100 TANAMAN AJAIB

100 TANAMAN AJAIB
PENGADUAN WARGA DAN PERGI NGOPI


__ADS_3

Saat akan ke pintu masuk rumah Pak Andi, para warga ternyata sudah ada di ruang pengaduan masyarakat. Nampak 10 orang satpam telah berpakaian lengkap untuk menjaga keamanan tempat itu. Mereka memakai helm dan tameng.


"Ini kok kayak mau demo ya pengamanannya?"tanya Darma memarkirkan motornya di parkiran khusus kantor pengaduan itu.


"Gak demo, mereka itu mau ngadu ke Papa."ujar Silva membetulkan roknya.


Darma dan Silva pun berjalan ke kantor pengaduan masyarakat itu.


"Mba Silva!"tegur para warga yang sedang duduk di kursi dibawhah tenda biru depan ruang pengaduan.


"Iya pak, ini mau mengadukan apa mas?"tanya Silva pura-pura gak tau.


"Jadi gak gini mba, kami dapat kabar kalau kami akan di relokasi dari kampung kami sendiri. Padahal ini tanah nenek moyang kami yang dulu dipertahanka oleh para pejuang agar tidak diambil oleh Belanda. Eh malah kami dikasih tau kalau kami mau di relokasi dari tanah kami sendiri."ujar bapak-bapak mengenakan baju partai warna putih, topi merah, celana panjang hitam, dan menggunakan sendal jepit.


"Alasan mereka merelokasi bapak-bapak ini dari kampung Durian Musang King apa pak?"tanya Silva lagi.


"Katanya mau mendirikan pabrik mba. Kami gak punya masalah dengan pabrik itu mau dibantu atau gak, makan kalau dibangun tuh bagus. Karena dengan adanya pabrik itu bisa menjadi lapangan pekerjaan bagi anak-anak kami. Tapi kenapa kami harus ikut di relokasi juga gitu loh. Kan aneh banget yang punya proyek ini."ujar Bapak itu.


"Yang sabar ya pak, Papa pasti akan menyelesaikan masalah ini."ujar Silva tersenyum menenangkan bapak itu.


"Iya mba, terimakasih mba."ujar bapak itu.


"Mau bangun pabrik doang malah mau relokasi warga, emang mereka butuh tanah seluas apa?"tanya Darma heran.


"Ntahlah, Papa pernah cerita juga. Dulu di Sumatera ada juga kasus seperti ini di kota yang terkenal di sana, aku lupa nama kotanya apa. Tapi persis seperti kasus yang dialami para warga yang mengadu ini."ujar Silva geleng kepala mengetahui hal itu.


Darma hanya geleng kepala mendengar apa yang di ceritakan istrinya.


"Eh ngopi yok yang!"ujar Darma pada Silva.


"Kemana?"tanya Silva menaruh rambutnya kebelakang telinga.


"Cafe yang deket Mega Mall,"ujar Darma.


"Hmmm bosen, kita ke puncak aja. Disana pemandangannya bagus."ujar Silva.


"Ayo, keknya enak juga ngopi di situ!"ujar Darma.


"Ambil mobil dulu!"ujar Silva.


"Pake motor aja!"ujar Darma.


"Gak-gak, nanti kulitku malah jadi hitam. Aku gak mau itu sampe terjadi."ujar Silva berdiri.


"Hadeh, okelah kalau gitu."ujar Darma.


"Kami duluan ya pak kami duluan ya semuanya,"ujar Silva pada para warga yang masih duduk di tempat itu.


"Iya mba,"ujar bapak tadi.


Yang lain juga menjawab dengan jawaban yang sama seperti bapak tadi. Setelah itu Silva duduk di belakang Darma di motornya, mereka pun pergi ke parkiran untuk mengambil mobil itu.Silva duduk di kursi supir, Sementara Darma duduk di samping kiri Silva.


"Pakaian kamu kayak gini aja, bajumu terlalu ketat loh?"tanya Darma.


"Owh iya, bentar aku ganti dulu."ujar Silva menyadari pakaiannya terlalu pendek lalu ia pun mengganti bajunya.


Darma pun diam di mobil sambil main handphone. Ia pun ingat bahwa kemaren ia menyimpan nomor orang yang menjual gudang sembako. Darma pun langsug menghubungi pemilik gudang sembako itu.


Darma

__ADS_1


Selamat siang pak, apa benar ini no orang yang menjual gudang sembako itu?


Namun chat Darma tak langsung dibalas sehingga ia harus menunggu dulu. Sambil menunggu, Darma pun kembali membuka Facebook dan mencari apa saja yang bisa ia beli di social medianya itu.


Beberapa saat kemudian...


Silva pun datang dengan menggunakan baju panjang berwarna pink kotak kotak dan celana jeans abu-abu dengan tas yang biasa dipakai olah wanita ia gantungkan di bahunya.


"Udah, ayo pergi!"ujar Silva menutup pintu mobilnya.


Setelah itu Silva pun membawa mobilnya untuk keluar dari jalan rumahnya yang sepanjang 1 KM dengan lebar 500 meter itu.


"Buseeet, mau keluar aja 1 km ini mah."ujar Darma baru sadarnya telat.


"Telat banget nyadarnya, lelet banget keknya pemikiran kamu yang."ujar Silva heran karena Darma baru heran dengan jauhnya rumah mertuanya itu ke pintu gerbang/pintu keluar tempat itu.


"Hehe ya maap,"ujar Darma.


Ting


Tiba-tiba di handphone Darma berbunyi notifikasi. Lalu Darma pun membukanya, ternyata bunyi itu berasal dari si pemilik gudang yang ingin menjual gudangnya.


Darma


Selamat siang pak, apa benar ini no orang yang menjual gudang sembako itu?


Penjual gudang sembako


Siang, iya benar. Ini siapa ya?


Darma


Penjual gudang sembako


Oooo boleh mas atau pak ini?


Darma


Mas aja pak.


Penjual Gudang sembako


Owh iya-iya, eh kapan mau liat-liat gudangnya?


"Chat dari siapa yang?"tanya Silva masih menatap Darma.


"Dari pemilik gudang sembako, aku mau beli kalau cocok."ujar Darma kembali membalas pesan pemilik gudang sembako itu.


Darma


Besok aja pak, pagi bisa?


"Kamu mau usaha sembako?"tanya Silva.


"Iya, aku pengen punya usaha juga. Malu aku kalau numpang sama Papa mertua terus."ujar Darma.


"Gak apa-apa kok, lagian papa juga senang kita tinggal di rumah Papa. Soalnya kata Papa rumahnya terlalu besar, jadi ya gak apa-apa juga kalau mau tinggal sama Papa terus-terusan."ujar Silva berhenti karena sudah di depan gerbang.


Satpam pun membukakan pintu gerbang itu dan tersenyum pada Silva. Lalu Silva pun mengelakson para satpam itu.

__ADS_1


"Tapi ya gak enak aja,"ujar Darma.


"Hmmm oke deh, terserah kamu aja. Aku ngikut kamu aja yang."ujar Silva.


"Makasih ya sayang,"ujar Darma mengelus rambut Silva lalu ia mencium kening Silva.


Cup


Seketika wajah Silva langsung memerah karena malu dan jantungnya berdebar-debar. Sama dengan Darma, tapi Darma hanya jantungnya yang berdebar. Kalau wajahnya biasa saja.


"Ka..kamu ngapain?"tanya Silva menatap Darma dengan tatapan syok dengan senyuman mengembang di bibirnya.


"G..gak tau tadi aku nga...ngapain,"ujar Darma gugup.


"Maunya ta....tadi di bibir,"ujar Silva menutup mulutnya dengan tangan kirinya.


"Na...nanti aja itu, eh itu fokus dulu bawa mobilnya!"ujar Darma pada Silva.


"Iya ini fokus kok, fokus mandangin kamu hehe."ujar Darma tertawa halus.


"Dih kena serang duluan,"ujar Darma.


"Biarin wlee,"ujar Silva menjulurkan lidahnya pada Darma.


Pemilik gudang sembako


Bisa mas, mau jam berapa besok pagi?


Darma


Jam 9 aja pak


Pemilik warung sembako


Oke mas, besok saya share lokasi gudangnya.


Darma


Iya pak


Lalu chat Darma cuma di read doang oleh pemilik gudang itu.


"Jadi, gimana dengan usaha gudang sembako itu?"tanya Silva menatap Darma.


"Besok aku ke gudang sembako itu untuk melihat-lihat gudangnya sebelum aku beli,"ujar Darma menatap ke depan.


"Owh, aku ikut besok."ujar Silva.


"Lah ngapain?kamu gak sekolah?"tanya Darma.


"Libur, besok kan tanggal 10 November. Jadi besok pulang cepat, jam 8:30 udah pulang abis upacara."ujar Darma.


"Owh iya, hari pahlawan ya."ujar Darma mengangguk.


"Yoi, besok kita sama-sama aja ke gudang sembako. Jam 9 kan kamu janjinya?"tanya Silva menatap Darma.


"Iya, kok tau?"tanya Darma.


"Ya normalnya orang biasanya janjian kerja/meeting jam segitu."ujar Silva.

__ADS_1


"Owh, iya juga sih."ujar Darma mengangguk.


__ADS_2