
Mobil Rendi dan mobil Pak Barli berjalan dengan cara konvoi menuju ke tol Pasteur. Mereka akan jalan melalui tol Purbaleunyi lalu lanjut ke tol Cipali. Perjalanan dari Bandung menuju Sragen ditempuh dengan waktu tujuh jam. Itupun mereka harus berhenti rest area. Mereka sampai di Sragen pukul dua siang.
Mereka belum makan siang, mereka hanya makan kue saja untuk mengganjal perut yang lapar.
“Tante mau makan siang sekarang?” tanya Rahma.
“Nanti saja. Bareng dengan kamu. Sekarang kamu selesaikan saja urusan kamu,” kata Ibu Claudia.
Mereka langsung pergi menuju ke kantor dinas Sragen. Mereka tidak hafal jalan kota Sragen sehingga mereka harus putar-putar mencari kantor dinas. Setelah bertanya-tanya mereka sampai di kantor dinas.
Rahma turun dari mobil dan bergabung dengan Pak Barli dan Ibu Lastri, istri Pak Barli. Rendi dan Ibu Claudia juga ikut turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam kantor dinas. Mereka disambut oleh pegawai kantor dinas.
Pak Barli dan Rahma berbincang-bincang dengan kepala tata usaha kantor dinas. Rendi, Ibu Claudia dan Ibu Lastri duduk mendengarkan perbincangan mereka. Sambil menunggu Rahma dan Pak Barli mereka satu persatu sholat dzuhur.
Setelah selesai perbincangan mereka. Mereka pergi dari kantor dinas dengan diantar oleh pegawai kantor dinas dan pendamping disabilitas. Para pegawai kantor dinas menggunakan mobil dinas kantor mereka. Sebelum mereka menuju ke rumah disabilitas calon penerima manfaat, mereka terlebih dahulu menuju ke rumah makan untuk makan siang. Karena mereka belum makan siang sama sekali.
Mereka makan di rumah makan yang kebetulan kelewatan oleh mereka. Pak Sobir memarkirkan mobil di depan rumah makan. Setelah mobil berhenti mereka turun dari mobil.
“Alhamdullilah. Akhirnya makan juga,” ucap Ibu Claudia ketika hendak turun dari mobil.
“Maaf, Tante jadi telat makan siang,” kata Rahma.
“Tidak apa-apa,” jawab Ibu Claudia.
Mereka berjalan menuju ke rumah makan. Rumah makan itu adalah rumah makan prasmanan. Mereka mengantri untuk mengambil makan. Karena mengambil makan sendiri-sendiri.
Ibu Claudia mengambil makanan yang jarang ia makan atau belum pernah ia coba. Hasilnya ia mengambil banyak lauk pauk serta sayuran. Rendi membayar semua makanan mereka.
“Haduh. Kenapa jadi Pak Rendi yang bayar?” tanya Pak Barli. Ia merasa tidak enak karena Rendi yang membayarkan semua makanan mereka.
“Tidak apa-apa, Pak. Sekali-sekali saya traktir,” jawab Rendi. Mereka pun menyantap makan siang mereka.
“Makanannya lumayan juga,” puji Ibu Claudia ketika mencicipi makanan satu persatu.
Alhamdullilah, ucap Rahma di dalam hati. Dia merasa tidak enak mengajak Ibu Claudia ke rumah makan yang sederhana. Ia takut Ibu Claudia merasa tidak nyaman makan di tempat seperti itu. Diluar dugaan Ibu Claudia sangat menikmati makanannya.
Setelah selesai makan siang mereka melanjutkan menuju rumah disabilitas yang akan menjadi calon penerima manfaat untuk di assessment. Mereka terlebih dahulu menuju ke rumah disabilitas yang rumahnya jauh.
Jalan menuju ke rumah disabilitas sangat kecil dan hanya muat satu mobil. Sedangkan mobil Rendi adalah rubicon sehingga memakan banyak tempat untuk parkir. Terpaksa harus parkir di tengah jalan dan dijaga oleh Pak Sobir.
__ADS_1
Rahma, Pak Barli, pegawai dinas dan pendamping masuk ke dalam rumah. Rendi dan Ibu Claudia ikut masuk ke dalam rumah tersebut.
“Assalamualaikum,” ucap mereka ketika masuk ke dalam rumah tersebut.
“Waalaikumsalam,” jawab pemilik rumah.
“Mari masuk!” ujar pemilik rumah.
Mereka duduk di ruang tengah. Ibu Claudia memperhatikan sekeliling rumah itu. Rumah itu belum jadi. Temboknya masih di semen dan lantainya juga masih semen. Ibu Claudia kasihan melihat keadaan rumah tersebut.
Di dalam hati Ibu Claudia bersyukur ia tinggal di rumah yang layak huni, walaupun itu adalah rumah milik mertuanya. Padahal secara ekonomi Ibu Claudia mampu membeli rumah yang sama besarnya dengan rumah mertuanya. Tapi ia lebih memilih untuk menemani dan mengurus Pak Sultan yang sudah ia anggap seperti orang tua sendiri.
Rahma dan Pak Barli mengajak pemilik rumah yang disabilitas netra berbicara. Mereka assessment orang tersebut. Ibu Claudia memperhatikan orang tersebut. Orang itu tuna netra tapi seperti bisa melihat ke arah Rahma, Pak Barli dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Bahkan cara berjalannya seperti orang normal tidak harus meraba-raba.
Ketika orang itu masuk ke dalam kamarnya Ibu Claudia langsung berbisik kepada Rahma.
“Rahma. Orang yang tadi kan tuna netra. Tapi kenapa seperti bisa melihat?” tanya Ibu Claudia.
“Dia low vision. Tidak buta total. Dia masih bisa melihat walaupun buram,” jawab Rahma.
“Oh, begitu.” Ibu Claudia mengangguk-angguk tanda mengerti.
Pegawai dinas mengantar mereka ke sebuah penginapan di tengah kota. Penginapan itu tidak seperti hotel namun lebih mirip dengan rumah tempat tinggal yang mewah. Mereka masuk ke dalam penginapan tersebut. Di dalamnya banyak sekali lukisan, patung-patung manusia serta patung binatang.
Rendi dan Pak Barli mengurus pemesanan kamar di meja resepsionis. Rahma berbincang-bincang dengan pendamping dan pegawai kantor dinas. Sedangkan Ibu Claudia dan Ibu Lastri memperhatikan sekeliling ruangan tersebut. Penginapan itu walaupun nampak mewah tapi membuat Ibu Claudia merinding.
Ibu Claudia mendekati Rahma.
“Rahma. Apa tidak ada penginapan yang lain?” tanya Ibu Claudia.
“Tidak ada, Bu. Hanya ini yang paling bagus. Penginapan yang lain kualitasnya di bawah penginapan ini,” jawab pegawai kantor dinas.
“Oh, begitu,” ujar Ibu Claudia tanda mengerti.
Rendi yang sedang berdiri di depan meja resepsionis menghampiri Ibu Claudia yang sedang duduk di kursi sofa.
“Ma. Mau tidur sendiri atau mau sekamar dengan Rendi?” tanya Rendi.
“Masa Mama sekamar sama kamu? Kamu sudah besar tidur sendiri! Mama mau sekamar dengan Rahma,” jawab Ibu Claudia.
__ADS_1
“Bolehkan Tante tidur sekamar sama Rahma?” tanya Ibu Claudia kepada Rahma.
“Boleh Tante,” jawab Rahma.
“Biasanya kalau menginap di hotel Tante suka tidur sendiri. Rendi sekamar dengan kakekknya. Tapi tidak tau mengapa kalau di sini Tante nggak berani tidur sendiri. Rasanya takut.” Ibu Claudia merinding ketakutan.
“Iya. Tidak apa-apa Tante,” jawab Rahma.
Akhirnya Rendi selesai memesan kamar. Pegawai kantor dinas dan pendamping pamit pulang. Setelah pegawai kantor dinas dan pendamping pergi, mereka masuk ke kamar mereka masing-masing.
Di dalam kamar Rahma dan Ibu Claudia langsung wudhu dan sholat magrib. Karena waktu sholat magrib hampir habis. Selesai sholat magrib mereka baru mandi.
Setelah selesai sholat isya mereka pergi keluar untuk mencari makan malam. Tidak lupa Rendi mengajak Pak Barli dan Ibu Lastri. Mereka berkeliling kota mencari penjual makanan. Sampai akhirnya mereka menemukan tenda kaki lima penjual ayam goreng, bebek goreng dan soto. Pak Bali menghentikan mobil di pinggir jalan. Mobil Pak Barli juga ikut berhenti.
Rendi menengok ke belakang.
“Ma. Kalau makan di sini mau, tidak?” tanya Rendi.
Ibu Claudia menoleh ke tenda tersebut.
“Enak, tidak?” tanya Ibu Claudia.
“Rahma juga tidak tau. Tapi kelihatannya rame oleh pembeli,” jawab Rahma.
“Ada nasi uduk,” kata Rendi.
“Mana nasi uduk?” Ibu Claudia memperhatikan tenda tersebut.
“Tuh, ada tulisannya.” Rendi menunjuk ke tenda tersebut.
“Kalau ada nasi uduk Mama mau,” jawab Ibu Claudia.
“Sebentar. Rendi tanya Pak Barli dulu.” Rendi turun dari mobil dan menghampiri mobil Pak Barli. Tidak lama kemudian Rendi kembali. Ia membuka pintu mobil.
“Pak Bali mau makan di sini,” kata Rendi. Rendi kembali menutup pintu mobil. Pak Sobir memarkirkan mobil di pinggir jalan.
.
.
__ADS_1