
"Sayang, bangun yang! Udah pagi loh ini."ujar Silva pada Darma.
"Hoam, pagi sayang."ujar Darma tersenyum dengan mata yang masih terbuka sedikit.
"Pagi suamiku, buruan bangun! Sarapan udah dimasak sama Bi Inem. Adik-adik aku juga lagi sarapan di bawah."ujar Silva mengambil handphone lalu ia keluar dari kamar.
Darma pun bangun dari tidurnya dan membuka matanya. Setelah melihat jendela, ternyata matahari sudah di atas. Lalu Darma pun segera mandi lalu turun ke bawah.
1 jam kemudian
Karena telah selesai sarapan, Darma pun berniat mengajak Silva untuk membantunya dalam menyelesaikan misi tambahan(Sedekah atau berbagi rezeki).
"Yang, kamu lagi mager gak?"tanya Darma mendekati Silva yang sedang duduk di depan pantai dalam rumah dan memantau adik-adiknya ketika bermain air.
"Gak kok yang, kenapa?"tanya Silva menatap Darma.
"Aku mau menyelesaikan misi tambahan nih. Kalau kamu gak keberatan, kamu mau gak bantuin aku menyelesaikan misi ini?"tanya Darma.
"Misi tambahannya apa?"tanya Silva menatap Darma.
"Misi sedekah ke yang membutuhkan,"ujar Darma.
"Owh sedekah, yaudah ayoklah kalau gitu!"ajak Silva semangat.
"Sekarang bisa?"tanya Darma menatap Silva.
"Bisa sayang, yaudah aku siap-siap dulu ya."ujar Silva beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, aku tunggu di sini ya."ujar Darma bersantai sembari bermain handphone.
Beberapa menit kemudian......
Silva pun muncul dari pintu setelah ruang makan dan berjalan ke arah Darma. Ia mengenakan baju kaos panjang motif bung, celana jeans hitam, sepatu flat hitam, dan rambut terurai.
"Dah ayo!"ujar Silva berdiri di depan Darma.
"Ayo, eh anak-anak ini gimana?"tanya Darma melihat adik-adiknya Silva yang sedang berenang dan main pasir.
"Kakak mau pergi, Lisa tolong jaga adik-adiknya ya!"ujar Silva pada adiknya yang no 2.
"Iya kak,"ujar Lisa mengangguk.
"Yaudah, ayo pergi!"ujar Silva.
__ADS_1
Lalu mereka pun pergi dari tempat itu.
"Kamu mau naik mobil apa sayang?"tanya Silva pada Darma.
"Mobil yang bisa menampung banyak barang mobil apa?"tanya Darma.
"Hmmmm, mobil Fortuner mau?"tanya Silva.
"Bisa nampung banyak barang?"tanya Darma.
"Sebanyak apa?"tanya Silva lagi.
"Aku mau borong satu warung makan, jadi kemungkinan besar ada 200-500 porsi makanan yang akan kita bawa."ujar Darma.
"Hmm 500, bisa lah itu. Nanti kita penuhin dulu bagasi, baru kita taruh di tengah sama belakang."ujar Silva.
"Oke siip, ayo pergi!"ujar Darma setuju.
Lalu Silva pun mengambil mobil Fortuner yang ada di parkiran hari Rabu. Setelah mobil datang, Darma pun naik ke mobil itu dan mereka langsung pergi dari tempat itu.
"Eh yang, itukan di parkiran ada 3 mobil per harinya. Itu punya siapa aja kalau boleh tau?"tanya Darma penasaran.
"Paling depan punya papa, tengah punya mama, yang belakang punya aku. Eh punya kita deh."ujar Silva.
"Soalnya biasanya kami gak kemana-mana, kalau pergi pun sama Papa naik 1 mobil bareng-bareng."ujar Silva tetap fokus menyetir.
"Owh gitu,"ujar Darma mengangguk.
Darma sangat kagum dan tercengang dengan kekayaan milik ayah mertuanya itu, 1 mobil fortuner saja harganya 500 juta. Maka jika di kalikan 3 menjadi 1,5 Milyar.
Belum lagi Lamborghini di hari senin, Ferrari di hari Selasa , Fortuner di hari Rabu, Rolls-Royce boat Tail di hari kamis, dan Mercedes Maybach exelero di hari jumat.
Kemudian mereka pun sampai di rumah makan padang, Darma dan Silva pun turun di rumah makan yang sudah siap melayani pelanggan itu. Kemudian mereka pun berjalan ke tempat memesan makanan.
"Mau pesan apa bang?"tanya wanita paruh baya itu.
"Kalau saya borong, ada berapa porsi ini buk?"tanya Darma pada ibuk itu.
"Hah?mau borong semuanya?"tanya wanita itu kaget dan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Iya, berapa porsi semuanya kalau saya borong?"tanya Darma untuk kedua kalinya.
"E..e...semua ya, ntar ya bang kami hitung dulu. Ini serius mau di borong?"tanya ibu itu dengan wajah kaget, syok, sekaligus bahagia terlihat dari senyumannya.
__ADS_1
"Iya bu, saya tunggu di kursi itu ya buk?"ujar Darma menunjuk kursi yang ada di dekat dinding kanan ujung.
"I...iya mas, mau makan di sini juga gak?atau mau minum dulu sambil nunggu ini?"tanya ibu itu.
"Em...saya kopi susu satu buk, kamu apa yang?"tanya Darma menatap Silva.
"Aku beli di luar aja,"ujar Silva berjalan keluar.
"Itu aja buk,"ujar Darma.
"Tunggu ya mas, mungkin sekitar setengah jam lah untuk membungkus ini. Adi, Vico, Tasya, Della ke sini cepat!"ujar ibu itu.
Darma pun duduk di kursi yang tadi ia tunjuk. Tak lama kemudian, Silva datang dengan membawa minuman Thai tea yang ada bobanya.
"Gak panas?"tanya Darma karena di luar sedang panas karena cahaya matahari.
"Biasa aja sih, soalnya aku pernah di jemur sama Papa di belakang dari pagi sampe siang. Trus akhirnya pingsan."ujar Silva.
"Kenapa?"tanya Darma.
"Waktu itu aku ngelawan Papa karena gak bolehin aku pacaran, trus akhirnya papa nyuruh aku duduk dilantai yang panas. Awalnya aku nangis, emosi, dongkol, dan pengen bunuh Papa karena hal itu. Tapi setelah melihat jaman sekarang banyak anak gadis yang hamil di luar nikah, aku malah jadi bersyukur waktu itu Papa menghukumku sekeras itu."ujar Silva.
"Pantes anaknya jadi berakhlak dan punya sifat yang baik kek gini, memang karena didikan dari Papanya keras."ujar Darma.
"Ya gitulah, adik-adik aku juga ngerasain hal itu dan sama persis."ujar Silva lalu ia meminum thai tea nya.
"Papa mertua bukan orang sembarangan, meskipun di kaya tapi dia tak membiarkan anaknya jadi anak yang manja dan semena-mena."ujar Darma kagum dengan sosok Pak Andi.
"Yah gitulah adanya Papa, bahkan dia pernah menghajar aku karena aku pernah bilang"Miskin" ke seorang pemulung. Papa yang denger tuh langsung emosi dan aku di hajar layaknya samsak tinju. Tapi waktu itu algojo cewek yang berbuat itu."ujar Silva.
"Lah, itu kan pelanggaran Ham. Kenapa kamu gak lapor?"tanya Darma mengerutkan keningnya mendengar penuturan Silva.
" Mereka gak berani sama Papa, presiden Amerika itu dulu anak buahnya Papa. Sampe sekarang masih anak buahnya Papa, makannya raja dunia sekarang Papa. Dia bisa menguasai seluruh dunia dengan kekayaannya."ujar Silva memuji Pak Andi.
"Gilak, hukum aja takut sama Papa. Kenapa Papa gak jadi presiden aja?"tanya Darma pada Silva.
"Papa gak mau, katanya biarlah negara ini di pegang dan di perintah oleh orang lain. Tapi presiden itu tetep tunduk sama Papa karena hutang negara ini Papa yang bayar. Biaya pembangunan dari Papa."ujar Silva.
"Papa gak beli Indonesia aja?"tanya Darma.
"Kata Papa bisa aja, tapi negara ini kan milik rakyat Indonesia. Jadi Papa gak mau beli."ujar Silva menjelaskan.
"Mantap,"ujar Darma memberikan jempol pada Silva.
__ADS_1
Setelah itu mereka pun bermain handphone masing-masing tanpa ada obrolan lagi.