
Setelah selesai makan malam mereka duduk-duduk di ruang tengah. Rahma membuatkan teh untuk Pak Ferdi dan Rendi. Dan menyajikannya di atas meja bersama dengan kue.
“Diminum tehnya, Ren!” ujar Ibu Arini.
“Terima kasih, Tante.” Pak Ferdi dan Rendi meminum teh yang telah disajikan.
“Kamu bekerja dimana?” tanya Pak Ferdi sambil menaruh cangkir di atas meja.
“Saya bekerja di perusahaan milik kakek saya,” jawab Rendi.
“Oh, kamu wiraswasta? Tante kira kamu ASN sama seperti Rahma,” kata Ibu Arini.
“Iya, Tante,” jawab Rendi.
“Perusahaan kakek kamu bergerak di bidang apa?” tanya Pak Ferdi.
“Di bidang perhotelan. Perusahaan kakek saya memiliki beberapa hotel,” jawab Rendi.
“Bagaimana dengan orang tua kamu? Dari tadi yang saya dengar hanya kakek kamu terus,” ujar Pak Ferdi.
“Papa saya sudah meninggal ketika saya berusia lima tahun. Saya dibesarkan oleh kakek dan mama saya,” jawab Rendi.
“Mama kamu tidak bekerja?” tanya Pak Ferdi.
“Tidak. Ibu saya ibu rumah tangga biasa,” jawab Rendi.
Pak Ferdi meminum tehnya kembali. Rendi merasa tegang menghadapi Pak Ferdi.
“Kalian bertemu dimana?” tanya Pak Ferdi setelah meninum teh.
“Saya mengenal Rahma dari kakek saya. Kakeklah yang memperkenalkan saya dengan Rahma,” jawab Rendi.
Pak Ferdi menoleh ke Rahma.
“Bagaimana kamu bisa mengenal kakeknya Rendi?” tanya Pak Ferdi.
“Begini, Pa.” Rahma menceritakan awal mula pertemuan dengan Pak Sultan.
Pak Ferdi dan Ibu Arini mendengarkan cerita Rahma dari awal hingga selesai.
“Begitui ceritanya,” kata Rahma setelah selesai bercerita.
“Sekarang apa hubungan kalian?” Pak Ferdi menatap tajam kepada Rahma dan Rendi.
“Papa. Jangan begitu!” bisik Ibu Arini. Ia mengingatkan agar Pak Ferdi tidak bersikap keras pada setiap tamu laki-laki yang datang untuk menemui putri mereka.
Rendi dan Rahma saling berpandangan satu sama lain. Rahma merasa tidak enak kepada Rendi dengan pertanyaan papanya. Rendi tersenyum kepada Rahma. Dengan tenang berkata,”Tidak apa-apa.”
Rendi kembali menghadap ke Pak Ferdi. Pak Ferdi masih menatap tajam Rendi.
“Kami hanya berteman, Om,” jawab Rendi.
Pak Ferdi memandang ke arah Rahma. “Betul begitu, Rahma?” tanya Pak Ferdi.
“Iya, Pa,” jawab Rahma.
“Kamu tidak sedang berbohong pada Papa, kan?” tanya Pak Ferdi dengan penuh sidik.
“Tidak, Pa.” Rahma menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Rahma tidak ingin berpacaran, Pak,” kata Rendi.
Pak Ferdi kembali memandang Rendi.
“Lalu kamu bagaimana?” tanya Pak Ferdi dengan penuh sidik.
“Saya ingin mengenal Rahma lebih dekat. Jika kami berjodoh, kami akan ke hubungan yang lebih serius. Jika tidak, cukup kami menjadi teman biasa saja. Untuk menjaga hubungan baik Rahma dengan kakek,” jawab Rendi.
Mendengar jawaban Rendi wajah Pak Ferdi mulai melunak. Rendi pun bernafas lega.
“Dicicipi dulu kuenya.” Ibu Arini menyodorkan piring kue ke arah Rendi.
“Terima kasih.” Rendi mengambil sepotong kue lalu memakan kue tersebut.
“Besok kamu pulang bareng Rendi?” tanya Pak Ferdi kepada Rahma.
“Ia, Pa,” jawab Rahma.
“Jam berapa?” tanya Pak Ferdi.
Rahma menoleh ke Rendi.
“Pak Rendi. Besok kita berangkat jam berapa?” tanya Rahma.
Rendi mengunyah kue sampai kue di mulutnya kosong baru berbicara.
“Terserah kamu. Kamu mau pulang jam berapa?” jawab Rendi.
“Bagaimana, sih? Ditanya malah balik bertanya,” kata Rahma dengan kesal.
“Ya sudah. Terserah kalian saja mau berangkat jam berapa,” ujar Ibu Arini.
“Ma, kalau toko penjual oleh-oleh buka jam berapa?” tanya Rahma.
“Kenapa? Kamu mau beli oleh-oleh?” tanya Ibu Arini.
“Iya. Rahma mau beli oleh-oleh untuk Tante Claudia, Kakek, teman-teman di kantor dan anak-anak kost,” jawab Rahma.
“Biasanya jam sembilan sudah buka,” ujar Ibu Arini.
“Ya sudah, kita berangkat jam sembilan saja,” kata Rahma kepada Rendi.
“Siap,” jawab Rendi.
Pukul setengah sembilan Rendi pamit pulang ke hotel.
“Hati-hati, jangan sampai kesasar lagi!” pesan Rahma ketika Rendi hendak masuk ke dalam mobil.
“Mudah-mudahan tidak kesasar. Kalau kesasar balik lagi ke sini. Siapa tau boleh menginap di sini,” kata Rendi.
“Papa pasti melarang Pak Rendi menginap di sini,” ujar Rahma.
“Kalau tidak boleh menginap di sini, tidur di mobil saja,” kata Rendi.
Rendi masuk ke dalam mobil lalu membuka kaca mobilnya. Ia menghidupkan mesin mobilnya.
“Sampai ketemu besok. Assalamualaikum.” Rendi menjalankan mobilnya sambil melambaikan tangan ke Rahma.
“Waalaikumsalam,” jawab Rahma.
__ADS_1
***
Keesokan harinya pukul setengah sembilan pagi Rendi sudah sampai ke rumah Rahma. Ketika Rendi datang Rahma sudah siap untuk pergi. Tas travel bagnya sudah diletakkan di ruang tamu.
“Itu tas kamu?” Rendi menunjuk ke travel bag yang diletakkan di ruang tamu.
“Iya,” jawab Rahma.
“Saya taruh ke mobil, ya?” tanya Rendi.
“Iya, boleh,” jawab Rahma.
Ketika Rendi hendak membawa tas Rahma tiba-tiba Ibu Arini datang.
“Rendi, sarapan dulu! Sudah Tante siapkan sarapannya,” ujar Ibu Arini.
“Terima kasih, Tante. Tadi sudah sarapan di hotel,” jawab Rendi.
Rendi membawa tas Rahma ke mobil. Tidak lama kemudian Rendi datang.
“Berangkat sekarang?” tanya Rendi.
“Iya,” jawab Rahma.
Rahma menuju ke ruang keluarga untuk memanggil kedua orang tuanya. Tidak lama kemudian orang tua Rahma datang menuju ke ruang tamu.
“Mau berangkat sekarang?” tanya Pak Ferdi.
“Iya, Om. Rahma mau belanja oleh-oleh dulu,” jawab Rendi.
“Hati-hati menyetirnya!” pesan Pak Ferdi.
“Baik, Om,” jawab Rendi.
Rendi menyalami Pak Ferdi dan Ibu Arini.
“Assalamualaikum,” ucap Rendi dan Rahma.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Ferdi dan Ibu Rahma.
Rahma dan Rendi keluar rumah dan berjalan ke mobil Rendi. Rendi membuka kunci mobil dengan remote kemudian Rendi dan Rahma masuk ke dalam mobil. Rendi menyalakan mesin mobil. Sebelum mobil melaju Rahma melambaikan tangannya kepada orang tuanya. Mobil pun meninggalkan rumah orang tua Rahma.
Sebelum Rendi dan Rahma meninggalkan kota Kuningan, mereka mampir dulu ke toko oleh-oleh. Seperti biasa Rahma membel oleh-oleh yang cukup banyak serta membeli camilan untuk di jalan. Rendi mengikuti Rahma sambil membawakan keranjang belanjaan. Ketika Rahma hendak membayar belanjaannya seperti biasa Rendi menyodorkan dengan kartu sakti kepada kasir.
Rahma menghela napas ketika Rendi menyodorkan kartu saktinya.
“Sekali-sekali saya yang bayar,” bisik Rahma agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain.
“Nanti uang gaji kamu habis untuk membeli oleh-oleh terus menerus,” jawab Rendi sambil berbisik.
Perkataan Rendi benar. Nominal belanjaannya lebih dari seratus lima puluh ribu. Walaupun Rahma memiliki gaji dan tunjangan yang lumayan tapi tetap saja ia harus pintar-pintar mengatur pengeluaran. Apalagi dia sering keluar kota sehingga harus sering membeli oleh-oleh.
Selesai membelanja oleh-oleh mereka langsung meninggakan kota Kuningan menuju tol Cipali.
.
.
__ADS_1