
Besoknya
Darma terbangun dari tidurnya. Setelah membuka kancing tendanya, Darma keluar dari tenda itu dan menatap laut yang saat itu masih surut. Saat surut, Darma sebenarnya bisa menyeberang ke pantai. Namun ia memilih untuk naik kapal karena motornya masih ada di parkiran dermaga perahu wisata itu.
Pemandangan kota di pagi hari sungguh menakjubkan. Langitnya masih bersih tanpa polusi udara dari kendaraan, udaranya juga sangat dingin karena Darma ada di pulau yang cukup jauh dari kota.
Setelah melihat-lihat lingkungan sekitar, Darma pun mengambil sisa airnya yang ada di penyimpanan sistem. Air itu ia gunakan untuk mencuci muka dan sampahnya ia buang di tong sampah sistem yang nantinya akan bisa digunakan lagi. Tong sampah sistem hanya berguna untuk menyimpan sampah yang bisa di daur ulang.
Karena perutnya juga lapar, Darma pun mengeluarkan alat-alat masaknya dan memasak sarapan. Ia membuat indomie rebus topping sosis dan bakso. Setelah makan, barulah ia mandi dan berkemas untuk pulang ke daratan.
9:00
Darma pun menelpon orang yang akan menjemputnya. Namun setelah selesai bertelponan, Darma mendengar suara minta tolong dari belakang. Karena penasaran, Darma pun mengikuti suara itu.
Dengan pelan-pelan, Darma mengintip apa yang akan terjadi di tempat itu. Saat ia bersembunyi, ternyata ada seorang wanita berpakaian sekolah di pegangi oleh 2 laki-laki dan mereka membawa masuk wanita itu ke sebuah gubuk.
"Wahh gak beres nih,"ujar Darma mendekat lalu ia pun masuk ke tempat itu. Gubuk itu ternyata adalah rumah tua yang sudah di tinggalkan oleh pemiliknya.
[Tuan, gadis itu akan di perkosa. Lokasinya ada di kamar belakang. Ada 3 orang pria brengsek yang siap memperkosa wanita itu sekaligus]
"Astaga, sangat biadab sekali. Tunjukan arahnya sistem!"ujar Darma pada sistem.
[Lokasi pemerkosaan: 5 meter dari lokasi awal]
Lalu Darma pun berjalan ke belakang dan menemukan suara wanita itu yang akan di cabuli pria-pria cabul itu. Terdengar suara baju di robek dan ada suara tali pinggang seperti jatuh ke tanah.
Suara di dalam
"Lepaskan aku, aku mohon jangan ambil kesucianku!"ujat wanita yang tangan dan kakinya terikat itu.
"Sayang, aku ingin mencicipi tubuh manismu itu. Apalagi bagian dua itu, sepertinya aku akan puas setelah menyentuh dan meremasnya."ujar salah satu pria.
Di luar
"Wah, kacau nih. Gak bisa dibiarin ini, bisa hancur harga diri seorang wanita gara-gara hal ini."ujar Darma mendobrak pintu itu.
Bruaaaakk
Para cabul itu kaget dengan hal itu, mereka semau pun melihat ke arah pintu. Dua orang telah mengambil pistol dan memegang parang.
__ADS_1
"Siapa itu?"tanya pria bertubuh kurus, kulit sedikit gelap, dan rambut keriting.
"Apa kalian, mau ngapain kalian. Astaga, itu cewek kenapa kalian robek baju sekolahnya. Memang binatang kalian, mau kalian apain dia?"tanya Darma lalu ia menghajar ketiga orang itu.
Bughh
Bughh
Bughh
Kecepatannya sudah melebihi manusia normal. Para cabul itu tak bisa menebak arah Darma. Sebelum mereka bangun, Darma membuka tali yang mengikat gadis tadi dan mengikatkan tali itu pada ke tiga penjahat itu.
Setelah itu, Darma pun menarik ketiga orang itu. Ia pun membuka jaketnya lalu masuk kembali.
"Kau pakai jaket ini, bajumu sudah tak layak pakai itu!"ujar Darma melempar ke arah kasur gadis tadi mengambil bajunya.
Gadis itu tampaknya sudah sangat ketakutan dengan kejadian itu. Ia masih menangis sembari memakai jaket dari Darma. Sementara Darma menunggu gadis itu keluar dari kamar.
"Hiks hiks, kamu gak jahat kan?"tanya wanita itu dengan tatapan penuh rasa takut.
"Gak, aku hanya ingin menyelamatkanmu. Badanmu sudah di lecehkan mereka?"tanya Darma pada gadis cantik, kulit putih, pipi tembem, badannya ideal, tinggi 157, dan matanya biru.
"Hiks hiks, terimakasih sudah menyelamatkanku."ujarnya duduk di depan pintu.
"Silva anastasaya, panggil aja Silva!"ujar Silva yang masih menangis.
"Tenang tenang, kamu sudah sama aku. Kamu sudah aman untuk saat ini, jadi jangan khawatir."ujar Darma menepuk pundak Silva.
"Hiks hiks,"Silva mengangguk sambil tersenyum namun masih terisak-isak.
"Kamu udah diapain aja sama mereka tadi?"tanya Darma.
"Aku tadi diiket, trus baju aku di robekin, bagian sen...sensitif aku ju...juga di pegangin huaaaa.....aku udah gak suci lagi."ujarnya malah menangis kencang.
"Aduh malah nangis, kan kamu gak sampai di itukan sama mereka."ujar Darma panik karena tiba-tiba gadis itu menangis.
"Iya tapikan aku udah dipegang-pegang, berarti aku udah gak suci lagi."ujar Silva terisak-isak.
"Hadehh, intinya kan kamu udah aman."ujar Darma mencoba menenangkan Silva.
__ADS_1
"Huaaaaa!!"Silva malah makin kencang menangisinya.
"Malah makin kenceng nangisnya,"ujar Darma menggaruk kepalanya.
[Tuan, telepon polisi saja. Sistem akan berikan nomornya pada tuan!]
"Ide bagus, mana nomornya?"tanya Darma pada sistem.
[08...............]
Setelah selesai mencatat nomor handphone polisi itu, Darma pun menelpon polisi itu. Telpon itu pun tersambung, lalu Darma menjelaskan perkara apa yang terjadi, dimana lokasinya, siapa korbannya, dan berapa orang pelakunya.
Kemudian percakapan pun berakhir. Lalu Darma menyimpan handphonenya dan menatap kembali gadis tadi. Ia sudah tak menangis lagi dan kini ia sudah tampak tenang.
"Aku udah nelpon polisi, jadi kamu tenang aja. Ntar lagi mereka ke sini!"ujar Darma pada Silva.
Silva pun mengangguk dan tersenyum. Senyuman dari Silva yang cantik, manis, dan gemoy itu membuat Darma salah tingkah dan gugup saat di dekat Silva.
"Kamu masih sekolah?"tanya Darma menatap Silva.
"Iya, kamu juga masih?"tanya Silva menatap Darma.
"Gak, aku udah kerja."ujar Darma.
"Owh kerja, umurnya berapa?"tanya Silva.
"20 tahun ini,"ujar Darma.
"Owh gitu, oh iya btw kamu kok bisa gerak secepat tadi. Kamu punya ilmu khusus?"tanya Silva menatap Darma dengan tatapan curiga.
"Gak kok, itu tadi reflek aja."ujar Darma menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung harus menjawab apa.
"Reflek bisa ngancurin pintu sekeras itu, Reflek bisa bergerak secepat itu dan tadi kamu gak ada berantem loh yang aku lihat. Kamu cuma lari dengan cepat, trus mereka pingsan gitu aja. Ngaku aja, kamu punya ilmu khusus kan?"tanya Silva dengan tatapan menginterogasi.
"Itu....itu.....ya gitulah hehe, gak bisa di jelaskan kalau yang pintu tadi."ujar Darma cengengesan.
"Btw makasih ya udah nolongin aku, kalau gak ada kamu mungkin aku udah jadi gadis tak perawan gara-gara para cowok brengsek dan cabul ini,"ujar Silva menatap wajah para cabul itu lalu ia memukul wajah salah satu penjahat kelamin itu.
Darma pun menahan Silva lalu menarik Silva ke tempat yang agak jauh dari para pemerkosa itu. Sambil menunggu polisi, mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing. Silva menceritakan bahwa ia adalah anak seorang CEO kaya yang akan di jodohkan setelah lulus sekolah.
__ADS_1
Ayahnya Silva menjodohkannya dengan seorang pria berusia 35 tahun yang kekayaannya setara dengan ayah Silva. Namun Silva jelas menolak hal itu karena perbandingan usia yang tentu jauh dan ia masih ingin lanjut kuliah.
Darma juga menceritakan kehidupannya yang sangat menyedihkan dan ia menceritakan bahwa ia mendapatkan uang dengan cara tertidur dan bekerja dalam mimpi. Namun tentunya Silva tak mempercayai itu dan mereka memilih membahas hal lain.