183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
42. Kejutan


__ADS_3

Bi Wiwiek mematikan kompor. Ibu Claudia melihat tempat adonan bala-bala sudah berada di tempat cucian piring.


“Bala-bala sudah digoreng semua, Bi?” tanya Ibu Claudia.


“Sudah, Bu,” jawab bi Wiwiek.


Ibu Claudia menaruh piring yang berisi bala-bala dan semangkok cabe rawit di atas nampan. Lalu ia membawa nampan tersebut ke ruang keluarga. Ibu Claudia menaruh piring bala-bala dan mangkok cabe rawit di atas meja sofa. Pak Sultan menoleh ke bala-bala yang baru saja disimpan oleh Ibu Claudia. Sedangkan Pak Bobby malah memandangi wajah Ibu Claudia.


“Nah, ini bala-balanya sudah datang. Silahkan dicoba. Ini buatan Claudia.” Pak Sultan mengambil satu buah bala-bala dengan menggunakan tissue.


“Aduh, panas!” Pak Sultan menyimpan kembali bala-bala tersebut lalu menggerak-gerakkan jari-jarinya yang kepanasan.


“Sabar, Yah. Itu baru matang jadi masih panas,” kata Ibu Claudia.


“Silahkan dimakan, Pak!” kata Ibu Claudia kepada Pak Bobby.


“Terima kasih,” jawab Pak Bobby. Ibu Claudia kembali ke dapur. Ia hendak menyiapkan makan malam.


Pak Bobby lama berada di rumah Pak Sultan. Pak Sultan mengajak Pak Bobby bermain catur tanpa ada rasa bosan. Biasanya Pak Sultan mengajak Rahma bermain catur setelah Rahma pulang kerja. Namun, selama Rahma sedang berada di Yogyakarta Pak Sultan merasa kesepian. Tidak ada yang bisa diajak main catur.


Pak Bobby dengan senang hati diajak bermain catur oleh Pak Sultan. Yang penting ia bisa dekat dengan Ibu Claudia. Pak Bobby menikmati permainan catur sambil memakan bala-bala buatan Ibu Claudia. Hingga tak terasa adzan magrib berkumandang.


“Sudah magrib. Kita sholat dulu.” Pak Sultan menghentikan permainannya.


“Pak Bobby sholat, tidak?” tanya Pak Sultan.


“Saya jarang sholat,” jawab Pak Bobby dengan berterus terang.


“Alangkah baiknya jika sudah tua, kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Agar ketika kita dipanggil nanti, kita sudah punya bekal untuk dibawa ke akhirat,” ujar Pak Sultan.


“Baik, Pak. Akan saya usahakan sholat lebih rajin lagi,” kata Pak Bobby.


Pak Sultan beranjak dari tempat duduk.


“Ayo kita sholat berjamaah. Sekarang Pak Bobby wudhu dulu!” Pak Sultan mengantar Pak Bobby ke kamar mandi untuk berwudhu.


Setelah Pak Bobby masuk kamar mandi, Pak Sultan menghampiri kamar Ibu Claudia. Ia mengetuk kamar Ibu Claudia.


“Claudia.” Pak Sultan memanggil Ibu Claudia.

__ADS_1


“Ya, Ayah.” Terdengar suara jawaban dari dalam kamar Ibu Claudia.


Ibu Claudia membuka pintu kamar.  Ibu Claudia sudah memakai mukenah, ia bersiap-siap untuk sholat magrib.


“Ada apa, Yah?” tanya Ibu Claudia.


“Kita sholat berjamaah dengan Pak Bobby,” ujar Pak Sultan.


“Ayah saja yang sholat berjamaah dengan Pak Bobby. Claudia sholat sendiri di kamar. Claudia malas sholat bareng dengan Pak Bobby,” jawab Ibu Claudia.


“Ish tidak boleh begitu! Kita harus memberikan contoh yang baik kepada Pak Bobby, agar dia mau sholat,” ujar Pak Sultan.


“Biarkan saja kalai dia tidak mau sholat. Itu bukan urusan kita,” kata Ibu Claudia.


“Sudah menjadi kewajiban sesama muslim untuk saling mengingatkan!” ujar Pak Sultan.


Yang dikatakan Pak Sultan memang benar. Ibu Claudia menghela napas.


“Baik, Ayah,” jawab Ibu Claudia.


“Nah, begitu dong. Sekarang kamu pasang sajadahnya! Ayah mau wudhu dulu.” Pak Sultan beranjak dari depan kamar Ibu Claudia menuju ke kamarnya. Ibu Claudia keluar dari kamarnya menuju ke mushola. Ia menggelar sajadah satu persatu.


Pak Bobby sudah keluar dari kamar mandi. Ia melihat ruang keluarga nampak sepi. Ia bingung harus sholat dimana. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, namun ia tidak melihat orang yang lewat. Lalu ia berjalan menuju ke ruangan kosong yang berada di sebelah kamar mandi. Ia melihat seseorang wanita memakai mukenah sedang menggelar sajadah. Ternyata tempat itu adalah mushola. Pak Bobby masuk ke dalam mushola. Wanita itu menoleh ke arah Pak Bobby, ternyata wanita itu adalah Ibu Claudia.


“Ayah sedang wudhu,” jawab Ibu Claudia.


Tidak lama kemudian Pak Sultan masuk ke dalam mushola.


“Pak Bobby komat!” perintah Pak Sultan.


Pak Bobby pun komat. Beruntung ia masih ingat kalimat komat. Pak Sultan berdiri di barisan paling depan, ia yang akan menjadi imam. Pak Bobby berada di barisan tengah. Sedangkan Ibu Claudia berada di barisan paling belakang. Mereka pun mulai sholat magrib berjamaah.


Setelah selesai sholat magrib Pak Sultan mengajak Pak Bobby makan malam bersama. Ibu Claudia terpaksa ikut makan malam bersama dengan mereka karena kalau ia menghindar Pak Sultan akan marah kepadanya.


Setelah selesai makan malam Pak Bobby pamit pulang.


“Sudah malam, saya pamit pulang,” kata Pak Bobby.


“Sering-sering main ke sini, temani saya main catur!” ujar Pak Sultan.

__ADS_1


“Insyaallah, Pak. Kalau saya tidak sibuk,” jawab Pak Bobby.


Kemudian Pak Bobby menghampiri Ibu Claudia yang sedang membereskan meja makan.


“Ibu Claudia, saya pamit pulang. Terima kasih atas makan malamnya. Rasanya sangat lezat sekali,” ucap Pak Bobby.


“Sama-sama, Pak Bobby,” jawab Ibu Claudia.


“Assalamualaikum,” ucap Pak Bobby.


“Waalaikumsalam,” jawab Pak Sultan dan Ibu Claudia.


Pak Bobby keluar rumah diantar Pak Sultan. Ibu Claudia melanjutkan pekerjaannya.


***


Tak terasa sudah lima hari Rahma berada di Yogyakarta. Sudah waktunya ia pulang ke Bandung. Rahma dan Pak Barli pulang ke Bandung dengan menggunakan kereta api Argo Wilis. Kereta Argo Wilis berangkat dari Yogyakarta pukul dua belas siang . Sampai di Bandung pukul enam sore lewat lima belas menit.


Rahma dan Pak Barli turun dari kereta api. Mereka berjalan menuju ke pintu keluar. Ketika sampai di luar stasiun Rahma mencari seseorang yang akan menjemputnya. Ia tidak tau siapa yang akan menjemputnya. Entah dijemput Pak Sobir atau Pak Lilih. Ibu Claudia tidak bilang siapa yang akan menjemput Rahma.


Rahma melihat seorang laki-laki tampan bertubuh tinggi yang berdiri diantara para penjemput. Laki-laki itu tersenyum kepadanya. Rahma kaget melihat laki-laki itu lalu ia menghampiri laki-laki tersebut. Pak Barli mengikuti Rahma.


“Loh, kok sudah ada di sini? Kapan pulang?” tanya Rahma bingung.


“Hari kamis,” jawab Rendi.


“Kok, tidak bilang kalau pulang hari kamis?” tanya Rahma.


“Sengaja biar jadi kejutan,” jawab Rendi.


“Kalau bilang sudah pulang, nanti tidak jadi kejutan lagi,” lanjut Rendi.


Rendi menoleh ke Pak Barli yang berdiri di belakang Rahma. Ia menyalami Pak Barli.


“Pak Barli, apa kabar?” sapa Rendi.


“Alhamdullilah, baik,” jawab Pak Barli.


“Pak Rendi, Pak Barli ikut sampai kantor. Kendaraan Pak Barli di simpan di kantor,” kata Rahma.

__ADS_1


“Tentu saja boleh. Kita kan lewat kantor,” jawab Rendi.


Rendi mengambil travel bag dan kantong plastik dari tangan Rahma. Ia membawakan barang-barang Rahma. Mereka pun berjalan menuju ke tempat parkir. Sesampai di tempat parkir Rendi membuka kunci mobil dengan menggunakan remote. Rahma dan Pak Barli masuk ke dalam mobil sedangkan Rendi memasukkan travel bag dan bawaan Rahma lainnya ke dalam bagasi mobil. Setelah itu barulah ia masuk ke dalam mobil. Rendi menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir stasiun.


__ADS_2