183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
38. Sulit Mencari Tempat Kost


__ADS_3

Setelah tertangkapnya kedua penculik itu Rahma bisa bernapas lega. Kedua orang tua Rahma sudah diberitahu tentang penangkapan kedua penculik tersebut. Mereka sekarang merasa tenang tidak terlalu cemas memikirkan keadaan Rahma.


Sekarang Rahma bisa mencari tempat kos yang baru. Namun ia kembali teringat pesan Pak Bobby kalau orang jahat seperti kedua penculik itu masih banyak berkeliaran di luar sana. Rahma harus tetap berhati-hati. Ia harus mencari tempat kost yang aman. Ia tidak bisa sembarangan memilih tempat kost.


"Tidak usah terburu-buru cari tempat kost. Tinggal di sini saja sampai kamu bisa mendapatkan tempat kost yang cocok, " ujar Ibu Claudia ketika Rahma pamit hendak berangkat ke kantor.


"Baik, Tante," jawab Rahma.


"Tante senang kamu tinggal di sini, serasa Tante memiliki anak perempuan. Kamu kan tahu Tante sering merasa kesepian. Rendi sibuk di kantor. Dia kan sudah menjadi President Direktur menggantikan kakek. Kakek sibuk main catur dengan Pak Lilih atau dengan Pak Atmo. Belum lagi kalau Kakek sedang bosan di rumah beliau pergi ke kantor. Kakek memeriksa perkembangan perusahaan dan hotel. Kadang-kadang kakek pergi bermain golf dengan kawan-kawannya, " kata Ibu Claudia.


"Iya, Tante, " jawab Rahma.


"Sana berangkat! Nanti kamu kesiangan ke kantor, " ujar Ibu Claudia.


"Baik, Tante. Rahma berangkat dulu. " Rahma mencium tangan Ibu Claudia. Lalu menghampiri Pak Sultan yang sedang menonton televisi.


"Kek, Rahma berangkat dulu. " Rahma mencium tangan Pak Sultan.


"Hati-hati! Jaga diri baik-baik! " pesan Pak Sultan.

__ADS_1


"Iya, Kek," jawab Rahma.


"Assalamualaikum, " ucap Rahma sebelum keluar dari rumah.


"Waalaikumsalam, " jawab Ibu Claudia dan Pak Sultan.


Rahma keluar dari rumah melalui garasi mobil. Rendi sudah menunggunya di dalam mobil. Ia masuk ke dalam mobil Rendi. Kemudian Rendi menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah.


"Mulai besok tidak usah diantar jemput lagi. Saya bisa pergi sendiri motor, " kata Rahma.


"Tidak apa-apa selama saya sedang ada di rumah saya antar jemput kamu. Kecuali kalau saya sedang pergi keluar kota atau keluar negri, baru kamu berangkat sendiri. Atau diantar Pak Sopir atau Pak Lilih," ujar Rendi sambil fokus menyetir mobil.


"Saya tidak ingin merepotkan Pak Rendi. Pak Rendi sekarang sudah jadi President Direktur pasti Pak Rendi sibuk sekali, " kata Rahma.


"Saya, selalu menyediakan waktu saya untuk kamu. Seperti janji saya kepada orang tua kamu kalau saya akan menjaga kamu dengan baik, " ujar Rendi.


Rahma menghela napas mendengar perkataan Rendi. Perkataan Rendi sulit untuk dibantah.


"Minggu depan saya akan ke Jepang," ujar Rendi. Pandangan Rendi fokus ke depan karena lalu lintas sangat padat. Mobil-mobil jalan merayap.

__ADS_1


"Mungkin saya lama di Jepang sekitar dua minggu, " lanjut Rendi. Rahma memandangi Rendi yang sedang fokus menyetir.


"Saya harap kamu jangan pindah dulu. Tunggu sampai saya pulang. " Rendi menoleh sebentar ke Rahma. Kemudian ia fokus lagi ke depan karena mobil di depan sudah mulai jalan. Namun, baru jalan beberapa meter sudah berhenti lagi karena stopan lampu merah.


Rendi menoleh ke Rahma. Ia memandangi Rahma yang sedang berpikir.


"Bukanlah dia minggu lagi sudah hampir genap enam bulan?" tanya Rahma.


"Saya tahu makanya saya minta kamu untuk menunggu kepulangan saya dari Jepang," jawab Rendi.


Rahma berpikir sejenak. Sampai saat ini dia masih belum mendapatkan tempat kost. Kalaupun Rendi pulang dari Jepang belum tentu Rahma sudah mendapatkan tempat kost yang baru. Mencari tempat kost yang aman bukanlah sesuatu hal yang mudah.


"Bagaimana, Rahma? Mau kan kamu menunggu saya pulang dari Jepang?" Rendi masih menoleh ke arah Rahma.


Rahma mengangguk sebagai tanda kalau ia akan menunggu Rendi pulang dari Jepang.


"Alhamdullilah," ucap Rendi dengan wajah berseri.


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang berada, di belakang mobil Rendi. Rupanya lampu sudah berubah menjadi hijau mobil di depan Rendi sudah jalan, hanya mobil Rendi yang belum jalan. Cepat-cepat Rendi menurunkan rem tangan dan menjalankan mobilnya. Rahma tertawa melihat Rendi menjalankan mobil dengan terburu-buru.

__ADS_1


__ADS_2