
Pukul sebelas acara resepsi pernikahan Rahma dan Rendi di mulai. Rahma menggunakan gaun pengantin muslim berwarna putih dan Rendi menggunakan suit berwarna biru gelap dengan dasi yang senada dengan suit. Baju pengantin mereka yang dirancang khusus oleh seorang perancang busana pengantin yang cukup terkenal di kota Bandung.
Ibu Claudia berdiri di posisi orang tua pengantin pria. Ia di dampingi oleh Pak Reynhard bukan oleh Pak Sultan. Pak Sultan tidak diperbolehkan oleh Rendi mendampingi Ibu Claudia karena takut kecapean harus berdiri lama. Sebelumnya Pak Bobby menawarkan diri menggantikan Pak Sultan untuk mendampingi Ibu Claudia. Namun, ditolak mentah-mentah oleh Ibu Claudia.
Pak Sultan duduk di meja VIP bersama dengan Pak Bobby. Mereka asyik membicarakan tentang bisnis bersama dengan para tamu pengusaha lainnya. Banyak tamu dari kalangan pengusaha dan penjabat yang datang ke acara resepsi pernikahan Rendi dan Rahma.
Teman-teman Rendi seperti Iwan, Gana dan Ibram hadir di acara resepsi pernikahan Rahma dan Rendi. Mereka membawa pasangannya masing-masing. Teman-teman Rahma di tempat kost yang lama juga diundang. Rendi memberikan uang transportasi kepada mereka agar mereka bisa hadir di acara pernikahan Rahma. Bagaimanapun juga Rahma masih menjalin hubungan yang baik dengan mereka walaupun ia sudah tidak kost di sana lagi.
Acara resepsi berakhir pada pukul dua tepat. Para pemain band mengakhiri permainan music dan para tamu pun membubarkan diri. Rendi, Rahma beserta dengan orang tua mereka santap siang bersama di meja VIP.
Rahma makan beberapa suap lalu ia meminta tas kepada Komala yang sedang duduk di meja lain.
“Teh, mana tas Rahma?” tanya Rahma.
Komala memberikan salah satu tas yang ia pegang kepada Rahma. Rahma mengeluarkan obat dari dalam tas. Rendi melihat Rahma mengeluarkan obat.
“Itu obat apa? Apa kamu sedang sakit?” tanya Rendi .
“Iya. Kepala Rahma sedikit sakit,” jawab Rahma. Rahma mengganti dirinya dari saya menjadi Rahma karena mereka sudah resmi menikah. Kedengarannya memang agak sedikit manja.
Rahma meminum obat tersebut. Rendi mengusap kepala Rahma.
“Nanti kita ke dokter, ya!” ujar Rendi.
“Tidak usah. Rahma sedang h*id sehingga kepala Rahma sakit,” jawab Rahma.
“Lagipula papa kan dokter. Apa Aa lupa?” tanya Rahma.
“Oh, iya. Aku lupa kalau papa dokter,” jawab Rendi sambil nyengir. Bagaimana ia bisa lupa kalau mertuanya seorang dokter. Rendi menoleh ke arah Pak Ferdi,.Tangan Rendi masih mengusap kepala Rahma. Pak Ferdi sedang makan sambil memperhatikan mereka.
“Kenapa?” tanya Pak Ferdi.
“Rahma sakit kepala,” jawab Rendi.
“Dia memang suka sakit kepala kalau sedang h*aid. Pengaruh dari hormon,” ujar Pak Ferdi.
Rendi kembali memandang ke arah Rahma.
“Sakit sekali?” tanya Rendi sambil mengusap kepala Rahma.
__ADS_1
“Sedikit,” jawab Rahma.
“Lanjutkan lagi makannya!” ujar Rendi.
Rahma melanjutkan makan. Rendi juga melanjutkan makan. Ia makan sambil sesekali melirik ke Rahma untuk meyakinkan istrinya makan dengan baik. Setelah selesai makan Rahma dan Rendi kembali ke hotel.
Rendi membuka suitnya. Ia melepaskan dasi yang melingkar di kerah baju dan membuka kemeja sehingga menyisakan kaos oblong berwarna putih. Lalu ia membuka koper yang di taruh di sudut kamar. Ia mengambil kaos dan celana pendek dari dalam koper. Ia hendak membawa baju tersebut ke dalam kamar mandi. Tapi sebelum masuk kamar mandi ia menoleh ke arah Rahma, Rahma sedang melepaskan peniti dan jarum pentul yang menempel pada kerudungnya.
“Mau Aa bantu?” tanya Rendi.
“Tolong cabut jarum pentul yang di belakang,” jawab Rahma sambil memegang tengkuknya. Ia mencoba mencari jarum pentul yang menempel di tengkuknya.
Rendi menaruh baju yang dipegangnya di atas tempat tidur. Kemudian ia menghampiri Rahma. Rendi mengambil jarum pentul yang menempel pada kerudung hingga akhirnya kerudung yang menutupi kepala Rahma bisa dibuka. Sekarang tinggal menyisakan ciput yang menempel di kepala Rahma. Rahma melepaskan ciput yang menutupi rambutnya.
“Alhamdullilah,” ucap Rahma. Ia tidak merasa gerah lagi.
Rendi memandangi istrinya dari kaca meja rias tanpa berkedip. Baru kali ini ia melihat istrinya tanpa menggunakan kerudung. Rambut Rahma terurai panjang sebahu. Apalagi Rahma belum menghapus make up di wajahnya. Ia terlihat sangat cantik.
Tiba-tiba Rendi mengecup pipi istrinya.
“Kamu cantik sekali,” puji Rendi. Rahma tersenyum dipuji oleh suaminya.
“Aku mandi. Takut kebablasan.” Rendi mengambil baju yang ia taruh di atas tempat tidur.
Rendi tidak jadi menuju ke kamar mandi. Ia menoleh ke Rahma.
“Kenapa?” tanya Rendi.
“Tolong bantuin buka longtorso,” jawab Rahma.
Rendi mengerut keningnya ketika mendengar kata longtorso.
“Longtorso itu apa?” tanya Rendi bingung.
“Sebentar.” Rahma membuka kancing baju yang mengait di belakang lehernya. Rendi memperhatikan istrinya. Lalu Rahma membuka resleting baju dan memperlihatkan punggungnya yang putih mulus. Rendi menelan ludah ketika melihat punggung istrinya.
“Nih, A. Tolong bukain kaitannya.” Rahma menunjukkan ke kaitan longtorso yang menempul di punggungnya. Rendi menaruh kembali pakaiannya di atas tempat tidur. Ia memejamkan matanya lalu memalingkan wajahnya ke samping. Tangannya membuka kaitan longtorso satu persatu dengan mata terpejam. Rahma tertawa melihat wajah Rendi.
Akhirnya semua kaitan lonngtorso sudah terbuka memperlihatkan punggung putih Rahma tanpa ada penghalang apapun. Cepat-cepat Rendi mengambil pakaiannya lalu berjalan cepat menuju ke kamar mandi. Rahma tertawa melihat suaminya.
__ADS_1
Rahma keluar dari kamar mandi ia baru selesai mandi. Rendi sedang bersandar pada headboard tempat tidur sambil membaca chat di ponselnya. Rahma menggosok rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk. Rendi menoleh ke Rahma.
“Sini!” Rendi menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
Rahma menyampirkan handuk di punggungnya lalu ia menghampiri Rendi. Rahma duduk di sebelah Rendi. Rendi merangkul bahu Rahma lalu mengecup kepala Rahma.
“Masih pusing?” tanya Rendi.
“Sedikit,” jawab Rahma.
“Kalau begitu istirahat saja.” Rendi mendekap tubuh istrinya. Rahma merebahkan kepalanya di dada suaminya. Rendi mengusap kepala istrinya dengan tangannya. Sesekali mengecup kepala istrinya.
Malam harinya setelah selesai sholat magrib Pak Sultan mengajak semua keluarga besar Rendi makan malam di restaurant.
“Kita tidak usah ikut makan di luar. Kita pesan makanan layanan kamar,” ujar Rendi.
“Jangan, ah. Tidak enak dengan yang lain,” kata Rahma.
“Kamu kan sedang sakit.” Rendi mengusap kepala Rahma.
“Rahma tidak apa-apa, A. Rahma baik-baik aja. Rahma sudah biasa sakit seperti ini,” kata Rahma.
Rendi menghela napas.
“Baiklah. Kalau kepalamu terasa sangat sakit, bilang ke aku. Nanti kita langsung ke rumah papa untuk diperiksa,” ujar Rendi.
“Baik, Aa,” jawab Rahma.
Rahma dan Rendi segera berganti baju menggunakan baju santai. Lalu mereka keluar dari kamar untuk menemui keluarga besar Rendi. Lobby hotel penuh oleh keluarga Rendi. Mereka sedang menunggu Rendi dan Rahma untuk makan malam bersama. Ketika melihat Rendi dan Rahma datang mereka langsung bernafas lega. Terdengar suara riuh dari saudara-saudara Rendi.
“Akhirnya pengantin datang juga,” sahut mereka.
Ibu Claudia menghampiri Rahma.
“Kamu tidak apa-apa, kan?” Ibu Claudia menatap Rahma dengan khawatir.
“Rahma baik-baik saja, Ma. Hanya sedikit pusing,” jawab Rahma.
“Nanti di mobil Mama pijat-pijat kepala dan badannya,” ujar Ibu Claudia.
__ADS_1
“Ayo kita berangkat sekarang. Kasihan mereka sudah kelaparan.” Ibu Claudia merangkul punggung Rahma lalu mereka berjalan menuju ke tempat pakir. Rendi mengikuti mereka dari belakang.