makanan kepadanya.
Akhirnya Darma bertemu dengan sepasang suami istri paruh baya di pinggir jalan. Kemudiab Darma pun diajak untuk tinggal bersama mereka karena kasihan terhadap Darma yang masih kecil sudah jadi anak jalanan.
Saat usianya 15 tahun ibu dan ayah asuhnya meninggal karena tertabrak kendaraan saat sedang menyeberang. Sejak saat itu ia tinggal di rumah kardus itu dan bekerja seperti orang tua asuhnya dulu yaitu pemulung. Meskipun tak sekolah, ia tetap mendapat pendidikan baca tulis dari ayah angkatnya yang dulu pernah sekolah sampai SMP.
Darma pun bangun dan berjalan keluar rumah untuk mencuci muka. Setelah mencuci muka, Darma pun mengambil gerobak dan alat untuk memulungnya yang lain. Ia berjalan melewati jalan tanah yang penuh lubang karena jalan itu adalah jalan satu-satunya perumahan pemulung itu.
Darma berjalan dari satu tempat sampah ke tempat sampah warga di sekitarnya. Ia memeriksa setiap sampah yang masih bisa diambil dari rumah warga, kadang ada yang mengizinkan, ada yang tak mengizinkan, dan ada yang tak peduli.
Sampah yang ia ambil adalah sampah yang bisa di daur ulang seperti botol plastik, gelas plastik, dan lain-lain yang bisa diambil. Surga sampahnya ada di tempat pembuangan akhir yang jaraknya sekitar 3 KM dari rumahnya. Ia harus menarik gerobak ke TPA tersebut.
Kali ini ia berjalan ke Tempat Pembuangan Akhir karena disana sudah pasti banyak sampah plastik, ia berjalan melewati jalan khusus pejalan kaki di pinggir jalan dengan mengenakan sepatu bekas yang ia temukan di TPA tersebut.
20 menit kemudian
Ia pun sampai di TPA tersebut dan ia langsung mendorong gerobaknya ke daerah terdekat tumpukan sampah itu. Bau busuk sampah adalah makanan sehari-harinya. Bau yang sangat menyengat itu adalah aroma yang ia hirup tiap hari, oleh karena itu sudah sangat bersahabat dengan bau apa pun.
__ADS_1
"Baru datang Dar?"tanya seorang pria paruh baya berbaju coklat panjang, celana training hitam panjan, sepatu boots, dan topi seperti topi tentara Jepang jaman penjajahan Jepang.
"Ia Pak,"ujar Darma tersenyum lalu lanjut aktivitasnya.
"Udah sarapan?"tanya Pria bernama Narto itu.
"Belum pak,"ujar Darma mengambil sebuah kantong berisi kotak putih.
"Sarapan dulu!nanti kamu pingsan loh"ujar Pak Narto membuka kantong sampah di dekatnya.
Darma pun membuka kotak putih itu, kotak itu berisi gorengan tahu yang masih ada 5 buah. Darma pun mengambil kotak itu lalu menaruhnya di gerobak miliknya. Kotaknya ada dua, yang satu isinya gorengan tahu. Ia pun mengambil kotak yang satu lagi dan membukanya.
Kotak itu berisi bakwan yang sudah dingin, Darma pun mengambilnya dan menaruhnya di gerobak. Lalu ia pun mencari botol yang masih ada airnya di sekitaran tempat itu. Ntah karena sedang beruntung atau sedang pas momentnya, ia menemukan kantong berisi air mineral gelas sebanyak 2 pcs. Kemudian Darma pun mengambilnya dan menaruhnya di gerobak.
"Pak, saya ke pondok dulu ya. Dapat sarapan gratis di sini."ujar Darma menarik gerobaknya ke arah sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, atapnya terpal, dan berdinding tepar juga.
Setelah berjalan sekitar 100 meter, ia pun sampai di tempat itu. Darma pun duduk dan menaruh kotak putih itu di meja yang ada di depannya, ia pun duduk lalu mencuci tangannya.
Kemudian ia pun membuka salah satu kotak di depannya. Kotak pertama yang ia buka berisi bakwan yang sudah dingin, Darma pun memakan bakwan tersebut dengan sangat nikmat karena perutnya sangat lapar berhubung dari tadi malam belum makan.
Dalam waktu 10 menit, Darma menghabiskan seluruh makanan di depannya. Setelah itu Darma pun lanjut memulung sampah karena hari sudah mulai siang dan matahari sudah mulai terasa menyengat panasnya.
3 jam kemudian
__ADS_1
Setelah mengumpulkan sampah, Darma pun berhasil mengumpulkan satu gerobak penuh sampah daur ulang. Ia pun keluar dari TPA itu dan berjalan menuju ke penyetoran sampah daur ulang yang jaraknya satu KM dari TPA itu.
Karena lelah dan haus, Darma pun berhenti di bawah pohon di depan sebuah rumah makan. Di depannya ada kran air yang boleh di pakai gratis, Darma pun minum dari air kran itu karena ia sangat haus.
"Permisi mas!"ujar seorang wanita pada Darma.
"Iya mba, ada yang bisa saya bantu?"tanya Darma pada wanita itu.
"Ini ada sedikit makanan buat mas dan ini minumannya, diterima ya mas!"ujar wanita berpakaian kantor, cantik, postur badan ideal, pendek, kulit putih, bando merah gambar mini mouse.
"Terimakasih kak, semoga rezeki kakak lancar."ujar Darma tersenyum pada wanita itu.
"Iya mas, aamiin."ujar wanita itu tersenyum lalu ia kembali ke mobilnya yang berhenti tepat di depan Darma.
Setelah wanita itu pergi, Darma berniat membuka makanannya itu. Namun saat yang bersamaan muncul seorang nenek tua dengan pakaian yang sudah lusuh dan keriput yang tampak jelas dari sekujur tubuhnya.
"Cu, nenek boleh minta makannya gak?soalnya nenek belum makan 2 hari."tanya nenek itu berdiri dengan posisi membongkok sambil memegangi tongkatnya.
"Kasian juga nenek ini belum makan 2 hari, tapi aku lapar karena belum makan siang. Mana tadi cuma makan gorengan."batin Darma.
Setelah berpikir matang-matang, Darma pun memutuskan untuk memberikan makanan miliknya kepada nenek itu.
"Ini nek, ambil aja!"ujar Darma menyerahkan kotak makan yang terbuat dari gabus itu dan airnya juga.
__ADS_1
"Terimakasih cu, semoga kebaikanmu dibalas oleh Tuhan Yang Maha Baik."ujar nenek itu mengambil makanan dari Darma itu.
Lau nenek itu pun pergi dari tempat itu. Sementara Darma duduk sambil mengikat perutnya yang sudah sangat lapar. Ia memikirkan kondisi nenek yang sudah tua itu dan belum makan selama dua hari. Sementara Darma sudah makan tadi pagi. Karena mengantuk, Darma pun tidur di pinggir jalan itu dengan berbantal lengan dan alas koran bekas.