
Ibu Claudia dan Pak Sultan sangat senang selama Rahma tinggal di rumah mereka.. Ibu Claudia menikmati perannya seolah-olah ia memiliki seorang anak gadis. Selesai sholat subuh Ibu Claudia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Rahma karena Rahma masuk kerja pukul setengah delapan. Ia memperhatikan apakah Bi Wiwiek sudah mulai memasak untuk sarapan. Sementara Bi Wiwiek memasak untuk sarapan, Ibu Claudia membuat camilan untuk bekal Rahma.
Setelah selesai sholat subuh Rahma langsung ke dapur untuk membantu pekerjaan rumah. Ia merasa tidak enak jika sudah tinggal menumpang tapi ia hanya duduk berleha-leha tidak membantu apa pun. Rahma berdiri di depan pintu dapur kotor, ia melihat para pembantu dan Ibu Claudia sedang sibuk bekerja di dapur.
“Tante, ada yang bisa Rahma bantu?” tanya Rahma.
Ibu Claudia sedang memotong pisang tanduk menoleh ke Rahma.
“Tidak usah. Kamu kan mau berangkat kerja,” jawab Ibu Claudia.
“Masih ada waktu untuk bantu-bantu Tante,” kata Rahma.
Ibu Claudia menghela napas.
“Ya sudah kalau mau bantu-bantu. Kamu potong-potong pisang, Tante mau buat adonan tepung untuk menggoreng pisang,” ujar Ibu Claudia. Ibu Claudia berhenti memotong pisang lalu dilanjutkan oleh Rahma. Ibu Claudia membuat adonan tepung.
Rendi keluar dari dalam kamar, ia menghampiri Pak Sultan yang sedang menonton ceramah. Rendi duduk di sebelah Pak Sultan. Sayup-sayup terdengar suara Ibu Claudia yang sedang berbicara di dapur.
“Mama lagi bicara dengan siapa, Kek?” tanya Rendi penasaran. Tidak biasanya mamanya masak sambil berbincang-bincang.
“Mungkin dengan Rahma,” jawab Pak Sultan sambil fokus mendengarkan ceramah.
“Rahma sudah keluar dari kamar?” tanya Rendi.
“Sudah. Setelah selesai sholat subuh dia langsung ke dapur. Katanya mau bantu-bantu di dapur,” jawab Pak Sultan.
Rendi beranjak dari tempat duduk lalu berjalan menuju ke dapur. Ia berdiri di depan pintu dapur. Rahma dan Ibu Claudia sedang memasak sambil tertawa. Para pembantu yang sedang berada di dapur juga ikut tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan. Rendi kembali ke ruang tengah dan duduk di sebelah Pak Sultan. Ia ikut mendengarkan ceramah.
Setengah jam kemudian Rahma keluar dari dapur. Rendi yang sedang menonton televisi menoleh ke Rahma.
“Sudah selesai masaknya?” tanya Rendi.
“Sudah. Sekarang mau mandi,” jawab Rahma. Rahma masuk ke dalam kamarnya untuk mandi.
Tidak lama kemudian Bi Wiwiek keluar dari dapur membawa makanan yang sudah matang. Ia meletakkan di atas meja makan.
“Bi Wiwiek,” Pak Sultan memanggil Bi Wiwiek.
“Iya, Pak.” Bi Wiwiek mwnghampiri Pak Sultan.
“Claudia sedang masak apa?” tanya Pak Sultan.
“Lagi masak pisang goreng untuk bekal Neng Rahma,” jawab Bi Wiwiek.
“Saya tidak kebagian?” tanya Pak Sultan.
“Kebagian, Pak. Ibu Claudia memasak banyak kok, Pak,” jawab Bi Wiwiek.
“Alhamdullilah kalau kebagian,” kata Pak Sultan. Bi Wiwiek kembali ke dapur.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian Ibu Claudia keluar dari dapur membawa sepiring pisang goreng.
“Ayah-Rendi ayo sarapan dulu.” Ibu Claudia menaruh piring yang berisi pisang goreng di atas meja. Pak Sultan dan Rendi beranjak dari sofa menuju ke meja makan. Mereka mengambil sepotong pisang goreng lalu memakan pisang goreng tersebut.
Ibu Claudia berjalan menuju ke kamar Rahma lalu mengetuk pintu Rahma.
“Rahma.” Ibu Claudia memanggil Rahma. Namun, tidak ada yang membuka pintu.
“Mungkin belum selesai mandi, Mah,” sahut Rendi.
“Ya sudah.” Ibu Claudia kembali ke dapur.
Sepuluh menit kemudian Rahma keluar dari kamarnya. Ia sudah memakai pakaian kerja namun, ia belum memakai make up. Wajahnya masih terlihat pucat. Ia juga masih menggunakan kerudung instant.
“Rahma!” Pak Sultan memanggil Rahma.
“Iya, Kek.” Rahma menghampiri Pak Sultan yang sedang sarapan bersama Rendi.
“Sarapan dulu!” ujar Pak Sultan.
“Iya, Kek.” Rahma duduk di seberang Rendi.
Rahma mengambil piring yang berada di atas meja l;alu diisi dengan nasi goreng. Rendi makan sambil memperhatikan Rahma.
“Kamu berangkat jam berapa?” tanya Rendi.
“Jam tujuh, Pak,” jawab Rahma.
“Tante, ayo makan dulu!” kata Rahma.
“Tante makannya nanti,” ujar Ibu Claudia.
Ibu Claudia berjalan menuju lemari piring dan mengambil dua buah kotak makan dari dalam lemari. Ia membawa kotak makan itu ke meja makan. Ibu Claudia duduk di meja makan. Ia memasukkan pisang goreng ke dalam kotak makanan.
“Rahma, Tante bawakan kamu bekal. Sebisa mungkin kamu jangan keluar dari kantor! Kecuali kamu pergi keluar beramai-ramai dengan teman-teman kamu,” ujar Ibu Claudia.
“Iya, Tante,” jawab Rahma.
“Nanti makan siang dibawakan sama Pak Lilih,” lanjut Ibu Claudia.
“Tidak usah, Tante! Rahma pesan makanan secara online saja,” kata Rahma.
“Jangan! Bagaimana kalau penjahatnya berpura-pura menjadi driver? Bisa bahaya,” ujar Ibu Claudia.
Ibu Claudia mengambil roti tawar lalu diolesi mentega. Kemudian ia mengisi roti itu dengan daun selada, telor dadar dan daging asap yang sudah digoreng. Ia memasukkan roti itu ke dalam kotak makanan.
“Itu untuk siapa?” Rendi menunjuk ke roti yang berada di dalam kotak makanan.
“Untuk Rahma,” jawab Ibu Claudia. Ibu Claudia menutup kotak-kotak makanan.
__ADS_1
“Kamu mau bekal makanan juga?” tanya Ibu Claudia.
“Mau, dong,” jawab Rendi.
“Iya, nanti Mama buatkan. Tapi nanti kamu antarkan Rahma ke kantor!” ujar Ibu Claudia.
“Siap, Bos.” Rendi memberi hormat kepada Ibu Claudia.
Ibu Claudia menoleh ke Rahma yang sedang makan.
“Kamu makan yang banyak! Biar kamu pulih kembali,” ujar Ibu Claudia.
“Iya, Tante,” jawab Rahma.
Setah selesai sarapan Rahma kembali ke kamarnya untuk memakai make up dan kerudung. Setelah selesai berdandan ia keluar kamar sambil membawa tas laptop dan tas kerja yang berisi berkas-berkas kantor. Rendi sudah menunggunya di ruang keluarga. Rahma menghampiri Rendi.
“Sudah siap?’ tanya Rendi.
“Sudah,” jawab Rahma.
Kemudian ia berpamitan kepada Pak Sultan dan Ibu Claudia.
“Kakek Tante, Rahma berangkat dulu.” Rahma mencium tangan Ibu Claudia dan Pak Sultan.
“Hati-hati, ya! Jaga diri baik-baik!” pesan Pak Sultan.
“Iya, Kek,” jawab Rahma.
Ibu Claudia mengambil tas kain dari atas meja makan.
“Ini bekal untuk kamu.” Ibu Claudia memberikan tas kain itu kepada Rahma.
“Terima kasih, Tante,” ucap Rahma.
“Assalamualaikum.” Rahma berjalan keluar rumah lewat garasi. Rendi mengikuti Rahma dari belakang.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Sultan dan Ibu Claudia.
Rahma dan Rendi berjalan menuju ke mobil Rendi lalu masuk ke dalam mobil Rendi. Pak Atmo langsung membuka pintu pagar. Mobil Rendi melaju meninggalkan halaman rumah.
Lima menit kemudian mereka sampai di kantor Rahma. Rendi memarkirkan mobilnya di depan kantor.
“Nanti jangan pulang sendiri! Tunggu sampai dijemput sama saya atau Pak Lilih atau Pak Sobir,” pesan Rendi.
“Iya,” jawab Rahma. Rahma membuka pintu mobil.
“Assalamualaikum.” Rahma turun dari mobil lalu berjalan menuju ke kantornya.
“Waalaikumsalam,” jawab Rendi.
__ADS_1
Setelah Rahma masuk ke dalam kantor barulah Rendi meninggalkan kantor Rahma.