183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
16. Rendi Menyusul Rahma.


__ADS_3

Pagi-pagi setelah selesai sarapan pagi Rahma, Pak Iqbal dan Ibu Ira pergi ke kantor dinas. Mereka mulai bersiap-siap karena sebentar lagi acara akan dimulai. Hari ini Rahma dan Iqbal akan mengadakan evaluasi untuk disabilitas yang akan menerima manfaat. Acara akan diadakan di ruang serba guna kantor dinas.


Rahma dan Pak Iqbal akan dibantu oleh dua pendamping disabilitas. Ibu Ira juga turut membantu. Tugas Ibu Ira adalah menjaga buku absen. Setiap peserta disabilitas yang sudah mengikuti evaluasi diharuskan untuk mengisi daftar absen dengan cara cap jempol.


Banyak disabilitas yang menghadiri acara evaluasi yang akan menerima manfaat. Namun, mereka datang secara bergantian sehingga di ruang serba guna tidak penuh. Rahma, Pak Iqbal dan para pendamping disabilitas dengan sabar mengajukan pertanyaan satu persatu kepada para disabilitas. Pukul setengah dua belas siang acara masih terus berlangsung. Mereka akan beristirahat pukul dua belas tepat.


Ada seorang laki-laki berdiri di depan ruang serba guna. Laki-laki itu menggunakan kaca mata hitam. Ia menyapu pandangannya ke seluruh ruangan seakan-akan ia sedang mencari seseorang. Senyumnya mengembang ketika ia menemukan orang yang ia cari. Lelaki itu adalah Rendi. Seorang pegawai kantor dinas mendekati Rendi.


“Bapak cari siapa?” tanya pegawai kantor dinas.


“Saya mencari Ibu Rahma,” jawab Rendi.


“Sebentar, Pak. Saya akan memberitahu Ibu Rahma.” Pegawai kantor dinas mendekati Rahma.


“Bu Rahma, ada tamu yang mencari Ibu,” ujar pegawai kantor dinas.


“Siapa?” tanya Rahma.


“Tuh, lelaki yang memakai kaca mata.” Pegawai itu menunjuk ke Rendi.


Rendi melambaikan tangan ke Rahma. Rahma membalas lambaian tangan Rendi.


“Suruh tunggu. Sebentar lagi jam istirahat,” ujar Rahma.


“Baik, Bu Rahma,” jawab pegawai tersebut.


Pegawai itu menghampiri Rendi.


“Kata Ibu Rahma, Bapak disuruh menunggu. Sebentar lagi jam istirahat,” kata pegawai tersebut.


“Oke. Saya tunggu di sini,” ujar Rendi. Rendi duduk bersama dengan tamu lainnya. Ia mengarahkan kamera ponselnya ke Rahma lalu memfoto Rahma yang sedang bekerja.


***


Sementara itu di rumah Pak Sultan di Bandung.


Pak Sultan sedang berbicara dengan sekretarisnya yang bernama Yanuar.


“Menurut sekretarisnya Pak Rendi sedang pergi ke Wonosobo,” kata Yanuar.


“Saya tau kalau dia pergi ke Wonosobo. Tadi malam dia pamit ke saya mau ke Wonosobo untuk menemui Rahma,” ujar Pak Sultan.


“Yang ingin saya tanyakan, apakah benar dia menemui Rahma?” tanya Pak Sultan.


“Menurut informasi yang saya terima, Ibu Rahma sedang ada tugas di kantor dinas Wonosobo,” jawab Yanuar.


Yanuar memberikan tab yang dipegangnya.


“Menurut GPS, keduanya sedang ada di satu tempat di Wonosobo,” kata Yanuar.

__ADS_1


“Oh, berarti benar dia sedang menemui Rahma,” ujar Pak Sultan.


“Lalu bagaimana dengan tamu Rendi? Bukankah Rendi ada tamu dari Jepang?” tanya Pak Sultan.


“Mereka pulang hari ini, Pak. Naik pesawat pagi,” jawab Yanuar.


“Lalu siapa yang mengantar mereka ke Bandara Soekarno Hatta?” tanya Pak Sultan.


“Jefri yang mengantar tamu-tamu Pak Rendi ke Bandara Soekarno Hatta,” jawab Yanuar.


“Bagus!” puji Pak Sultan.


“Sekarang kamu boleh pergi!” ujar Pak Sultan.


“Baik, Pak.” Yanuar menundukkan kepalanya lalu keluar dari ruang kerja Pak Sultan.


Ketika Yanuar keluar dari ruang kerja Pak Sultan, Ibu Claudia datang membawa secangkir kopi lalu diletakkan di atas meja sofa.


“Diminum dulu kopinya, Pak Yanuar!” ujar Ibu Claudia.


“Terima kasih, Bu. Saya mau langsung kembali kantor, ada pekerjaan yang harus saya kerjakan,” kata Yanuar.


“Diminum dulu kopinya! Sayang kalau harus dibuang begitu saja,” ujar Ibu Claudia.


Terpaksa Yanuar duduk di sofa lalu meminum kopinya. Ibu Claudia berjalan ke ruang makan lalu kembali sambil membawa sepiring kue. Ibu Claudia menaruh piring kue di atas meja.


“Ini kuenya masih hangat. Ayo dicicipi!” ujar Ibu Claudia.


Ibu Claudia kembali ke ruang makan, tidak lama kemudian ia membawa secangkir teh dan sepiring kue di atas nampan.


“Saya antar dulu kue ini ke Ayah,” ujar Ibu Claudia.


“Silahkan, Bu,” kata Yanuar.


Ibu Claudia membawa nampan tersebut ke ruang kerja Pak Sultan. Ibu Claudia membuka pintu dan masuk ke dalam kerja Pak Sultan. Ia menaruh cangkir dan piring kue di atas meja kerja Pak Sultan lalu ia duduk di kursi yang berada di depan meja Pak Sultan.


“Ternyata benar Rendi pergi menemui Rahma di Wonosobo,” ujar Pak Sultan. Pak Sultan mengambil cangkir lalu meminum teh.


“Sudalah, Yah. Biarkan saja mereka, tidak usah Ayah mata-matai lagi! Biarkan hubungan mereka berjalan normal tanpa harus Ayah mata-matai kemana mereka pergi,” kata Ibu Claudia.


“Ayah bukan mau memata-matai mereka. Ayah hanya ingin tau benar tidak mereka pergi bersama,” ujar Pak Sultan.


“Kalau mereka berjodoh pasti mereka tidak akan terpisahkan,” kata Ibu Claudia.


“Kalau mereka bukan jodoh, bagaimana?” tanya Pak Sultan.


“Mungkin itu yang terbaik untuk Rendi. Lebih baik sekarang kita doakan saja agar Rendi diberikan jodoh yang terbaik,” jawab Ibu Claudia.


Pak Sultan menerawang. Ia membayangkan pertama kali ia bertemu Rahma.

__ADS_1


“Rahma gadis yang baik. Entah mengapa ketika Ayah pertama kali bertemu dengan Rahma, ia seperti orang yang pantas mendampingi Rendi,” ujar Pak Sultan.


“Rendi bukan cuma butuh perempuan yang cantik, kaya dan pintar untuk menjadi pendampingnya. Tapi dia juga butuh perempuan yang tangguh untuk mendampinginya. Tapi jodoh tidak bisa dipaksa, Yah. Biarkan saja mengalir apa adanya,” kata Ibu Claudia.


Pak Sultan menghela napas.


“Kamu benar. Sekuat apapun kita berusaha mendekatkan mereka. Kalau bukan jodoh mereka pasti akan berpisah,” ujar Pak Sultan.


***


Kita kembali ke pasangan yang sedang dibicarakan Ibu Claudia dan Pak Sultan.


Pukul dua belas Rahma dan rekan-rekannya berhenti evaluasi. Kebetulan pesertanya juga sudah tidak ada. Nanti akan dilanjutkan pukul setengah dua. Rahma meregangkan badannya yang pegal karena harus duduk selama berjam-jam.


Rendi mendekati Rahma.


“Yuk, kita makan siang,” ujar Rendi.


“Saya tidak bisa makan siang di luar. Karena nanti masih harus evaluasi lagi,” kata Rahma.


“Yah! Berarti saya harus makan siang sendiri,” ujar Rendi kecewa.


“Pak Rendi makan di sini saja bareng dengan saya dan rekan-rekan yang lain,” kata Rahma.


Rendi mengerutkan keningnya.


“Makan dengan apa?” tanya Rendi.


“Tuh.” Rahma menunujk ke kotak makanan yang berjejer di atas meja.


“Itukan untuk yang bekerja,” ujar Rendi.


“Pak Rendi sudah termasuk dalam hitungan,” kata Rahma.


“Kok bisa?” tanya Rendi.


“Sudah tidak usah banyak nanya,” jawab Rahma.


Rahma ingat kejadian kemarin sore ketika Ibu Rosida kepala tata usaha kantor dinas menanyakan jumlah rombongan mereka yang ikut serta. Mereka hendak menyiapkan konsumsi untuk makan siang. Rahma menjawab tiga namun Pak Iqbal menyebut empat. Pak Iqbal mengatakan kepada Ibu Rosida kalau besok pacar Rahma akan datang menyusul. Pak Iqbal membuat Rahma menjadi malu di depan Ibu Rosida.


“Ma, saya mau ke kamar mandi dulu,” ujar Rendi.


“Di sini kamar mandinya.” Rahma mengajak Rendi menuju ke kamar mandi. Setelah Rendi masuk ke dalam kamar mandi, Rahma bergabung dengan rekan-rekan yang lain. Beberapa menit kemudian Rendi keluar dari kamar mandi. Ia mencari Rahma. Ia menyapu pandangannya ke seluruh ruangannya. Rahma melambaikan tangannya ke arah Rendi dan menyuruh Rendi untuk mendekatinya.


Rahma sedang makan bersama rekan-rekannya. Rendi menghampiri Rahma. Rahma memberikan nasi kotak kepada Rendi. Kemudian Rendi duduk di sebelah Rahma. Merekapun makan siang bersama.


.


.

__ADS_1



__ADS_2