183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
37. Makan Siang Bersama


__ADS_3

Mendengar perkataan Pak Bobby wajah Ibu Claudia langsung berubah cemberut.


“Nanti kapan-kapan saya kirim kue buatan mama saya,” kata Rendi.


Wajah Pak Bobby langsung berbinar ketika mendengar perkataan Rendi.


“Benarkah?” tanya Pak Bobby dengan gembira. Ia memandang wajah Ibu Claudia sambil tersenyum. Ibu Claudia langsung memalingkan wajahnya.


“Iya, Pak. Tapi nanti kalau mama sedang ada waktu luang,” jawab Rendi.


“Baiklah. Dengan senang hati saya akan menunggu,” ujar Pak Bobby.


Ibu Claudia menarik Rendi ke belakang sehingga mau tidak mau badan Rendi mundur ke belakang.


“Rendi! Kamu bagaimana, sih? Siapa yang mau membuatkan kue untuk Pak Bobby?! Pokoknya Mama tidak mau membuatkan kue untuk Pak Bobby,” bisik Ibu Claudia dengan kesal.


“Ma, ini semata-mata untuk mengucapkan rasa terima kasih kita kepada Pak Bobby yang sudah membantu kita menemukan penculik Rahma,” ujar Rendi yang berusaha memberikan pengertian kepada Ibu Claudia.


“Rendi juga berharap Mama mau menerima ajakan makan siang Pak Bobby. Hanya makan siang tidak lebih,” lanjut Rendi. Ibu Claudia menghela napas panjang mendengar perkataan Rendi.


“Lagipula Mama tidak pergi sendiri. Tapi pergi beramai-ramai dengan Rendi, Rahma dan kakek. Kami siap kok menjaga Mama,” kata Rendi. Lagi-lagi Ibu Claudia menghela napas panjang mendengar perkataan Rendi.


“Ya sudah. Mama ikut,” ujar Ibu Claudia. Rendi senang mendengar perkataan mamanya.


“Terima kasih, Ma.” Rendi mengecup pipi mamanya. Lalu ia menghampiri Pak Bobby.


“Mama mau ikut makan siang,” kata Rendi kepada Pak Bobby.


“Alhamdullilah,” ucap Pak Bobby dengan senang.


“Ayo kita berangkat sekarang. Saya sudah sangat lapar,” ujar Pak Bobby. Mereka meninggalkan kantor polisi dengan menggunakan kendaraan masing-masing.


Selama dalam perjalanan Rahma memikirkan Ibu Claudia. Tadi ketika berjalan menuju ke mobil wajah Ibu Claudia terlihat sangat kesal. Ia merasanya tidak enak kepada Ibu Claudia, gara-gara dia Ibu Claudia terpaksa menerima ajakan Pak Bobby. Dia yang berhutang budi dengan Pak Bobby tetapi Ibu Claudia yang kena getahnya.


Ketika lampu sedang lampu merah Rendi menoleh ke arah Rahma. Rahma terlihat sedang melamun.

__ADS_1


“Kamu lagi memikirkan apa?” tanya Rendi.


Rahma menoleh ke Rendi.


“Saya merasa tidak enak sama Tante Claudia. Pasti Tante Claudia menerima ajakan Pak Bobby karena saya,” jawab Rahma.


“Sudah tidak usah dipikirkan lagi. Setelah ini urusan dengan Pak Bobby akan selesai. Mama tinggal mengirimkan kue ke Pak Bobby. Sesudah itu Mama tidak akan bertemu dengan Pak Bobby. Dan Pak Bobby pasti akan lupa sama Mama,” ujar Rendi.


“Mudah-mudahan, ya Pak,” kata Rahma. Lampu merah berganti menjadi lampu hijau, Rendi pun melajukan kendaraannya.


Pak Bobby membawa Rahma dan Rendi sekeluarga ke sebuah hotel mewah di kota Bandung. Mereka akan makan siang di sana.


Pak Rendi berdiri di depan mobilnya menunggu yang lain turun dari mobil. Setelah mereka semua turun dari mobil barulah mereka berjalan bersama-sama menuju ke pintu liff yang berada di basement. Rahma jalan berdua bersama Ibu Claudia. Sedangkan Pak Bobby, Rendi dan Pak Sultan jalan bertiga sambil membicarakan hotel yang mereka kunjungi ini. Sebagai pebisnis mereka hafal dengan cerita pembangunan hotel tersebut.


Mereka sampai di depan liff. Rendi menekan tombol Liff dan tidak lama kemudian pintu liff terbuka mereka masuk ke dalam liff. Selama di dalam liff Ibu Claudia terus saja menempel pada Rahma.


Akhirnya sampailah mereka di lantai yang mereka tuju. Mereka keluar dari liff lalu berjalan menuju ke restaurant. Di depan restaurant mereka disambut oleh seorang karyawan restaurant. Karyawan restaurant itu mengantar mereka ke meja yang berukuran besar. Mereka pun duduk di kursi.


Seorang karyawan restaurant memberikan mereka buku menu. Mereka memilih menu makanan mereka masiing-masing sesuai dengan selera mereka. Setelah mereka memesan makanan mereka kembali berbincang-bincang sambil menunggu makanan. Pak Bobby terlihat serius ketika diajak berbincang-bincang oleh Pak Sultan dan Rendi sehingga ia tidak memperhatikan Ibu Claudia. Sedangkan Rahma berbincang-bincang dengan Ibu Claudia.


Tidak terasa makanan pesanan merekapun datang. Mereka pun behenti bercakap-cakap dan menikmati hidangan yang telah disajikan di atas meja. Pak Bobby menikmati makan siangnya sambil memperhatikan Ibu Claudia.


“Lumayan,” jawab Ibu Claudia sambil menikmati makanannya.


“Kalau Claudia makan di restaurant pasti dia bilang kalau makanannya lumayan,” ujar Pak Sultan.


Pak Bobby menoleh ke arah Pak Sultan.


“Kenapa begitu, Pak Sultan?” tanya Pak Bobby penasaran.


“Dia tidak mau masakan buatannya di saingi oleh makanan di restaurant. Jadi ia selalu jawab lumayan,” ujar Pak Sultan.


“Oh begitu,” kata Pak Bobby tanda mengerti.


“Saya jadi tambah penasaran dengan rasa masakan Ibu Claudia,” lanjut Pak Bobby.

__ADS_1


“Masakan saya tidak enak selalu saja rasanya keasinan. Nanti Pak Bobby bisa terkena penyakit hipertensi,” kata Ibu Claudia.


“Tidak apa-apa. Yang penting saya bisa merasakan masakan Ibu Claudia,” ujar Pak Bobby. Ibu Claudia tidak menanggapi perkataan Pak Bobby, ia melanjutkan  makan.


Setelah selesai makan mereka pulang. Di tempat parkir mereka pamit pulang kepada Pak Bobby.


“Terima kasih atas makan siang yang nikmat ini,” ucap Pak Sultan.


“Sama, Pak. Saya senang makan bersama dengan keluarga Bapak rasanya seperti makan dengan keluarga,” jawab Pak Bobby. Pak Sultan dan Rendi menyalami Pak Bobby.


Rahma menghampiri Pak Sultan.


“Terima kasih atas pertolongan Pak Bobby,” ucap Rahma.


“Sama-sama Rahma. Jaga diri baik-baik! Di luar sana banyak orang seperti mereka. Kalau pulang malam minta dijemput  Rendi saja!” ujar Pak Bobby.


“Baik, Pak.” Rahma menyalami Pak Bobby.


Sekarang giliran Ibu Claudia.


“Terima kasih atas makan siangnya.” Ibu Claudia menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


“Sama-sama, Bu Claudia,” jawab Pak Bobby.


“Saya menunggu undangan makan di rumah Ibu,” lanjut Pak Bobby.


“Makanannya diantar ke kantor saja, ya,” kata Ibu Claudia.


“Oh, boleh. Kalau Ibu Claudia mau mengantarkan makanan ke kantor saya,” ujar Pak Bobby dengan senang.


Ibu Claudia menghela napas.


Ini orang susah sekali diberitahu nya. Siapa yang mau mengantar ke kantor dia. Orang aku mau menyuruh Pak Lilih yang mengantarkan makanan, kata Ibu Claudia di dalam hati dengan kesal.


“Sudah, ya Pak Bobby. Saya belum sholat dzuhur. Nanti keburu habis waktu sholat dzuhur,” kata Ibu Claudia.

__ADS_1


“Oh, silahkan Ibu Claudia,” jawab Pak Bobby.


Lalu Rahma, Rendi dan keluarganya masuk ke dalam mobil. Pak Bobby menunggu sampai mereka pergi. Ia melambaikan tangannya ke mobil Pak Sultan dan Rendi. Hingga akhirnya mobil Pak Sultan dan Rendi menghilang dari pandangan mata. Pak Bobby membuka pintu mobil., Pak Kirno supir Pak Bobby sudah siap berada di dalam mobil. Pak Bobby masuk ke dalam mobil dan tidak lama kemudian mobil Pak Bobby meninggalkan area parkir hotel.


__ADS_2