183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
50. Menemui Orang Tua Rahma


__ADS_3

Hari terus berlalu. Tidak terasa sekarang sudah hari sabtu. Pagi-pagi sekali Rendi dan Rahma berangkat menuju ke Kuningan untuk menemui orang tua Rahma. Perjalanan dari Bandung menuju ke Kuningan melalui tol Cipali kira-kira menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam.


Pukul sembilan mereka sampai di rumah orang tua Rahma. Rendi hendak memarkirkan mobil di depan rumah Pak Ferdi, namun dicegah oleh Rahma.


“Parkir di dalam saja!” kata Rahma.


Rahma turun dari mobil lalu membukakan pintu pagar rumah Pak Ferdi. Rendi memasukkan mobilnya ke halaman rumah Pak Ferdi. Carpot rumah Pak Ferdi tidak datar tapi menanjak. Seolah-olah menguji rem tangan mobil yang parkir di carpot. Sepakem apakah rem tangan mobil kamu?


Setelah memarkirkan mobil, Rendi turun dari mobil dan membuka bagasi mobil. Ia mengeluarkan tas travel milik Rahma dan tas kain yang berisi oleh-oleh untuk orang tua Rahma. Rahma berjalan menuju ke pintu rumah. Ia menekan bel yang menempel di dinding rumah.


Assalamualaikum bunyi bel rumah Rahma.


Tidak lama kemudian pintu rumah terbuka. Ibu Arini berdiri di depan pintu. Wajahmya terlihat senang ketika melihat putri bungsunya datang.


“Rahma?” Ibu Arini langsung memeluk Rahma.


“Mama kangen sama kamu,” ujar Ibu Arini.


“Rahma juga kangen sama Mama,” kata Rahma.


Ibu Arini melepaskan pelukannya. Ia melihat ke belakang Rahma. Rendi berdiri di belakang Rahma sambil memegang tas travel dan beberapa tas jinjing.


“Rendi apa kabar?” Ibu Arini mengajak Rendi salaman.


Rendi menyimpan tas-tas tersebut di lantai lalu menyalami Ibu Arini.


“Alhamdullilah, baik Tante,” jawab Rendi.


“Ayo masuk!” Ibu Arini dan Rahma masuk ke dalam rumah. Rendi mengikuti dari belakang sambil membawa tas-tas itu masuk ke dalam rumah. Mereka berjalan menuju ke ruang keluarga. Dari ruang tamu menuju ke ruang keluarga mereka melalui lorong dengan pemandangan taman kecil. Di taman tersebut terdapat tanaman hias nan cantik dan asri. Ibu Arini memang cekatan dalam memelihara tanaman hias.


“Papa mana, Ma?” tanya Rahma.


“Ada di dalam. Biasalah Papamu sedang asyik nonton televisi sambil minum kopi,” jawab Ibu Arini.


“Kalian sudah sarapan?” tanya Ibu Arini.


“Belum, Mah. Tadi kami hanya ngemil-ngemil untuk mengganjal perut,” jawab Rahma.


Mereka sampai di ruang keluarga. Pak Ferdi sedang fokus ke televisi. Ia tidak menyadari kalau Rahma datang.


“Pa. Lihat siapa yang datang,” ujar Ibu Arini.


Pak Ferdi menoleh kearah mereka.


“Rahma? Kapan datang?” tanya Pak Ferdi.


“Barusan. Papa saja yang asyik nonton sampai tidak tau anaknya datang.” Rahma menghampiri Pak Ferdi lalu mencium tangan Pak Ferdi.

__ADS_1


Rendi menyimpan tas yang ia bawa di lantai lalu menghampiri Pak Ferdi dan menyalami tangan Pak Ferdi.


“Kalian dari Bandung jam berapa?” tanya Pak Ferdi.


“Jam enam, Om,” jawab Rendi.


“Mereka belum sarapan,” kata Ibu Arini kepada Pak Ferdi.


“Ayo, sarapan dulu!” Ibu Arini mengajak Rahma dan Rendi menuju ke meja makan.


Rendi membawa kembali tas-tas tersebut.


“Ini taruh dimana?” Rendi menunjuk ke tas-tas yang ia pegang kepada Rahma.


“Oh, iya. Lupa.” Rahma mengambil tas-tas tersebut dari tangan Rendi. Ia menghampiri Ibu Arini.


“Ma, ini oleh-oleh dari Tante Claudia.” Rahma memberikan satu tas jinjing kepada Ibu Arini.


Ibu Arini menerima tas tersebut.


“Terima kasih, Rendi,” ucap Ibu Arini.


“Sama-sama, Tante,” jawab Rendi.


Rahma membawa tas-tas yang lain ke dalam kamar lalu menyimpan di kamar. Setelah menyimpan tas Rahma keluar dari kamar. Ia bergabung bersama Rendi di meja makan. Rendi sedang menuangkan nasi uduk ke atas piring.


“Hmmm.” Rendi memandangi lauk pauk yang berada di atas meja makan sambil berpikir.


“Ayam goreng, ya.” Rahma menaruh ayam goreng di atas piring. Rendi tidak mengatakan apa-apa, ia  hanya memperhatikan Rahma.


“Pakai telur dadar, ya.” Rahma menaruh dadar telur ke atas piring. Kemudian Rahma mengambil piring yang berisi orek tempe.


“Ini harus dicoba! Orek tempe buatan bi Edah juara.” Rahma mengacungkan jempol.


“Iya, boleh,” jawab Rendi.


Rahma menaruh orek tempe di atas piring. Ia menaruh sambel di piring Rendi. Lalu menaburi bawang goreng di atas nasi uduk.


“Selamat makan,” ucap Rahma.


“Kamu tidak makan?” tanya Rendi.


“Baru mau makan,” jawab Rahma.


Rahma megambil toples lalu membuka tutup toples. Ia menyodorkan toples ke Rendi.


“Lupa kerupuknya,” kata Rahma. Rendi mengambil satu buah kerupuk aci. Rahma menaruh kembali toples di atas meja. Kemudian ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah selesai makan Rendi dan Rahma duduk bergabung dengan orang tua Rahma. Pak Ferdi dan Ibu Arini sedang menonton berita di televisi.


“Apa Aa mau kopi?” tanya Rahma.


“Nanti saja. Aku masih kenyang,” jawab Rendi.


“Sampai kapan kalian di Kuningan?” tanya Pak Ferdi.


“Sampai Minggu, Pa. Hari senin Rahma sudah harus masuk kantor,” jawab Rahma.


Rendi memberanikan diri untuk mengutarakan niat kedatangannya kepada orang tua Rahma.


“Om Tante. Ada yang hendak saya bicarakan dengan Om dan Tante,” kata Rendi.


“Katakanlah.” Pandangan Pak Ferdi dan Ibu Arini fokus kepada Rendi. Rendi mengambil nafas dalam-dalam agar ia lebih merasa tenang.


“Saya hendak menikah dengan Rahma,” kata Rendi.


Ibu Arini kaget mendengar perkataan Rendi. Namun, Pak Ferdi terlihat tenang mendengar perkataan Rendi.


“Jadi kamu mau melamar anak saya?” tanya Pak Ferdi.


“Iya, Om,” jawab Rendi.


“Kamu punya apa sampai berani melamar anak saya?” tanya Pak Ferdi.


Rendi kaget mendengar pertanyaan Pak Ferdi. Ia tidak menyangka Pak Ferdi akan bertanya seperti itu kepadanya. Ibu Arini dan Rahma juga kaget mendengar pertanyaan Pak Ferdi. Rahma merasa tidak enak kepada Rendi. Seolah-olah papanya materialistis.


“Papa! Kenapa Papa bertanya seperti kepada Rendi?” tanya Ibu Arini.


Pak Ferdi bukannya mendengarkan pertanyaan Ibu Arini, tapi ia malah melanjutkan perkataannya.


“Bukankah semua yang kamu miliki adalah milik kakek dan milik orang tua kamu? Lalu kamu mau menghidupi anak saya dengan apa? Dengan kekayaan kakek dan orang tuamu?” Pak Ferdi menatap tajam ke Rendi.


“Saya tau semua kekayaan yang saya miliki adalah milik kakek dan orang tua saya. Tapi saya akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa menafkahi Rahma dan anak-anak kami nanti,” jawab Rendi.


“Kalau perusahaan kakekmu bangkrut, kamu mau menghidupi Rahma dan anak-anakmu pakai apa? Apa kamu mau numpang hidup dengan gaji Rahma?” tanya Pak Ferdi dengan tajam.


“Saya akan bekerja di perusahaan lain, Om,” jawab Rendi.


“Kamu punya pengalaman kerja? Bukankah kamu jadi CEO di perusahaan kakekmu? Mana ada yang percaya dengan sepak terjangmu?” tanya Pak Ferdi seolah-olah meremehkan Rendi.


“Papa!” Rahma protes kepada Pak Ferdi. Ia merasa papanya sudah keterlaluan terhadap Rendi.


“Ma, Papa tuh,” rengek Rahma.]


“Papa ini kenapa, sih? Rendi datang ke sini dengan baik-baik untuk melamar Rahma. Malah Papa cecar dengan pertanyaan yang tidak-tidak,” ujar Ibu Arini.

__ADS_1


__ADS_2