
"Mas!"Silva memanggil Darma.
"Iya kenapa?"tanya Darma menatap Silva.
"Mas mulai mengerjakan misi lagi kapan?"tanya Silva sambil memeluk Darma.
"Hari selasa sih, soalnya waktu liburku 3 hari."ujar Darma.
"Trus nyelesaikan misinya itu berapa lama?"tanya Silva.
"Paling cepat 1 minggu,"ujar Darma membelai rambut Silva.
"Aaaa lama banget, trus nanti aku tidur peluk guling lagi dong."ujar Silva dengan wajah tak terima.
"Cuma 1 Minggu aja kok, setelah kerja 1 Minggu ada libur pra misi dari misi awal ke misi selanjutnya."ujar Darma.
"Berarti besok malam terakhir dong aku bisa meluk mas pas tidur,"ujar Silva dengan wajah cemberut.
"Aku kerja sayang, ini demi masa depan rumah tangga kita. Aku gak pengen kita numpang di rumah papa mertua terus, aku pengen kita punya kehidupan sendiri."ujar Darma lalu ia mengecup kening Silva.
"Emmm tapi kan....
"Cuma 1 minggu kok, aku bukan pelaut yang bakalan ninggalin kamu berbulan-bulan. Aku seorang petualang yang ditugaskan sistem untuk menyelesaikan misi."ujar Darma.
"Pasti bakal kangen, nanti tiap malem vidio call ya!"ujar Silva menunjukan wajah imutnya.
"Gak bisa dong, di dunia sistem gak bisa terhubung ke dunia kita ini. Jadi nanti kalau udah kembali ke dunia ini aku hubungi kami lagi."ujar Darma.
"Aisssh, yaudah deh kalau gitu."ujar Silva.
"Btw kamu sekolah dimana?"tanya Darma pada Silva.
"Di hatimu hahaha,"ujar Silva tertawa agak kencang.
"Dih, serius woy."ujar Darma menoel kepala Silva.
"Ih noel-noel kepala istri sendiri gak boleh tau, kepala kan suci. Kamu mah minta kena jurus wanita ngambek."ujar Silva mencubit perut Darma.
"Hehehe aduh-aduh hahaha sakit woy,"ujar Darma sedikit kesakitan karena cubitan itu.
"Hoaaam ngantuk yang, ayo bobok!"ujar Silva mengambil remot dan mematikan lampu ruangan itu.
"Wiih keren banget, gak pake stop kontak ya matiin lampunya."ujar Darma kagum dengan hal itu.
"Iya, rumah ini udah serba remot."ujar Silva menghidupkan ac lalu ia menutup jendela dengan remote tadi.
__ADS_1
Setelah itu, ia kembali memeluk Darma dan mereka pun tidur dalam keadaan berpelukan. Besoknya, Darma terbangun karena cahaya lampu telah hidup lagi. Pelan-pelan Darma membuka matanya dan melihat sekelilingnya.
Darma melihat Silva yang sedang memakai dasi dan sudah lengkap dengan baju sekolahnya. Kemudian Darma pun duduk di ranjang tempat ia tidur tadi.
[Selamat pagi tuan]
"Pagi sistem,"ujar Darma dalam hati lalu ia memainkan handphonenya.
[20 emas batangan milik tuan sudah selesai di bersihkan dan siap untuk dijual]
"Hah?serius?"tanya Darma dengan mata langsung terbelalak karena kaget dengan apa yang sistem katakan.
[Benar tuan, silahkan jual emas itu dan klaim uang sejumlah 20.318.000.000!]
"Oke-oke, banyak banget tuh duit."ujar Darma kegirangan. Ia pun segera berdiri dan segera ke kamar mandi.
"Eh sayang udah bangun, tidur nyenyak tadi malam?"tanya Silva.
"Kurang yang, soalnya kipas anginnya dingin banget. Eh btw tapi kok kipasnya gak ada suara ya. Kan biasanya ada suara anginnya."ujar Darma dengan polosnya.
"Pfftt hah kipas angin hahahaha, apa tuh?"tanya Silva tertawa mendengar benda yang di sebut Darma.
"Itu kipas angin kan?"tanya Darma pada Silva.
"Itu namanya ac sayang,"ujar Silva memakai liptint.
"Dikit aja gpp, gak usah terlalu tebal."ujar Silva melanjutkan make up-nya.
"Owh,"ujar Darma mengangguk.
Setelah mandi, Darma pun mengenakan bajunya yang sudah ada di lemari miliknya yang bersebelahan dengan lemari Silva. Darma mengenakan kemeja kotak-kotak lengan pendek, celana hitam, dan sendal yang ia beli di minimarket waktu itu. Setelah itu, Darma pun turun ke lantai 1 dan sudah ada Pak Andi, Bu Linda, Silva, dan adik-adiknya yang sudah mengenakan seragam sekolah.
"Pagi Pa, Pagi ma, Pagi semuanya!"ujar Darma berjalan ke samping Silva.
"Pagi-pagi udah rapi, mau kemana menantuku?"tanya Pak Andi pada Darma.
"Iya, mau ngantar Silva ya?"tanya Bu Linda menatap Darma.
"Ada urusan Pa Ma, jadi harus di selesaikan hari ini."ujar Darma.
"Urusan apa?apa terkait dengan misi kamu?"tanya Pak Andi.
"Urusan apa?kenapa sepertinya penting sekali?"tanya Pak Andi lalu menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Mau jual emas Pa,"ujar Darma jujur.
__ADS_1
"Berapa kg?"tanya Pak Andi.
"20 kg Pa,"ujar Darma.
Satu rumah itu tak ada yang kaget dengan jumlah yang di sebutkan Darma. Bahkan adik-adiknya Darma juga tak ada respon sama sekali, wajah mereka biasa saja saat mendengar jumlah emas segitu.
"Owh 20, mau gak Papa aja yang beli?"tanya Pak Andi.
"Boleh Pa kalau memang Papa mau,"ujar Darma setuju.
"Kalau gitu nanti kamu ikut ke gudang emas Papa, Kamu jual di sana aja!"ujar Pak Andi.
"Dapat darimana emasnya nak?"tanya Bu Linda pada Darma.
"Iya Mas, hadiah misinya sebanyak itu?"tanya Silva menatap Darma.
"Hadiahnya saya dapat pas berenang di laut hotel Tepi Pantai Ma, pas Darma berenang kira-kira 200 Meter ke tengah ada bangkai kapal. Nah Darma ketemu emas ini di situ."ujar Darma.
"Bangkai kapal?"tanya Bu Linda mengerutkan keningnya.
"Iya Ma, Di Minggu yang lalu Darma berenang di tengah laut dekat depan hotel pinggir pantai. Eh gak nyangka Darma dapat 20 kg emas."ujar Darma mengambil makanannya.
"Owh gitu,"ujar Bu Linda mengangguk paham.
"Yaudah, nanti kita ke gudang aja. Biar bawahan Papa yang bayar emas yang kamu temukan itu!"ujar Pak Andi.
"Iya Pa,"ujar Darma mengangguk setuju.
Setelah makan, mereka semua langsung pergi ke wilayah masing-masing. Karena penculikan yang terjadi kemaren, Silva pun di suruh Pak Andi membawa mobil anti begal karena mobilnya itu mahal dan yang mengendarai mobil itu juga bukan sembarang orang.
Darma yang sudah di luar rumah pun mengikuti Pak Andi, ia mengeluarkan motor K-Max nya karena tak ingin menggunakan mobil punya Pak Andi.
"Loh, kamu pakai motor?"tanya Pak Andi pads Darma.
"Iya Pa, soalnya saya gak bisa bawa mobil."ujar Darma.
"Owh gitu, kalau gitu nanti sore kamu belajar naik mobil aja di belakang. Biar istrimu yang mengajarimu caranya naik mobil. Mobil sebanyak ini sayang kalau gak di pakai."ujar Pak Andi tersenyum lalu ia masuk ke dalam mobilnya.
"Iya pa,"ujar Darma mengangguk setuju. Darma memang harus belajar naik mobil. Karena mau tidak mau, ia pasti akan jadi orang kaya dan mungkin setara atau bisa jadi melebihi Pak Andi.
30 menit kemudian
Darma dan Pak Andi pun sampai di sebuah tempat seperti markas militer. Dari luar hanya nampak tembok tinggi dengan kawat berduri yang sudah di lengkapi setrum. Di tempat itu juga sudah ada penempak jitu di setiap 20 meter dari penembak jitu 1 ke yang lain.
Ada sekitar 40 penembak jitu yang menjaga tempat itu yang sedang bersantai. Tempat itu lebih ketat penjagaannya dari penjara. Jalan masuknya juga lumayan jauh ke dalam, karena gudang emas itu adalah tempat paling berharga di kota itu.
__ADS_1
Belum pernah ada orang yang berhasil masuk ke dalam gudang emas itu. Hanya orang-orang yang akan menjual dan membeli emas yang di persilahkan masuk ke tempat itu.
Darma juga tak akan bisa masuk ke tempat itu kalau tak ada Pak Andi. Berhubung Pak Andi bersamanya, Darma pun berhasil masuk ke jalan utama untuk masuk ke gudang emas itu.