
Keesokan harinya setelah selesai sholat subuh Rahma hendak keluar dari kamar. Ia hendak jalan-jalan di luar penginapan. Ia menghampiri Ibu Claudia yang sedang berzikir.
“Tante, Rahma mau jalan-jalan di luar,” kata Rahma. Ibu Claudia menganggukkan kepalanya sambil berzikir. Lalu Rahma keluar dari kamar.
Di luar kamar terlihat sangat sepi. Tidak ada orang yang berlalu lalang. Rahma berjalan menuju ke depan penginapan. Di depan penginapan terlihat sepi. Rahma berjalan keluar dari halaman penginapan. Ia melihat sekitar penginapan barangkali saja ada yang menjual sesuatu untuk dimakan untuk menemani secangkir teh atau kopi.
Pak Barli dan Ibu Lastri keluar dari penginapan mereka seperti hendak jalan-jalan.
“Mau kemana?” tanya Rahma.
“Mau jalan-jalan ke pasar,” jawab Ibu Lastri.
“Cari apa ke pasar?” tanya Rahma.
“Cari jajanan,” jawab Ibu Lastri.
“Rahma mau ikut?” tanya Ibu Lastri.
“Mau ikut. Tunggu sebentar, saya mau bilang ke Tante Claudia takut Tante mencari saya,” kata Rahma.
Rahma langsung masuk ke dalam penginapan. Ia menuju ke kamarnya. Pelan-pelan Rahma membuka pintu kamar, takut Ibu Claudia masih berzikir. Ternyata Ibu Claudia sudah selesai berzikir, ia sedang melipat mukena.
“Tante. Rahma mau ke pasar sama Ibu Lastri dan Pak Barli,” kata Rahma.
“Mau apa ke pasar?” tanya Ibu Claudia.
“Cari jajanan,” jawab Rahma.
“Hati-hati di jalan!” ujar Ibu Claudia.
“Iya, Tante. Assalamualaikum,” ucap Rahma. Rahma keluar dari kamar. Tanpa sengaja ia bertemu dengan Rendi yang keluar dari kamar. Kebetulan kamar mereka bersebelahan.
“Mau kemana?” tanya Rendi melihat Rahma membawa dompet dan ponsel.
“Mau ke pasar sama Pak Barli dan Ibu Lastri,” jawab Rahma.
__ADS_1
“Saya ikut. Sebentar saya ambil dompet dulu.” Rendi masuk kembali ke kamarnya. Tidak lama kemudian Rendi keluar dari kamar lalu mengunci pintu kamar. Ia memasukkan dompetnya ke saku celana dan membawa ponsel. Ketika mereka hendak berangkat tiba-tiba pintu kamar Rahma terbuka.
“Rendi! Kamu mau kemana?” tanya Ibu Claudia.
Rendi dan Rahma menoleh ke Ibu Claudia.
“Mau mengantar Rahma,” jawab Rendi.
“Mama ikut. Mama tidak mau ditinggal sendirian di sini,” ujar Ibu Claudia.
“Ya sudah, ayo!” kata Rendi.
“Tunggu dulu. Mama mau ganti baju.” Ibu Claudia menutup pintu kamar. Rendi dan Rahma duduk si sofa depan kamar, menunggu Ibu Claudia. Beberapa menit kemudian Ibu Claudia keluar dari kamar lalu mengunci pintu kamar. Ia sudah memakai baju santai yang tertutup serta menggunakan kerudung segiempat.
Melihat Ibu Claudia sudah siap mereka pun beranjak dari sofa dan berjalan keluar dari penginapan. Mereka berjalan kaki menuju pasar. Udara kota Sragen di pagi hari masih sejuk dan jalanan belum ramai oleh kendaraan. Sehingga mereka bisa berjalan dengan santai menuju ke pasar.
Seperempat jam kemudian mereka sampai di pasar. Pasar penuh dengan orang yang belanja dan pedagang. Di halaman pasar banyak orang yang menjual makanan serta makanan yang sudah diolah untuk dijadikan oleh-oleh. Kesempatan bagi Ibu Claudia berburu makanan untuk persediaan di penginapan.
Ibu Claudia memborong bawang goreng, bumbu pecel, pisang dan kerupuk dengan berbagai macam rasa.
“Tante suka sekali kerupuk. Lumayan buat krauk-krauk di mobil,” ujar Ibu Claudia.
Rahma membeli gorengan dan jajan pasar. Setelah selesai belanja mereka kembali ke penginapan. Perjalanan menuju ke penginapan cukup melelahkan karena mereka berjalan sambil membawa belanjaan yang banyak.
Pukul tujuh kurang lima belas menit mereka sampai di penginapan. Mereka langsung masuk ke dalam kamar untuk mandi. Setelah mandi mereka sarapan sambil memakan gorengan dan jajan pasar yang tadi dibeli oleh Rahma. Mereka masih ada waktu bersantai sampai jam delapan.
Setelah jam delapan mereka berangkat menuju ke kantor dinas. Dari kantor dinas mereka di antar oleh pegawai kantor dinas dan pedamping menuju ke rumah disabilitas yang akan mereka assessment. Kali ini mereka pergi sangat jauh sekali dari Sragen. Mereka hanya mengikuti mobil rescue milik dinas.
Tanpa mereka sadari mereka sudah berada di pinggiran hutan. Tiba-tiba mobil dinas membelok ke arah hutan. Mobil Pak Barli juga mengikuti mobil tersebut.
“Bagaimana ini, Rendi?” Ibu Claudia takut ketika mobil mereka harus belok ke tengah hutan.
“Tidak apa-apa, Mah. Tenang saja. Kita tunggu mereka lewat dulu,” ujar Rendi.
Setelah mereka sudah cukup jauh barulah mereka masuk ke dalam hutan. Ternyata di dalam hutan sudah ada jalan untuk mobil walaupun hanya cukup untuk ban mobil kanan dan kiri. Mobilpun pun jalan menyusuri hutan yang penuh dengan pohon.
__ADS_1
Di tengah hutan ada truk yang sedang mengangkut kayu-kayu. Mobil terus berjalan hingga menemukan rumah-rumah penduduk. Mobil Pak Barli dan mobil rescue berhenti di depan sebuah rumah yang terbuat dari bilik bambu. Pegawai kantor dinas dan pendamping turun dari mobil. Rahma dan Ibu Claudia turun dari mobil. Rendi tidak ikut turun dari mobil karena harus memandu Pak Sobir memarkirkan mobil.
Mereka masuk ke dalam rumah tersebut.
“Assalamualaikum,” ucap Rahma dan Ibu Claudia ketika masuk ke dalam rumah tersebut.
“Waalaikumsalam,” jawab para penghuni rumah.
Rumah itu hanya terbuat dari bilik bambu dan beralaskan tanah merah. Ibu Claudia terkejut melihat keadaan rumah tersebut. Pemilik rumah mempersilahkan mereka duduk. Mereka duduk di kursi kayu dan sofa yang sudah bolong-bolong.
Rahma bercakap-cakap dengan pemilik rumah yang disabilitas netra. Sambil ia assessment orang tersebut. Rendi, Pak Barli dan Ibu Lastri menyusul mereka masuk ke dalam rumah. Rendi memperhatikan keadaan rumah tersebut sambil mendengarkan percakapan Rahma dan pemilik rumah.
Rendi menuju ke halaman belakang rumah tersebut. Ia melihat ada jalur kereta api di belakang rumah. Jalur kereta api lebih tinggi dari rumah-rumah penduduk. Ada motor berjalan menyebrangi jalan kereta api.
“Itu jalan kemana, Bu?” tanya Rendi kepada istri pemilik rumah. Ia menunjuk ke jalan yang dilalui pengendara motor.
“Itu jalan ke Bojonegoro. Jalan kereta api adalah perbatasan dengan Bojonegoro,” jawab istri pemilik rumah.
“Oh, jadi itu perbatasan dengan Jawa Timur,” kata Rendi.
“Iya,” jawab istri pemilik rumah.
Kemudian Rendi ke luar rumah sebentar lalu ia masuk kembali ke dalam rumah. Tak lama kemudian selesai sudah assessment. Mereka pun pamit pulang. Rendi keluar belakang dari yang lain. Lalu ia memberikan amplop yang berisi sejumlah uang kepada pemilik rumah.
“Ini untuk Bapak dari saya pribadi,” ujar Rendi.
Pemilik rumah itu kaget sekaligus terharu ketika diberi uang dengan jumlah yang banyak oleh Rendi.
“Terima kasih, Pak,” ucap pemilik rumah dengan terharu.
“Sama-sama, Pak,” jawab Rendi.
“Assalamualaikum.” Rendi berjalan menuju ke mobilnya. Mereka pun meninggalkan rumah tersebut. Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah disabilitas lainnya.
.
__ADS_1
.