100 TANAMAN AJAIB

100 TANAMAN AJAIB
NGEDATE DI CAFE DAN TEPI LAUT


__ADS_3

Setelah 20 menit kemudian, Darma dan Silva pun sampai di sebuah cafe bertuliskan"KING CAFE". Lalu Darma dan Silva pun masuk ke dalam Cafe itu dan mereka memesan minuman dan makanan.


"Selamat datang di KING CAFE, mas dan mba ini mau mesen apa?"tanya karyawan cafe itu menyiapkan buku catatan, papan ujian yang kotak dengan panjang 30 cm dan pena yang memang disediakan untuk alat tulis setiap menu yang di pesan pengunjung cafe itu.


"Saya pesen Capucino ice ya mas,"ujar Darma.


"Makan nya mas?"tanya pelayan cafe itu mencatat pesanan Darma.


"Ehhh....chicken burgernya aja mas yang 30 ribu."ujar Darma.


"Mbanya mau pesan apa?"tanya pelayan itu manatap Darma.


"Float mangga 1 ekstra eskrim dan Pizza ukuran medium 1 porsi!"ujar Silva.


"Baik mau duduk di atas atau dibawah?"tanyanya lagi.


"Hmmm enak diatas apa dibawah ya yang?"tanya Darma.


"Di atas aja yang, aku seringnya di atas."ujar Silva.


"Eh Silva, sama siapa nih?"tanya temannya Silva yang juga membawa seorang pria.


"Cowok aku, kenalin ini Darma."ujar Silva lalu mereka pun saling kenalan.


"Eeeh mba, jadinya mau duduk di atas apa dibawah atau di tengah?"tanya pelayan cafe itu.


"Eh enaknya di atas kali ya,"ujar Silva pada temannya.


"Boleh deh di atas,"ujar temannya yang bernama Nana itu.


Setelah itu, mereka pun bersama-sama duduk di lantai 3.


Di lantai 3


Mereka pun sampai di lantai 3 dan duduk di meja 27 yang ada di dekat jendela yang kebetulan sedang kosong.


"Eh kalian hehe, kok bisa ketemu di sini ya?"tanya Silva pada Nana dan pacarnya Nana.


"Ntah, mungkin takdir kali ya yang mempertemukan kita."ujar Nana lalu ia tertawa kecil.

__ADS_1


"Eh btw kamu keknya gak pernah bawa pacar deh pas nongkrong dimanapun, kok bisa tiba-tiba sekarang bawa pacar?"tanya Nana lagi.


"Dia ini dijodohin sama aku sama papa, jadi karena masih sekolah makannya kami pacaran dulu."ujar Silva..


"Owh dijodohin, kalau udah Papa kamu yang jodohin pasti kaya dianya. Kerjaan mas apa?"tanya wanita itu.


"Eh...saya punya gudang sembako,"ujar Darma berbohong namun sebentar lagi kebohongannya akan menjadi kenyataan.


"Wiiih bos muda, umurnya berapa emang?"tanya Nana lagi.


"19,"ujar Darma.


"Owh beda 1 tahun dari kamu Sil."ujar Nana menatap Silva.


"Ya gpp, memang cowok harus lebih tua."ujar Silva.


"Eh tau gak sih?"tanya Nana pada Silva.


"Hadeh mau ngomongin orang nih pasti,"batin Darma.


Silva dan Nana pun berghibah di tempat itu. Sementara Darma dan pacarnya Nana hanya bermain handphone karena sama-sama tak ada yang memulai pembicaraan.


Darma dan Silva sedang duduk di sebuah tongkrongan di tepi laut. Sebentar lagi sunset akan muncul, oleh karena itu Darma dan Silva telah menyiapkan minuman dan cemilan untuk menikmati suasana sore menjelang Maghrib itu. Tepi laut ramai dengan pengunjung, para pedagang pun berjejer dan berbaris di sekitaran wilayah tepi laut itu untuk menjajakan dagangannya.


Wisata tepi laut yang juga sudah menjadi tongkrongan para pengunjung tempat itu. Oleh karena itu, tempat itu diperbolehkan untuk menjadi sarana berdagang para pedagang jajanan jalanan seperti siomay, cilok, cilor, telur gulung, bakso, berbagai jenis minuman, dan lain sebagainya.


Tempat itu selalu rame menjelang turunnya matahari berganti dengan bulan. Karena pada saat itu, sunset akan kelihatan dan memang suasana sunset di tempat itu luar biasa indahnya.


"Ntar lagi sunsetnya muncul,"ujar Silva memakan telor gulungnya.


"Kamu gak nyiapin kamera?"tanya Darma pada Silva.


"Tuh, lagi aku videoin sunsetnya. Nanti tinggal suruh bang Dio edition video ini."ujar Silva menunjuk handphonenya yang sedang merekam pemandangan sunset itu dengan posisi landscape dan handphone itu di tahan menggunakan botol air mineral yang dibeli oleh Silva dan Darma tadi.


"Aku boleh nanya gak?"tanya Darma pada Silva.


"Apa sayang?"tanya Silva menatap Darma.


"Kamu baru pertama kali apa udah pernah kek gini sama cowok?"tanya Darma pada Silva.

__ADS_1


"Pak suami mulai kepo ya, penasaran banget emangnya?"tanya Silva lalu ia lanjut mengunyah telor gulungnya.


"Gak sih, dijawab sukur dan kalau gak juga gpp."ujar Darma lalu ia meminum esnya.


"Waktu kelas 10 dulu pernah ada cowok kaya yang bawa aku ke sini, tapi dia gak sopan sama aku."ujar Silva.


"Gak sopan gimana?"tanya Darma penasaran.


"Baru pacaran udah berani pegang sana sini, waktu itu suasananya seperti ini juga. Tapi waktu itu aku langsung mutusin dia karena dia mau menyentuh payudaraku. Aku gak akan membiarkan asetku di ganggu orang lain. Makannya aku putusin dia pada saat itu juga."ujar Silva.


"Trus apa tanggapannya?"tanya Darma penasaran.


"Ya dia marah, trus sempat mau kasar juga. Tapi aku diawasi bodyguard waktu itu, jadinya dia gak berani apa-apa trus dia pergi gitu aja ninggalin aku di sini. Aku mah santai aja, soalnya para bodyguardku bawa mobil. Jadi aku pulang di antar para bodyguardku."ujar Silva.


"Lah, kamu punya bodyguard?"tanya Darma.


"Dulu pas masih umur 16-17 tahun, di kelas 12 ini aku dilepas tanpa pengawasan bodyguard. Eh diculik oleh para cabul itu dan dibawa ke pulau itu menggunakan perahu mesin."ujar Silva melanjutkan ceritanya.


"Owh gitu, tapi sekarang kenapa Papa gak nyuruh bodyguard buat jagain kamu?"tanya Darma menatap Silva.


"Karena udah ada kamu,"ujar Silva singkat.


"Hah?kenapa pas ada aku bodyguard-bodyguardmu itu gak ditugasin lagi?"tanya Darma.


"Ya karena menurut Papa, kamu itu udah bisa dijadikan bodyguardku. Oleh karena itu, kamu bakal jadi bodyguardku selamanya."ujar Silva menjelaskan.


"Hmm gitu ternyata, trus habis tamat sekolah nanti kamu mau lanjut kemana?"tanya Darma lagi.


"Yang Deket aja biar bisa tetep dekat dengan rumah dan supaya usaha kamu tetap berjalan di sini,"ujar Silva.


"Gak apa-apa loh yang, nanti kuliah di sana aja dan kita beli aja satu rumah bagus. Trus selama kuliah, kita tinggal di situ dan aku bisa batalin pembelian gudang yang ada disini dan membeli gudang beras di sana."ujar Darma.


"Gak usah lah yang, lagian temen-temenku pasti banyak yang bakal kuliah di situ juga."ujar Silva menghabiskan telur gulungnya yang terakhir lalu ia pun meminum minumannya.


"Okelah kalau memang begitu keputusanmu,"ujar Darma menerima pilihan Silva untuk tetap tinggal di kota ini.


"Liat tuh nelayan itu yang, dia baru pulang dari laut. Pasti dia pejuang keluarga, tapi perahunya kok jelek banget sih. Keknya aku harus turun tangan membantu mereka."ujar Silva yang memang telah di ajarkan oleh Pak Andi untuk saling tolong menolong.


Apalagi jajannya Silva satu bulan itu 30 juta. Jadi satu hari itu 1 juta untuk jajan saja. Namun Silva bisa memberitahu ayahnya tentang hal itu karena ayahnya juga orang yang sangat Dermawan.

__ADS_1


__ADS_2