183 Hari Menjadi Kekasih

183 Hari Menjadi Kekasih
59. Sakit Perut


__ADS_3

Hari terus berganti Rahma memutuskan untuk mengundurkan diri dari pegawai negri sipil. Ia ingin fokus mengurus keluarga kecilnya. Ia meminta ijin untuk keluar dari pekerjaannya kepada suaminya.


“A, boleh tidak kalau Rahma mengundurkan diri dari pegawai negri sipil?” tanya Rahma.


Rendi menoleh ke Rahma.


“Aku sebetulnya senang kalau keluar dari pekerjaanmu. Tapi alangkah baiknya jika kamu pikirkan dulu baik-baik agar suatu hari nanti kamu tidak menyesal karena sudah berhenti bekerja,” ujar Rendi.


“Rahma sudah pikirkan dengan matang. Rahma ingin jadi ibu rumah tangga saja,” kata Rahma.


“Kalau kamu sudah pikirkan dengan matang. Aa ijinkan kamu keluar dari pekerjaanmu,” ujar Rendi.


“Asyik terima kasih, A.” Rahma memeluk Rendi lalu mengecup pipi Rendi.


Rendi merangkul bahu Rahma lalu mengecup kening Rahma.


“Sama-sama, sayang,” jawab Rendi.


Setelah mendapat ijin dari suaminya Rahma pun mengurus pengunduran dirinya. Ia mengajukan pengunduran diri melalui tata usaha di kantornya. Proses pengunduran diri membutuhkan waktu yang cukup lama lebih dari sebulan. Beruntung pegawai tata usaha di kantornya sangat proaktif sehingga pengunduran diri Rahma dikabulkan.


Hari terus berlalu kehamilan Rahma bertambah besar. Nafsu makan Rahma meningkat tapi tubuh Rahma masih saja langsing. Hanya perutnya Rahma yang bertambah besar. Kehamilan Rahma memasuki usia lima bulan dokter menyuruh Rahma untuk diperiksa ke laboratorium.


Bulan berikutnya ketika Rahma datang untuk periksa kandungan dan membawa hasil test laboratorium. Ia memberikan hasil test kepada dokter. Dokter membaca hasil test laboratorium Rahma.


“Hemoglobin Ibu rendah. Apa Ibu sulit makan atau muntah-muntah?” tanya dokter.


“Tidak, Dok. Saya makan banyak bahkan banyak sekali,” jawab Rahma.


“Berarti Ibu harus lebih banyak lagi mengkonsumsi makanan yang bisa meningkatkan Hb!” ujar dokter.


“Saya kasih vitamin untuk menaikkan Hb.” Dokter menulis resep obat untuk Rahma.


Semenjak hari itu Rendi lebih memperhatikan lagi asupan makanan Rahma. Makanan apapun yang diminta Rahma akan ia kabulkan asalkan dibarengi dengan makanan yang bergizi.


Tidak terasa sudah waktu Rahma untuk melahirkan sudah dekat. Ibu Arini datang dari Kuningan untuk menemani Rahma. Ibu Claudia dan Ibu Arini mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut cucu mereka yang akan lahir.


Akhirnya sampailah hari perkiraan lahir namun Rahma masih belum menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Keesokan harinya Rahma masih juga menunjukan tanda-tanda akan melahirkan. Semua orang menjadi cemas. Mereka takut terjadi apa-apa dengan bayi di dalam kandungan Rahma. Rendi memutuskan besok akan membawa Rahma ke dokter agar Rahma melahirkan dengan proses Caesar.

__ADS_1


Belum sempat Rendi membawa Rahma ke dokter, Rahma mengeluarkan tanda-tanda akan melahirkan. Pagi-pagi sekali sebelum adzan subuh Rahma merasakan sakit di perut bagian bawah dan di pangkal kaki. Sakitnya amat sangat sampai Rahma ingin menangis.


Rahma membangunkan Rendi.


“A, bangun! Perut dan kaki Rahma sakit sekali.” Rahma menepuk-nepuk badan Rendi agar Rendi bangun.


Rendi membuka matanya dan menoleh ke Rahma.


“Kenapa sayang?” tanya Rendi.


“Kaki Rahma dan perut Rahma sakit, A,” jawab Rahma.


Rahma merintih kesakitan sambil mengusap perutnya. Rendi langsung bangun dan duduk di tempat tidur. Ia mengusap-usap perut Rahma.


“Sakit sekali?” tanya Rendi.


“He eh.” Rahma menganggukkan kepalanya.


Rendi melihat jam yang menempel di dinding kamar. Waktu menunjukkan pukul setengah empat. Masih terlalu pagi untuk membangunkan mama dan mertuanya. Ia takut mengganggu waktu istirahat kedua wanita itu. Namun, ketika melihat wajah Rahma yang meringis kesakitan Rendi memberanikan diri untuk membangun mama dan mertuanya.


“Aa bangunkan mama dan mama Arini dulu.” Rendi beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar. Ia berjalan menuju ke kamar Ibu Claudia.


“Ada apa?” tanya Ibu Claudia.


“Perut dan kaki Rahma sakit,” jawab Rendi.


“Sakit?” Ibu Claudia kaget mendengar perkataan Rendi. Ibu Claudia keluar dari kamar. Ia berjalan menuju ke kamar Rahma dan Rendi. Rendi berjalan menuju ke kamar Ibu Arini.


“Ma.” Rendi mengetuk pintu kamar Ibu Arini.


Pintu kamar Ibu Arini dibuka dari dalam. Ibu Arini berdiri di pintu dengan menggunakan mukenah. Sepertinya kedua nenek anaknya sedang sholat tahajut mendoakan keselamatan Rahma dan cucu mereka.


“Ada apa, Ren?” tanya Ibu Arini.


“Perut dan kaki Rahma sakit. Sepertinya Rahma mau melahirkan,” jawab Rendi,


Ibu Arini langsung keluar kamar dan berjalan menuju ke kamar Rahma.Di dalam kamar Rahma sedang berbaring di atas tempat tidur sambil meringis kesakitan. Tangannya mengusap-usap pangkal kakinya yang sakit. ibu Claudia duduk di samping Rahma sambil mengusap kepala Rahma agar Rahma tenang.

__ADS_1


Ibu Arini mendekati Ibu Claudia.


“Bagaimana keadaan Rahma?” tanya Ibu Arini.


“Sepertinya bayi sedang mencari jalan keluar. Perut bagian atas sudah kosong,” jawab Ibu Claudia.


“Mamaaa. Perut dan kaki Rahma sakit sekali,” kata Rahma sambil merengek.


“Sabar ya, sayang. Sebentar lagi bayinya mau keluar,” ujar Ibu Arini.


“Pijitin kaki Rahma,” kata Rahma dengan manja.


“Iya, Mama pijitin.” Ibu Arini duduk di pinggir tempat tidur. Ia hendak memijat kaki Rahma, namun dicegah oleh Rendi.


“Biar Rendi yang pijat kaki Rahma,” kata Rendi.


Ibu Arini tidak jadi memijat kaki Rahma. Ia bergeser memberikan tempat untuk Rendi. Rendi duduk di pinggir tempat tidur dan memijat kaki Rahma.


“Mama, perut bawah Rahma sakit sekali. Pengen di usap-usap,” kata Rahma dengan manja.


“Iya, Mama usap-usap.” Ibu Arini naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelah Rahma.


“Yang mana yang sakit?” tanya Ibu Arini.


“Yang ini.” Rahma memegang perutnya yang sakit kemudian Ibu Arini mengusap perut Rahma yang sakit.


Ketika adzan subuh berkumandang Ibu Claudia dan Ibu Arini kembali ke kamar untuk sholat subuh. Tinggallah Rendi berdua dengan Rahma di dalam kamar. Rendi membantu Rahma jalan ke kamar mandi untuk berwudhu. Sebelumnya Ibu Arini berpesan, “Jangan tayamum dan jangan sholat sambil duduk! Wudhu seperti biasa dan lakukanlah gerakan sholat seperti biasa agar nanti persalinannya lancar!” Dengan terpaksa Rahma mengikuti perkataan mamanya.


Hingga siang hari Rahma masih saja kesakitan, namun Rahma belum boleh dibawa ke rumah sakit oleh Ibu Claudia dan Ibu Arini. Menurut mereka belum waktunya Rahma melahirkan. Sampai akhirnya menjelang sore Rahma merasakan seperti ada yang keluar.


“Aa. Sepertinya ada yang keluar,” kata Rahma,


“Coba lihat di kamar mandi!” ujar Rendi.


Rendi memapah Rahma menuju ke kamar mandi untuk memeriksa un*der*wear nya. Rahma masuk ke dalam kamar mandi. Rendi menunggu Rahma di depan kamar mandi dengan cemas. Ketika dilihat ternyata ada berc*k d*rah di un*der*wear nya.


Rahma keluar dari kamar mandi. “Bagaimana?” tanya Rendi.

__ADS_1


“Keluar d*rah.” Rahma menunjukkan berc*k d*rah yang ada di un*der wear nya.


“Kita ke rumah sakit sekarang,” ujar Rendi.


__ADS_2