
Ibu Arini datang membawa nampan lalu menaruh cangkir berisi teh dan setangkap roti berisi coklat di atas meja.
“Ayo sarapan dulu!” ujar Ibu Arini.
“Terima kasih, Tante,” ucap Rendi.
Ibu Arini masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkan Rahma dan Rendi berdua.
“Dimakan rotinya, Pak!” kata Rahma.
Rendi mengambil roti yang disediakan di atas meja.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Rendi.
“Sudah,” jawab Rahma.
Rendi memakan roti. Rahma menunggu Rendi menghabiskan roti. Tiba-tiba terdengar suara mobil masuk ke dalam halaman rumah Rahma. Sebuah mobil berhenti di halaman. Tidak lama kemudian seorang wanita muda masuk ke dalam rumah. Ia menggendong seorang batita dan menuntun seorang balita. Ia adalah Komala, kakak dari Rahma.
“Assalamualaikum,” ucap Komala.
“Waalaikumsalam,” jawab Rahma dan Rendi.
Rahma menghampiri kakaknya lalu cipika cipiki dengan kakaknya. Komala melihat Rendi yang berada di ruang tamu.
“Eh, ada tamu,” ujar Komala. Rendi menyalami Komala.
“Siapa, tuh?” Komala bertanya kepada Rahma sambil berbisik.
“Teman Rahma,” jawab Rahma.
“Ohhh,” kata Komala tanda mengerti.
Tak lama kemudian masuklah seorang laki-laki. Ia adalah Aditya, suami Komala. Rahma menyalami kakak iparnya. Aditya melihat ke Rendi. Ia belum pernah melihat Rendi.
“Lagi ada tamu, ya?” tanya Aditya.
“Ini temannya Rahma,” ujar Komala kepada suaminya. Rendi menyalami Aditya.
“Terusin lagi makannya!” kata Aditya ketika melihat roti yang berada di atas meja.
“Ayo! Kita ke mama dulu,” ujar Komala. Komala dan Aditya beserta anak mereka masuk ke dalam rumah.
Tidak lama kemudian ada mobil lain masuk ke dalam halaman rumah Pak Ferdi. Halaman rumah Pak Ferdi luas sehingga muat untuk beberapa mobil. Hanya sayang halaman rumah Pak Ferdi tidak rata, halaman rumah Pak Ferdi menanjak sehingga mobil yang diparkir di halaman tersebut harus dalam posisi menanjak.
Seorang laki-laki dan seorang wanita yang sedang hamil masuk ke dalam rumah. Dia adalah Rasyid, kakak laki-laki Rahma dan istrinya Zenia.
“Assalamualaikum,” ucap Rasyid dan Zenia.
__ADS_1
:”Waalaikumsalam,” jawab Rahma dan Rendi bersamaan.
Rahma langsung menghampiri mereka dan menyalami mereka. Rasyid melihat adiknya sedang berdua dengan laki-laki yang tidak ia kenal. Ia memandang ke arah Rendi dengan tajam.
“Siapa, nih?” Rasyid menunjuk ke Rendi.
“Ini teman Rahma, A,” jawab Rahma. Rendi menyalami Rasyid dan Zenia.
“Aa ke mama dulu.” Rasyid dan Zenia masuk ke dalam rumah. Rendi dan Rahma kembali duduk.
“Kakak kamu datang semua ke sini?” tanya Rendi.
“Iya. Kemarin janjian berangkat bareng-bareng ke pernikahan Icha,” jawab Rahma.
“Habiskan dulu rotinya!” ujar Rahma. Rendi melanjutkan makan.
Akhirnya Rendi selesai makan roti lalu minum teh yang sudah disediakan. Kakak-kakak Rahma keluar dari rumah. Di belakang mereka ada Pak Ferdi dan Ibu Arini. Mereka sepertinya sudah siap untuk berangkat. Rahma dan Rendi langsung berdiri.
“Ayo, Ma. Kita berangkat sekarang!” ujar Ibu Arini kepada Rahma.
“Iya, Ma,” jawab Rahma.
“Rendi ikut saja ke undangan!” ujar Ibu Arini.
“Bawa baju batik?” tanya Ibu Arini kepada Rendi.
“Ganti dulu di kamar mandi!” ujar Arini.
“Ganti di mobil saja, Tante,” jawab Rendi.
Rendi berjalan keluar rumah menuju ke mobilnya untuk ganti baju. Sedangkan Rahma menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi. Rahma mengambil tas dan sepatu dari dalam kamar. Setelah itu ia keluar dari kamarnya. Orang tuanya dan kakak-kakaknya sudah menunggu Rahma di depan rumah namun, Rendi belum terlihat. Sepertinya Rendi belum selesai ganti baju.
Tidak lama kemudian Rendi keluar dari mobil dan berjalan menuju ke rumah Rahma. Semua orang memandang ke arah Rendi. Penampilan Rendi terlihat sederhana namun mewah. Batik yang dipakai Rendi tidak seperti batik biasa. Batik yang digunakan Rendi seperti batik tulis. Pak Ferdi. memandang tajam ke arah Rendi. Ia merasa lelaki yang datang menyusul putri bungsunya bukan lelaki biasa.
“Ayo, kita pergi sekarang. Nanti kesiangan,” ujar Ibu Arini. Mereka pun berjalan menuju ke mobil masing-masing.
“Rahma, kamu mau pergi sama siapa?” tanya Ibu Arini. Pak Ferdi yang hendak berjalan menuju ke mobil menoleh ke Rahma.
Rahma bingung mau jawab apa? Dia pergi naik mobil orang tuanya, kasihan Rendi naik mobil sendiri. Apalagi Rendi tidak hafal jalan di Kuningan. Kalau ia naik mobil Rendi, ia takut papanya tidak mengijinkan.
Pak Ferdi memang jarang bersikap ramah kepada setiap lelaki yang mendekati putrinya. Apalagi putri-putrinya menurut kepada papa mereka. Mereka tidak berani membantah apa yang papa mereka katakan. Ia bersikap seperti itu agar laki-laki tidak menganggap sepele putri mereka.
Melihat putrinya bingung Ibu Arini tersenyum. “Kamu mau naik mobil Rendi?” tanya Ibu Arini.
“Boleh tidak, Pa?” tanya Rahma kepada Pek Ferdi.
Pak Ferdi mengangguk. “Boleh,” jawab Pak Ferdi.
__ADS_1
Rendi bernafas lega mendengarkan jawaban Pak Ferdi.
“Terima kasih, Pa,” ucap Rahma.
“Ayo, Pak Rendi.” Rahma berjalan menuju ke mobil Rendi yang diparkir di luar rumah Pak Ferdi. Rendi mengikuti Rahma dari belakang. Pak Ferdi memperhatikan Rendi dan Rahma dari belakang.
“Pa!” Ibu Arini memanggil Pak Ferdi. Pak Ferdi menoleh ke Ibu Arini.
“Ayo! Nanti keburu kesiangan,” ujar Ibu Arini. Pak Ferdi berjalan ke mobilnya yang berada di dalam garasi.
Rendi membuka kunci mobil dengan menggunakan remote. Rahma membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam mobil. Kemudian Rendi menyusul masuk ke dalam mobil. Lalu ia menyalakan mesin mobil dan memasang seatbelt.
“Papa kamu dokter, ya?” tanya Rendi.
“Kok tau?” tanya Rahma.
“Tuh!” Rendi menunjuk ke plang yang berada di depan rumah Rahma. Di plang itu tertulis dr. Ferdiansyah Kartasumirdja Sp.PD
“Oh,” ujar Rahma.
Mobil kakak-kakak Rahma mulai meluncur meninggalkan rumah orang tua Rahma. Diikuti mobil orang tua Rahma. Rendi menjalankan mobilnya mengikuti iring-iringan mobil tersebut.
Rendi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak berani menyusul mobil orang tua Rahma. Selain ia tidak tau dimana tempat pernikahan diselenggarakan, ia juga merasa sungkan untuk menyusul mobil orang tua Rahma.
Akhirnya mereka sampai ke sebuah convention hall yang berada di kota Kuningan. Rendi memarkirkan mobilnya di sebelah mobil orang tua Rahma. Rahma turun dari mobil lalu bergabung dengan keluarganya. Rendi ikut bergabung dengan keluarga Rahma. Mereka bersama-sama masuk ke dalam convention hall.
Di dalam convention hall Rahma bertemu dengan saudara-saudaranya. Ia menyalami saudara-saudaranya. Rendi hanya berdiri melihat Rahma menghampiri saudara-saudaranya. Setelah selesai menyalami saudara-saudaranya Rahma kembali menghampiri Rendi.
“Duduk, Yuk! Sebentar lagi acara akad nikah akan dimulai,” ujar Rahma. Rahma mengajak Rendi mencari kursi kosong lalu mereka duduk di kursi kosong. Akhirnya acara akad nikah dimulai. Mereka fokus mengikuti acara akad nikah.
Setelah selesai akad nikah Rahma mengajak Rendi mengambil sarapan. Melihat Rahma berdua terus dengan Rendi menjadi perhatian saudara-saudara Rahma.
“Siapa tu, Ma?” bisik salah satu saudara Rahma yang berdiri di depan Rahma ketika mereka sedang mengambil sarapan.
“Teman,” jawab Rahma.
“Pacar kali,” sahut saudara Rahma lainnya.
“Bukan! Cuma teman,” jawab Rahma.
Kehadiran Rendi menjadi perhatian saudara-saudara Rahma. Penampilan Rendi berbeda dengan yang lain. Seolah olah menujukkan Rendi berasal dari kalangan tertentu.
.
.
__ADS_1