183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
60. Pergi Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Rendi memapah Rahma keluar dari kamar mandi. Ia membantu Rahma mengganti pakaian. Setelah Rahma selesai berganti pakaian Rendi baru keluar kamar untuk memberitahu Ibu Claudia dan Ibu Arini. Namun, Ibu Claudia dan Ibu Arini tidak ada di ruang keluarga. Rendi berjalan menuju ke teras belakang. Terdengar suara orang yang sedang bercakap-cakap dari teras belakang. Rupanya Ibu Claudia, Ibu Arini dan Pak Sultan sedang berbicara di teras belakang.


Rendi menghampiri Ibu Arini.


“Ma. Ada berc*k d*rah di un*der*wear Rahma,” kata Rendi.


Semua orang langsung menoleh ke arah Rendi.


“Hah? Berc*k d*rah?” tanya Ibu Arini.


“Iya,” jawab Rendi.


“Kalau begitu kita harus secepatnya ke rumah sakit!” ujar Ibu Arini.


Ibu Arini dan Ibu Claudia langsung beranjak dari tempat duduk lalu mereka berjalan menuju ke kamar Rahma. Di dalam kamar Rahma sedang duduk sambil meringis kesakitan. Ibu Claudia dan Ibu Arini menghampiri Rahma. Ibu Arini mengusap punggung Rahma.


“Berapa lama kontraksinya?” tanya Ibu Arini.


“Beberapa detik sekali, Ma,” jawab Rahma sambil meringis kesakitan.


“Kalau begitu kita berangkat sekarang. Mama ganti baju dulu,” Ibu Arini berjalan keluar dari kamar Rahma. Diikuti oleh Ibu Claudia.


Setelah Ibu Claudia dan Ibu Arini berganti pakaian mereka bersiap-siap untuk berangkat. Rendi memapah Rahma menuju ke mobil. Tiba-tiba ada sebuah mobil hendak masuk ke dalam pekarangan rumah. Mobil itu parkir di sebelah mobil Alphard milik Pak Sultan. Pak Bobby keluar dari mobil tersebut. Ia melihat Rendi sedang memapah Rahma. Sedangkan di belakang Rendi ada Ibu Claudia, Ibu Arini dan Pak Sultan yang mengikuti Rendi dan Rahma.


“Kenapa dengan Rahma?” tanya Pak Bobby kepada Rendi.


“Rahma mau melahirkan,” jawab Rendi.


Rendi membantu Rahma masuk ke dalam mobil. Dengan susah payah Rahma masuk ke dalam mobil. Setelah Rahma duduk barulah Ibu Claudia dan Ibu Arini masuk ke dalam mobil. Mereka duduk di bangku paling belakang. Sedangkan Rendi duduk di sebelah Rahma.


“Ayah, ayo masuk!” Ibu Claudia memanggil Pak Sultan yang berdiri di depan pintu mobil.


“Kalian berangkatlah lebih dulu. Ayah bareng Pak Bobby,” ujar Pak Sultan.


“Ya sudah,” kata Ibu Claudia.


Pintu mobil menutup dengan otomatis lalu mobil itu pun jalan meninggalkan rumah Pak Sultan. Pak Sultan dan Pak Bobby masuk ke dalam mobil Pak Bobby. Supir Pak Bobby menjalankan mobil keluar dari halaman rumah Pak Sultan. Ia mengendari mobil mengikuti mobil Alphard milik Pak Sultan.


Rendi membawa Rahma ke rumah sakit yang berada di dekat kantor Rahma. Jarak rumah sakit dengan rumah Rendi memang tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu lima belas menit. Itupun karena mereka harus melalui sebuah stopan lampu merah.

__ADS_1


Pak Sobir menghentikan mobil di depan lobby rumah sakit. Rendi lebih dahulu turun dari mobil lalu membantu Rahma turun dari mobil. Rendi memapah Rahma masuk ke dalam rumah sakit. Mereka berjalan menuju ruang bersalin. Ibu Claudia mengurus pendaftaran rumah sakit. Sedangkan Ibu Arini mengikuti Rahma dan Rendi menuju ke ruang bersalin.


Pak Sultan dan Pak Bobby melihat Ibu Claudia di bagian administrasi rumah sakit. Mereka menghampiri Ibu Claudia.


“Kamu sedang apa, Claud?” tanya Pak Sultan.


Ibu Claudia menoleh ke Pak Sultan.


“Daftar rumah sakit, Yah,” jawab Ibu Claudia.


“Kalau begitu Ayah menyusul Rendi dan Rahma,” ujar Pak Sultan.


“Ayo Pak Bobby!” kata Pak Sultan.


“Saya di sini saja, Pak. menemani Ibu Claudia,” kata Pak Bobby.


“Ya sudah.” Pak Sultan meninggalkan Ibu Claudia dan Pak Bobby.


Pak Bobby duduk di sebelah Ibu Claudia. Namun, Ibu Claudia mengacuhkan Pak Bobby. Ibu Claudia melanjutkan pengisian formulir. Pak Bobby memperhatikan Ibu Claudia yang sedang menulis. Hingga akhirnya Ibu Claudia selesai mengisi formulir.


Ibu Claudia memberikan formulir kepada karyawan rumah sakit. Ibu Claudia diminta membayar uang muka oleh karyawan rumah sakit. Ibu Claudia mengambil kartu sakti milik Rendi dari dalam tas. Tapi ia kalah cepat dengan Pak Bobby. Pak Bobby langsung memberikan kartu sakitnya kepada karyawan rumah sakit.


“Jangan pakai kartu itu, Teh!” seru Ibu Claudia.


Karyawan itu tidak jadi mengesek kartu sakti Pak Bobby.


“Pakai yang ini. Ini kartu milik anak saya” Ibu Claudia menyodorkan kartu sakti milik Rendi.


“Pakai kartu saya saja, Bu,” ujar Pak Bobby.


“Jangan! Nanti Rendi marah sama saya,” kata Ibu Claudia berbohong. Padahal itu akal-akalan Ibu Claudia saja. Ia tidak mau Pak Bobby tidak membayarkan uang muka rumah sakit. Pak Bobby menghela napas. Bantuannya ditolak oleh Ibu Claudia. Karyawan itu mengembalikan kartu Pak Bobby lalu mengambil kartu pemberian Ibu Claudia. Karyawan itu pun memproses pembayaran uang muka rumah sakit.


Setelah selesai pembayaran Ibu Claudia menuju ke ruang bersalin. Pak Bobby mengikuti Ibu Claudia. Di Di depan ruang bersalin ada Ibu Arini dan Pak Sultan yang sedang duduk di ruang tunggu. Ibu Claudia dan Pak Bobby menghampiri Ibu Arini dan Pak Sultan.


“Bagaimana dengan keadaan Rahma? Apakah bayinya sudah lahir?” tanya Ibu Claudia.


“Belum. Baru pembukaan sembilan,” jawab Ibu Arini.


Ibu Claudia duduk di sebelah Ibu Arini. Sedangkan Pak Bobby duduk di sebelah Pak Sultan. Tiba-tiba datanglah seorang dokter wanita dan dokter pria. Mereka berbicara sambil berjalan menuju ke ruang bersalin.

__ADS_1


“Apa itu dokter kandungan Rahma?” tanya Ibu Arini kepada Ibu Claudia.


“Saya tidak tahu, Bu. Saya tidak pernah ikut kalau Rahma periksa ke dokter kandungan,” jawab Ibu Claudia.


“Coba kita tanya ke Rendi.” Ibu Claudia mengeluarkan ponsel dari dalam tas lalu menelepon Rendi.


“Assalamualaikum,” ucap Rendi.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Claudia.


“Ren, apa Rahma masih lama melahirkannya?” tanya Ibu Claudia.


“Sebentar lagi, Ma. Dokternya baru datang,” jawab Rendi.


“Alhamdullilah,” ucap Ibu Claudia.


“Sudah dulu, Ren. Assalamualaikum.” Ibu Claudia mematikan ponselnya.


Ibu Claudia mengatakan apa yang Rendi katakan kepada Ibu Arini dan Pak Sultan. Ibu Arini menjadi tegang ketika mendengar Rahma mau mulai melahirkan karena ini pertama kalinya Rahma melahirkan. Mereka pun berdoa agar Rahma dan bayinya selamat.


Hingga akhirnya terdengarlah suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin. Ibu Claudia dan Ibu Arini saling berpandang-pandangan.


“Apa itu cucu kita?” tanya Ibu Claudia kepada Ibu Arini.


“Entahlah, Bu,” jawab Ibu Arini.


Tidak lama kemudian Rendi keluar dari ruang persalinan sambil menggendong bayi. Semua orang langsung berdiri. Rendi mendekati mereka dan memperlihatkan bayi kepada mereka.


“Ini cucu Mama Claudia dan Mama Arini. Dia bayi laki-laki,” ujar Rendi.


“Alhamdullilah,” ucap semua orang.


Mereka mengelilingi Rendi untuk melihat bayi Rahma yang lucu dan menggemaskan.


“Sudah diadzankan, belum?” tanya Pak Sultan.


“Belum, Kek,” jawab Rendi.


“Adzankan dulu. Jangan tunggu lama-lama!” ujar Pak Sultan.

__ADS_1


Rendi pun mengadzankan bayi. Setelah selesai mengadzankan bayi ia memberikan bayinya kepada suster. Lalu suster membawa bayi tersebut menuju ke ruang bayi. Seorang dokter laki-laki mengikuti suster menuju ruang bayi.


__ADS_2